Memoirs of Our Sun

Akhirnya, aku samapai di tempat ini. Senang? Tentu saja. Aku bahkan merindukan tempat ini lebih dari aku merindukan rumahku yang dulu.

Kutinggalkan dia dan mobilnya, mendahuluinya turun terlebih dahulu. AKu segera berlari ke bibir pantai, tak sabar untuk merasakan sensasi air pantai yang menerpa kaki.

Ngomong-ngomong soal dia yang kini tengah sibuk menerima telepon dari koleganya, dia adalah suamiku. Namanya Andrew. Andrew Choi. Wajah, postur tubuh, hairstyle, hingga cara bicaranya, semua mirip dengan namja bernama Choi Siwon. Tapi tidak dengan cintanya padaku. Andrew mencintaiku lebih dari apapun dan aku tau itu.

Choi Siwon…

Dimana dia sekarang?

Bagaimana keadaannya?

Sedang apa dia?

Apa ia masih mengingatku?

Apa ia masih ingat kenangan-kenangan yang kami kubur bersama Time Capsule sepuluh tahun lalu?

Time capsule!

Apa kabarnya benda penuh kenangan itu?

Ahh… Rasanaya dulu aku memendamnya di sekitar sini.

Nah, itu dia!

Di tempat tertinggi yang ada di pantai ini. Tempat yang tak terjamah air meski pasang tiba.

Aku tidak yakin apakah time capsule itu masih ada atau tidak, apakah sudah dipungut orang sekitar sini atau masih mendekam di bawah timbunan pasir putih nan lembut.

Kukais pasir pantai lapis demi lapis dengan tanganku sendiri. Tak peduli berapa juta bakteri yang akan membuat tanganku terkontaminasi, yang jelas aku harus menemukan time capsule penuh kenangan itu.

Ada! Aku menemukannya!

Aku membuka kotak itu. Haha, masih utuh. Foto Swimmy, bayi ikan cupang yang dulu kupelihara bersama Siwon. Lucu. Hmm… Mungkin sekarnag ia sudah tenang di surga bersama almarhum ikan-ikan cupang yang lain. Aisshh.. Aku ngomong apa sih?!!

Selanjuutnya, aku menemukan Abraham, boneka Teddy Bear yang warna putihnya sudah bertansformasi menjadi buluk. Siwon memberikan boneka itu sebagai hadiah ulang tahun ke-17 ku.

Yang paling konyol adalah tiket-tiket bioskop yang jumlahnya entah ada berapa lembar itu. Ada satu judul film yang menarik perhatianku. Titanic. Haha, aku masih ingat, kami masih berusia 15 tahun saat menonton film itu.  Dan film itu adalah film pertama yang kami tonton saat malam mingguan.

Dan benda terakhir yang kulihat adalah kalung berpendulum Tinker Bell. Itulah benda terakhir yang pernah Siwon berikan padaku.

<Flashback Start>

“Taddaaaa!!!”masih tetap menautkan tangannya padakau, Siwon menujukkan seuntai kalung padaku. “Untukmu”

Aku mengernyitkan dahi sambil pura-pura jual mahal. “Nggak mau”

“Yakin tidak mau??? Aku sampai bela-belain rebutan sama hyung-hyung yang mau membeli kalung ini lhoo…”

“Ya kalau kau merasa tidak enak, kembalikan saja kalung ini pada hyung itu,” kataku pedas sambil memandang lurus ke arah pantai.

“Ayolah… Kau tidak pernah menolak pemberianku…”

“Berarti, sekarang pernah…”

“Ah, kau menyebalkan!” gerutu Siwon dengan muka sok aegyo. “Sia-sia aku membeli kalung ini. Ya sudahlah, kubuang saja.”

Siwon segera melempar kalung itu ke laut.

“Eh… Jangan!” tahanku.

Telat. Kalungnya sudah terlempar jauh. Tapi tunggu! Tadi aku tidak melihat ada benda yang nyemplung ke laut, kok…

“Haha… Sudah kuduga, kau tidak akan rela kalau kalung ini berakhir di perut ikan…” kata Siwon bangga.

Iya, iya. Kuakui aku tidak rela kalau kalung berpendulum Tinker Bell itu sampai benar-benar dibuang Siwon ke laut.

“Hey! Jangan manyun gitu, ah. Mukamu jelek tau!!!” katanya lalu mencubit pipiku. Yahhh… Selalu seperti itu. Siwon selalu mencubit pipiku tiap kali aku marah padanya atau sedang gonduk.

“Hey! Aku punya ide. Bagaimana kalau kita simpan saja kalung itu…” Celetukku dan sepertinya ia kaget.

“Eh? Dimana?”

“Follo me!”

