Tonight [PG-15? Maybe?]

Haaiiiii… It’s me, TWD, dengan tiba-tiba punya ide bikin cerita PG, which is sedikit ‘nyrempet-nyrempet’. Hehehe :P. Entahlah, sepertinya saya harus segera ke tempat servis otak untuk pembersihan setelah bikin cerita ini.

So, karena ini cerita agak sedikit (atau cenderung, ya?) nyerempet-nyerempet, buat adek-adek yang kebetulan nemu link di google atau dimana aja, kakak minta dengan sangat, STOP BACA! ATAU SESUAI DENGAN KEPANJANGAN PG, PARENT’S GUIDE, MINTA MAMI KALIAN MENDAMPINGI KALIAN WAKTU BACA CERITA INI, OR ELSE, SURUH MAMI BELIIN TIKET KE TRANS STUDIO BANDUNG KARENA TEMPAT ITU JAUH LEBIH MENYENANGKAN DARIPADA BACA CERITA INI! SERIUS, DEH!!!

DAN JANGAN MINTA MAMI KALIAN MELACAK KEBERADAAN KAKAK PEMILIK BLOG INI DAN MENUNTUT KAKAK KE PENGADILAN SETEMPAT DENGAN TUDUHAN PENCEMARAN OTAK.

WAKAKAKAKA

_______________________________________________________________________

Yang umurnya sudah mencukupi, enjoy it! 🙂

Ps: Anggep aja kalian itu tokoh ceweknya.

Aku baru sampai di rumah saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suamiku, Andrew, sudah memasuki rumah ini 5 menit yang lalu. Well, tidak heran sih. Terlepas dari cita-cita semasa mudanya yang ingin menjadi seorang pembalab F1 namun tak kesampaian, dia bisa saja tuh, ngebut sambil salip kanan salip kiri di jalanan yang padat tanpa takut terserempet kendaraan lain. Malahan, yang ada kendaraan-kendaraan itulah yang langsung minggir saat ia membunyikan klakson seperti sopir ambulan yang tengah mengangkut pasien sekarat.

Anyway, ini memang aneh. Kami suami istri, tinggal serumah, dinner bersama di sebuah restauran, tapi pulang terpisah. Yahh… Aku tak bisa memungkiri hal ini, mengingat kesibukan kami yang sama-sama “overdosis”.

Andrew, atau yang kalian kenal sebagai Superjunior Choi Siwon slash pria setengah dewa yang dua tahun belakangan ini resmi menjadi suamiku, tidak pernah benar-benar memiliki waktu luang untuk sekedar menonton CNN di rumah. Jadwal kerjanya yang dua kali lipat bertambah padat selepas menikah, membuatnya bahkan bisa sampai seminggu tidak pulang. Padahal, sekarang ia adalah pria beristri. Oh, okay. Aku tidak merajuk, kok. Aku bahkan sangat mendukung profesionalitasnya dalam berkarir, meski… Ya itu tadi, ia jarang pulang ke rumah. Sibuk bolak-balik ke luar negeri bersama boybandnya itu untuk mencari nafkah. Hahahaha…

Mengenai aku yang katanya sudah tidak ada prospek untuk comeback ke dunia entertainment, aku sekarang malah mendapat dukungan penuh dari Andrew untuk berkecimpung di dunia bisnis. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk mempersiapkan grand-launching restauran cabangku di Busan. Dan kegiatan itu sama-sama menyita waktu, meski, setidaknya aku tidak sampai pulang subuh seperti Andrew saat ‘bisa’ pulang ke rumah.

“Pooh, kau tidak mandi?” tanyaku pada Andrew yang langsung mencari saluran CNN begitu kami masuk kamar. Uh, well. Pooh adalah nickname yang kuberikan padanya, walaupun ia sama sekali tidak mempunyai wajah beruang. Pooh, diambil dari tokoh kartun kesayanganku SiWonnie The Pooh. Hehehe 😛

“Kau saja dulu,” jawabnya sambil kipas-kipas karena Aircon di kamar baru saja dinyalakan. Ah, suamiku itu memang sok bule. Dia paling tidak tahan panas. Lol.

“Ne, baiklah,” dan akhirnya aku membasuh diri lebih dulu. Aisshhh… Segarnya. Aku merasa lusuh sekali karena setelah tadi pagi, aku belum mandi lagi. Iewww~

Tamat, deh. Tamat! Tidak ada satu pun piyama yang tersisa di walking-closetku. Berkali-kali aku mengacak-acak isi lemariku, lalu berlaih ke lemari Siwon (kali-kali ada satu baju yang nyasar), namun hasilnya tetap nihil! PIYAMAKU LENYAP SEMUA!!! Arrggggghhhhhh!!!!

