[Siwon’s Girl Version] Guy Next Door :P

Sampai detik ini, aku masih tidak percaya bahwa hidupku sangatlah spesial seperti apa yang dikatakan orang-orang. Aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa sejak lahir, aku adalah satu diantara separuh juta umat korban Hallyu Wave yang bisa hidup berdampingan dengan idol mereka. Oh well, siapalagi kalau bukan Superjunior…

 

Superjunior… Well, kayaknya Paman-paman sahabat terbaik Appa itu sekarang lebih pantas disebut Supersenior ketimbang Superjunior mengingat usia mereka yang semakin menua.

 

“Sadarlah, kau sudah tua, Uncle…” kata-kata itu selalu kuucapkan tiap kali Uncle Cho, tetangga sebelah rumah, slash magnae Suju, slash tukang ngerecokin, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cho Kyuhyun, magnae Superjunior dengan suara emas yang begitu menghanyutkan datang ke rumah dan merebut Nitendo Wii yang tengah kumainkan.

 

Uncle Cho yang sampai detik ini belum menikah juga, selalu datang untuk adu mulut denganku. Entah itu masalah Wii lah, masalah makanan lah, masalah teknik vokal lah, pokoknya jika kami sudah bertatap muka, perang pun dimulai. Seperti kata Appa, kami ibarat minyak goreng dan air ledeng. Atau lebih kerennya, air dan api. Hehehe…

 

Tapi.. Biarpun begitu, Uncle Cho itu baik lho. Ia selalu membelaku tiap Appa memarahiku. Ia pasti akan mencari sisi kebenaran dari semua kesalahanku, meski kesalahanku sudah sampai tingkat akut. Contohnya minggu lalu. Appa marah besar bahkan sampai berniat memulangkanku ke China lagi gara-gara aku menghabiskan limit platinum card yang Appa buatkan untukku hanya dalam waktu seminggu. Padahal, aku kan hanya ingin sedikit bersenang-senang. Entahlah, mungkin aku ketularan virus shoppaholicnya Auntie Jiwon yang bisa ‘sakau’ jika tidak berbelanja.

 

Appa yang hendak menamparku saat itu langsung dicegat Uncle Cho dan aku hanya bisa menangis.

 

“Sudahlah Hyung. Ini tidak serta merta kesalah Michi. Ini juga salahmu! Kau yang tidak pernah punya waktu untuknya! Kau tidak pernah punya waktu untuk mendidiknya, memberi tau mana yang salah dan mana yang benar! Sekarang kalau Michi seperi ini, seharusnya kau yang marah pada dirimu sendiri, bukan pada Michi!”

 

Entah kata-kata Uncle Cho yang seperti sedang menguliti Appa atau Appa yang saat itu moodnya memang sedang tidak bagus, Appa hampir saja berkelahi dengan Uncle yang membelaku. Untungnya mereka sudah sama-sama dewasa, jadinya bisa mengendalikan emosi. Toh nggak lucu kan kalau ada pemberitaan “Superjunior Siwon dan Kyuhyun berkelahi karena masalah kartu kredit Michi yang membengkak”. Cih, yang ada fans fanatik Suju makin tidak suka denganku.

 

Kalau boleh jujur, kurasa Uncle Cho adalah sahabat terbaikku setelah Auntie. Ia selalu mengajariku bagaimana bersikap tetap rendah hati meski hehe, aku tau, itu akan sangat sulit. Entahlah. Aku lebih senang menjadi diriku apa adanya, yang suka berbelanja ini, yang suka ngomong seenaknya ini, dan yang bermulut tajam ini daripada pura-pura menjadi seorang plain girl padahal kenyataannya, aku tidak seperti itu.

 

Sepanjang kelakuanku tidak mencelakai bahkan merenggut nyawa seseorang, kurasa itu sah-sah saja. Toh ini aku. Toh yang imejnya yang jadi buruk kan aku, bukan mereka. Dan kalau semua kelakuanku disangkut pautkan dengan Appa, yaahhh… namanya resiko. Lagipula aku sudah membuktikan bahwa aku adalah Shoppaholic yang genius. Maksudku, terakhir kali aku berbelanja dengan uang Appa adalah setahun yang lalu. Sekarang, lewat business shopping-line kukerjakan bersama Auntie, aku toh bisa membeli apa yang aku inginkan dengan uangku sendiri.

 

Well, lain kali aku akan menceritakan lebih lanjut tentang bisnis baru yang mengantarkanku menjadi satu-satunya murid SMU yang nampang di majalah bisnis itu. Now, let’s talk about my enviroment.

