Memoirs of Our Sun

Akhirnya, aku samapai di tempat ini. Senang? Tentu saja. Aku bahkan merindukan tempat ini lebih dari aku merindukan rumahku yang dulu.

Kutinggalkan dia dan mobilnya, mendahuluinya turun terlebih dahulu. AKu segera berlari ke bibir pantai, tak sabar untuk merasakan sensasi air pantai yang menerpa kaki.

Ngomong-ngomong soal dia yang kini tengah sibuk menerima telepon dari koleganya, dia adalah suamiku. Namanya Andrew. Andrew Choi. Wajah, postur tubuh, hairstyle, hingga cara bicaranya, semua mirip dengan namja bernama Choi Siwon. Tapi tidak dengan cintanya padaku. Andrew mencintaiku lebih dari apapun dan aku tau itu.

Choi Siwon…

Dimana dia sekarang?

Bagaimana keadaannya?

Sedang apa dia?

Apa ia masih mengingatku?

Apa ia masih ingat kenangan-kenangan yang kami kubur bersama Time Capsule sepuluh tahun lalu?

Time capsule!

Apa kabarnya benda penuh kenangan itu?

Ahh… Rasanaya dulu aku memendamnya di sekitar sini.

Nah, itu dia!

Di tempat tertinggi yang ada di pantai ini. Tempat yang tak terjamah air meski pasang tiba.

Aku tidak yakin apakah time capsule itu masih ada atau tidak, apakah sudah dipungut orang sekitar sini atau masih mendekam di bawah timbunan pasir putih nan lembut.

Kukais pasir pantai lapis demi lapis dengan tanganku sendiri. Tak peduli berapa juta bakteri yang akan membuat tanganku terkontaminasi, yang jelas aku harus menemukan time capsule penuh kenangan itu.

Ada! Aku menemukannya!

Aku membuka kotak itu. Haha, masih utuh. Foto Swimmy, bayi ikan cupang yang dulu kupelihara bersama Siwon. Lucu. Hmm… Mungkin sekarnag ia sudah tenang di surga bersama almarhum ikan-ikan cupang yang lain. Aisshh.. Aku ngomong apa sih?!!

Selanjuutnya, aku menemukan Abraham, boneka Teddy Bear yang warna putihnya sudah bertansformasi menjadi buluk. Siwon memberikan boneka itu sebagai hadiah ulang tahun ke-17 ku.

Yang paling konyol adalah tiket-tiket bioskop yang jumlahnya entah ada berapa lembar itu. Ada satu judul film yang menarik perhatianku. Titanic. Haha, aku masih ingat, kami masih berusia 15 tahun saat menonton film itu.  Dan film itu adalah film pertama yang kami tonton saat malam mingguan.

Dan benda terakhir yang kulihat adalah kalung berpendulum Tinker Bell. Itulah benda terakhir yang pernah Siwon berikan padaku.

<Flashback Start>

“Taddaaaa!!!”masih tetap menautkan tangannya padakau, Siwon menujukkan seuntai kalung padaku. “Untukmu”

Aku mengernyitkan dahi sambil pura-pura jual mahal. “Nggak mau”

“Yakin tidak mau??? Aku sampai bela-belain rebutan sama hyung-hyung yang mau membeli kalung ini lhoo…”

“Ya kalau kau merasa tidak enak, kembalikan saja kalung ini pada hyung itu,” kataku pedas sambil memandang lurus ke arah pantai.

“Ayolah… Kau tidak pernah menolak pemberianku…”

“Berarti, sekarang pernah…”

“Ah, kau menyebalkan!” gerutu Siwon dengan muka sok aegyo. “Sia-sia aku membeli kalung ini. Ya sudahlah, kubuang saja.”

Siwon segera melempar kalung itu ke laut.

“Eh… Jangan!” tahanku.

Telat. Kalungnya sudah terlempar jauh. Tapi tunggu! Tadi aku tidak melihat ada benda yang nyemplung ke laut, kok…

“Haha… Sudah kuduga, kau tidak akan rela kalau kalung ini berakhir di perut ikan…” kata Siwon bangga.

Iya, iya. Kuakui aku tidak rela kalau kalung berpendulum Tinker Bell itu sampai benar-benar dibuang Siwon ke laut.

“Hey! Jangan manyun gitu, ah. Mukamu jelek tau!!!” katanya lalu mencubit pipiku. Yahhh… Selalu seperti itu. Siwon selalu mencubit pipiku tiap kali aku marah padanya atau sedang gonduk.

“Hey! Aku punya ide. Bagaimana kalau kita simpan saja kalung itu…” Celetukku dan sepertinya ia kaget.

“Eh? Dimana?”

“Follo me!”

Aku segera menarik tangan Siwon dan membimbingnya ke tempat tertinggi di pantai ini. Sampai di tempat itu, aku berjongkok di bawah pohon kelapa, diikuti Siwon.

“Kita simpan di sini saja…”

Siwon mengernyitkan dahi. Jelas, lah. Ia tidak mengerti maksudku. Setelah aku mengais-ngais pasit di tempat itu, barulah Siwon mengerti.

“Time capsule?”