“Jagiii!!! Kau lama sekali, sih?!” Andrew berteriak dari dalam kamar. “Aku tau kau sangat lelah, tapi jangan lantas ketiduran di kamar mandi, dong! Hey! Tempat tidurmu itu di sini, bukan di kamar mandi!!!”

Andrew Choi sialan! “Aniyooo… Bajuku hilang semuaaaa!!!!” seruku frustasi dari dalam walk-in closet, memberi pengertian bahwa AKU TIDAK SEBODOH ITU SAMPAI-SAMPAI KETIDURAN DI KAMAR MANDI.

“Masa iya hilang semua?” muka lusuh tapi tetap tampan Siwon Oppa (hoeks, aku tidak biasa memanggilnya dengan embel2 oppa meski ia 3 tahun lebih tua dariku), menyembul dari balik pintu.

“KYAAAA!!! Sedang apa kau disitu???!!!” bentakku saat ia mendapati tubuhku yang masih terbungkus handuk supermini dan langsung mendapat respon super mesum dari mukanya yang kata yeoja-yeoja itu alim. “Tutup matamu!” aku langsung melempar salah satu bajunya yang tadi memang sedang kupegang. “Keluar sana!”

“Aisshh iya-iya aku keluar,” ia berbalik dan keluar sesuai perintahku sambil menggerutu. “Padahal sudah dua tahun menikah, tapi masih saja malu… Aisssh… KYAAAA!!!!” aku melemparinya satu baju lagi.

Omonaa~!!! Ini sangat-sangat gawat. Benar-benar tidak ada satu piyama pun yang tersisa, meski sudah berulang kali aku memastikannya. T-Shirt pun aku tak punya. Pakai bajunya Andrew? Ah, mana mungkin. Oversise banget! Uh, well, tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, siap tidak siap, mati tidak mati, sepertinya, aku harus memakai pakaian ini….

“WooHoo~!!!!” aku langsung mendapat sambutan ekstra mesum dari Andrew begitu keluar dari walk-in closet. Dia yang tadi sudah hampir merebahkan tubuhnya ke ranjang, langsung bangkit beridiri dan memandangiku seperti om-om cabul di KTV.

“Jangan berpikiran macam-macam, ya!” ancamku. Andrew tidak menggubrisku. Ia malah berjalan menghampiriku tanpa melepas pandangannya pada tubuhku yang kini dibalut lingerie—sialan super tipis ini. “Jangan memandangku seperti itu!”

Andrew mengangkat bahu sambil berpura-pura memasang wajah sok aegyo, lalu mengataiku. “Katanya, tadi bajumu hilang semua. Nah ini masih ada.”

Aku tidak menggubrisnya. “Sudah, sekarang lebih baik kau segera mandi!” perintahku namun aku tidak berani menatapnya. Kalau sudah seperti ini, raut wajah Andrew berubah drastis, dari raut wajah God face ala Choi Siwon, menjadi Nasty Face khas om-om genit bandar cabul.

“Aku tidak mandi ah. Takut rematik,” ucapnya enteng.  Ia memandangiku lagi. Ih, sumpah deh. Aku ekstra jijik. Wajah mesumnya itu, lho… Ya Tuhan, kenapa aku bisa memiliki suami dengan wajah semesum ini, sih?!

“Apa lihat-lihat?!” bentakku lagi dan kini aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aku tidak peduli. Sekalipun ia sudah menjadi suamiku, tapi ia tetap tidak bisa melihat tubuh shirtlessku secara cuma-cuma. Enak saja, memangnya aku ini barang pameran apa….

“Aniyooo… Aku hanya mau mematikan lampu,” jawabnya, tapi aku tidak yakin kalau itu menjadi alasannya mendekatiku. Aissh, dasar licik! Mau membohongiku, ya? Ohohoho… Tidak bisa! Aku bukanlah orang yang mudah dibohongi.

Aku langsung menghindar dari Andrew begitu perhatiannya sudah berlaih pada stekker lampu yang memang berada di belakangku. Masih sambil berusaha menutupi bagian privatku, aku berjalan menuju tempat tidur. Tapi, belum sampai di tempat tidur, Andrew sudah keburu memelukku dari belakang.

