Silence

Kapan libur?! Kapan libur?! Kapan libur?!

Kurasa, tanpa menjadi seorang mind reader, aku sudah bisa membaca semua homo sapiens di sekolah ini. KAMI MERINDUKAN LIBURAN.

Dan untuk selamanya, sekolah di musim panas itu sangat menjijikan.

Ahh.. Aku jadi iri pada murid-murid di belahan bumi yang lain. Saat summer seperti ini, mereka bisa dengan bahagia pergi ke pantai, sunbathing sampai jadi orang negro ketumpahan tinta hitam, bahkan meminum limun dengan banyak ice cubes tanpa perlu memusingkan PR PR yang menumpuk.

Sebel Sebel Sebel.

Rasanya, dewi fortuna tidak pernah berada di pihakku setiap musim panas tiba. Look! Cherry, romeoku (oke, beginilah kami. Jangan kaget kalau selalu aneh), sejak tadi pagi absen berkicau padaku. Bahkan untuk sekedar bilang “Hi, Siwonnie” pun tidak.

Ia mendiamkanku seharian.

Di kantin pun, saat jam makan siang, saat kutanya beberapa hal ia hanya mengangguk atau menggeleng.

Arrgggghhh… Aku frustasi!!!!

“Cherry! Kalau kau aku punya salah padamu, fine! Jeonmal mianhae!” cegatku sepulang sekolah. “But please, jangan diamkan aku seperti ini..”

Cherry tak memedulikanku. Ia malah melongos pergi, sambil menenteng perangkat melukisnya.

“Cherry!”

Saat kutarik tangannya, ia menghempaskan tanganku dengan ekspresi yang begitu menakutkan. Oh, tidak. Jangan bilang ini akhir dari hubungan kami. Aku tidak ingin berakhir seperti ini.

Seperti yang sudah kubilang tadi, ia tidak peduli padaku yang sudah emosi tingkat akut ini. Cherry tetap berjalan cepat, membuat sepatu kets ungunya yang keren itu mengeluarkan suara angkuh saat dihentakkan ke lantai koridor.

“CHERRY! PLEASE!”

“Mi…annhh.. ehm…”ia terlihat begitu kesusahan berbicara. Seperti ada sesuatu yang mencekik tenggorokannya.

“Apa?!”

Bukannya menjawab, Cherry malah mengambil iphone dari saku kemeja summer editionku lalu mengetikkan sesuatu dengan cepat.

Mianhamnida sudah mendiamkanmu seharian ini. Tenggorokanku sakit sekali.

“Omonaaaa… Jadi kau sedang sakit tenggorkan?” Cherry mengangguk. “Tidak sedang marah padaku, kan?” ia menggeleng. “Otokhae! Kenapa tidak ke dokter??”

Susah payah ia bersuara. “Sakitnya…” Cherry meredam sakit di tenggorokannya dengan memegangi lahirnya. “Baru tadi pagi..”

Demi Neptunus penguasa Bikini Bottom, suara Cherry jauh lebih mengerikan dibanding suara nenek sihir manapun.

“Ya sudah, sekarang kuantar kau ke dokter ya..”

Ia mengetikkan sesuatu pada Iphoneku.

Tidak usah. Paman Kim sudah menungguku. Maaf aku harus cepat-cepat. Sudah janji dengan dokternya.

“Ara ara, Cherry~a! Ya sudah, sekarang pulanglah. Tanyakan kau ini sakit apa, bagaimana bisa suaramu jadi semengerikan ini, minta obat paling mujarab…”

Chu~

Omonaaaa!!!! Badanku beku seketika. Jantungku nyaris copot, saat Cherry mencium pipiku singkat.

Ia meraih iphoneku lagi.

Gotta go, Siwonnie. Bye 🙂 Ps: jangan khawatirkan aku.

Lalu Cherry melongos pergi.

Cherry Cherry Cherry. She’s a surprising girl. She is the most special gift from God.

Always love you, Cherry Han…

 

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s