Aku segera menarik tangan Siwon dan membimbingnya ke tempat tertinggi di pantai ini. Sampai di tempat itu, aku berjongkok di bawah pohon kelapa, diikuti Siwon.

“Kita simpan di sini saja…”

Siwon mengernyitkan dahi. Jelas, lah. Ia tidak mengerti maksudku. Setelah aku mengais-ngais pasit di tempat itu, barulah Siwon mengerti.

“Time capsule?”

Aku mengangguk. Tak butuh waktu lama untuk menemukan kotak kayu pemberian nenek itu karena Siwon membantuku.

Siwon terkejut saat aku membuka kotak kayu itu. Ya, aku menyimpan foto Swimmy, Abraham, hingga tiket-tiket bioskop yang pernah kami tonton.

Well, bukannya aku tak menghargai pemberian Siwon, aku hanya tak ingin benda-benda kenanganku bersama Siwon hilang cuma-cuma karena keteledoranku yang memang sering menghilangkan barang ini.

“Sepuluh tahun lagi, kita buka ya!”

Siwon mengangguk. Kami menutup kotak kayu itu lalu bersama-sama menimbunnya dengan pasir pantai.

Setelah itu, Siwon menatapku. Tatapan matanya sendu. Sedikit ada guratan kesedihan di wajahnya.

“Besok aku pergi,” katanya dengan masih tetap berjongkok di hadapanku.

“Aku tau,” potongku cepat.

Entah kenapa, tiba-tiba Siwon meletakkan tangannya di puncak kepalaku, lalu mengacak rambutku pelan.

“Jangan sedih, ya. Sebisa mungkin aku akan mengirimimu email,” Siwon menghela nafas berat. “Sebentar lagi ujian, belajar yang giat supaya kau naik kelas, arasseo?”

Aku mengangguk dan pura-pura tersenyum. Meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja selama ia pergi. Padahal, dalam hati aku ingin berteriak, menahannya agar tidak benar-benar pindah ke Seoul. Tapi apa daya, aku tak mungkin melarangya mengejar impiannya untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik.

“Kau juga.. Jaga kesehatan. Istirahat cukup, olah raga teratur, jangan sampai sakit…”

Kata-kataku terhenti saat Siwon tiba-tiba memelukku. Ia mendekapku sangat erat. Begitupun denganku. Andai Siwon tidak pergi besok, aku tak perlu melepas pelukannya seberat ini.

Air mata yang sedari kutahan-tahan kini mengalir dengan mudahnya dari pelupuk mataku. Siwon bisa mendengar aku sesenggukkan dalam pelukannya, makanya, ia sadar kalau aku sedang menangis. Ia segera melepas pelukannya dan menyeka air mata yang membahasi kedua pipiku.

“Aissh.. Jinja.. Jangan menangis. Kalau kau sedih, aku tidak akan pergi dengan tenang…”

Entah kenapa kata-kata itu seakan menjadi firasat bahwa Siwon akan benar-benar pergi meninggalkanku dan selamanya tak akan pernah kembali lagi padaku.

“Ayo!” Siwon mengulurkan tangannya padaku. Ia tersenyum. Senyum yang selalu kusuka dan selalu kurindukan.

Baiklah, Michi Han. Kau tak boleh sedih. Bukankah, kau ingin yang terbaik untuk Choi Siwon? Meskipun itu artinya kau harus terpisah darinya…

Aku menyambut tangannya lalu berdiri. Siwon segera menarikku ke bibir pantai. Mencipratiku dengan air asin khas Mokpo dan aku membalasnya. Inilah kebiasaan kami saat bermain di pantai. Basah-basahan sambil kejar-kejaran menunggu sunset.

<Flashback End>

Itulah kenangan terakhir yang kuukir bersama Siwon. Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sampai hari ini. Siwon mengingkari janjinya. Ia tak pernah sekalipun mengirimiku email. Rumah pamannya yang ada di sini pun sudah beralih kepemilikan. Itu artinya, kemungkinanku untuk bertemu Siwon sudah tak ada lagi.

Sampai akhirnya, aku berhasil menamatkan Junior Collegeku. Karena aku lulus dengan nilai terbaik, banyak Universitas dari dalam negeri maupun luar negeri yang menawariku beasiswa. Yang dari dalam negeri, kebanyakan dari Seoul. Aku tak berminat melanjutkan studiku di universitas Korea manapun. Aku terlalu takut jika aku bertemu Siwon, hatiku akan terluka saat mendapatinya sudah melupakanku sebagai salah satu orang yang menyayanginya. Dan karena itulah, aku memilih universitas dari luar negeri. Banyak yang merekomendasikanku untuk melanjutkan ke China, Jepang, Perancis, atau Italy. Tapi aku memilih Amerika. Soalnya, di sana ada sanak saudara, jadi aku tidak perlu takut sendirian dan tersesat.

