Cenat Cenut

“YOU KNOW ME SO WELL~~”

Ringtone dari boyband yang lagi nge-hits itu berdering di handphoneku. Aku nyaris melemparnya ke jendela karena saat itu juga, handphonenya bergetar.

“Yeboseo~?”

“WONNIE!!! GAWAT. CEPAT KE SINI!!!”

Klik

Tutt… Tutt…

Oh, well. Ini pasti hanya akal-akalannya Cherry. Dia pasti sedang ingin mengerjaiku. Berpikir bahwa dia benar-benar dalam bahaya, membuat aku panik, lalu setelah aku berada di hadapannya, dia akan berkata “Jeongmal Babolya. Dikerjain mau… Gyahahaha….”

Huh, klasik.

Kali ini, aku tidak akan terjebak perangkatmu lagi, Sweety Cherry.

“YOU KNOW ME SO WELL~” handphoneku berdering lagi.

“Apa? Kau mau mengerjaiku? Iya?”

“CEPAT KESINI, KALAU TIDAK AKU AKAN MATI!”

Klik

Tuutt… Tutt…

Tunggu! Ada nada panik di situ. Sekarang, aku benar-benar percaya kalau Cherry memang sedang dalam bahaya. Tunggulah, Sweety Cherryku. Aku akan menyelamatkanmu!

Tanpa berganti pakaian, aku langsung meninggalkan rumah. Jiwon, adik perempuanku, yang tadi sedang menonton TV, hanya mengernyitkan dahi begitu aku memamitinya dengan wajah panik. Well, aku tidak punya waktu lagi. Calon kakak iparnya slash yeojachinguku alias Cherry, sedang dalam bahaya.

“Kau dimana?”

“Sedang dalam perjalanan. Kau masih bisa bertahan, kan? Tunggulah, aku akan menolongmu,” kataku yang saat ini, aku sedang dalam MRT jurusan daerah rumah Cherry.

“Siwon, please…”

“Ya ya ya. Bertahanlah!”

dan please… Jangan buat aku semakin mengkhawatirkanmu, jagii…

Teleponnya terputus lagi. Oh, Gowd. Please, lindungilah Cherryku. Aku tidak mau kehilangan Cherry seperti waktu itu, dimana Cherry nyaris kehilangan nyawanya saat hendak menyelamatkanku…

Gowd, lebih baik aku yang mati daripada kehilangan Cherry…

Akhirnya, aku sampai di rumah Cherry. Ini adalah kali kedua aku mengunjungi rumah bergaya american classic itu.

Sampai di rumah Cherry, hampir sekujur tubuhku sudah keringat dingin. Ya, aku panik dengan keadaan Cherry. Yang kedua, aku deg-degan kalau nanti aku bertemu Eonmma atau Appanya. Waktu aku mengantarkannya dari rumah sakit dulu, aku hanya bertemu dengan Nanny yang bekerja di rumahnya.

Jadi, kalau nanti aku bertemu orang tuanya, aku harus bicara apa, dong??

“Permisi…”

Tak lama kemudian, pintu rumah Cherry terbuka.

“Ya, mau cari siapa?”

“Cherry baik-baik saja, kan Bi?”

“Wah.. Kamu pasti Choi Siwon, kan? Masuklah, bibi sedang memanggang kue untuk kalian,” lalu, bibi yang sepertinya Eonmma Cherry itu menoleh ke dalam. “Cherry… Pacarmu datang, nih…”

Pacar? Aku langsung blushing dengan status baruku ini. Memang, aku sudah 3 bulan pacaran dengan Cherry. Tapi, kok rasanya gimana gitu waktu bibi ini bilang ‘pacarmu datang’ bukan ‘temanmu datang’ pada Cherry.

Wait! Bibi ini kok santai-santai saja saat anaknya sedang dalam bahaya. Malah sempat membuat kue segala. Wahh… Jangan-jangan…

“Bi, Cherry baik-baik saja kan?”

Eonmma Cherry mengernyitkan dahi. “Ya.. Anakku baik-baik saja.. Memangnya, ada apa dengan Cherry?”

“Tidak sakit, tidak sedang dalam kondisi kritis?”

Eonmma Cherry semakin menampakkan wajah kebingungan, mungkin dalam hatinya ia sedang berkata WHAT THE HELL ARE YOU TALKING ABOUT??

“Tentu saja tidak. Tuh, Cherry sedang main ps di lantai dua. Nak Siwon naik saja…”

Fine, Cherry Han. Kau benar-benar minta mati!!!!

“Kick! Kick! Aaaa… What a sh*t thing!”