“Aku yakin, ini bukan waktu yang tepat untuk tidur,” katanya penuh percaya diri begitu mendapatkanku. Aku meronta, berusaha melepaskan rengkuhannya, namun Andrew semakin erat memelukku. “Dan kau tidak terbiasa tidur sebelum tengah malam,” tambahnya.

“Oh, ya?” godaku. “Tapi, anggaplah hari ini aku terbiasa tidur sebelum tengah malam.” Gotcha! Aku berhasil lolos! “Sudahlah, ayo kita tidur. Besok kau ada syuting kan? Aku juga harus mempersiapkan grand launching Gui Lin di Busan, suamiku…”

“Setidaknya, beri aku waktu sebentaaaarrrr saja untuk memelukmu…” Andrew berkata masih berada di belakangku. Dan kini ia memelukku kembali. “Aku rindu mendekapmu seperti ini.”

Uh, well. Jujur saja aku memang sama rindunya dipeluk seperti ini. Hangat dan nyaman. Setidaknya begitulah rasa saat berada dalam dekapan seorang Andrew Choi, eh salah, Choi Siwon. Semua akan terasa nyaman saat kau sudah menyandarkan kepalamu pada dada bidangnya. “Sebenarnya, kau juga ingin dipeluk seperti ini, kan?”

“Cih, siapa bilang?”

“Aku,” jawab Andrew seenaknya. “Jarang-jarang kan, kita punya waktu beruda seperti ini?”

Tak perlu kujawab pun sepertinya Andrew sudah bisa tau. Pemandangan kota Seoul di balik jendela yang menjadi objek pandang kami saat ini terlihat jauh lebih indah dari biasanya. Entahlah, mungkin efek kebersamaan kami ini penyebanya.

Perlahan aku mulai melepaskan silangan tangan—konyol di depan dadaku tadi. Sebagai gantinya, sekarang kedua tangan kokoh Andrew lah yang melingkar di sekitar tubuh bagian atasku. Sambil meletakkan dagunya di atas kepalaku, kami terdiam sejenak, berusaha menikmati detik-detik berharga yang sangaaaat langka seperti saat ini.

Tunggu-tunggu! Tangan Andrew mulai bergerak, dari lengan menuju perutku. Lalu ia lingkarkan lagi tangannya di bagian perutku. Dan entah bagaimana caranya, ia mulai menghembuskan nafas menggeletiknya di telingaku.

“Andrew!” seruanku mengagetkannya tiba-tiba. Karena berhasil, aku langsung cepat-cepat melepas lingkaran tangannya. Uh, well, aku tau semua ini akan mengarah kemana. “Jam berapa sekarang?”

“Entahlah,” ia mengangkat bahu seolah tak peduli dengan waktu. “Waeyo?”

“Don’t you know, it’s quality time to having a longer sleep??”

“Don’t you know,” ia membalikkan badanku dengan cepat. “It’s a quality time,” entah bagaimana caranya ia bisa memelukku lagi dengan cepat. Kali ini Andrew memelukku dari depan. “…to having a longer time for spending the night, together?”

“Err… We can spending the night by sleep, I assume?”

“Aku tidak mau.”

Saat itu juga aku terbelalak kaget. Kaget, bukan karena bisa melihat sorot mata menghanyutkan yang bisa membuat para yeoja langsung meleleh itu, namun lebih karena rasa ngeri dari balik kata-kata ‘aku—tidak—mau’ itu.

“Andrew, mianhamnida. Bukannya aku tidak mau, tapi…”

Ia memotong permintaan maafku seenaknya dengan mengecup singkat bibirku. “Kau beli ini saat di Paris kan?”

Aku mengangguk, lalu cepat-cepat berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Sialnya, Andrew malah lebih memperat rengkuhannya sampai-sampai aku kesulitan bernafas.

“Aku suka pilihanmu. Simple but successfully attraced me,” bisiknya nakal dan aku langsung bergidik ngeri. Uhm, memang sih, alasanku memilih gaun tidur, slash lingerie ini karena bentuknya yang simple dan warnanya yang tidak cheap. TAPI, DIMANA-MANA, YANG NAMANYA LINGERIE ITU MENGGODA IMAN! Ah, dasar Siwonnie tukang gombal!

Dan karena alasan lingerie ini lah aku tidak mau melakukan ‘itu’ padanya malam ini.