Aku mengangguk. Tak butuh waktu lama untuk menemukan kotak kayu pemberian nenek itu karena Siwon membantuku.

Siwon terkejut saat aku membuka kotak kayu itu. Ya, aku menyimpan foto Swimmy, Abraham, hingga tiket-tiket bioskop yang pernah kami tonton.

Well, bukannya aku tak menghargai pemberian Siwon, aku hanya tak ingin benda-benda kenanganku bersama Siwon hilang cuma-cuma karena keteledoranku yang memang sering menghilangkan barang ini.

“Sepuluh tahun lagi, kita buka ya!”

Siwon mengangguk. Kami menutup kotak kayu itu lalu bersama-sama menimbunnya dengan pasir pantai.

Setelah itu, Siwon menatapku. Tatapan matanya sendu. Sedikit ada guratan kesedihan di wajahnya.

“Besok aku pergi,” katanya dengan masih tetap berjongkok di hadapanku.

“Aku tau,” potongku cepat.

Entah kenapa, tiba-tiba Siwon meletakkan tangannya di puncak kepalaku, lalu mengacak rambutku pelan.

“Jangan sedih, ya. Sebisa mungkin aku akan mengirimimu email,” Siwon menghela nafas berat. “Sebentar lagi ujian, belajar yang giat supaya kau naik kelas, arasseo?”

Aku mengangguk dan pura-pura tersenyum. Meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja selama ia pergi. Padahal, dalam hati aku ingin berteriak, menahannya agar tidak benar-benar pindah ke Seoul. Tapi apa daya, aku tak mungkin melarangya mengejar impiannya untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik.

“Kau juga.. Jaga kesehatan. Istirahat cukup, olah raga teratur, jangan sampai sakit…”

Kata-kataku terhenti saat Siwon tiba-tiba memelukku. Ia mendekapku sangat erat. Begitupun denganku. Andai Siwon tidak pergi besok, aku tak perlu melepas pelukannya seberat ini.

Air mata yang sedari kutahan-tahan kini mengalir dengan mudahnya dari pelupuk mataku. Siwon bisa mendengar aku sesenggukkan dalam pelukannya, makanya, ia sadar kalau aku sedang menangis. Ia segera melepas pelukannya dan menyeka air mata yang membahasi kedua pipiku.

“Aissh.. Jinja.. Jangan menangis. Kalau kau sedih, aku tidak akan pergi dengan tenang…”

Entah kenapa kata-kata itu seakan menjadi firasat bahwa Siwon akan benar-benar pergi meninggalkanku dan selamanya tak akan pernah kembali lagi padaku.

“Ayo!” Siwon mengulurkan tangannya padaku. Ia tersenyum. Senyum yang selalu kusuka dan selalu kurindukan.

Baiklah, Michi Han. Kau tak boleh sedih. Bukankah, kau ingin yang terbaik untuk Choi Siwon? Meskipun itu artinya kau harus terpisah darinya…

Aku menyambut tangannya lalu berdiri. Siwon segera menarikku ke bibir pantai. Mencipratiku dengan air asin khas Mokpo dan aku membalasnya. Inilah kebiasaan kami saat bermain di pantai. Basah-basahan sambil kejar-kejaran menunggu sunset.

<Flashback End>

Itulah kenangan terakhir yang kuukir bersama Siwon. Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sampai hari ini. Siwon mengingkari janjinya. Ia tak pernah sekalipun mengirimiku email. Rumah pamannya yang ada di sini pun sudah beralih kepemilikan. Itu artinya, kemungkinanku untuk bertemu Siwon sudah tak ada lagi.

Sampai akhirnya, aku berhasil menamatkan Junior Collegeku. Karena aku lulus dengan nilai terbaik, banyak Universitas dari dalam negeri maupun luar negeri yang menawariku beasiswa. Yang dari dalam negeri, kebanyakan dari Seoul. Aku tak berminat melanjutkan studiku di universitas Korea manapun. Aku terlalu takut jika aku bertemu Siwon, hatiku akan terluka saat mendapatinya sudah melupakanku sebagai salah satu orang yang menyayanginya. Dan karena itulah, aku memilih universitas dari luar negeri. Banyak yang merekomendasikanku untuk melanjutkan ke China, Jepang, Perancis, atau Italy. Tapi aku memilih Amerika. Soalnya, di sana ada sanak saudara, jadi aku tidak perlu takut sendirian dan tersesat.

Dan di sanalah aku bertemu Andrew, lelaki yang kini menjadi suamiku. Lelaki yang berhasil membuatku lupa pernah memiliki rasa cinta kepada namja bernama Choi Siwon. Lelaki yang tetap memperhatikanku meski aku harus kembali lagi ke Korea. Dan Andrew adalah satu-satunya lelaki yang rela bela-belain les bahasa Korea demi melamarku di hadapan Eonmma dan Appaku. Yahh… Dia itu keturunan Korea yang terlalu lama tinggal di negeri orang sampai lupa pada mother tounge-nya sendiri. -.-

Bodoh. Sebut saja diriku yang dulu demikian. Bodoh karena mencintai orang yang tak akan pernah mencintai diriku. Bodoh karena mengikat diri sendiri pada perasaan yang semestinya tidak perlu untuk diadakan. Perasaan yang disebut sayang sekaligus cinta.

