The Last Time

11:30 pm

Sae Ra sedang memijit-mijit ringan pelipisnya ketika bel apartemennya berbunyi. Itu pasti Siwon, pikirnya. Dan memang benar, pria itu kini tengah menunggu dirinya membukakan pintu di luar sana.

Tadi siang, Siwon berjanji akan mengunjunginya malam ini sekaligus membawakan makanan favorit kekasihnya itu—ayam cepat saji dengan wajah member Shinee pada kemasannya.

“Yaayy.. Finally!” seru Sae Ra sambil menghambur ke pelukan Siwon begitu ia membuka pintu rumahnya layaknya anak kecil yang merindukan ayahnya. Sejak tadi, Sae Ra memang tengah menunggu dua hal yang selalu menjadi percikan kesegaran ketika harinya tengah diliputi kabut hitam yang ia sebut pekerjaan; Siwon dan ayam.

Ketika Siwon duduk bersamanya di meja makan dan menikmati ayam cepat saji yang berkalori tinggi itu dengan seteko orange juice buatannya lalu mereka saling menceritakan kegiatan mereka akhir-akhir ini—that’s all she want in this kind of relationship, mengingat kesibukan masing-masing membuat intensitas pertemuan mereka menjadi sangat jarang.

Kembali pada Sae Ra yang kini dapat tersenyum bahagia karena tengah dikunjungi kekasihnya itu…

Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Sae Ra rupanya berbanding terbalik dengan apa yang nampak dari raut wajah Siwon. Pria itu memang tersenyum, namun senyumnya seolah sangat dipaksakan. Seolah pria itu tersenyum hanya untuk menutupi rasa sakit—entah apa itu—yang tengah ia rasakan.

Dan Sae Ra menyadarinya.

“Ada apa?”

Tanya wanita itu namun pria itu hanya membalasnya dengan senyuman lirih itu lagi. “Tidak apa-apa,” elak pria itu menutupi. “Ayo kita makan ayamnya, mumpung masih panas,” tambah pria itu sambil mengusap puncak kepala Sae Ra lalu sejurus kemudian memberikan seplastik ayam cepat saji yang dibelinya itu pada Sae Ra.

“Orange juice-nya ada di dalam kulkas. Ambil lah,” kata Sae Ra pada Siwon sambil berlalu menuju dapur. Seharusnya tanpa wanita itu suruh, Siwon pasti sudah otomatis akan menuju kulkas tempat wanita itu menyimpan orange juice buatannya, karena Siwon sudah terbiasa.

Ya. Siwon memang sudah terbiasa, bahkan bisa dibilang sering, riwa-riwi di apartemen kekasihnya itu tanpa rasa canggung. This is his second home; this apartment and its owner. Apartemen ini dan Sae Ra, adalah rumah kedua baginya.

Singkat cerita mereka kini sudah duduk di ruang makan dalam diam.

It’s totally breaks her mood.

Sae Ra sudah begitu bahagia dengan rencana kunjungan Siwon setelah hampir setengah tahun pria itu tidak bertatap muka dengannya, dan malam ini, ketika moment itu tiba, pria itu hanya diam, bahkan tidak menanyai kabarnya.

“Is there something wrong, Choi Siwon?”

Pria itu mengangguk. “Ya.”

Dan Sae Ra pun mulai khawatir dengan kemungkinan terburuk yang tidak ingin ia bayangkan. “What’s that?”

“Kita makan dulu, baru nanti kuberitau.”

“Aku tidak mau makan sampai kau memberitauku.”

“Terserah.” Siwon mengambil sepotong ayam cepat saji yang ada di hadapannya itu santai lalu melahapnya tanpa menatap Sae Ra.

“CHOI SIWON!”

“Bisakah kau sekali saja melakukan apa yang kuminta, Huang Sae Ra?!”

Memang. Selama ini Sae Ra selalu membantah segala sesuatu yang Siwon katakan, meski itu terkadang Siwon katakan hanya semata-mata untuk kebaikan dirinya. Bahkan Sae Ra masih melakukan ritual ‘kerja rodi’nya yaitu bergadang semalam suntuk untuk menuntaskan pekerjaan selama seminggu kedepan hingga berulang kali Sae Ra ambruk dan mendapat suntikan dopping dari dokter pribadinya, which is, Siwon sangat khawatir jika lama kelamaan Sae Ra mungkin akan mengalami ketergantungan pada dopping vitamin dari dokter. Dan itu sangat tidak sehat.