“Euhm, Siwonnie…”

“Uwaa… Akhirnya kau memanggilku Siwonnie!!!” ia pura-pura antusias, lalu mulai mempekerjakan kedua tangannya untuk menelusuri punggungku. “Jagi, aku tidak tau alasanmu untuk memakai underwear di bawah gaun tidur,”

“Ngg… Eh… Itu… Anu… Umm… Aku…” Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Tolol, memang. Tapi begitulah adanya. Aku merasa risih jika tidak ‘melapisi’ tubuhku dulu sebelum memakai pakaian luar. Tapi, menjelaskan alasan itu secara gamblang, gengsi ah. “Aku terkadang merasa dingin jika tidur tanpa mengenakan underwear. Ehhh…!!! Bukan! Bukan! Maksudku…”

Ottokhae aku keceplosan!

“Uh, well…” Andrew semakin merasa menang dengan semua ini. “Kalau begitu, biar aku yang menghagatkanmu.”

Seketika itu juga aku merasa tubuhku terangkat dari lantai. Dan benar saja, Andrew sudah menggendongku ala bride, lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang.

“Siwon, hari ini bukan ‘jadwal’ kita!”

“Telat.” Ia langsung menyerangku dengan ciumannya. Awalnya lembut—which is membuatku melambung seketika. Mengingatkanku pada ciuman pertama kami saat pacaran dulu. Tapi lama kelamaan berubah menjadi sangat ganas. Ia berusaha menjebol bibirku dengan terus memainkan lidahnya. Merasa belum mendapatkan apa yang ia mau, ia menggigit bagian bawah bibirku. “ahhh…” aku mendesah, merasakan sedikit perih di bibirku, namun jujur saja, ini nikmat.

Kupikir, ia akan segera ‘bermain’ dengan lidahku setelah aku membuka sedikit bibirku untuknya. Namun ia malah berhenti, dan sedikit menjauhkan kepalanya dari wajahku. “Jangan ketakutan seperti itu, dong. Aku kan bukan macan dan kau bukan onggokkan daging yang siap kuterkam…”

“Tapi kau seperti frankenstein, Andrew-ssi,” balasku sambil membuka mata penuh kehati-hatian. Aku bisa sedikit bernafas lega saat sunggingan senyum menyejukkannya tertangkap fokus mataku. Ya. Senyum menyejukkan, bukan seringai cabul yang ia pamerkan tadi.

“Well, kalau aku frankenstein, berarti kau zombie… Ehehehe.”

“Tidak bisa!” protesku. “Aku tetap malaikat, dong…”

“Masa?” remehnya. “Ah, iya. Malaikat pencabut nyawa. Gyahahaha…”

“Kau, ini!!” aku pura-pura sebal dengan muka aegyoku. Hehe, memang aku tidak pantas ber-aegyo-aegyo sih. Tapi setidaknya itu lucu—bagiku. Hehehe 😛

Untuk sejenak, aku cukup menikmati waktu kebersamaan penuh canda ini. Aisshh.. Entah sudah berapa lama kami tidak saling ‘ejek’ seperti ini.

“Rasanya, seperti sudah seabad tidak tertawa bersamamu seperti ini,” celetuknya dengan tetap masih berada di atasku. Andrew lalu membelai pipiku lembut dengan telapak tangannya yang lebar itu. “Mian sudah melewatkan banyak waktu tanpamu…”

Oh, aku cukup tersentuh. “Aniyoo… Seharusnya aku yang minta maaf. Aku istrimu, tapi malah jarang memasakkan makanan untukmu. Ahh… Aku bukan contoh ibu rumah tangga yang baik…”

“Sudahlah…” Andrew lagi-lagi membelai pipiku. Ditambah, kali ini ia juga mengacak rambutku. “Kita memang sudah banyak melewatkan waktu-waktu berharga…”

Entah kenapa terbesit ide gila di kepalaku. Dan entah ada setan mana yang merasukiku, aku malah menarik wajah Siwon, membuatnya semakin dekat dengan wajahku, lalu sedikit mempermainkan perasaannya dengan tanpa mencium bibir tipis namun lentiknya itu. “So…” aku meliriknya dengan lirikan yang katanya dulu menjadi alasan Siwon berani mendekatiku saat tengah menghadiri fashion show Korean Fashion Week. “…let’s make it worth!”

“Mwo?!” ia setengah terkejut, namun sejurus kemudian, ia menyunggingkan senyum sumringah.

Karena sibuk mengendalikan perasaan bahagianya itu, aku mendapat kesempatan untuk mendorong tubuh kekarnya. Dan sekarang, aku yang berada di atasnya. “Tadi kau berusaha meminta padaku, kan? Well, karena sekarang aku sedang baik, jadi aku akan mengabulkan permintaanmu…”

“Wowwww!!! Jagi.. Kau…”

“You know I always do better even become the best!” bisikku meyakinkan di telinganya.

