How they can be together???

Choi Siwon’s POV

Hari ini, kelasku kedatangan murid baru. Bukan, lebih tepatnya, ketransferan murid (bahasa apaan, tuh? Well, pokoknya, ada murid baru, lah) . Dan seharusnya aku senang, karena jarang-jarang sesuatu yang fresh masuk ke kelasku (just see it. Cewek-cewek di kelasku kutu buku semua, begitu juga dengan cowok-cowoknya, kecuali aku.) Hmm.. Kurasa hanya aku yang paling eye-catching di antara mereka *narsis mode on* hahahaha.

BUT I DON’T FEEL HAPPY AT ALL

Kenapa?

Karena yang pindah ke kelasku ini adalah Cherry Han. Iya. Cherry Han. Manusia paling jahil setelah Kyuhyun, yang kemarin baru saja meledakkan lab kimia gara-gara salah memasukkan NaCl menjadi HCl. Murid kelas sebelah, yang entah kenapa, bisa dipindah ke kelasku.

“Anneyong haseo, Cherry Han-imnida…” katanya pura-pura manis (memang manis, sih) di depan kelas sambil membungkukkan badan.

“Nah, Cherry, sekarang kamu boleh duduk di sebelah sana,” kata Songsaenim sambil menunjuk bangku kosong yang letaknya… DI SEBELAHKU?!

“Gomawo, songsaenim,” ia kembali membungkukkan badan.

Lalu, Cherry pun berjalan ke arahku.

“Anneyong Haseo, Cherry Han-imnida,” sapanya setelah ia duduk di sebelahku. Ia lalu mengulurkan tangannya sambil memamerkan senyumannya yang kurasa.. there’s something “evil” behind it.

“Choi, Choi Siwon imnida.” Balasku gelagapan. Setelah itu, buru-buru aku melepaskan jabatan tanganku.

“KECOA!”

“GYAAA!!!!”

Sial! Aku nyaris terjungkal ke belakang. Huh… tau saja kalau aku ini paling benci dengan kecoa.

“CHERRY HAN!” bentak songsaenim dari depan kelas dan Cherry langsung pura-pura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Huh… Awas saja, ya! Akan kubalas kau nanti!

Cherry Han’s POV

Ini adalah hari keduaku menyandang status (bahasanya euy!) baru sebagai murid kelas XII-A. Once again, DUA BELAS A, yang berarti, itu kelas unggulan. Ini artinya, seorang Cherry Han tidak bodoh-bodoh amat, kan?! Hahaha.

Iya. Tidak bodoh-bodoh amat, bukan berarti 100 persen pintar. OMO! AKU KESIANGAN! Ah… Dasar Cherry babbo!!!!!

Setelah mandi, berpakaian, dan mengambil tas, segera saja aku berlari ke halte depan rumah untuk mengejar bis. Told u, Appa dan Eonmmaku memang orang-orang yang cukup well-known di antara kalangan jetset, sama seperti orang tua Siwon à (namja yang duduk sebelahku itu, lho…). Tapi, itu tidak berarti aku diijinkan untuk memiliki mobil, bahkan supir pribadi, yang siap mengantarku kapan saja. Jadi, setiap hari aku harus bersusah payah mengejar bis.

Dan sialnya, BISnya SUDAH TIDAK ADA!

OMO! Mana mungkin aku harus menunggu bis selanjutnya. Yang ada, aku telat, dong. Oke. Kuputuskan untuk menggunakan skill berlariku.

Ya. Aku berlari dari halte menuju sekolah.

And finally, aku sampai di sekolah.

TING TONG TENG TONG

Can u hear it?! Itu, bell sekolah, baru saja dibunyikan. Godness! Aku harus bagaimana, dong?! Lewat pintu depan, pasti akan kena omel satpam. Sama saja mengulur-ulur waktu, kan??

Dan pada akhirnya, Cherry Han memutuskan untuk berbuat nekad. Ya. Memanjat tembok sekolah yang letaknya persis di belakang kelas yang harus ia ikuti pagi itu.

“Demi Neptunus, demi ayam goreng, dan demi masuk kelas sebelum Heechul-menyebalkan itu datang,” ucapnya dalam hati. Dan Cherry pun segera memanjat tembok yang lumayan tinggi itu.

Bertumpu pada tong sampah, Cherry bersusah payah untuk sampai di atas tembok. Sesampainya di atas, ia segera melempar tasnya terlebih dahulu. “Aisshh, rok ini menyebalkan!” gerutunya dalam hati. Yea, seandainya saja sekolah tidak mengharuskan para murid perempuan untuk memakai rok, melainkan memakai celana panjang, sehingga ia bisa lebih leluasa untuk memanjat tembok setinggi dua meter ini.

“Hey! Sedang apa, kau?!”

“GYAAAA!!!!” pekik Cherry. Itu Choi Siwon! “Kau yang sedang apa?! Hey! Kau mau mengintipku ya?! Cepat! Pergi sana!”