Back to my, eh, our time capsule. Aku tak berniat membuangnya. Biarlah. Biarkan time capsule itu terkubur bersama kenangan-kenangan antara Michi han dan Choi Siwon di pantai ini. Toh aku juga tidak ada niatan untuk mengunjungi pantai ini lagi.

We have to move on, rite?

Well, aku mungkin tidak berjodoh dengan Siwon di kehidpuan sekarang. Tapi, mungkin saja iya di kehidupan selanjutnya. Who knows?!

Sunset. Sekali lagi aku menikmati sunset di pantai ini. Hanya saja dengan orang yang berbeda. Sekarang, aku dapat melihat fenomena alam yang indah itu dengan orang yang mencintaiku dan begitupun sebaliknya.

“Kita pulang sekarang?” tanya Andrew padaku. Setelah mengubur kembali time capsuleku tadi, aku memang mengajak Andrew untuk melihat sunset sebentar.

“Oke,” kataku dan aku segera mengangkat kepalaku yang sedari tadi bersandar di bahunya. Posisi kami memang seperti ini sejak tadi. Dalam rangkulannya, aku selalu merasa nyaman dan tentram. Tak perlu khawatir bahwa aku akan kehilangannya.

Dan kami pun segera masuk ke mobil lalu pulang ke penginapan.

Choi Siwon’s POV

Sunset~

Ahh… Rupanya aku tidak ketinggalan fenomena alam yang luar biasa indah dari pantai ini. Cepat-cepat aku turun dari mobil dan berlari menuju bibir pantai. Aku rindu sensasi air yang menerpa kaki. Ahh… Pantai Mokpo memang pindah.

Mokpo..

Banyak sekali kenangan yang tertinggal di sini. Haha, seharusnya kenangan itu menjadi milik Donghae. Tapi malah aku yang punya banyak kenangan di sini. Haha, lucu ya.

Setelah puas memanjakan kaki dengan terpaan air laut Mokpo, aku segera berlari ke tempat tertinggi yang ada di pantai ini. Aku ingin melihat time capsule yang pernah kupendam di sini bersama Michi. Masih adakah atau sudah dipungut oleh orang-orang di sekitar sini?

Michi…

Apa kabarnya dia sekarang?

Sedang apa dia?

Bagaimana keadaannya sekarang?

Sehatkah? Bahagiakah?

Huft… Kurasa, sekarang ia sudah bahagia dengan orang yang benar-benar mencintainya. Orang yang akan selalu menjaganya dan berada di sampingnya. Orang yang selalu memperhatikannya. Bukan pengecut sepertiku. Yang mengingkari janjiku sendiri.

You know, masa trainee di SM membuatku benar-benar melewatkan banyak quality time untuk diriku sendiri. Jangankan untuk sekedar membuka email dan menulis email, bernafas pun terkadang susah.

Swimmy, Abraham, tiket Titanic, hingga kalung Tinker Bell. Semuanya masih tersimpan rapi di dalam time capsule yang kayunya sudah mulai lapuk itu. Dan… Aku menemukan secarik kertas di antara benda-benda kenanganku bersama Michi itu. Wait! Rasanya aku dan Michi tak pernah memasukkan kertas itu.

Karena penasaran, aku membuka dan membaca isi kertas itu.

I’ve moved on, but he will always be a piece of my best times in Mokpo. My sweet memoirs which I always keep it in the deep of my heart.

-Michi-

… and you always be the one that I love, Michi. Meski kita tak bersama lagi, aku akan selalu menganggapmu ada bersamaku. Kau akan selalu kuingat sepanjang aku masih hidup di dunia ini.

Mungkin seorang Choi Siwon memang tak bisa bersama Michi Han di kehidupan sekarang. Tapi… Siapa tau Tuhan berkehendak lain di kehidupan selanjutnya.

There’s nothing impossible, rite?!

-End-

Advertisements

New Friend Request

Facebook? Hari gini masih pakai Facebook? Gyahahaha

Well, sekarang emang popularitas Facebook sudah digantikan oleh Twitter. Aku sendiri sudah jarang banget buka facebook. Terakhir buka, adalah setahun lalu, saat ulang tahun ke-17 tahunku.

Hari ini, aku memang sedang tidak ada kerjaan. Liburan seminggu memang membuatku jadi pengangguran sejati. Mau ngelakuin sesuatu, tapi bingung mau ngelakuin apa. Mau ketemu sweety Cherryku, eh, dia sedang di luar negeri. Pakai acara nggak boleh telepon dia segala pula. Iya. Cherry yang mewanti-wanti aku untuk tidak menelponnya. Padahal, kalau pasangan lain, long distance sementara saja sudah bikin hati resah dan gelisah. Nah ini? Nggak boleh telepon. Nasib.. Nasib…

Alhasil, aku iseng-iseng buka akun FBku yang lama. Aku sudah mulai ketularan isengnya Cherry deh rasanya. Ah, bodo amat lah. Kali-kali aja ada teman yang online, jadi bisa diajak cerita-cerita.