Dan di sanalah aku bertemu Andrew, lelaki yang kini menjadi suamiku. Lelaki yang berhasil membuatku lupa pernah memiliki rasa cinta kepada namja bernama Choi Siwon. Lelaki yang tetap memperhatikanku meski aku harus kembali lagi ke Korea. Dan Andrew adalah satu-satunya lelaki yang rela bela-belain les bahasa Korea demi melamarku di hadapan Eonmma dan Appaku. Yahh… Dia itu keturunan Korea yang terlalu lama tinggal di negeri orang sampai lupa pada mother tounge-nya sendiri. -.-

Bodoh. Sebut saja diriku yang dulu demikian. Bodoh karena mencintai orang yang tak akan pernah mencintai diriku. Bodoh karena mengikat diri sendiri pada perasaan yang semestinya tidak perlu untuk diadakan. Perasaan yang disebut sayang sekaligus cinta.

Back to my, eh, our time capsule. Aku tak berniat membuangnya. Biarlah. Biarkan time capsule itu terkubur bersama kenangan-kenangan antara Michi han dan Choi Siwon di pantai ini. Toh aku juga tidak ada niatan untuk mengunjungi pantai ini lagi.

We have to move on, rite?

Well, aku mungkin tidak berjodoh dengan Siwon di kehidpuan sekarang. Tapi, mungkin saja iya di kehidupan selanjutnya. Who knows?!

Sunset. Sekali lagi aku menikmati sunset di pantai ini. Hanya saja dengan orang yang berbeda. Sekarang, aku dapat melihat fenomena alam yang indah itu dengan orang yang mencintaiku dan begitupun sebaliknya.

“Kita pulang sekarang?” tanya Andrew padaku. Setelah mengubur kembali time capsuleku tadi, aku memang mengajak Andrew untuk melihat sunset sebentar.

“Oke,” kataku dan aku segera mengangkat kepalaku yang sedari tadi bersandar di bahunya. Posisi kami memang seperti ini sejak tadi. Dalam rangkulannya, aku selalu merasa nyaman dan tentram. Tak perlu khawatir bahwa aku akan kehilangannya.

Dan kami pun segera masuk ke mobil lalu pulang ke penginapan.

Choi Siwon’s POV

Sunset~

Ahh… Rupanya aku tidak ketinggalan fenomena alam yang luar biasa indah dari pantai ini. Cepat-cepat aku turun dari mobil dan berlari menuju bibir pantai. Aku rindu sensasi air yang menerpa kaki. Ahh… Pantai Mokpo memang pindah.

Mokpo..

Banyak sekali kenangan yang tertinggal di sini. Haha, seharusnya kenangan itu menjadi milik Donghae. Tapi malah aku yang punya banyak kenangan di sini. Haha, lucu ya.

Setelah puas memanjakan kaki dengan terpaan air laut Mokpo, aku segera berlari ke tempat tertinggi yang ada di pantai ini. Aku ingin melihat time capsule yang pernah kupendam di sini bersama Michi. Masih adakah atau sudah dipungut oleh orang-orang di sekitar sini?

Michi…

Apa kabarnya dia sekarang?

Sedang apa dia?

Bagaimana keadaannya sekarang?

Sehatkah? Bahagiakah?

Huft… Kurasa, sekarang ia sudah bahagia dengan orang yang benar-benar mencintainya. Orang yang akan selalu menjaganya dan berada di sampingnya. Orang yang selalu memperhatikannya. Bukan pengecut sepertiku. Yang mengingkari janjiku sendiri.

You know, masa trainee di SM membuatku benar-benar melewatkan banyak quality time untuk diriku sendiri. Jangankan untuk sekedar membuka email dan menulis email, bernafas pun terkadang susah.

Swimmy, Abraham, tiket Titanic, hingga kalung Tinker Bell. Semuanya masih tersimpan rapi di dalam time capsule yang kayunya sudah mulai lapuk itu. Dan… Aku menemukan secarik kertas di antara benda-benda kenanganku bersama Michi itu. Wait! Rasanya aku dan Michi tak pernah memasukkan kertas itu.

Karena penasaran, aku membuka dan membaca isi kertas itu.

I’ve moved on, but he will always be a piece of my best times in Mokpo. My sweet memoirs which I always keep it in the deep of my heart.

-Michi-

… and you always be the one that I love, Michi. Meski kita tak bersama lagi, aku akan selalu menganggapmu ada bersamaku. Kau akan selalu kuingat sepanjang aku masih hidup di dunia ini.

Mungkin seorang Choi Siwon memang tak bisa bersama Michi Han di kehidupan sekarang. Tapi… Siapa tau Tuhan berkehendak lain di kehidupan selanjutnya.

There’s nothing impossible, rite?!

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s