Siwon tidak menggubris perkataan Cherry yang sedang panik itu. “Kau telat, kan?! Huh, rasakan saja hukuman Heechul songsaenim!”

“Huh! Awas kau ya!” tanpa sadar, Cherry yang sedang meledak-ledak itu terpeleset dan…

BRUK

Cherry jatuh tepat di atas tubuh Siwon.

 

Cherry’s POV

“Auuwww…” rintih Siwon saat aku jatuh tepat di atas tubuhnya. “Punggungku!!!” ia kembali merintih sambil meringis-ringis tidak jelas. Huh, dasar manja! Seharusnya aku, dong, yang kesakitan. Bayangkan, aku jatuh dari ketinggian dua meter. DUA METER, Sodara-sodara!

“APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!” Mwo?! Itu Heechul Songsaenim! Tamatlah riwayatku!  “MEMALUKAN! Kalian berdua dihukum karena berbuat tidak senonoh di sekolah!” bentakanya pada aku dan Siwon.

“APA?!” seruku bersamaan dengan Siwon. Aigoo!!! Jangan-jangan, Heechul Songsaenim mengira kami sedang bercinta? Idiih.. Amit-amit. Masa bercinta diatas rerumputan, sih?! Memangnya, aku ini sapi???

“HEY! CEPAT BERDIRI!” bentak Songsaenim lagi. Ah, dasar Babbo! Aku baru ingat kalau sedari tadi aku masih berada di atas tubuh Siwon. Ini lagi! Bukannya mengingatkanku untuk berdiri, dia malah asik meringis-ringis di atas rerumputan. Huh, mau mencari untung ya?! Awas kau!

Di lapangan…

Hechul Seongsamin memarahi kami habis-habisan. Dia menceramahi Siwon dan aku ini itu. Huh, tau begini, aku tidak usah masuk sekolah saja tadi. Tinggal bikin surat absen, beres, kan? “DASAR! Anak muda jaman sekarang, tidak tau etika dan sopan santun! Mau jadi apa kalian nanti, hah?!”

“Kami tidak melakukan itu, Songsaenim!” kataku membela diri. “Ya, kan?!” aku menyenggol tangan Siwon yang sedari tadi diam saja. Huh, dasar orang ini! Bukannya menyelesaikan masalah, malah pinggang saja yang diurusin. Dasar cowok manja!

“I, iya.”akhirnya Siwon bersuara juga. “Tadi, saya memergoki Cherry telat. Dia memanjat tembok sekolah agar bisa masuk ke kelas…”

Siwon babbo~ kenapa pakai cerita segala, sih?!!!!

 

“Mwo?! Kau telat lagi, Cherry Han?! Baiklah. Hukuman kamu saya, dobel. Satu, karena berbuat tidak baik…”

“Tap..”

“Hah, sudah diam!” Heechul seongsamin membentak kami. “Dua, karena datang terlambat lagi!”

“Tapi…”

“Diam! Atau saya tambah lagi hukumannya,” dan Songsaenim pun meninggalkan Siwon dan Cherry di lapangan sambil membubarkan anak-anak yang sedari tadi menyaksikan aksi tersebut dari pinggir lapangan.

Ya. Cherry dan Siwon dihukum untuk memberi penghormatan pada bendera selama tiga puluh menit (itu untuk Siwon. Tapi, untuk Cherry, satu jam). Dan selama itu, Siwon tak henti-hentinya menyalahkan Cherry. Cherry yang tidak mau kalah, balas menyalahkan Siwon.

“Kau sendiri yang tadi mengintipku!”

“Mengintipmu?! Ieuuhhhh…” kata Siwon membela diri sambil menjulurkan lidahnya jijik.

“Huh, mengaku saja! Dasar otak mesum!”

“Hey! Seenaknya saja mengataiku, awas ya! Kubalas kau!”

“Yakin mau membalasku?!” Cherry kembali menyunggingkan senyum evilnya. Ia lalu berusaha mengeluarkan sesuatu dari kantung seragamnya. “KECOA!”

“GYAAAA!”

 

 

 

 

Choi Siwon’s POV

Semenjak Cherry pindah ke kelasku, rasanya, hidupku ini sangat sengsara. Aku sudah berusaha minta pindah tempat duduk kepada wali kelas, tapi ditolak. Dia bilang, selama Cherry tidak melukaiku, maka aku harus menerima saja menjadi korban kejahilannya. Haduuh.. Yang benar saja. Waktu itu, ia nyaris saja mematahkan pinggangku. Kau pikir, tubuhnya tidak berat apa?

Herannya, senakal-nakalnya Cherry, dia itu pintar sekali! Apalagi dalam pelajaran hitung menghitung. Oke, walaupun tidak sepintar Kyuhyun, tapi Cherry selalu bisa memecahkan soal-soal yang diberikan para guru saat pelajaran, tanpa dibimbing sekalipun.