Andrew lagi-lagi tersenyum dengan sorot mata seribu arti padaku. Aku tak peduli.

“That’s the way…” perlahan-lahan ia mulai menarikku. “I love you…” dan BUGH! Aku dihempaskan ke tempat tidur untuk kedua kalinya malam ini.

____________________SKIP SKIP SKIP SKIP SKIP______________________

What’s going on during SKIP SKIP SKIP??? Imagine!

XOXOXO,

Cella ^^

Advertisements

Am I really that Coplac?

Just blog walking on my old blog, Coplacco. Gila, ya, dulu gw sesadis itu ngatain dr.X, MG dan Baskoro. Dan yang diluar dari nalar pikiran gw, gw nggak nyangka kalo gw dulu punya tingkat imajinasi, ralat, tingkat ngatain orang sampe sekejam itu. Lol.

Nggak nyangka juga kalo dulu gw punya temen2 menggila yg kelewat gila itu. Lisa, Victor, and Inyonge. Ahhh.. I’m gonna miss you all. Awal2 kelas sepuluh yg begitu menyenangkan bersama kalian. Karaokean bareng, tanding R-Tuned bareng, makan2 di Parci, ngatain Dr.X dan Baskoro tiap mereka lewat, dan yang paling gw inget adalah kenangan naek becak yang memalukan cenderung menjatuhkan pasaran kita itu.

How so copplac we are, in the past!

Sekarang, kita udah kelas 2. Kita bakal menjalani hidup masing-masih. Uh, well, terlalu berlebihan. Tapi memang begitu adanya. Victor yg sekarang punya cewek (akhirnya cintamu kesampaian juga, Nak!), Lisa yang selamanya dunianya bersama temen2 ceweknya nggak bakal bisa diusik, Nyong yang juga udah punya cewek dan kabarnya lu bakal pindah sekolah. Dan gw yang masih setia ‘bermain-main’ dengan imajinasi gw yang sering kelewat batas.

Kita nggak bakalan bisa bareng lagi, sob. Masa2 penuh kegilaan dan ketidakwarasan itu sudah lewat. Kita bener-bener bakal menjalani hidup masing-masing.

Nggak perlu disesali, karena itulah namanya hidup.

Nggak selamanya kita hidup di sebuah lingkungan yang itu-itu terus. Kalo berjalan seperti itu, kapan kita maju? Kapan kita bisa belajar?

At least kalian masih mau meluangkan sepersen aja dari memori otak kalian untuk masa2 bersama coplacco, itu udah cukup bagi gw. Gw, si Dr.C. Musuh bebuyutan yg pernah kepincut Dr.X. Anak angkatnya Baskoro, adeknya MG. Don’t u remember that?

Lisa, yang mengakui six-packnya si bantet Baskoro, meski sebenernya kita juga nggak yakin apakah six-pack itu bener-bener eksis di perutnya DeBas atau hanyalah gossip belaka?

Victor, a.k.a Professor Victoro, si penemu virus koplak, yg cintanya kepada Fan Jie kini digantikan oleh kehadiran seorang cewek imut bernama Dea, sekarang benar-benar menjadi jenius andalan Coplacco yang masuk jurusan IPA.

Dan inyong, anggota terakhir yg join Coplacco yang sekarang kurang diketahui keberadaannya, entah kami akan berpisah sama kamu atau itu (lagi2) cuma gossip, kami, terutama aku cuma mau minta maaf kalo selama ini sering sewot, dan cenderung jahat sama sikap sok dan koyamu yang seringnya keterlaluan itu. Maaf kalo sering nyengaki kamu sampe segitunya, tapi sumpah, aku menghargai kamu sebagai teman di luar sifat koya dan sok mu itu. You are the best Jokerman ever!

So, Coplacco, don’t u remember this absurd blog?

http://coplacco.blogspot.com

Don’t u remember how terrific Baskoro’s family life, which is contain of MG, Dr.X, and your devilish coplacco-mate, Dr.C slash me?

With no single tears, but actually I’m crying while writing it,

-Cella-

Where’s The Promised Happiness

你的回话凌乱着 Your response is lost in confusion.

在这个时刻, 我想起喷泉旁的白鸽 At this moment, I recall a dove in a room with a fountain.

甜蜜散落了 The sweetness has dispersed. 

“Gamshahamnida, Choi Siwon,” katanya begitu aku menurunkan lugage jumbonya tepat di depan pintu X-Ray.

