Juliette, Oh My Juliette!

Holiday means Holy Day. Yeah, hari yang sangat-sangat suci, sangat-sangat berharga, dan sangat-sangat MENYENANGKAN. Bermalas-malasan, nothing to do, break sejenak dari tugas-tugas menjijikan itu. Ahhh… How it’s really really worth.

Dan sesuai dengan hobi dikala senggangku, aku tengah membaca buku yang kemarin baru saja kubeli. Ditemani dengan lagu jazz favoritku, hari Sabtu yang damai ini terasa semakin menyenangkan.

“Siwooooonnnn!!! Main yuk!!!!”

Samar-samar aku mendengar suara dari depan rumah. Suara yang kukenal. Suara yang menginterupsi. Suara yang akan menjadi pertanda ‘kegilaan’ akan segera dimulai.

“Siwoooooonnn!!! Siwonnie the poohkuuuuuu!!! Yuhuuuuu!!!!”

Ahhh… Sebentar lagi saja lah. Tanggung nih, aku sudah sampai halaman terakhir.

Whew, tak sampai 5 menit akhirnya aku selesai juga membaca Chicken Soup For The Soul ini. Segera aku berlari ke balcony kamarku dan mendapati si sumber suara kini tengah berkangen-kangenan dengan dongsaengku, Jiwon.

“Oppa! Oppa!” Jiwon yang menangkap sonar kehadiranku di balcony itu langsung melambai-lambaikan tangan, mengisyartkanku agar aku segera turun untuk menemui yeoja yang ada di sampingnya itu. “Oi! Cepat turun!”

Aku hanya tersenyum saat yeoja di sebelah Jiwon ikut-ikutan tersenyum saat Jiwon menyuruhku turun tadi. Haha, kami seperti ada di jaman Romeo and Juliette saja. Bedanya, yang ada di balcony itu aku, bukan Cherry XP

Cherry Cherry Cherry… Aku yakin, tak lama lagi akan ada masalah konyol yang akan terjadi pada kami, padaku lebih tepatnya. Yeah. Dimana ada Cherry, disitu pasti akan terjadi masalah. Sesuai nicknamenya, dia itu kan Cherry The Troublemaker…

Ah, tapi… biarpun begitu, Cherry sudah berjasa banyak dalam hidupku. Ia seperti oksigen, yang membuatku tak bisa hidup tanpa kehadirannya. Ia seperti pelangi yang membuat hari-hariku yang flat ini menjadi lebih berwarna.

“WOI!!!!” Cherry dengan ekspresi marah yang dibuat-buat, memecahkan lamunanku. “Aku ke sini bukan untuk melihatmu senyam-senyum di atas balkon, ya!!!

“Lalu kau ke sini mau apa?” tanyaku masih tetap di atas balkon yang ada di depan kamarku, menikmati wajah aegyonya yang imut itu >.<

“Mau meminta Siwon oppa untuk segera turun!!!” Cherry terlihat malas berbasa-basi. “Sudah, ah. Cepat turun! Aku sudah jauh-jauh ke sini, kau malah lelat-lelet…” ia mengomel ini itu.

“Hihiihi… Dasar Oppa dan Onnie. Romantis dikit, dong!!!” timbrung Jiwon yang dari tadi belum enyah juga.

“Hey! Ini acara orang dewasa. Anak kecil, cepat masuk!!!”

“Ahhh… Iya-iya oppa…” cibir Jiwon. “Onnie, kalau oppa tidak turun-turun juga, lempari saja dia batu. Nggak apa-apa, kok…”

“JIWOOOOONNNN!!!!” aku geram, dan segera berlari ke bawah. “Grrrr… Kau iniiii….” aku pura-pura ingin mencekik Jiwon saat bertemunya di bawah. Tak terlalu memedulikannya, aku segera menemui Cherry yang masih di luar.

“Oh, Julietku… Kenapa kau begitu lamanya berdandan…” gerutu Cherry dengan muka juteknya.