Ya Tuhan, cukup satu orang Cho Kyuhyun di dunia ini… Kenapa, sih, setelah Kyuhyun pindah ke Amerika, Kau mengirimiku seorang Cherry Han? Hambamu ini sudah cukup tersiksa dengan kehadiran Kyuhyun, eh, sekarang malah diberi kembarannya. Ya Tuhan… Tidakkah engkau mendengar doaku ini, Tuhan?????

Di tengah-tengah renungan nasibku, tiba-tiba Cherry muncul (Well, sekarang ini memang sedang istirahat dan bel masuk baru saja dibunyikan). Ia lalu duduk di sebelahku dengan wajah yang murung. Fiuuhh.. tumben-tumbennya dia tidak mengagetiku.

Aku memberanikan diri untuk menanyainya.“Kau kenapa?”

“Kepala sekolah bilang, aku akan dikeluarkan jika aku terlambat lagi. Kalau aku dikeluarkan, eonma dan appaku pasti marah besar, dong…” ceritanya sambil menghembuskan nafas panjang. “Kurasa, ini saatnya aku bertobat…”

Apa? Barusan dia bilang apa? Bertobat? *jingkrak-jingkrak kegirangan* Apa aku tidak salah dengar?

“Temani aku tobat, ya?”

“Mwo?! Idiih… Tobat kok ngajak-ngajak,” ledekku padanya dan ia pun tersenyum. Well, setidaknya itu bisa sedikit menghiburnya. Aku tau, perasaannya pasti sedang kacau balau. Dan ia pasti akan sangat sedih kalau ia benar-benar dikeluarkan dari sekolah.

Sebulan berlalu, dan aku sudah terbiasa menjadi korban kejahilannya. Kadang-kadang sifat jahilnya itu memang keterlaluan.  Dan jika saat itu terjadi, maka aku akan memarahinya. Contohnya seminggu yang lalu. Kupikir, aku baru saja kehilangan buku les pianoku. Tapi, ternyata Cherry yang membawanya. Kuakui, itu memang salahku. Tapi, dia juga salah. Kenapa dia tidak mengembalikan buku itu, padahal jelas-jelas ia tau siapa pemiliknya. Ia baru mengembalikannya setelah aku bilang aku kehilangan buku les pianoku dan dimarahi habis-habisan oleh guru les. Dan semenjak itu, sepertinya dia sadar kalau sifat jahilnya tidak selamanya disukai oleh orang-orang di sekitarnya.

Hmm.. Kurasa dia memang sudah tobat. Well, terkadang ia masih sering childlish sih….

“Ehemm…” kudengar suara orang berdeham. “Selamat siang semua!” sapa orang yang berdeham itu sambil berjalan memasuki kelas. Itu Heechul Songsaenim. O, pantas saja raut muka Cherry langsung eneg begitu beliau masuk.

Yea, semenjak Cherry naik ke kelas XII, ia selalu kena masalah dengan guru sejarah satu ini. Dan setiap ia kena masalah dengan beliau, Heechul songsaenim pasti akan segera memberinya hukuman atau poin yang besar. Well, setidaknya, begitulah cerita Cherry padaku.

Cherry’s POV

Cih! Heechul Songsaenim. Aku paling malas dengan pelajarannya. Huh, seandainya saja, poinku tidak sebanyak itu… Dia sudah kubuat keluar dari kelas sejak tadi.

Oh, come on, guys! Apa sih enaknya belajar sejarah?! Masa bodoh tentang asal mula bulgogi, yang jelas, rasanya enak. Helloooo.. Tidak adakah sejarah lain yang bisa diceritakan?????

“Hey, Cherry Han!” panggil Siwon ditengah-tengah kesibukannya menyalin catatan Heechul seongsamin yang ada di papan tulis. “Kau tidak mencatat?”

“Bukuku ketinggalan.”

“Yha disalin di kertas, dong…” omelnya sewot. “Dasar pemalas!”

“Nanti, aku pinjam catatanmu, deh…” kataku malas-malasan. Sumpah! Siwon ini jadi orang rajin banget, sih?! Jelas-jelas catatan itu sudah ada di buku paket. Heloooo… Tidak adakah hal yang lebih penting untuk dicatat?????

“Terserah kau saja. Tapi… Aku tidak ikutan, lho, kalau Heechul songsaenim menghukumu lagi gara-gara tidak memperhatikan pelajarannya…”

Huh! Siwon benar. Aku juga sudah malas berurusan dengan guru satu itu. Cerewet, bawel, suka mencampuri urusan orang pula (Author says:anak baik jangan meniru Cherry yaaa)

“So, what should I do, Siwon?????”

Siwon tidak menjawb pertanyaanku. Ia malah memberikan buku sejarahnya yang tebal itu padaku. “Kau highlight saja bagian-bagian yang penting. Yaaa… Minimal, biar kau terlihat belajar, lah..” katanya santai.

Huft.. Kuturuti saja perintahnya itu daripada aku kena marah lagi oleh songsaenim. Tapi, begitu aku membuka buku sejarah yang isinya tulisan semua, tiba-tiba aku merasa mual >.<. Seriously, I don’t have any passion with it! Lalu, otak jahilku (ralat: iseng) pun bekerja. Kugambari saja halaman demi halaman buku itu dengan gambar buatanku. Toh, gambaranku juga tidak jelek-jelek amat. Siwon saja pernah memuji hasil karyaku saat di kelas lukis.