Namun Sae Ra tidak pernah jera dan selalu mengabaikan nasihat Siwon. Baginya, ketika Siwon mengatakan itu semua, Siwon tidak beda jauh dengan mendiang neneknya yang super cerewet. Selama ini, Sae Ra selalu menjadi kekasih Siwon yang pembangkang dan anehnya Siwon tidak pernah lelah dengan sifatnya itu.

But today, he probably gets tired.

Mungkin Siwon sudah diambang batas kesabarannya menghadapi kekasihnya yang tidak pernah peduli pada kesehatannya sendiri, sampai-sampai pria itu melontarkan kalimat yang cukup menampar Sae Ra, mengingat selama ini ia tidak pernah berkata setegas itu pada kekasihnya.

Now eat your meal and we’re gonna talk it later,” tambah Siwon lagi dan Sae Ra hanya bisa terdiam.

Jiwa pemberontaknya sudah ingin membantah Siwon sejak tadi, namun entah kenapa, malam ini Sae Ra bisa mengendalikannya. Yang wanita itu hindari hanya satu: ia tidak mau bertengkar dengan Siwon lagi. Terakhir mereka bertengkar mengakibatkan putusnya hubungan asmara mereka setahun lalu. Dan ia sangat tidak mau masa kelam itu terjadi kembali.

 

 

“We better off this way,”

Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Siwon itu sontak membuat Sae Ra terkejut dan tidak percaya. “Mwo?!”

Siwon menarik nafasnya. “Ada baiknya kita akhiri semua ini.”

Sae Ra shock. Badannya terasa kaku dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Apa yang baru saja ia dengar dari Siwon itu membuatnya mati rasa seketika.

Ia harap, perkataan Siwon ini adalah bagian dari mimpi buruknya di malam hari. Namun sayangnya, ini semua nyata dan terasa sakit untuknya.

“Kau ingin aku mengatakan apa, Choi Siwon?”

Bodoh. Itu respon terbodoh dan teridiot yang pernah Sae Ra lontarkan jika wanita itu sempat mengingat bahwa ia merupakan seorang cumlaude semasa kuliah dulu.

Siwon-nya tidak menjawab. Pria itu juga sedang merasakan penderitaan shocktherapy sesaat setelah melakukan hal yang masih tidak bisa ia nalar itu.

Mengapa dirinya tega mengambil keputusan senekad ini, padahal jelas-jelas ia begitu mencintai wanita yang sudah menjadi hidup dan matinya itu?

Sampai detik ini pun, pertanyaan itu masih terbesit di kepalanya.

“Aku tidak bisa lagi menjalani hubungan yang seperti ini, Sae Ra. Aku menderita saat tidak bisa berada di sampingmu saat kau membutuhkan diriku…”

“It doesn’t matter for me—“

“Stop it!” potong Siwon. “Kau tidak apa, tapi aku yang menderita, Sae Ra. Tidak bisakah kau merasakan bagaimana menjadi aku?”

Wanita bernama Huang Sae Ra itu hanya terdiam. Menunduk. Tak berani menatap sang kekasih yang kini seperti orang lain baginya. Pria itu… Tak pernah mengatakan kata-kata semenyakitkan ini.

“So..” suara wanita itu bergetar. “You’re gonna leave me?”

Pria itu mengangguk. Lalu detik itu juga, air mata itu meluncur deras menghancurkan sumpah yang telah ia buat untuk tidak menangis setelah mengakhiri hubungan ini,

Namun ia gagal.

Ini sangat menyakitkan baginya. Dan tentu saja bagi Sae Ra. Keputusan semacam ini, sudah pasti akan menyakitkan semua pihak.

“Mianhae…” hanya sebuah kata itu yang bisa Siwon ucapkan dan Sae Ra hanya bisa tersenyum lirih, tak habis pikir apa yang baru saja terjadi.

Wanita itu beranjak dari duduknya kemudian segera membereskan meja makan itu dan berlalu ke dapur dalam diam.