Waktu sudah log in, aku melihat ada 200 notificationts. Wuaahhh… Banyak banget! Sefamous itukah aku di dunia maya. Hee… Memang siapa kau ini, Choi Siwon?! Sadar euy!

Well, aku kok malas baca notif ya? Paling juga invitation main Mafia Wars atau Texas Poker. Ah, pokoknya aku malas.

Beralih ke link sebelahnya, rupanya ada 3 friend requests. Huhu, presepsi bahwa aku orang terkenal pun pupus di tengah jalan. Yea, kalau aku terkenal, tentu saja sudah ada puluhan bahkan ratusan orang yang meng-add diriku.

Tanpa melihat profil terlebih dahulu, aku langsung meng-confirm mereka bertiga.

Entah kenapa, aku tertarik pada pemilik akun bernama Han Ji Yeon. Dari namanya, sih, dia perempuan.

Waktu kulihat profile picturenya, aku cuma bisa berkata “Wah.. Cantiknya,” dan mendesah layaknya idot mupeng.

Benar, kan. Han Ji Yeon ini cantik sekali. Tapi, bukankah wajah cantik itu menipu. Maksudku, 90% wanita Korea termasuk para remajanya melakukan bedah plastik?! Well, kecuali Cherry yang termasuk dalam 10% sisanya dan nggak akan mungkin melakukan bedah plastik karena jelas-jelas tidak akan ada ember yang mau memberikan plastiknya pada yeoja semacam Cherry.

Ngomong-ngomong, aku kangen Cherry, nih…

Lanjut membuka info Han Ji Yeon

Ah.. Tidak ada info yang spesifik. Paling mentok hanya about me yang isinya tulisan ‘Want to know me? Talk to me! XOXO’

So boring.

Tapi, waktu kubaca relationship statusnya, She’s single!

Aku tersenyum bahagia.

Aisssh… Stop Choi Siwon! Kau tidak boleh macam-macam. Cherry mau kau kemanakan hah???

Bukannya berhenti mencari tau tentang Han Ji Yeon, aku malah membuka photo album teman fb baruku ini.

Ia tidak banyak meng-upload foto. Hanya ada album mobile upload, dan isinya cuma ada 3 foto.

Wow Wow Wow!!! Lumayan juga. Dari ketiga fotonya, aku suka fotonya yang kedua. Mungkin foto setelah party atau apa, tapi terlihat anggun, walaupun si Han Ji Yeon ini memasang muka aegyo.

Muka aegyo… Ahh… Jadi kangen Cherry >.<

Tiba-tiba, si Han Ji Yeon meng-chatku.

Gomawo udah diconfirm ^^. Intro?

Ahh… Biasa banget. Thank’s lalu intro. Biasanya, aku malas membalas pertanyaan seperti itu. Tapi, karena yang meng-chat si Han Ji Yeon, yaa.. boleh lah..

Siwon. 18. Seoul

Seoulnya mana nih? Eh, boleh panggil oppa? Aku 17 lhoo..

Kamu anak mana sih?

Citta De Laisella

Woowww!!! Anak Citta De Laisella! Itu kan, sekolah fine arts yang spp-nya muahaalnya minta ampun itu. Wow!!!

Oppa, minta BB-pin dong ^^

Bukannya pelit, tapi aku tidak mau memberikan pin BBku pada sembarang orang. Apalagi pada orang yang baru kukenal seperti Han Ji Yeon ini. Selain itu, aku juga berusaha untuk tidak membuka peluangku untuk berselingkuh. Sumpah, aku tidak mau berpaling dari Cherryku. Berlebihan, sih. Tapi ya sudah, lah. Normal kan kalau namja sepertiku sempat curi-curi, apalagi kalau orangnya secanti Han Ji Yeon…

Mian. Aku tidak pakai BB. Hehe 🙂

Oh. Oppa sekolah mana?

EIJC.

JC 2 ya? Wah, sebentar lagi ujian, dong. Hwaiting!!!

Thank’s 🙂

Oppa suka nonton konser tidak?

Konser apa dulu..

Ya lagu-lagu klasik gitu. Citt de Laisella mau ngadain pentas seni. Anak musik bakal nampilin lagu klasik. Aku main lhoo… Datang ya!! ^^

Wow, Ji Yeon anak musik rupanya…

Km main apa?

Piano. Beneran datang ya! Terbuka buat umum, kok. Sabtu besok jam 5 sore. Kutunggu lhoo… Dadah ^^
Ji Yeon-Han is offline

Eh, anak ini seenaknya saja. Kenal aja nggak. Ah, aku tidak akan datang. Orang aku tidak kenal.

Ji Yeon-Han is online

Kalo Oppa tidak datang, aku marah nih 😦

Ji Yeon-Han is offline

Waduh… Ada-ada saja si Ji Yeon ini. Datang nggak ya? Aku masih mikir-mikir. Tapi lumayan juga, misalkan aku datang, aku kan bisa bertemu dengannya. Yeah, berinteraksi di dunia nyata jauh lebih menyenangkan daripada di dunia maya.

YOU KNOW ME SO WELL~~

Handphoneku berdering. Tertera nama Sweetie Cherryku di situ.

“Wonnie The Pooh, Sabtu jalan yuk!”