“Ini bukan akhir, kan?” tanyaku berharap ia tak menjatuhkan air mata yang telah lama menggenang di pelupuk matanya itu.

Min Gi-ku menggeleng, lalu seketika memelukku dengan erat. Aku juga melakukan hal yang sama dengannya, bahkan aku berharap, pelukan ini tak pernah berakhir. “Tunggu aku jika kau tak mau berakhir,” bisiknya dengan lirih.

情绪摸名地拉扯 My sentiments are dragged about for no reason

我还爱你呢 Do I still love you?

但你断断续续唱着歌 And you’re singing the song intermittently

假装没事了 Acting like you’re fine

Musim gugur telah berakhir dan kini salju mulai turun. Dingin menyelimuti kota Seoul, juga hatiku. Empat bulan bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan kenangan yang telah kulalui bersama Min Gi begitu saja.

Suatu siang di bulan Oktober, ia menelfonku.

“Si…Won..” suaranya bergetar di seberang sana. Seperi tengah menangis, atau memang sedang batuk.

“Min Gi!” pekikku. “Ada apa dengan suaramu?”

“A… Aku… Ehm… Aku sedang batuk. Bagaimana keadaanmu?” kini suaranya terdengar lebih ceria.

“Jujur aku tidak baik-baik saja setelah kau pergi.”

“…….”

“Min Gi?”

“Aku sehat, aku bahagia di sini, Siwonnie. Jangan khawatirkan aku. Aku… Aku juga merindukanmu.”

“Ne. Kapan kau pulang?”

“Secepatnya,” jawab Min Gi pasti.

时间过了, 走了 Time has passed ,It’s gone

爱情面临选择 You face a choice in love

你冷了, 倦了,我哭了 You are cold, tired, I’ve cried

离开时的不快乐 The unhappiness when you left

你用卡片手写着 You write it down onto a card

有些爱只给到这 For some love when you give to this point

真的痛了 It really hurts

Hidupku sudah mulai sempurna ketika Appa akhirnya mengijinkanku untuk bergabung dengan SM sebagai trainee. Aku bahagia, bisa bertemu hingga berkenalan dengan orang-orang baru, membentuk sebuah keluarga baru, dimana kebersamaan dan solidaritas selalu ada di dalamnya. Terus terang aku bahagia dengan keluarga baruku ini, meski ujung-ujungnya, mereka menyita habis seluruh waktuku.

Seperti yang kubilang tadi, hidupku muali sempurna. Belum total sempurna. Yahh.. kuakui aku masih menunggu kepulangan Min Gi. Aku ingin membuatnya bangga bahwa akhirnya aku mulai bisa mengejar impianku, seperti dirinya.

Hingga suatu hari, Min Gi pulang ke Korea…

“Senang rasanya kau kembali lagi, jagiya…” seruku bersemangat. Min Gi hanya tersenyum kecil, lalu kembali menghangatkan telapak tangannya pada cangkir caramel cappuccino di hadapannya.

“Bagaimana sekolahmu?”

“Berjalan dengan baik,” jawabnya datar. Jujur saja, aku merasa ada yang banyak berubah dari Min Gi. Pendiam, itu salah satu perubahan drastis dalam dirinya. Min Gi yang dulu adalah seseorang yang sangat cerewet, yang sangat benci dengan keadaan sunyi, dan bukan orang yang canggung terhadap kekasihnya.

“Min Gi, gwanchaena?”

Setelah meneguk caramel cappuccinonya, ia baru bersuara. “Apanya yang kenapa?”

“Kau…”

“Aku kenapa?”

“Aniyoo.. Lupakan saja.”

Dan keheningan menyeruak di antara kami lagi. Aneh memang. Kedai ini cukup ramai, namun aku merasa seperti tengah berada di kuburan.

Mungkinkah perasaan Min Gi mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu? Mungkinkah jarak di antara kami selama ini adalah penyebabnya?

怎么了? 你累了 What’s going on? You’re tired

说好的 幸福呢  Where’s the promised happiness?

我懂了, 不说了, 爱淡了, 夢遠了 I understand, Let’s not talk about  it, Love has faded, The dream has become distant

開心與不開心一一細數著/ 你再不捨, The difference between being happy and unhappy is becoming a thinner line.