Tangisnya pecah. Air matanya jatuh lalu mengalir deras membanjiri pipinya. Ia tak berniat menghentikan reaksi alami dari kesakitan hatinya itu.

Biar. Biar semuanya tau bahwa keputusan Siwon itu sangat menyakitkan. Dan dalam kesakitannya itu, ia tak dapat berbuat apa-apa lagi. Badannya mati rasa. Ia seolah telah kehilangan seluruh jiwanya.

 

 

“Kau mengingkari janjimu, Siwon…” wanita itu terisak dalam dekapan pria yang kini sudah bukan kekasihnya lagi itu. “Waktu itu, kau bilang akan selalu bersamaku dan tak akan pernah meninggalkanku, then what about now?”

“I’m sorry,” hanya itu yang bisa ia ucapkan, lalu mengecup puncak kepala Sae Ra yang ada dalam dekapannya kini. Jangan tanya sudah berapa liter air mata yang terjun tanpa permisi dari kedua mata indahnya itu. Ya, pria itu ikut menangis bersama wanitanya—yang mungkin sebentar lagi bukan lagi.

Beberapa saat yang lalu, Sae Ra muncul dari dapur dengan air mata yang mengalir deras, membanjiri pipinya. Dan ia mengutarakan permintaan terakhirnya kepada Siwon, sebelum pria itu benar-benar pergi dari kehidupannya…

It’s gonna be the last night for them. Ini akan menjadi malam terakhir bagi Sae Ra untuk merasakan lengan kekar itu memeluknya. Dan ini akan menjadi malam terakhir bagi Siwon untuk memeluk tubuh wanita yang telah bersamanya selama dua tahun terakhir ini.

Mereka pun tertidur dengan sisa-sisa air mata yang entah sampai kapan akan berhenti.

 

 

06:30 am

Sae Ra terjaga dari tidurnya yang sangat-sangat buruk. Matanya sembab, dadanya sesak… Sakit yang ia rasakan dalam tubuhnya ini terasa begitu nyata, meski faktanya tubuhnya tak kenapa-napa.

Pria itu masih terbaring di sebelahnya, namun sudah tak memeluknya lagi.

Mata itu..

Bibir itu…

Wajah itu…

Dalam beberapa saat lagi akan menghilang dari kehidupannya. Ya, pria itu akan meninggalkannya. Namun sebelum pria itu benar-benar pergi, Sae Ra beranjak lebih dahulu dari tempat tidurnya untuk membasuh diri dan menyiapkan sarapan terakhir yang bisa ia buat.

Di kamar mandi, wanita itu menangis lagi. Seiring dengan aliran air yang mengucur dari showernya, Sae Ra menumpahkan rasa sakit yang dideritanya saat ini.

Ritual membasuh dirinya selesai. Maka, wanita itu segera berpakaian dan merias sedikit wajahnya, terutama bagian matanya yang sudah sangat mirip dengan panda kurang gizi—sangat menjijikan baginya.

Namun rupanya, keahlian merias yang ia miliki tak mampu menutupi tanda-tanda kesedihan di raut wajahnya. Ia gagal.

Sae Ra memutuskan keluar dari dalam kamar mandi.

Toh, untuk apa berdandan cantik lagi. Toh, pria itu akan segera pergi dari kehidupannya, begitu pikirnya.

Ketika Sae Ra keluar dari kamar mandi, pria itu sudah terjaga dari tidurnya. Ia sedang duduk bersandar di atas ranjang kingsizenya dengan mata setengah terpejam. Mungkin pria itu sedang mengumpulkan nyawanya.

Sae Ra melewati pria itu dan berjalan keluar dari kamarnya. Sempat ia berharap pria itu mengucapkan “Morning, Sunshine!” seperti yang biasa pria itu ucapkan ketika ia terjaga di sampingnya. Namun kenyatannya, pria itu bahkan tak menyapanya.

 

 

The Last breakfast…

Mereka makan dalam diam. Siwon menghabiskan scramble egg dan sosis buatan Sae Ra dengan cepat tanpa menatap Sae Ra sedikitpun. Pria itu… Sepertinya memang ingin segera pergi dari kehidupan Sae Ra dan melupakannya.

“Thank’s for this meal,” ucap Siwon begitu ia menegak minumannya. “I have to go now.” Pria itu berdiri dan beranjak meninggalkan tempat makan itu.