Tanpa sengaja, aku menemukan selembar kertas kosong saat aku membuka halaman yang lain. “Hey, Siwon! Ini apa?”

“Entahlah.” Ia terlihat tidak tertarik dengan temuanku itu. Yea, semua orang pun juga akan bersikap seperti itu. It just a blank paper, u know?! Tapi, aku AMAT SANGAT tertarik dengan kertas ini.

“Untukku, ya?”

“Terserah kau saja, deh.”

Dan keisenganku pun kembali bekerja. Aku melipat-lipat kertas tersebut hingga menjadi sebuah pesawat mainan.

Choi Siwon’s POV

 

Dasar Cherry! Sekali bandel, ya tetap bandel. Lihat, bukuku sudah penuh dengan gambar kartun buatannya. Aigooo.. Ini lagi, pakai acara bikin pesawat-pesawatan segala. Ckckckck…

PUK~

Pesawat kertas buatan Cherry mengenai kepala bagian belakang songsaenim. Lalu, saat Heechul songsaenim berbalik, Cherry langsung cepat-cepat menutupi mukanya dengan buku sejarahku. Ia pura-pura sedang membaca.

“CHERRY HAN!” teriak Heechul seongsamin dengan wajah yang merah padam. “Pulang sekolah, temui saya di kantor guru!”

“Tapi, Pak..”

“Aaah.. Sudah! Tidak ada alasan! Siapa lagi kalau bukan kamu pelakunya?!”

Raut muka Cherry langsung berubah menjadi sedih. Huh, jarang-jarang dia begini. Biasanya, setelah kejadian seperti itu, ia langsung menyumpahi Heechul Songsaenim habis-habisan. Tapi, kali ini, dia hanya diam saja dan malah mengembalikan buku sejarahku dengan muka cemberut.

Kurasa, dia benar-benar takut kalau dikeluarkan dari sekolah.

Cherry’s POV

Sial! Gara-gara ceramah Heechul songsaenim yang lama itu, aku jadi pulang sore, nih.. Padahal, hari ini kan, jadwalnya pulang satu jam lebih awal… Uuuhhh… Dasar Heechul seongsamin menyebalkan!!!!!!

Sambil meng-update status fb lewat blackberry, aku berjalan menyusuri koridor menuju pintu gerbang. Tanpa sengaja, aku melewati perpustakaan. Wait! Perpustakaan??

Kurasa, mampir ke situ adalah ide yang menarik. Toh, perpustakaan tutup jam lima, kan? Kebetulan, sejak masuk SMA, aku tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat ini. Aku penasaran dengan cerita orang-orang yang-kata mereka, AC di perpustakaan sekolah ini sangat dingin. Hehe.. Mumpung di luar sini panas…

Saat aku masuk ke dalam, aku hanya mendapati bapak penjaga perpustakaan yang langsung mengetahui diriku (aku terkenal, kan?). Hmmm… Aku tidak tertarik untuk berbasa-basi dengannya, jadi, aku langsung naik ke lantai dua, yang-kata orang lagi-isinya novel semua.

“Siwon?!” pekikku saat melihat tetangga kursi sebelahku ini sedang ‘khusyuk’ dengan sebuah buku tebal di depannya. Aku segera menghampirinya. “Kau tidak pulang?”

“Belum dijemput,” katanya sambil membetulkan kacamatanya. Hey! Sejak kapan anak ini memakai kacamata?! Well, well, dia tetap keren, kok dengan kacamata yang membingkai mata indahnya itu (ehemm..ehemm). “Kau sendiri?”

“Habis dari kantor guru…” jawabku malas-malasan. Aku lalu menduduki kursi yang ada di sebelahnya.

“Kau pasti dimarahi habis-habisan oleh Heechul songsaenim, ya kan?”

“Yea.. You know that…” balasku lagi. “Huh, dasar songsaenim menyebalkan. Tadi kan aku tidak sengaja.. Lagian, salah sendiri pelajarannya membosankan…”

“Masih untung kau tidak dikeluarkan..”

“Haha.. Iya, sih…”

Yeaa.. Siwon benar. Untung aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Wait! Seandainya saja aku dikeluarkan, aku toh bisa membela diri. Aku tidak memukul, merokok, memakai obat-obatan terlarang, atau berbuat sesuatu yang membahayakan.. So, sekolah tidak ada alasan untuk mengeluarkanku, kan???

Bosan dengan pembicaraan yang begitu-begitu saja, aku memutuskan untuk mendengarkan lagu dari i-podku. Toh, Siwon juga mengacangiku dengan buku tebal yang tengah dibacanya itu.

 

Choi Siwon’s POV

Sebenarnya, aku tidak enak hati mengacanginya seperti ini. Bayangkan, di sebelahmu ada orang dan kau mengenalnya, tapi tidak kau ajak bicara. What kind of human are u??? Tapi.. Masa bodoh, lah. Toh, dia sedang asik mengangguk-angguk sendiri dengan i-podnya.

