[Siwon’s Girl Version] Surprise or Present?

Michelle Elena Choi…

Tak terasa ia sudah beranjak dewasa. Minggu depan ia berusia 16 tahun. Padahal, rasanya baru kemarin aku melihatnya bisa berlari kepadaku dan memanggilku “Appa” dengan lidah cedalnya. Rasanya baru kemarin, aku membalut luka di lutunya saat mengajarinya mengendarai sepeda roda empatnya.

Haha, anak-anak jaman sekarang bertumbuh dengan cepat. Termasuk putri semata wayangku ini.

Melihatnya tumbuh sebagai putri yang di-elu-elukan banyak orang, membuatku bangga padanya. Meskipun terkadang, tak sedikit juga yang mencemooh tentang masa lalunya.

Dan sebagai seorang ayah, aku tau bagaimana perasaannya ketika kedua hal itu menerpanya dalam waktu bersamaan. Tak gampang baginya, menerima kenyataan bahwa ia adalah putriku, putri seorang superstar, Choi Siwon. Untuk itu, aku selalu berusaha menguatkannya ketika ia mulai ‘jenuh’ dan ‘benci’ akan eksistensinya.

Oke, oke. Tak perlu kujelaskan bagaimana susahnya aku membesarkan remaja putri seorang diri. Aku sudah berusaha sekuat tenaga dengan dibantu orang-orang ‘hebat’ dalam hidupku. Aku tau, aku telah banyak melakukan kesalahan saat memerankan peran ‘single parent‘ di depan Michi. Tapi… Bukankah karena ‘salah’, kita baru bisa mengerti apa itu ‘benar’?

By the way, jadwalku memang tidak terlalu padat hari ini. Makanya, aku sudah ada di rumah sejak sore tadi.

Aku sendirian, soalnya Michi memang sedang menginap di rumah Eomma. Tadi, sebelum berangkat ke sekolah, ia meminta ijin padaku kalau hari ini ia mau melakukan pajamas party dengan bff-nya yang baru pulang dari Jerman itu. Yah, siapa lagi kalau bukan Jiwon, dongsaeku. Sejak kecil, Jiwon memang sudah menjadi teman mainnya. Entah bagaimana caranya, meskipun terpaut usia yang sangat jauh, mereka bisa klop satu sama lain.

Kalu sudah sendirian seperti ini, aku paling suka bersih-bersih. Entahlah, sejak menyadari bahwa diriku ini bukanlah seorang pria lajang lagi–melainkan seorang Ayah, aku jadi ketularan Ryeowook yang suka sekali bersih-bersih itu. Bagiku, melihat banyak sidik jari yang nempel di sana-sini itu sangatlah menyebalkan. Apalagi melihat barang-barang yang berada di tempat yang tidak semestinya. Errr… Aku jadi geregetan ingin menata ulang.

Kegiatan bersih-bersihku yang sudah memakan waktu satu jam ini masih belum selesai. Sampai akhirnya aku ‘terdampar’ di kamar serba pink-nya Michi.

Aku sedikit beruntung karena ia mewarisi sifat anti-berantakan dariku. Paling hanya novel-novel yang tergeletak di meja yang lupa ia kembalikan ke rak yang membuat kerapihan kamar ini kurang sempurna.

Saat melihat suasana kamarnya yang sangat girly, aku semakin percaya bahwa darah yang mengalir di tubuhnya 80% adalah darah seni. Buktinya, interior kamar ini. Percaya atau tidak, Michi yang mendesain kamarnya sendiri sampai seperti ini. Waktu aku membuatkan kamar untuknya, ia yang banyak berdebat dengan si interior designer.

Aku tau bahwa Michi sangat terobsesi pada kota Paris. Yahh.. Yeoja mana yang tidak jatuh cinta pada kota penuh cinta, yang kata mereka, kota romansa itu. Putriku adalah satu di antara yeoja-yeoja yang memiliki impian besar menginjakkan kaki di Paris. Look! Michi sampai menempelkan hasil karya lukisnya sebesar poster di depan mejanya belajarnya!

Bahkan bookmark pada novel yang tadi kukembalikan ke rak ada gantungan menara Eiffelnya. Itu oleh-oleh dari Jiwon sewaktu melakukan “Trip To Europe”nya.