Sae Ra tak bergeming. Ia terlalu shock untuk mengucapkan sepatah kata bagi pria yang ingin segera meninggalkannya itu.

“Take care, Sae Ra-ya,” ucap Siwon setelah mengenakan mantelnya yang tergantung di dekat pintu keluar rumah wanita itu.

 Baru saja Siwon hendak memutar kenop pintu, ada sebuah tangan yang menarik lengannya dan dengan cepat, sebuah ciuman mendarat di bibirnya.

It’s Sae Ra and her wet lips. She’s crying so hard, like a waterfall.

Siwon membeku di tempat. Ia tak membalas ciuman wanita itu. Keputusannya sudah bulat, ini semua harus berakhir. Dan wanita itu harus melupakannya, agar ia bisa memulai kehidupannya yang baru tanpa rasa bersalah, tanpa perlu mengingat dirinya, dan ciumannya.

“Stay healthy, Huang Sae Ra,” ucapnya begitu Sae Ra mengakhiri ciumannya. Pria itu tak berusaha menghapus air mata yang masih mengalir deras membanjiri pipi wanita itu. Ia lebih memilih memeluk tubuh yang pernah ia cintai itu sesaat, lalu pergi.

 

Sae Ra melihat dengan jelas bagaimana sosok pria itu perlahan-lahan menghilang dari koridor apartemennya. Pria tak berbalik. Sama sekali. Pria itu memang benar-benar ingin semua ini berakhir.

BLAAAMM

Sae Ra membanting pintu apartemennya.

Ia berjalan, dengan air mata yang masih terus mengalir. Pikirannya kalap. Ia membanting sisa gelas dan piring yang ada di meja makan. Menendang kursi makan itu, mengobrak-abrik apa yang ia lihat.

Kegiatan membabi butanya itu masih terus berlanjut sampai ia berlari ke dalam kamarnya dan membanting semua furnitur mahal yang ada di sana, terutama foto-foto dirinya bersama Siwon yang berjajar rapi di salah satu sudut kamarnya, ia ingin menghancurkan itu semua.

“You’re so dumb, Choi Siwon. You’re so dumb…”

 

The End.

 

 

Hello, people!

It’s me, Cella TWD. Aku akhirnya muncul lagi setelah sekian lama bertapa mencari inspirasi dan chemistry untuk blog ini. Dan, pada akhirnya aku memutuskan untuk menulis fanfic ini. Yes, this is the end of their relationship. Siwon and Sae Ra are totally over!

Dan dengan dipostingnya fanfic ini, aku sekalian mau pamit hiatus untuk selama-lamanya. Aku udah nggak bakalan nulis fanfic lagi. Jadi pembaca sih, mungkin masih ya, tapi kalo nulis fanfic, aku bener-bener udah berhenti.

Thank you banget buat pembaca-pembaca, visitor, atau siapapun (yang mungkin cuma sekedar lewat), karena kalian udah nyempetin waktu buat mampir sebentar di blog aku. Thank you banget udah jadi penyemangat aku buat tetep nulis sampe fanfic terakhir ini.

Aku berhenti di dunia fanfiction bukan berarti aku berhenti nulis. I’m still writing, Pals, but not here anymore. Aku masih bakalan nulis di blog aku yg baru, yaitu di chocovanilla-cream.blogspot.com

I hope I can see you there J

Last but not least, di moment lebaran ini aku juga mau minta maaf atas segala konsistensiku yang buruk sebagai seorang author yang nggak pernah nuntasin ff continued yang aku punya. Aku minta maaf ya, teman-teman pembaca. Sorry for all my faults and my weakness.

Siwon itu MaSi, Sekali lagi, mohon maaf dan terima kasih.

Wasalam.

Cella-TWD ^^V

Paradiso: BALI

Ngomongin tentang Bali pasti ga ada habisnya. Oke, kali ini ogut (baca: saya, red) nggak bakalan membahas tentang betapa indahnya Bali dengan seribu satu pantai dan kebudayaannya tapi tentang MAKANANNYA.

Hohoho

THE JUMBO CHOCO ICE CREAM at FLAPJACKS, KUTA, BALI.

IMG_5140

 

Continue reading