“Yang bilang tadi akan mati siapa?!” tanyaku dengan nada paling menyeramkan yang bisa kubuat begitu aku naik ke lantai dua.

Cherry yang baru saja membanting Play Stationnya itu hanya menoleh ke arahku sambil membetulkan kacamatanya. Eits, sejak kapan dia pakai kacamata?

“Eh, kau sudah datang rupanya…” ucapnya santai lalu beralih pada game-nya yang sedang loading.

Aku mendengus sekencang-kencangnya. Tanganku terkepal, siap melayangkan tinju terbaikku andai yang dihadapanku ini bukan Cherry. “Cherry… Kau… Benar-benar…”

“Sudah, kau duduk saja. Dari rumahmu sampai sini pasti melelahkan, kan?”

Aku dengan tetap mempertahankan perasaan dongkol-jengkel sekaligus hasrat ingin membunuhnya, berjalan menghampirinya yang kini sudah mulai menyerang Larz dengan jurus andalan Devil Jin. Cherry sedang main Tekken, by the way.

“Fight! Fight! Aahh.. Freaking Stupid!!!” ia misuh-misuh. “Hey, kau. Duduk saja kenapa, sih? Tenang saja, lantai ini bersih dari kecoa…”

Aku sempat merinding tadi. Tau lah, aku benci binatang bersungut itu…

“Maksudmu tadi apa menelponku dengan panik seperti itu?! Bikin orang sport jantung, tau ngga?!”

Cherry tidak menggubrisku. Ia masih sibuk melanjutkan Round2 melawan Larz.

“Cherry!” aku membentaknya. Oke, ini memang tidak sopan dan jujur saja aku benci kalau harus marah padanya. Tapi dianya yang bikin sebal sih.

“Cherry! Tidakkah kau tau kalau itu sangat tidak elit untuk dilakukan?! Bagaimana kalau yang kau telpon itu bukan aku~”

Kata-kataku terhenti saat Cherry menarik tanganku kasar, memakasaku untuk duduk, hingga aku nyaris jatuh di sebelahnya. “Duduk, dan kalahkan Larz!”perintahnya.

Cherry lalu memberikan PSnya kepadaku dan menyuruhku mengalahkan musuh Devil Jin itu. Sial Sial Sial. Tiap kali aku hendak marah kepadanya, aku tidak bisa. Well, Cherry seperti punya magic untuk menyihirku, untuk membuatku takluk dan tidak marah dengan kelakuan supernyebelinnya itu.

“Kau harus membayar mahal padaku!”

dan aku pun mulai memainkan Devil Jinnya. Aissh.. Dasar Cherry. Kadang kalau sedang keluar soknya, ia tidak menyadari bahwa sebenarnya ia tidak mampu. Just see it! Gayanya pakai Devil Jin melawan Larz, tapi nggak tau bagaimana cara memainkannya. Huh, dasar belagu!

Tapi, belagu-belagu gitu, aku mencintainya kok. Hehehe…

“Eh, kau mau kemana?” tanyaku sambil meng-pause game saat Cherry tiba-tiba berdiri dan hendak meninggalkanku.

“Ngambil PS yg lain. Aku bosan kalau cuma melihatmu yang main. Aku mau melawanmu!!” katanya antusias dan segera menghilang dari hadapanku.

See? Cherry belagu, kan? Sama komputer aja nggak bisa, malah mau menantangku. Lihat saja, kau akan kubantai.

Tak lama, Cherry kembali denga PS yang lain. Ia segera mencolokkan kabel pada port LCD TVnya lalu duduk di sebelahku.

“Yang kalah, kena hukuman ya…” tantangnya. Aku hanya manggut-manggut saja. Terserah deh, Cherry maunya apa. Toh nanti dia yang kalah.

“Hukumannya dikasi kecoa..”

“NGGAK!” protesku langsung. “Nggak ada kecoa-kecoaan…”

“Hehehe.. Bercanda Mr. Wonnie the pooh…” ucapnya sok aegyo. Idiih… Nggak pantes…

“Oke. Yang kalah, dikelitikin. Deal?” ia mengulurkan tangannya padaku.

“Deal,” balasku.

Dan kami pun mulai bertanding. Mulanya aku yang menang, tapi lama-lama life Kauzya-ku habis dibantai Devil Jin milik Cherry. Sial Sial Sial…

“Wah, ternyata aku ini benar-benar Game Master ya… Gyahahaha…” selorohnya seolah sedang mengejekku yang kalah. Uhh… dasar Cherry. Dia makin mengingatkanku pada Kyuhyun, kembaran beda ayah beda ibunya, yang kini ada di Amerika. Belagu, sombong, iseng, jahil pula. Yah, singkat kata, Cherry adalah Cho Kyuhyun versi perempuan.