“Yang Juliet itu seharusnya kau…” protesku.

“Masa bodoh lah,” ia mengibaskan tangannya. “Jalan, yuk!”

“Boleh. Tapi, sebentar ya. Aku ganti baju dulu..” kataku sambil mengajaknya masuk ke dalam rumah. Nggak enak, dong, masa yeojachingku disuruh nunggu di depan.

Tak lama aku pun turun, dan kami pun segera pergi. Errr… Entahlah. Aku belum tau pasti kami akan kemana.

“Oh, my Juliette…” Cherry iseng, pura-pura bergelayut manja di tanganku.

“Iiihh.. apaan sih?!!” sumpah ya. Aku paling jijik sama cewek yg suka bermanja-manja.

“Julieeeetttt… Unyuu unyuu…” sekarang, Cherry malah mencubit pipiku. Iaawww~~!!! “Ahh.. You are sooo beautiful…”

“Cherry, stop ya, STOP!”

“Ahh.. Juliette jangan marah dong… Kalo marah, jadi tambah imut dehhh >.<”

“CHERRY!!!”

“Apa Juliette??” tanyanya sok aegyo.

“Kalo kamu masih gitu terus, aku pulang lho.”

“Ah, Juliette… Jangan galak-galak dong…”

Uuuhhh… Gemas aku dengan Cherry. Iihh.. Andai yang dihadapanku ini bukan yeojachinguku, aku pasti sudah muntah-muntah di hadapannya.Sumpah, jijik jijik jijik!

“Juliette???”

“Tau, ah!” aku berjalan mendahuluinya

“Ahh.. Iya-iya! Siwonnie the poohku!!!” Panggilnya sambil mengejarku.

Akhirnya… Dia kembali normal.

HUP! Eh?? Apa ini? Cherry memelukku dari belakang?? Wah… Bener-bener lagi kerasukan nih anak…

“Don’t leave me…” bisiknya dan aku hampir tidak mendengarnya. Aku.. Sumpah, aku speechless. Tumben-tumbennya anak ini romantis. “Don’t leave me… Now and forever…” ulangnya lagi setelah melepas pelukannya. Ahh.. Padahal, aku ingin ia memelukku lebih lama lagi. Kejadian ini langka, lho. Catat itu!

“Eh.. Apa.. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu?” tanyaku bodoh karena aku tidak tau mampu mencari kata-kata yang tepat. Demi Tuhan, aku serasa membeku.

“Pokoknya,” Cherry menggengam erat tanganku yang sudah kelewat dingin sampai mati rasa ini. “Jangan tinggalkan aku, ya…” Sekarang, Cherry menatapku dengan keseriusan wajah aegyonya yang selalu membuatku meleleh itu. “…my Julliette :D”

Omonaaaa… Lagi-lagi?! Look! Cherry langsung nyengir kuda. Awas saja anak ini!

“GYAHAHAHA!!! Aktingku keren kan, Siwonnie???”

“Tau, ah,” kataku sebal. Ahh.. Kupikir dia serius dengan adegan romantis-romantisan ini. Taunya ngerjain. Uuhh… Lagi-lagi aku termakan kejahilannya. SEBALL!!!! >.<

“Ayolah.. Jangan gitu dong, Siwonnie… Err.. My Juliette? Xixixi…”

“CHERRY HAN!!!” Aku sudah bersiap-siap untuk menjitaknya, tapi ia keburu lari. Tau kan, apa senjata andalan seorang Cherry Han???

Cih, sayangnya, kecepatan larinya tak lebih dari kecepatan seekor siput. Aku bisa dengan mudah mengejarnya. Dan sesudah terkejar, aku langsung menariknya ke dalam pelukanku. She’s surprised?! Of course she is!

Tumben ia tidak protes saat kupeluk, pikirku.

“You said that you don’t want me to leave. Then you leave me…” bisikku. Cherry membenamkan kepalanya dalam pelukanku hingga bisa kurasakan lembutnya rambut hitam panjangnya dalam belaian tanganku.