你再不舍 Once more you’re reluctant to let go

那些爱过的感觉都太深刻 Those feelings of having loved are too deep

我都还记得 I still remember them

Superjunior adalah kunci keajaiban demi keajaiban yang datang pada hidupku. Tanpa keluarga ini, aku bukanlah Choi Siwon, yang terkenal, yang dicintai oleh hampir seluruh umat manusia di dunia. Tanpa Superjunior, cinta para ELF tak akan mengalir hanya untukku.

Cinta cinta dan cinta. Aku hampir lupa bahwa aku dulu pernah memiliki cinta yang begitu besar kepada seorang yeoja bernama Jang Min Gi. Pudarkah rasa cintaku kepadanya? TIDAK. Tidak dan tidak akan pernah, meski gosip yang dulu sempat membuat SM mengancamku habis-habisan, membuatku harus berpura-pura bahwa aku tidak memiliki seroang kekasih.

Min Gi tidak pernah tau jika aku sangat menderita di sini. Berhubungan ala backstreet, mengatakan pada publik bahwa aku danseluruh tubuhku, termasuk hidupku adalah miliki mereka, semua itu menyiksaku, dan secara langsung telah menyakiti hati Min Gi andai ia tau.

Tak butuh waktu seribu tahun, Min Gi akhirnya mengetahui itu. Dan yang paling kutakutkan, adalah saat dimana Min Gi lelah dan akhirnya mengakhiri hubungan kami. Tidak. Aku tidak mau semuanya berakhir. Dia bilang, semuanya tidak akan berkahir jika aku menunggunya. Aku menunggunya, tidakkah kalian melihat itu?

你不等了, 说好的 幸福呢? You don’t wait anymore, Where’s the promised happiness?

我错了, 泪干了, 放手了, 后悔了 I was wrong, The tears have dried, I’ve let go, I’ve regretted

只是回忆那音乐盒还旋转着, But the music box in my memories is still spinning

要怎么停呢, How can I stop it?

Lima tahun berkarir dengan Superjunior, membuatku menjadi sosok yang lebih dewasa, lebih tabah dan lebih sabar dalam menghadapi segala masalah. Mebuatku menjadi seorang struggle yang pantang menyerah.

Contohnya ketika aku beserta member yang lain harus merelakan kepergian Han Geng dari boyband yang sudah ‘melahirkannya’ ini. Aku adalah satu-satunya member yang tidak meneteskan air mata di hari terakhir Han Geng tidur di dorm, meski ia adalah member yang paling dekat denganku. Han adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah kumiliki, bahkan Han adalah satu-satunya orang yang mengetahui kisahku dengan Min Gi, cintaku.

Dan akhir dari kisah cintaku dengan Min Gi adalah hari ini. Baru saja aku membuka surat undangan yang dikirimkan langsung ke rumahku oleh kurir. Kau tau, rasanya seperti tersambar petir 2000 volt di siang hari. Rasanya seperti ada luka di dadaku, yang serta merta disiram air cuka. Rasanya seperti Min Gi baru saja menghujamkan pedang Samurai X yang sudah berkarat tepat di jantungku.

Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan membaca surat undangan itu. 3 hari lagi. 3 hari lagi Min Gi akan melangsungkan pernikahannya. Haruskah aku menutup mata, dan menghancurkan hari bahagia itu secara terang-terangan???

Oke, akal sehatku telah mati. Aku minggat dari jadwal konserku bersama Superjunior malam ini. Tak peduli apakah Leetuk akan memarahiku habis-habisan, atau parahnya lagi, SM menuntutku di pengadilan, sungguh aku tidak peduli.

Pikirku, aku sudah terlalu lama berjalan sesuai sekenario SM. Jadi, boleh kan sekali-kali aku berbuat di luar kendali mereka?

Diam-diam aku telah menunggu Min Gi di ujung blok. Aku menyamar seperti seorang detektif yang tengah mengincar buronan kelas kakap. Lalu, saat Min Gi sudah sendirian dalam perjalanan pulangnya, aku muncul di hadapannya.

“Kenapa kau lakukan ini?!” tanyaku berusaha sesabar mungkin meski sedari tadi tanganku sudah terkepal erat-erat.

“Salahkah?”

“YA KARENA KAU ADALAH MILIKKU!”

“Oh, kalau begitu sekarang sudah tidak lagi,” jawab Min Gi enteng.

BRUKKK!!! Aku menghempaskan tubuh Min Gi ke tembok tinggi yang ada di sampingku hingga membuatnya meringis kesakitan, merasakan punggungnya menghantam tembok dengan keras. Mianhamnida, Min Gi. Tapi rasa sakitmu tak sebanding dengan rasa sakit yang sudah kau torehkan pada hatiku saat ini.