Kupandangi garis wajahnya dari samping, ternyata.. dia cantik juga kalau dari jarak sedekat ini. Bulu matanya yang lentik, matanya yang bulat, hidungnya yang tidak terlalu mancung, tapi tidak bisa dikatakan pesek J … Entahlah.. Sepertinya, aku tau alasan kenapa orangtuanya memberinya nama Cherry. Ia manis. She’s cute, you know?!

Lalu, perhatianku tertuju pada bibir mungilnya yang merah, semerah buah cherry itu. Dan aku ingin tau bagaimana rasanya…

Merasa diperhatikan seperti itu, Cherry buru-buru melepas i-podnya. “Kau kenapa?!”

“A.. tidak…” jawab Siwon bohong. Ia lalu segera menutup buku tebalnya dan melepas kacamatanya untuk menutupi kenyataan bahwa ia sedari tadi memperhatikan gadis dengan ponny tail ini.

“Aneh…” gerutu Cherry sambil menunjukkan muka curiga pada Siwon.

“Hey, Cherry! Kurasa, kau tidak pernah berkumpul dengan yeoja-yeoja lain… Kenapa?”

“They don’t like me.”

Siwon tersenyum dengan pernyataan Cherry yang polos itu. “Makanya, jadi orang jangan bandel-bandel…”

“Cih! Kau seperti nenekku saja…”

“Itu artinya, nenekmu sayang padamu. Dia tidak mau cucu kesayangannya dijauhi orang,”

“Jadi kau sayang padaku?”

Mwo?! Pertanyaan Cherry sungguh diluar dugaan. Berani sekali dia, pikir Siwon.

Siwon benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Lalu, matanya kembali tertuju pada bibir Cherry. Di saat seperti ini, pikiran untuk ‘merasakan bagaimana rasa bibir Cherry’ itu kembali muncul di otaknya. Lalu, dengan hati-hati ia memberanikan diri untuk mencium Cherry.

Chu~

Ternyata Cherry membalas ciuman Siwon. Does he feel happy? Of course, yes! Ini adalah kali pertamanya, ia mencium seorang yeoja.

“Stop!” Cherry mendorong tubuh Siwon agar ia menjauh. Bisa kau lihat, pipi yeoja itu sudah bersemu merah. Demikian pula dengan Siwon yang tidak menyangka bahwa ia berani mencium seorang gadis untuk pertama kalinya.

Cherry’s POV

Ya Tuhan.. Apa yang barusan dia lakukan? Siwon just kissed me?! Si gunung es itu ternyata… Omo!! It’s soooo unbelieveble!!!

Semenjak hari itu, Siwon tidak terlalu banyak berbicara mengenai kelanjutan hubungan kami. Ok. Di sisi lain, aku memang terlalu berharap banyak kepadanya. Tapi… Dia sudah berani menciumku, berarti, ada ‘sesuatu’ dong, dalam perasaannya?

Well, kami memang bersikap biasa saja, seolah, ciuman itu tidak pernah terjadi. Tapi.. Sepertinya, Siwon sengaja membuat jarak diantara kami. Dan aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Aku ingin Siwon tidak dingin terhadapku. Aku ingin bisa dekat dengannya lagi.

Sebulan berlalu, dan Siwon masih enggan berbicara mengenai kelanjutan cerita kami. Makanya, hari ini, kuputuskan untuk mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Masa bodoh lah, tentang harga diri. Aku hanya ingin, Siwon mengetahui perasaanku.

Pagi ini, seperti biasa, ia sudah berada di kelas. Kesempatan yang bagus, pikirku, karena kelas masih sepi. Kuberanikan diri untuk menghampirinya. “Siwon,” panggilku dan ia pun berhenti dengan aktivitas membacanya. “Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Katakan saja,” jawabnya dingin.

“Aku…” duh… Kenapa tiba-tiba nyaliku ciut begini??? “Aku…” aku benar-benar gugup untuk mengatakannya. “Saranghae, Choi Siwon!” >.<

Hening

Ia diam saja. Ia hanya menatapku dengan wajah dinginnya. Ekspresinya benar-benar tak terbaca. Aku… Entahlah. Yang jelas, namaku pasti sudah tercoreng di matanya.

Tapi, tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri. “Aigoo.. Aku lupa! Aku pergi dulu, ya. Aku ada janji untuk breefing tugas, nih. Bye, Cherry!!!” dan ia pun pergi meninggalkanku sendirian di kelas.

Bohong. Siwon hanya berusaha menghindariku. Tapi, kenapa? Kenapa ia tidak membalas pernyataan cintaku? Tinggal bilang, ‘Mian, aku tidak menyukaimu,’ selesai, kan? Kenapa harus menghindar??

Andwae, Choi Siwon??? Andwae??????