“Lho, bukannya kau pulangnya baru Sabtu?”

“Nggak jadi. Dimajuin hari Jumat.”

“Ngg… Tapi, Sabtu aku belum pasti bisa soalnya…”

“Kau janji dengan siapa?!” Cherry mulai menampakkan suara curiga.

“Ngg.. itu… Aku kan bilang belum pasti bisa, belum tentu aku benar-benar tidak bisa kan?”

“KATAKAN PADAKU KAU JANJI DENGAN SIAPA?!”

Mati aku. Kalau aku bilang janji dengan Ji Yeon, Cherry bisa-bisa merasa diduakan lalu minta putus denganku. Aduuh.. Kenapa hidupku jadi rumit begini, sih?? Facebook sialan! “Aku ada janji dengan teman dari sekolah lain. Dia lagi ngadain konser gitu, terus ngundang aku…” kataku tidak sepenuhnya bohong.

“Jadi aku tidak boleh ikut ya?”

“Bukan begitu. Aku hanya tidak enak dengannya. Yang diundang kan aku, masa aku ngajak orang lain, sih? Mana tiketnya cuma satu. Lagipula dia tidak mengenalmu…”

“Oh.. Ya sudah. Jalan-jalannya kapan-kapan, deh.. Sudah ya..”

KLIK

Tuut.. Tuuttt

Fiuh, lega… Cherry tidak jadi curiga padaku. Sumpah deh, aku nggak mau ada masalah cemburu-cemburuan bahkan affair pada hubungan kami. Too clasic!

To Be Continued








Cenat Cenut

“YOU KNOW ME SO WELL~~”

Ringtone dari boyband yang lagi nge-hits itu berdering di handphoneku. Aku nyaris melemparnya ke jendela karena saat itu juga, handphonenya bergetar.

“Yeboseo~?”

“WONNIE!!! GAWAT. CEPAT KE SINI!!!”

Klik

Tutt… Tutt…

Oh, well. Ini pasti hanya akal-akalannya Cherry. Dia pasti sedang ingin mengerjaiku. Berpikir bahwa dia benar-benar dalam bahaya, membuat aku panik, lalu setelah aku berada di hadapannya, dia akan berkata “Jeongmal Babolya. Dikerjain mau… Gyahahaha….”

Huh, klasik.

Kali ini, aku tidak akan terjebak perangkatmu lagi, Sweety Cherry.

“YOU KNOW ME SO WELL~” handphoneku berdering lagi.

“Apa? Kau mau mengerjaiku? Iya?”

“CEPAT KESINI, KALAU TIDAK AKU AKAN MATI!”

Klik

Tuutt… Tutt…

Tunggu! Ada nada panik di situ. Sekarang, aku benar-benar percaya kalau Cherry memang sedang dalam bahaya. Tunggulah, Sweety Cherryku. Aku akan menyelamatkanmu!

Tanpa berganti pakaian, aku langsung meninggalkan rumah. Jiwon, adik perempuanku, yang tadi sedang menonton TV, hanya mengernyitkan dahi begitu aku memamitinya dengan wajah panik. Well, aku tidak punya waktu lagi. Calon kakak iparnya slash yeojachinguku alias Cherry, sedang dalam bahaya.

“Kau dimana?”

“Sedang dalam perjalanan. Kau masih bisa bertahan, kan? Tunggulah, aku akan menolongmu,” kataku yang saat ini, aku sedang dalam MRT jurusan daerah rumah Cherry.

“Siwon, please…”

“Ya ya ya. Bertahanlah!”

dan please… Jangan buat aku semakin mengkhawatirkanmu, jagii…

Teleponnya terputus lagi. Oh, Gowd. Please, lindungilah Cherryku. Aku tidak mau kehilangan Cherry seperti waktu itu, dimana Cherry nyaris kehilangan nyawanya saat hendak menyelamatkanku…

Gowd, lebih baik aku yang mati daripada kehilangan Cherry…

Akhirnya, aku sampai di rumah Cherry. Ini adalah kali kedua aku mengunjungi rumah bergaya american classic itu.

Sampai di rumah Cherry, hampir sekujur tubuhku sudah keringat dingin. Ya, aku panik dengan keadaan Cherry. Yang kedua, aku deg-degan kalau nanti aku bertemu Eonmma atau Appanya. Waktu aku mengantarkannya dari rumah sakit dulu, aku hanya bertemu dengan Nanny yang bekerja di rumahnya.

Jadi, kalau nanti aku bertemu orang tuanya, aku harus bicara apa, dong??

“Permisi…”

Tak lama kemudian, pintu rumah Cherry terbuka.

“Ya, mau cari siapa?”

“Cherry baik-baik saja, kan Bi?”

“Wah.. Kamu pasti Choi Siwon, kan? Masuklah, bibi sedang memanggang kue untuk kalian,” lalu, bibi yang sepertinya Eonmma Cherry itu menoleh ke dalam. “Cherry… Pacarmu datang, nih…”

Pacar? Aku langsung blushing dengan status baruku ini. Memang, aku sudah 3 bulan pacaran dengan Cherry. Tapi, kok rasanya gimana gitu waktu bibi ini bilang ‘pacarmu datang’ bukan ‘temanmu datang’ pada Cherry.