“Andwae, Min Gi~a?! ANDWAE!” aku membentakknya yang masih tak bergeming dalam cengkramanku. “Aku sudah menunggumu, TAPI KENAPA KAU AKHIRI INI HAH?!”

“KAU YANG MEMINTAKU UNTUK MENGAKHIRI INI, CHOI SIWON! Min Gi bukan siapa-siapaku, Min Gi adalah kisah lama, hatiku hanya untuk kalian, APA KAU PIKIR ITU TIDAK MENYAKITKAN, CHOI SIWON?!”

Aku terdiam.

“Mereka menghujamku, membuatku tiba-tiba menjadi orang yang paling dicari di dunia maya, meng-hack semua akun networkingku, lalu mengancamku, HARUSKAH AKU BERTAHAN DENGAN SEMUA ITU, HAH?!”

“LALU KENAPA KAU TIDAK BERCERITA PADAKU?!” kini aku balas membentakknya.

“Apa itu bisa merubah keadaan?”

“….”

“Apa itu bisa merubah keadaan? Apa itu bisa membuatmu merelakan popularitas yang susah payah kau raih, APAKAH KAU MAU MERELAKAN SEMUA ITU HANYA KARENA AKU?!”

Aku kembali terdiam. Kata-kata Min Gi adalah tamparan keras pada pipiku.

Min Gi meraih wajahku yang tertunduk. Aku tidak lagi mencengkramnya dengan penuh emosi seperti tadi. Kulihat matanya berkaca-kaca, jauh lebih baik dibanding aku yang kini tengah menangis.”Life is all about choice, Choi Siwon. Kau harus tau itu,”

Min Gi lalu berlari ke dalam apartemennya, meninggalkan aku di jalan yang sepi dan gelap ini dengan kepastian bahwa Min Gi sudah tidak mencintaiku lagi.

Inikah yang terbaik bagi Choi Siwon, Jang Min Gi, dan mereka?

Untuk mereka, 2 rasa cinta harus dikorbankan. 2 rasa cinta yang begitu dalam, yang tanpa batas…

Untuk Jang Min Gi, maukah Choi Siwon melepas sinar bintang yang telah susah payah ia raih selama ini? Maukah Choi Siwon meninggalkan ‘dunia’ dimana ia seharusnya berada?

Untuk Choi Siwon, ikhlaskah Min Gi menyakiti, mengingkari janjinya sendiri pada Choi Siwon?

Inikah takdir?

Apakah takdir memang sepahit ini?

Ataukah ego masing-masing yang jika dipaksakan, hanya bisa membawa luka???

Tak butuh jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaan itu. Hidup memang terkadang menyakitkan, tapi seringnya membahagiakan. Membahagiakan jika kita sudah siap menerima segala resiko atas pilihan yang telah kita pilih.

Toh, semua hal akan indah pada waktunya kan?

-FIN-

Oke, oke. Saya memang tidak berbakat bikin cerita yang berat-berat, yang mellow-mellow seperti ini. Makanya, soriiiiiiiiii banget kalo nih cerita sama sekali nggak seru. Nggak ada feelnya. Nggak bikin geregetan. Hahaha. I just want to share what’s inside my mind after watched Siwon’s perfomance by singing Jay’s song. Lol

Remembering Dr.X

Sebelumnya, buat tmn2 kelas XA yg tiba-tiba terdampar di blog ini, terutama geng coplacco, dan buat dr.X juga,

HARAP ANDA-ANDA TIDAK BERPIKIR BAHWA SAYA JATUH CINTA SAMA DR.X

It’s a BIG no no. Mending saya dipeluk Siwon daripada suka sama Dr.X *lho?!*

ya sudah lah. Mari kita buka kembali kenangan2 absurd saat dr.X masih eksis.

I still remember how I was sooo excited when I met Dr.X every Thursday… I always act perfectly and try to stay cool whenever I met him on that day.

I always cover my feeling although everybody know that I really really hate him and like him instead.

Dr.X is the only one who physically looks alike Siwon.

Also, I remember how I miss him when I went Singapore for 10 days and I always think about him during the immersion

Yahh… Begitulah saya DAHULU KALA. Yang buta, yang khilaf, yang sama sekali NGGAK NYADAR kalo Dr.X adalah orang PALING NYEBELIN SEPANJANG SEJARAH SAYA BERNAFAS.

Ngomong2, Dr.X sekarang hilang bagai ditelan bumi. BAGUS LAH!

CELLA and DR.X = EVER-LASTING ENEMIES