Hari itu adalah pertama kali Siwon dan Cherry tidak duduk semeja. Cherry tetap pada kursi biasanya, sementara Siwon pindah ke kursi yang agak depan. Dan untuk pertama kalinya, seorang Cherry Han tidak ‘iseng’ di kelas, bahkan ketika jam pelajaran Heechul songsaenim.

Choi Siwon’s POV

 

Aku tidak bisa berkonsentrasi seharian ini. Pikiranku hanya tertuju pada kejadian tadi pagi. Huft… Mian, Cherry Han. Aku tidak bermaksud menolakmu. Hanya saja, pengakuanmu itu terlalu cepat. Seharusnya, aku yang mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Tapi kenapa? Kenapa kau melakukannya dulu? Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mengumpulkan keberanianku terlebih dulu?????

“Baiklah anak-anak, that’s all for today, selamat siang!” dan pelajaran sekolah pun berakhir. Huft, syukurlah. Semakin lama aku di sini, semakin lama aku tersiksa. Aku tidak tahan, melihat wajah Cherry yang sendu seharian ini. Aku tau, dia pasti sedih dengan sikapku tadi. Ahhh… Dasar Siwon babbo!

Kulihat, Pak Lee (supir pribadiku), sudah menungguku di seberang sekolah. Memang, setiap hari aku diantar jemput oleh beliau. Appa melarangku untuk membawa mobil sendiri. Terkadang, aku ingin protes, tapi, itu semua tentu untuk kebaikanku, kan?

“Siwon, Awas!”

CKIIIITTTTTT-BUK!

Kepalaku terbentur tiang yang ada di samping mobilku. Huft, tak apa, lah. Setidaknya itu lebih baik daripada aku tertabrak mobil. Thank’s a lot for my savior! Lalu, Pak Lee segera menghampiriku.“Tuan muda, anda tidak apa-apa kan?”

Tidak apa-apa, apanya? Keningku saja sampai benjut begini. “Aigoo! Itu apa?!” seruku tak percaya ketika aku mendapati Cherry sudah tergeletak lemah di tengah jalan. “Cherry!”

Aku segera menghampirinya. Tubuhnya sudah berlumuran darah. “Cherry! Cherry!” panggilku terus menerus agar dia tidak kehilangan kesadaran. “Pak Lee, cepat bantu aku!” dan setelah itu, Pak Lee segera membantuku membopong Cherry ke dalam mobil.

“Cherry.. Bertahanlah!!!” aku terus menerus menepuki pipinya agar ia tetap sadar. “PAK LEE, CEPAT SEDIKIT!”

“Ya, Tuan muda. Ini sudah ngebut. Jalanannya memang ramai…:

Pak Lee semakin menambah kecepatan mobil sedan milik Appa ini. Persetan kalau ada polisi yang mengejar kami. Ini keadaan darurat! Nyawa seseorang sedang dalam bahaya saat ini!

Sesampainya di rumah sakit, Cherry segera dibawa ke ruang UGD. Aku hendak mengantarnya sampai ke ruang pemeriksaan, tapi dihalangi oleh suster penjaga.

“Pak Lee, bagaimana ini???” tanya Siwon lirih pada sopir yang sudah 15 tahun mengabdi pada keluarga Choi ini.

“Kita berdoa saja, supaya dia selamat,” jawab sang sopir bijak. Siwon lalu terduduk lemas di kursi tunggu yang ada di luar ruang UGD.

Cherry, bertahanlah…

 

Akhirnya, dokter UGD pun keluar dari ruang pemeriksaan dan Siwon pun segera menghampirinya. “Bagaimana? Bagaimana keadaan Cherry, Dok?”

“Kondisinya kritis,” terang sang dokter dengan wajah tidak ada harapan. “Dia kehilangan banyak darah…”

 

Choi Siwon’s POV

Kubuka mataku pelan-pelan…

“Siwon, kau sudah sadar???” sebuah suara lembut menyapaku. Ah, itu Eonmmaku!

Omo… Kepala ini.. Rasanya sakit sekali. Huh, ternyata begini ya, efek transfusi darah? Yea.. Setelah aku mengatakan kalau golongan darahku sama dengan golongan darah Cherry, aku segera meminta sang dokter untuk mengambil darahku. Biarlah, asal Cherry selamat. Dia sudah menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Jadi… Hanya beberapa liter darah saja, aku tak peduli.

“Eonmma.. Cherry.. Bagaimana keadaan Cherry?”

Eonmma tidak menjawabku. Wajahnya menunjukkan bahwa Cherry benar-benar dalam kondisi kritis. “Eonmma… Cherry tidak apa-apa, kan?” tanyaku memastikan.

Eonma malah membelai rambutku. Lalu, pandangannya beralih pada sesosok gadis yang tertidur dengan beberapa selang di bangsal sebelah. Itu Cherry!

“Bagaimana?! Bagaimana keadaan anakku?” kudengar sebuah suara panik memasuki pintu. Yeaa… That’s my father. “Oh, syukurlah… Kau tidak apa-apa, Nak.”