Wait! Bibi ini kok santai-santai saja saat anaknya sedang dalam bahaya. Malah sempat membuat kue segala. Wahh… Jangan-jangan…

“Bi, Cherry baik-baik saja kan?”

Eonmma Cherry mengernyitkan dahi. “Ya.. Anakku baik-baik saja.. Memangnya, ada apa dengan Cherry?”

“Tidak sakit, tidak sedang dalam kondisi kritis?”

Eonmma Cherry semakin menampakkan wajah kebingungan, mungkin dalam hatinya ia sedang berkata WHAT THE HELL ARE YOU TALKING ABOUT??

“Tentu saja tidak. Tuh, Cherry sedang main ps di lantai dua. Nak Siwon naik saja…”

Fine, Cherry Han. Kau benar-benar minta mati!!!!

“Kick! Kick! Aaaa… What a sh*t thing!”

“Yang bilang tadi akan mati siapa?!” tanyaku dengan nada paling menyeramkan yang bisa kubuat begitu aku naik ke lantai dua.

Cherry yang baru saja membanting Play Stationnya itu hanya menoleh ke arahku sambil membetulkan kacamatanya. Eits, sejak kapan dia pakai kacamata?

“Eh, kau sudah datang rupanya…” ucapnya santai lalu beralih pada game-nya yang sedang loading.

Aku mendengus sekencang-kencangnya. Tanganku terkepal, siap melayangkan tinju terbaikku andai yang dihadapanku ini bukan Cherry. “Cherry… Kau… Benar-benar…”

“Sudah, kau duduk saja. Dari rumahmu sampai sini pasti melelahkan, kan?”

Aku dengan tetap mempertahankan perasaan dongkol-jengkel sekaligus hasrat ingin membunuhnya, berjalan menghampirinya yang kini sudah mulai menyerang Larz dengan jurus andalan Devil Jin. Cherry sedang main Tekken, by the way.

“Fight! Fight! Aahh.. Freaking Stupid!!!” ia misuh-misuh. “Hey, kau. Duduk saja kenapa, sih? Tenang saja, lantai ini bersih dari kecoa…”

Aku sempat merinding tadi. Tau lah, aku benci binatang bersungut itu…

“Maksudmu tadi apa menelponku dengan panik seperti itu?! Bikin orang sport jantung, tau ngga?!”

Cherry tidak menggubrisku. Ia masih sibuk melanjutkan Round2 melawan Larz.

“Cherry!” aku membentaknya. Oke, ini memang tidak sopan dan jujur saja aku benci kalau harus marah padanya. Tapi dianya yang bikin sebal sih.

“Cherry! Tidakkah kau tau kalau itu sangat tidak elit untuk dilakukan?! Bagaimana kalau yang kau telpon itu bukan aku~”

Kata-kataku terhenti saat Cherry menarik tanganku kasar, memakasaku untuk duduk, hingga aku nyaris jatuh di sebelahnya. “Duduk, dan kalahkan Larz!”perintahnya.

Cherry lalu memberikan PSnya kepadaku dan menyuruhku mengalahkan musuh Devil Jin itu. Sial Sial Sial. Tiap kali aku hendak marah kepadanya, aku tidak bisa. Well, Cherry seperti punya magic untuk menyihirku, untuk membuatku takluk dan tidak marah dengan kelakuan supernyebelinnya itu.

“Kau harus membayar mahal padaku!”

dan aku pun mulai memainkan Devil Jinnya. Aissh.. Dasar Cherry. Kadang kalau sedang keluar soknya, ia tidak menyadari bahwa sebenarnya ia tidak mampu. Just see it! Gayanya pakai Devil Jin melawan Larz, tapi nggak tau bagaimana cara memainkannya. Huh, dasar belagu!

Tapi, belagu-belagu gitu, aku mencintainya kok. Hehehe…

“Eh, kau mau kemana?” tanyaku sambil meng-pause game saat Cherry tiba-tiba berdiri dan hendak meninggalkanku.

“Ngambil PS yg lain. Aku bosan kalau cuma melihatmu yang main. Aku mau melawanmu!!” katanya antusias dan segera menghilang dari hadapanku.

See? Cherry belagu, kan? Sama komputer aja nggak bisa, malah mau menantangku. Lihat saja, kau akan kubantai.

Tak lama, Cherry kembali denga PS yang lain. Ia segera mencolokkan kabel pada port LCD TVnya lalu duduk di sebelahku.

“Yang kalah, kena hukuman ya…” tantangnya. Aku hanya manggut-manggut saja. Terserah deh, Cherry maunya apa. Toh nanti dia yang kalah.

“Hukumannya dikasi kecoa..”

“NGGAK!” protesku langsung. “Nggak ada kecoa-kecoaan…”

“Hehehe.. Bercanda Mr. Wonnie the pooh…” ucapnya sok aegyo. Idiih… Nggak pantes…

“Oke. Yang kalah, dikelitikin. Deal?” ia mengulurkan tangannya padaku.

“Deal,” balasku.