Demi meraih obsesinya, Michi sampai bela-belain ikut kursus bahasa Perancis 3 kali seminggu. Aku masih ingat, satu kalimat dalam bahasa Perancis yang pernah Michi ajarkan padaku. “Tu Es Belle” yang artinya kau cantik. Hmm… maunya -.-”

Suatu saat, aku tidak sengaja melihat buku di atas meja belajarnya. Kupikir itu semacam notebook berisi coretan-coretannya. Dan sekali lagi, isinya tentang Paris.

ada bagian dari buku itu yang membuatku berkaca-kaca begitu membukanya

and so do I, dear…

Oke, ini bukan saatnya bersedih. Oh! Aku melihat tumpukan yang tertata rapi di sudut meja. Michi bilang, itu isinya postcard dari temannya sewaktu di China yang sekarang sekolah di Paris.

Dan yang semakin membuatku percaya bahwa putriku benar-benar “die in love” pada kota Paris adalah souvenir kecil yang entah dari siapa berada di antara koleksi parfumnya.

Well, inilah bukti nyata dari kata pepatah “buah tidak jauh dari pohonnya”. Michi sama seperti aku yang tidak bisa jika tidak wangi. Hahaha.

Omona! Sudah jam tuju rupanya. Aisshh… Pantas saja perutku keroncongan. Harus cepat-cepat kubersihkan kamar anak kesayanganku ini dan segera memberi makan pada cacing yang kini konser lagu rock di dalam perutku ini.

Selesai dari kamar Michi, aku langsung ke dapur untuk memasak makanan. Yeah, beginilah nasib pria single, masak sendiri. Cuci piring sendiri. Untungnya aku tidak separah tetangga sebelah rumahku, Kyuhyun yang setiap hari selalu makan ramyeon karena tidak bisa masak itu.

Dan karena nasibnya sama sepertiku, pria single, tinggal sendiri (khusus aku, hanya untuk hari-hari tertentu saja saat ditinggal Michi), Kyuhyun tiap hari datang ke rumah untuk makan malam jika tidak ada schedule malam. Demi apapun juga, aku tidak tega magnae di Sujuku itu semakin cungkring gara-gara kekurangan asupan gizi dari makanan yang sehat.

Malam ini ia sedikit lebih banyak diam. Iya, soalnya partner adu mulutnya, yang tidak lain adalah putriku, Michi, sedang tidak ada di rumah. Yahh… Bisa dibilang, Kyu merupakan salah satu nama yang masuk list bff-nya Michi. Orang pertama yang antusias menggendong Michi saat pertama kali kubawa ke tempat latihan dance, adalah Kyuhyun. Ya. Cho Kyuhyun yang katanya tidak suka anak kecil itu malah senang sekali bermain dengan baby Michi. Entah apa yang bisa kujelaskan, Michi memang pembawa keajaiban, tidak hanya dalam hidupku, tapi dalam hidup orang lain. Michi seolah mempunyai sihir yang bisa langsung membuat orang mencintai dan mengasihinya begitu bertatap muka dengannya.

“Minggu depan Michi ulang tahun lho, Hyung! Sudah menyiapkan hadiah untuknya?” celetuk Kyuhyun tiba-tiba saat kami tengah menikmati ayam saos lemon buatanku.

“Entahlah. Aku masih bingung. Aku ingin memberi surprise atau hadiah saja padanya. Aku takut kalau schedule-ku minggu depan tiba-tiba berubah padat. You know our beloved manager-hyung, rite?” cercaku panjang lebar. “Kau? Mau memberi apa pada putriku?”

“Parfum mungkin. Michi suka dengan parfum, kan?”

“Oh, please, don’t do that, GameGyu! Kamarnya sudah cukup memabukkaan dengan koleksi parfumnya yang sekarang. Aku sebagai Appanya, tidak akan ‘merestui’ hadiah yang akan kau berikan pada anakku…”

“Hahaha, kau lucu, Hyung. Kubilang tadi ‘mungkin’, jadi masih ada alternatif lain, kan???’

Aku hanya manggut-manggut sambil melanjutkan makan malamku.

“Jadi kau mau memberi apa? Surprise, atau hadiah?”

Aku mengangkat bahu. Sekali lagi, aku mengakui kalau aku bukanlah Ayah yang baik 😦

“Hyung, bukankah Michi suka sekali pada kota Paris?”

*TING!* Aha! Paris! Why not?! Aku akan mencoba bernegosiasi pada manager hyung. “Kyu! You are my smart magnae!”

-TBC-

Author Says: Sebenernya, nih, yang terobsesi pada Paris itu aku… Hahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s