“Yak… Sebentar lagi, akan ada yang dikelitikin nih. Aisssh… Kira-kira dia tahan nggak yaa???”

Ya ya ya, Cherry semakin meng-pressed me down. Dan pada akhirnya aku pun kalah.

“Gyahahaha…” ia tertawa mengerikan sambil memainkan jari-jarinya seperti nenek sihir dan bersiap mengelitikiku. Tuhan, bebaskan aku sekarang!!!!

“Ngg… Aku kebelet pipis, nih. Ke toilet dulu ya…”

“Ah… Alibi. Sudah, terima saja nasibmu.”

Ampun deh, aku benar-benar ingin lari. Aku segera beranjak berdiri, namun Cherry menarik tanganku dan langsung mengelitiki pinggangku. Sumpah, aku nggak tahan. Geli banget… >.< “KYAA.. AMPUN AMPUN… UDAH… UDAH… NYERAH!!! KYAAAAA!!!!”

“Gyahaha… Belum semenit, Choi Siwon. Perjanjiannya kan semenit…”

“Enak aja! KYAA… GELI GELI… Mana ada… KYAA… Tadi kamu nggak bilang semenit kok… KYAAA…”

Perutku serasa dikocok dan diterbangi jutaan kupu-kupu. Aduuh… Sumpah geli banget.

Cherry semakin menggelitiku dengan membabi buta. Aku tidak terima. Akhirnya, aku balas menggelitikinya.

“KYAA… KAU CURANG CHOU SIWON… KYAA… GELI GELI!!! UWAAH… STOP STOP….”

“Kan belum semenit, Cherry Han…”

Kami kompakan berhenti. Sumpah, aku serasa kehilangan nafas. Menahan geli sama ngos-ngosannya dengan berlari memutari lapangan maraton sepuluh kali.

“Jadi*hosh* ceritanya *hosh*kamu mau balas dendam, nih?” tanya Cherry dengan senyum evilnya. “In Your Dream, Choi Siwon!!” ia kembali menyerangku dengan gelitikannya.

“KYAAA… AMPUN… AMPUN… KYAA….”

Karena Cherry terlalu bernafsu menyerangku, ia sampai tidak sadar kalau posisi duduknya berpotensi membuatnya terjatuh. Dan benar, kan, Cherry akhirnya jatuh menimpaku.

*NGEK!* Jantungku serasa melompat keluar saat Cherry ambruk di atasku. Sudah ketimpa Cherry yang lumayan berat ini, masih ketatap lantai pula. Sialnya nasibku…

“Ugh…” rintihku pura-pura kesakitan supaya Cherry menyadari bahwa TUBUHNYA ITU LUMAYAN BERAT dan segera beranjak dariku.

“Ups, sorry-sorry, Choi Siwon…”

Wajahnya agak sedikit aegyo saat meminta maaf padaku. Kalau dilihat dari jarak sedekat ini, Cherry memang cantik ya. Nggak salah aku menjadikannya yeojachinguku.

“Mi… mianhamnida…” seketika, pipinya bersemu merah. Mungkin, sekarang aku juga.

Posisi kami saat ini seperti De Javu. Bedanya, sampai sejauh ini, tidak tanda-tanda kemunculan Heechul Seongsanim. Iya, lah. Sekolah kan sedang libur…

Kembali ke keadaan kami sekarang. Mimik wajah Cherry semakin ketakutan karena aku menatapnya begitu dalam. Tenanglah, sweety. Aku tidak akan membunuhmu. Yang tadi itu cuma bercanda, kok. Serius.

Aku semakin mendekatkan wajahku pada wajahnya. Cherry sama sekali tak berkedip. Demi apapun juga, ekspresi aegyonya semakin membuatku susah untuk melepaskannya. Dan aku memang tidak mau melepaskannya, sampai kapan pun juga.

Kurang satu inchi lagi, bibirku akan menyentuh bibir merah cherry-nya.

PLAK!

“Aww…!!!” tamparan Cherry langsung membuatku terbelalak. “Kenapa kau menamparku?!” protesku sambil mengusap-usap pipi kiriku yang panas setelah ditampar Cherry.

“Jangan berbuat seenaknya, ya! Dasar, otak mesum!” Cherry langsung berdiri dari posisinya dan duduk di tempatnya yang semula.