Dan kami pun mulai bertanding. Mulanya aku yang menang, tapi lama-lama life Kauzya-ku habis dibantai Devil Jin milik Cherry. Sial Sial Sial…

“Wah, ternyata aku ini benar-benar Game Master ya… Gyahahaha…” selorohnya seolah sedang mengejekku yang kalah. Uhh… dasar Cherry. Dia makin mengingatkanku pada Kyuhyun, kembaran beda ayah beda ibunya, yang kini ada di Amerika. Belagu, sombong, iseng, jahil pula. Yah, singkat kata, Cherry adalah Cho Kyuhyun versi perempuan.

“Yak… Sebentar lagi, akan ada yang dikelitikin nih. Aisssh… Kira-kira dia tahan nggak yaa???”

Ya ya ya, Cherry semakin meng-pressed me down. Dan pada akhirnya aku pun kalah.

“Gyahahaha…” ia tertawa mengerikan sambil memainkan jari-jarinya seperti nenek sihir dan bersiap mengelitikiku. Tuhan, bebaskan aku sekarang!!!!

“Ngg… Aku kebelet pipis, nih. Ke toilet dulu ya…”

“Ah… Alibi. Sudah, terima saja nasibmu.”

Ampun deh, aku benar-benar ingin lari. Aku segera beranjak berdiri, namun Cherry menarik tanganku dan langsung mengelitiki pinggangku. Sumpah, aku nggak tahan. Geli banget… >.< “KYAA.. AMPUN AMPUN… UDAH… UDAH… NYERAH!!! KYAAAAA!!!!”

“Gyahaha… Belum semenit, Choi Siwon. Perjanjiannya kan semenit…”

“Enak aja! KYAA… GELI GELI… Mana ada… KYAA… Tadi kamu nggak bilang semenit kok… KYAAA…”

Perutku serasa dikocok dan diterbangi jutaan kupu-kupu. Aduuh… Sumpah geli banget.

Cherry semakin menggelitiku dengan membabi buta. Aku tidak terima. Akhirnya, aku balas menggelitikinya.

“KYAA… KAU CURANG CHOU SIWON… KYAA… GELI GELI!!! UWAAH… STOP STOP….”

“Kan belum semenit, Cherry Han…”

Kami kompakan berhenti. Sumpah, aku serasa kehilangan nafas. Menahan geli sama ngos-ngosannya dengan berlari memutari lapangan maraton sepuluh kali.

“Jadi*hosh* ceritanya *hosh*kamu mau balas dendam, nih?” tanya Cherry dengan senyum evilnya. “In Your Dream, Choi Siwon!!” ia kembali menyerangku dengan gelitikannya.

“KYAAA… AMPUN… AMPUN… KYAA….”

Karena Cherry terlalu bernafsu menyerangku, ia sampai tidak sadar kalau posisi duduknya berpotensi membuatnya terjatuh. Dan benar, kan, Cherry akhirnya jatuh menimpaku.

*NGEK!* Jantungku serasa melompat keluar saat Cherry ambruk di atasku. Sudah ketimpa Cherry yang lumayan berat ini, masih ketatap lantai pula. Sialnya nasibku…

“Ugh…” rintihku pura-pura kesakitan supaya Cherry menyadari bahwa TUBUHNYA ITU LUMAYAN BERAT dan segera beranjak dariku.

“Ups, sorry-sorry, Choi Siwon…”

Wajahnya agak sedikit aegyo saat meminta maaf padaku. Kalau dilihat dari jarak sedekat ini, Cherry memang cantik ya. Nggak salah aku menjadikannya yeojachinguku.

“Mi… mianhamnida…” seketika, pipinya bersemu merah. Mungkin, sekarang aku juga.

Posisi kami saat ini seperti De Javu. Bedanya, sampai sejauh ini, tidak tanda-tanda kemunculan Heechul Seongsanim. Iya, lah. Sekolah kan sedang libur…

Kembali ke keadaan kami sekarang. Mimik wajah Cherry semakin ketakutan karena aku menatapnya begitu dalam. Tenanglah, sweety. Aku tidak akan membunuhmu. Yang tadi itu cuma bercanda, kok. Serius.

Aku semakin mendekatkan wajahku pada wajahnya. Cherry sama sekali tak berkedip. Demi apapun juga, ekspresi aegyonya semakin membuatku susah untuk melepaskannya. Dan aku memang tidak mau melepaskannya, sampai kapan pun juga.

Kurang satu inchi lagi, bibirku akan menyentuh bibir merah cherry-nya.

PLAK!

“Aww…!!!” tamparan Cherry langsung membuatku terbelalak. “Kenapa kau menamparku?!” protesku sambil mengusap-usap pipi kiriku yang panas setelah ditampar Cherry.

“Jangan berbuat seenaknya, ya! Dasar, otak mesum!” Cherry langsung berdiri dari posisinya dan duduk di tempatnya yang semula.

“Halah, dulu saja saat di perpustakaan, kau mau-mau saja kucium. Jangan sok alim deh…”

Cherry langsung mencubit pipi kananku. “IAAWWW… SAKIT TAU!”

“Bodo!”

Kami diam sejenak. Aku tau kalau sebenarnya dia sedang blushing. Begitupun dengan diriku.