“Aku memang tidak apa-apa, Appa. Tapi dia…” tunjukku pada Cherry yang masih memejamkan mata. “Dia yang telah menyelamatkanku. Kondisinya kritis…”

“Ya Tuhaann.. Itu putri Tuan Han…” Tanpa ba-bi-bu, Appa langsung mengeluarkan handphonenya dan segera menghubungi ayah Cherry.

Setelah hari itu, aku sudah diijinkan pulang. Yeaa, aku kan hanya mendonorkan darah. Dan di hari kepulanganku, Cherry masih belum sadar dari komanya. Ya Tuhan.. Aku merasa amat bersalah kepadanya.

Hingga hari kedua, masih belum ada progress dari kesehatan Cherry. Malah, keadaannya semakin memburuk. Detak jantungnya semakin melemah. Kemudian, pikiran buruk mulai hinggap di otakku. Tidak! Cherry tidak boleh mati! Dia akan selamat, aku percaya itu!!!

Hari ketiga.. As you can see, Cherry masih belum terjaga dari tidurnya. “Cherry, kumohon.. Kumohon sadarlah…”

Hening

“Cherry… kau dengar aku, kan?” bisikku di telinganya. “Cherry… Ada satu hal yang perlu kau tau…” kupikir, inilah saat yang tepat untuk mengatakannya. “Saranghaeyo, Cherry Han…”

Kupikir, setelah ini Cherry akan membuka matanya dan memelukku dengan erat. Tapi nyatanya… Ia masih tertidur.

“Permisi…”

Ah, itu Heechul Songsaenim. “Kudengar Cherry kecelakaan, ya??”

“Begitulah,” jawabku seadanya. Kemudian, Songsaenim memberiku sekantung buah-buahan yang ia tujukan pada Cherry. “Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Dia menyelamatkanku,” dan segera kuceritakan semua kejadian tragis yang membuat Cherry koma.

Lalu, Heechul Songsaenim mengalihkan pandangan ke arah Cherry. “Tak kusangka, Cherry begitu baik.”

Tak hanya engkau, Songsaenim. Bahkan aku pun masih tidak percaya, kalau gadis segila Cherry rela menukar nyawanya demi menolong aku yang babbo ini…

“Semoga dia cepat sembuh, ya…” dan Heechul Songsaenim pun memohon diri untuk pulang.

Setelah mengantar Songsaenim ke pintu, aku segera menghampiri Cherry yang masih rajin menutup matanya. Kudekatkan wajahku… “See? Bahkan Heechul Songsaenim pun peduli padamu… Kau tau? Semua orang menyayangimu, Cherry Han.. Mereka menginginkanmu… Jadi, kumohon, bukalah matamu…”

Saat ini, aku tidak bisa untuk tidak menangis.

“Sarangaheyo, Cherry Han…”

Pagi ini, tepat seminggu Cherry dirawat di rumah sakit. Aku sengaja datang pagi-pagi ke sini, karena aku ingin menjadi orang pertama yang mengetahui kalau Cherry sudah sadar. Mmm.. Lebih tepatnya, dikarenakan ini hari Sabtu dan sekolah libur, jadi, aku bisa datang di pagi hari.

“Good Morning Cherry Han~”

Tak kudapati tubuh Cherry tergeletak di bangsalnya. Yang ada hanya seorang dokter dan seorang suster yang kini tengah mengganti sprei bangsal tersebut.

What the hell it is?!

“Cherry mana, Dok?” tanyaku pada dokter yang tengah meneliti, atau, apalah itu, infus yang masih tergantung di tempatnya.

“Cherry telah pergi, Nak..” Dokter itu mengehela nafas berat sambil memegang pundakku.

Apa?! Pergi katanya?! Sebentar-sebentar… I can’t catch it! “Dok, katakan, apa yang terjadi pada teman saya!!!”

Dokter itu hanya menggeleng-geleng kepala, seakan sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Cherry.. Cherry has passed away… Dan dokter itu pun segera pergi.
Aku hanya bisa terdiam terpaku di sini. Aku tidak tau harus berbuat apa. Kaki ini serasa beku. Dan lagi-lagi, I just can cry. Man do cry, right?

Kutinggalkan kamar tersebut. Dengan langkah gontai, aku menyusuri lorong rumah sakit dan berjalan pulang.

Sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi… Cherry sudah pergi. Dan untuk selanjutnya, aku akan sendirian melewati masa-masa SMAku. Tak ada lagi yang memintaku untuk menyalinkan catatan. Tak ada lagi orang yang mengerjaiku dengan kecoa palsu.

No more Cherry Han…

Di saat seperti ini, ingin rasanya aku pergi ke surga, dan meminta Tuhan agar Cherry kembali, agar aku diberi satu kesempatan lagi untuk mengatakan kalau aku mencintai si gadis gila itu.

“But you’ve passed away…” aku menahan tangis.

“KECOA!”

“GYAAA!!!” reflek aku meloncat kaget. Kupikir, saat aku melihat lantai, binatang menjijikan itu sedang berdiam diri dengan kedua sungutnya. Omo… Ternyata tidak.