“I just safe my self. Avoid from your evilness. Ehehe…” katanya jujur masih dalam pelukanku. Kupikir ia sekarang sudah mulai nyaman jika kupeluk. Hehehe..

“Kau yang evil. Aku angel.”

Ia mendongah, masih dengan sisa senyumnya yang manis itu. “You are my Juliette. Ehehe…”

“Cherry!!!” aku pura-pura memasang tampang marah.

“Hehehe… :P”

“Let me tell you something!”

Secara non verbal, wajahnya menggambarkan apa yang ingin kuberitaukan padanya.

Aku meraih wajahnya, dan seketika itu ia mengerjap. Gotcha! Sekarang Cherry lah yang membeku. “I’m Romeo and you are Juliette.”

“Nggak mau!” ia melepas tanganku sambil memalingkan wajahnya yang kini bersemu merah. Aigooo… Cherry terlihat semakin imut >.< “Aku tidak mau mati tolol seperti Juliette ya!”

“Berarti kau tidak mau mati untukku?”

“YA ENGGAK LAH!” katanya langsung. “For what?! Like a freakin’ jackass. Memangnya kalau cinta itu harus sampai berkorban nyawa??”

Aku speechless. Di satu sisi, ada benarnya kata Cherry. Memangnya kalau cinta harus sampai berkorban nyawa? Tapi kalau ia punya pikiran seperti itu, berarti Cherry tidak sepenuhnya mencintaiku dong???

“Hey! Kok diam?!” tanyanya jutek.

“Just thinking, berarti kau tidak mau berkorban untukku?”

“Geez!” Cherry memutar bola matanya. “Come on, Siwonnie the pooh! Kita tidak perlu mati demi cinta! Kalau kita sama-sama mati, bagaimana kita bisa saling mencintai????”

“Ya kan kita bisa saling mencintai di surga,” kataku.

“Memangnya kau yakin masuk surga?” tembaknya langsung. Keraguannya akan imanku, membuatku sedikit tersinggung. “oh, come on, Siwon Choi! Love is easy. Jangan buat cinta kita mendayu-dayu!!! I’m not a drama queen, notice that!”

Love is easy.. Benar kata Cherry. Aigooo!! Betapa babbonya aku yang bisa berpikir sampai sejauh itu. Pakai acara mati-matian pula. Babbo babbo babbo. Jeongmal babbolya~!

“Cherry…”

Ia mengerjap lagi. Seperti biasa, tak lupa dengan wajah aegyonya yang lucu saat bengong.

“I’m sorry…”

Cherry mengernyitkan dahi. “Sorry for what?”

“I’m sorry because I made it hard. Just like what you’ve said to me, Love must be easy. But I make it hard. My apologize..”

“Cih,” Cherry berdecak, sambil tersenyum (mungkin?). “Santai saja lah, Siwonnie… Seems like, kau sudah berbuat kesalahan yang paling fatal..”

Ya, itulah Cherry. Saat ia galak, ia akan membuatku sangat sungkan terhadapnya. Keseriusannya dalam beberapa hal, membuatnya sangat mature di hadapanku. Thank’s Cherry. Thank’s for teach me how to loving you in a perfect way.

Huft, I wish that she really really knows that…. I love her 🙂

“So…” akhirnya Cherry memecah kesunyian yang sempat terjadi di antara kami. “Kita mau kemana?”

“Entahlah,”

“GUBRAK! Aduuhh… Siwon. Aku mengajakmu keluar untuk jalan-jalan, bukan hanya untuk bercakap-cakap. Aisshhh…”

“Haha. Oke-oke. Kita ke taman sekitar sini saja ya…”

“Boleh :)”

Tak kusangka, sekarang Cherry berani menautkan tangannya padaku. Well, love is not only easy, but it’s sweet :))

-end-

ps: sumpah gaje banget >.<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s