Saat kami saling terdiam, tiba-tiba Eonmma Cherry muncul dengan sepiring choco cookies di tangannya. Hmm… baunya harum sekali. Aku jadi lapar, hehehe…

“Nak Siwon, kuenya dimakan ya…” kata Eonmma Cherry sambil meletakkan cookies yang baru matang itu di meja. Aku masih speechless. Tadi, Eonmmanya Cherry melihat kelakukan kami tidak, ya? Ahh… Aku jadi malu sendiri. “Cherry, ambilkan pacarmu ini minum, gih.  Apa gitu. Sepertinya, di lemari es ada milk tea.Eonmma tadi lupa mengambilnya karena cepat-cepat.”

“Ne, Eonmma,” dan Cherry yang tadi masih duduk segera turun ke bawah untuk mengambil minum.

“Jangan lupa tissue-nya, ya!!!”

“Ya eonmma!” jawab Cherry yang suaranya terdengar dari bawah.

“Nak Siwon, gamshahamnida.”

“Eh? Untuk apa, Bi?”

“Nak Siwon sudah sabar menghadapi Cherry. Jujur, Bibi dan Paman saja terkadang sering kewelahan dengan polahnya yang bandel itu. Tapi, Nak Siwon bisa sabar menghadapi Cherry dan sepertinya Cherry lebih menurut kepada Nak Siwon dariapada dengan Bibi atau Paman,” Eonmma Cherry menghela nafas sebentar. “Gamshahamnida.”

“Eh? Bibi terlalu berlebihan… Aku jadi tidak enak…”

Eonmma Cherry tersenyum padaku. Wah, tanda-tanda aku direstui, nih. Tapi.. Aku masih tidak yakin apa aku benar-benar direstui sepenuhnya.

“Bibi, apa bibi merestui hubungan Cherry denganku?”

Aduh.. Babbolya~! Kenapa aku malah tanya begitu, sih??

“Asal Cherry dan Nak Siwon bahagia, Bibi dan Appanya Cherry pasti merestui.” jawab Eonmma Cherry sambil berjalan ke arah tangga. “Sudah, ya, bibi tinggal dulu…”

Setelah Eonmma Cherry menghilang, munculah Cherry dengan seteko milk tea sambil membawa 2 buah gelas kosong. Ia celingkukan, melihatku senyam-senyum sendiri. Yeeaa… Aku sedang bahagia sekarang. Satu step dari hubungan kami sudah berhasil kulalui. Aku direstui.

“Eonmma bicara apa kepadamu?” tanya Cherry menginterogasi dengan wajah juteknya, seperti biasa.

“Nothing…”

“Bohong.”

“Sudahlah, kau mau membiarkanku mati kekeringan? Aku haus, nih…”

“Katakan apa yang Eonmma bicarakan padamu!”

“Eonmmamu bilang, Cherry itu parah. Ia tidak bisa memperlakukan tamu dengan baik, sampai-sampai, tamunya diterlantarkan dan nyaris mati kehausan.”

Cherry gonduk dengan sindiranku. Hehe, maaf ya. Tapi aku benar-benar haus saat ini.

“Minumlah.” Ia meletakkan teko teh dengan gelas-gelas itu persis di sebelah choco cookies buatan Eonmmanya.

“Tuangin, dong…”

“Idiih… Nggak usah sok manja, deh. Kau tidak pantas ber-aegyo-aegyo ya!”

“Memangnya, kau sendiri pantas?!”

“Aku memang tidak aegyo, kok. BWEKK!” ia menjulurkan lidahnya dengan muka mengejek. Hihi, mukanya jadi jelek banget.

Cherry lalu duduk di sebelahku dan ikut menuang milk tea ke dalam gelasnya. Tapi, saat aku hendak meminum milk teaku, tiba-tiba dia mencium pipiku.

Tubuhku serasa beku. Cherry… Menciumku?

Kami terdiam sejenak dan hanya saling memandang. Cherry, terutama, pipinya blushing lagi. Tapi, setelah itu, wajahnya berubah menjadi jutek lagi. “Katanya haus?!”

Cherry, Cherry. Memang sesusah itu ya mengungkapkan cinta kepadaku? Sepertinya, gengsimu itu harus segera diturunkan, deh.

Hahaha

-End-

Fruit-Horse-Sugar

So, what is the relationship between Fruit, Horse, and Sugar???

Intinya, di sini bakal ada 2 pairing dengan 1 main character (of course, Choi Siwon) dengan cerita yg berbeda pula.

About Cherry.Loves.Siwonnie:Walaupun sekarang statusnya Siwon adalah pacar Cherry, Cherry nggak pernah berhenti menjahili Siwon dengan kecoa mainannya. Settingnya adalah masa SMA. Jadi, anggap aja Siwon di sini adalah Siwon yg masih cute-cute gimana gituu…

About Sugar Lady and The Horse:Settingnya sudah masuk perguruan tinggi. Michi dan Siwon adalah pasangan paling serasi di sekolah. Sama-sama punya God-face dan kaya. Pokoknya, mereka adalah sepasang anak manusia yg mahasempurna di muka bumi. Hubungan mereka bakal sedikit complicated saat mantan pacar Michi muncul.

My wish is, hope u entertained… ^^