Aku mengadah, dan mendapati seorang gadis dengan rambut panjang berdiri menatapku.

HYAAA!!! Jangan-jangan itu hantunya Cherry?! Gowd, what should I do???

Aku memejamkan mata dan mulai membaca doa “Bapa kami di surga…” dan begitu selesai, ragu-ragu kubuka mataku.

HYAAA!!! Hantunya masih berdiri di hadapanku. Gosh! Tak adakah ayat yang bisa mengusir hantu dari sini????

Dengan mata terpejam dan sambil membuat tanda salip dari kedua jarinya, Siwon berusaha mengusir hantu Cherry itu. “Cherry.. Kumohon, pergilah. Aku sudah ikhlas. Pergilah ke alam yang sepantasnya untukmu…”

PLETAK!

“Awww….”

Siwon merasakan sakit di kepalanya. Bukan. Bukan hanya sakit, melainkan jitakan yang terasa amat nyata.

“Kau pikir aku ini hantu, hah?!” bentak Cherry sambil berkacak pinggang.

“Tap.. Tapi kau kan… Tadi kata Dokter, kau…”

“Sudah mati? Cih, jahat sekali kau ini…”

Siwon’s POV

 

Eh? Benarkah ini bukan hantunya Cherry, melainkan Cherry yang asli??

PLETAK!

Ia menjitak kepalaku lagi

“Aww…” Dan kali ini aku baru menyadari kalau JITAKANNYA BENAR-BENAR ASLI.

“Sudah bengongnya???” Cherry melipat tangannya di depan dada, sambil memasang tampang juteknya. Yeah, as usual…

Aku tidak ingin membalas pertanyaan ‘tidak penting’nya itu. Kurasa, memeluknya sudah memberikan jawaban yang lebih dari cukup, kan???

Cherry’s POV

 

Entah kenapa, Siwon tiba-tiba memelukku dengan erat. Bisa kurasakan, ia mulai menangis sambil mempererat pelukannya. Hoekzz.. Aku nyaris tidak bisa bernafas, nih…

“Ihh.. Cowok kok nangis, sih?!” ledekku sambil megap-megap, mencoba menghirup lebih banyak oksigen karena pelukannya terlalu erat >.<

“Aku mengkhawatirkanmu, bodoh!” dan Siwon menangis lebih hebat. Seketika itu pula, aku merasa sedang memeluk anak TK yang kehilangan balon.

“Oke.. Oke.. Kalau kau mengkhawatirkanku, sebaiknya kau beri aku ruang untuk bernafas…”

Sadar dengan pelukannya yang bisa membuat Cherry kembali pingsan, Siwon buru-buru melepaskan pelukannya. Ia lalu segera menyeka air mata yang sudah membanjiri matanya sejak tadi.

Cherry yang merasa cukup tersentuh dengan adegan mellow ini, langsung membantu Siwon menghapus air matanya. “Mukamu konyol sekali saat menangis. Hehehe.”

Siwon mencibir. Masa bodoh, pikirnya. Yang jelas, saat ini ia sedang merasakan kebahagiaan yang entah seberapa besarnya. Cherry, gadis yang sangat dicintainya, yang membuatnya sempat hopeless, ternyata masih hidup dan kini ada di hadapannya.

“Saranghae, Cherry Han,” kata Siwon sembari menggenggam kedua tangan Cherry dengan kedua tangannya.

Cherry’s POV

Reflek aku mendelik. Aku tidak percaya kalau Siwon akan mengatakan itu padaku. “Be.. Benarkah itu?”

Siwon mengangguk. “Jadi.. Mulai sekarang kau adalah pacarku.” Ia, entah kenapa, berlagak seperti seorang prajurit yang sedang memberi pengumuman. “Dan kau harus selalu ada untukku.”

“Eh?! Mana bisa?! Seenaknya saja kau membuat peraturan. Memangnya aku ini asistenmu???”

Siwon mendekatkan wajahnya padaku. Dan bisa kulihat, sorot matanya seolah mengungkapkan ‘aku serius’

“I don’t want losing you again, Jagiya…” lalu Siwon menarik tanganku, mengajakku agar cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini.

“Eh? Kita mau kemana?”

“Dating, lah…” jawabnya santai. “Ini kan hari Sabtu…”

“Tapi aku kan baru sembuh. Nanti kalau aku kenapa-napa, bagaimana? Nanti kalau aku pingsan, memangnya kau mau bertanggung jawab??”

Bukannya menjawab pertanyaanku, Siwon malah mencubit pipiku. “HYAA~! Sakit, tau!”

“Bagus, lah.” Ia berkata seolah-olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Kau tidak pingsan. Kau sudah tidak apa-apa. Pergi sekarang, yuk!”

Aku masih speechless. Apa sih maksudnya??

Masa bodoh, deh. Yang jelas, mulai sekarang, aku resmi menjadi yeoja-chingunya Siwon. Dan yang paling penting, kalau nanti aku tiba-tiba pingsan, dia yang harus menggendongku ke rumah sakit.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s