“Halah, dulu saja saat di perpustakaan, kau mau-mau saja kucium. Jangan sok alim deh…”

Cherry langsung mencubit pipi kananku. “IAAWWW… SAKIT TAU!”

“Bodo!”

Kami diam sejenak. Aku tau kalau sebenarnya dia sedang blushing. Begitupun dengan diriku.

Saat kami saling terdiam, tiba-tiba Eonmma Cherry muncul dengan sepiring choco cookies di tangannya. Hmm… baunya harum sekali. Aku jadi lapar, hehehe…

“Nak Siwon, kuenya dimakan ya…” kata Eonmma Cherry sambil meletakkan cookies yang baru matang itu di meja. Aku masih speechless. Tadi, Eonmmanya Cherry melihat kelakukan kami tidak, ya? Ahh… Aku jadi malu sendiri. “Cherry, ambilkan pacarmu ini minum, gih.  Apa gitu. Sepertinya, di lemari es ada milk tea.Eonmma tadi lupa mengambilnya karena cepat-cepat.”

“Ne, Eonmma,” dan Cherry yang tadi masih duduk segera turun ke bawah untuk mengambil minum.

“Jangan lupa tissue-nya, ya!!!”

“Ya eonmma!” jawab Cherry yang suaranya terdengar dari bawah.

“Nak Siwon, gamshahamnida.”

“Eh? Untuk apa, Bi?”

“Nak Siwon sudah sabar menghadapi Cherry. Jujur, Bibi dan Paman saja terkadang sering kewelahan dengan polahnya yang bandel itu. Tapi, Nak Siwon bisa sabar menghadapi Cherry dan sepertinya Cherry lebih menurut kepada Nak Siwon dariapada dengan Bibi atau Paman,” Eonmma Cherry menghela nafas sebentar. “Gamshahamnida.”

“Eh? Bibi terlalu berlebihan… Aku jadi tidak enak…”

Eonmma Cherry tersenyum padaku. Wah, tanda-tanda aku direstui, nih. Tapi.. Aku masih tidak yakin apa aku benar-benar direstui sepenuhnya.

“Bibi, apa bibi merestui hubungan Cherry denganku?”

Aduh.. Babbolya~! Kenapa aku malah tanya begitu, sih??

“Asal Cherry dan Nak Siwon bahagia, Bibi dan Appanya Cherry pasti merestui.” jawab Eonmma Cherry sambil berjalan ke arah tangga. “Sudah, ya, bibi tinggal dulu…”

Setelah Eonmma Cherry menghilang, munculah Cherry dengan seteko milk tea sambil membawa 2 buah gelas kosong. Ia celingkukan, melihatku senyam-senyum sendiri. Yeeaa… Aku sedang bahagia sekarang. Satu step dari hubungan kami sudah berhasil kulalui. Aku direstui.

“Eonmma bicara apa kepadamu?” tanya Cherry menginterogasi dengan wajah juteknya, seperti biasa.

“Nothing…”

“Bohong.”

“Sudahlah, kau mau membiarkanku mati kekeringan? Aku haus, nih…”

“Katakan apa yang Eonmma bicarakan padamu!”

“Eonmmamu bilang, Cherry itu parah. Ia tidak bisa memperlakukan tamu dengan baik, sampai-sampai, tamunya diterlantarkan dan nyaris mati kehausan.”

Cherry gonduk dengan sindiranku. Hehe, maaf ya. Tapi aku benar-benar haus saat ini.

“Minumlah.” Ia meletakkan teko teh dengan gelas-gelas itu persis di sebelah choco cookies buatan Eonmmanya.

“Tuangin, dong…”

“Idiih… Nggak usah sok manja, deh. Kau tidak pantas ber-aegyo-aegyo ya!”

“Memangnya, kau sendiri pantas?!”

“Aku memang tidak aegyo, kok. BWEKK!” ia menjulurkan lidahnya dengan muka mengejek. Hihi, mukanya jadi jelek banget.

Cherry lalu duduk di sebelahku dan ikut menuang milk tea ke dalam gelasnya. Tapi, saat aku hendak meminum milk teaku, tiba-tiba dia mencium pipiku.

Tubuhku serasa beku. Cherry… Menciumku?

Kami terdiam sejenak dan hanya saling memandang. Cherry, terutama, pipinya blushing lagi. Tapi, setelah itu, wajahnya berubah menjadi jutek lagi. “Katanya haus?!”

Cherry, Cherry. Memang sesusah itu ya mengungkapkan cinta kepadaku? Sepertinya, gengsimu itu harus segera diturunkan, deh.

Hahaha

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s