 

Back to Uncle Cho, one of my ever-lasting besties, banyak yang bilang kalau kami ini seperti jiwa yang sama, hanya berbeda generasi dan jenis kelamin. Appa dan beberapa paman bilang, kami sama-sama keras kepala, sama-sama sulit dibantah, dan sama-sama suka menjahili orang. Bahkan aku menerima gelar EvilKyu Jr dari Uncle Daddangkoma secara cuma-cuma.

 

Oh iya, Uncle Cho adalah satu-satunya member suju yang berani ‘melamarku’ secara terang-terangan di depan Appa.

 

Jadi ceritanya, waktu itu Appa, Uncle Cho, dan aku sedang makan malam bersama (Uncle Cho emang sering datang ke rumah untuk dinner. Mungkin Appa kasian dengan cara makan Uncle Cho yang hanya bisa memasak ramyeon. Nggak sehat, begitu kata Appa). Nah, tiba-tiba, Uncle Cho nyeplos seenak jidat di hadapan kami semua.

 

“Hyung, andai Michi 5 tahun lebih tua, atau aku yang 5 tahun lebih muda, aku pasti akan menikahinya…” celetuk Uncle. Aku dan Appa langsung kompakan tersedak begitu mendengarnya. Baru Appa hendak mengomelinya…

 

“Tapi pikir-pikir dulu deh, Hyung. Kalau aku menikah dengan anakmu, bisa-bisa perutku semakin tak terurus. Michi kan, cantik-cantik makannya sadis…”

 

Reflek aku langsung melempar celemek makanku kepadanya. Ohh… Ceritanya mau nyindir, nih???

 

Appa hanya bisa tertawa saat itu.

 

Selain Uncle Cho yang menyatakan dirinya sebagai Soulmateku, member Suju yang paling dekat, serta kusayangi adalah Uncle Wookie. Uncle suka sekali memasakkanku makanan yang enak-enak tiap kali menginap di rumah Appa atau di rumah Uncle Cho. Tahun lalu, saat aku kembali ke Korea setelah 15 tahun menetap di China, Uncle Wookie bela-belain belajar masak brownies untuk menyambut kepulanganku. Padahal, dia kan bisanya cuma masak lauk pauk, bukan roti. Tapi browniesnya enak kok. Cuma kurang banyak aja *halah!*

 

Basically, semua member Superjunior adalah role modelku. Aku banyak belajar dari mereka. Uncle Teukie yang selalu menjadi panutan, Uncle Daddangkoma yang mau mengajariku bernyanyi sampai dipuji banyak pakar musik, meski.. hehe… aku sendiri belum punya lagu. Aku hanya pernah bernyanyi selama semenit, itupun duet dengan Appa di sebuah acara talk show. Hahaha.

 

Lalu ada Uncle Donghae dan Uncle Monkey yang menginspirasiku untuk menjadi seorag rapper, juga ada Uncle Heechul yang membuatku belajar bagaimana menumbuhkan rasa bangga menjadi diri sendiri dan tidak perlu banyak mengurusi hal-hala yang tidak penting dalam beberapa hal. Dan beberapa member Suju lainnya yang SELALU memberiku banyak hadiah tiap kali bertatap muka.

 

Dan meskipun PuoPuo (sebutanku untuk Uncle Han Geng) sudah bukan merupakan anggota Superjunior lagi, PuoPuo ibarat pengganti Appa selama aku menetap di China. Well, Appa memang setengahnya menitipkanku pada PuoPuo saat di China. Bahkan PuoPuo lah yang paling khawatir, paling ribet, paling ketar-ketir setelah nenek saat aku terkena cacar air. Yeah you know, kesibukan Appa juga waktu yang tidak memungkinkan saat itu yang membuat Appa hanya bisa menjengukku lewat video call.

 

Overall, kalian bisa menyebutku kalau aku ini bukan hanya anak Appa, melainkan anak bersama. Ya anaknya nenek, ya anaknya Superjunior, ya anaknya PuoPuo, tiap kali ditanya bagaimana pendapat mereka tentangku, mereka selalu menjawab “Michi sudah kami anggap anak sendiri”

 

Ouh, aku jadi teharu *sigh*. Kupikir tidak ada satu orang pun yang akan menerimaku bahkan menyukaiku, tapi ternyata, seiring dengan berjalannya waktu, aku baru menyadari bahwa masih ada yang menyayangiku dengan tulus meski jumlahnya 1:1000 pembenciku.

 

Apalah arti angka. Aku jadi teringat sebuah quote dari film The Clique.

 

“It’s better to be a loser without friends than having a lot of friend but actually they don’t like you…”

 

Tapi bagiku, aku bukanlah seorang pecundang. Aku Michi Choi, si genius nomor satu, yang bangga dengan dirinya sendiri, dan KONSISTEN.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s