Where’s The Promised Happiness

你的回话凌乱着 Your response is lost in confusion.

在这个时刻, 我想起喷泉旁的白鸽 At this moment, I recall a dove in a room with a fountain.

甜蜜散落了 The sweetness has dispersed. 

“Gamshahamnida, Choi Siwon,” katanya begitu aku menurunkan lugage jumbonya tepat di depan pintu X-Ray.

“Ini bukan akhir, kan?” tanyaku berharap ia tak menjatuhkan air mata yang telah lama menggenang di pelupuk matanya itu.

Min Gi-ku menggeleng, lalu seketika memelukku dengan erat. Aku juga melakukan hal yang sama dengannya, bahkan aku berharap, pelukan ini tak pernah berakhir. “Tunggu aku jika kau tak mau berakhir,” bisiknya dengan lirih.

情绪摸名地拉扯 My sentiments are dragged about for no reason

我还爱你呢 Do I still love you?

但你断断续续唱着歌 And you’re singing the song intermittently

假装没事了 Acting like you’re fine

Musim gugur telah berakhir dan kini salju mulai turun. Dingin menyelimuti kota Seoul, juga hatiku. Empat bulan bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan kenangan yang telah kulalui bersama Min Gi begitu saja.

Suatu siang di bulan Oktober, ia menelfonku.

“Si…Won..” suaranya bergetar di seberang sana. Seperi tengah menangis, atau memang sedang batuk.

“Min Gi!” pekikku. “Ada apa dengan suaramu?”

“A… Aku… Ehm… Aku sedang batuk. Bagaimana keadaanmu?” kini suaranya terdengar lebih ceria.

“Jujur aku tidak baik-baik saja setelah kau pergi.”

“…….”

“Min Gi?”

“Aku sehat, aku bahagia di sini, Siwonnie. Jangan khawatirkan aku. Aku… Aku juga merindukanmu.”

“Ne. Kapan kau pulang?”

“Secepatnya,” jawab Min Gi pasti.

时间过了, 走了 Time has passed ,It’s gone

爱情面临选择 You face a choice in love

你冷了, 倦了,我哭了 You are cold, tired, I’ve cried

离开时的不快乐 The unhappiness when you left

你用卡片手写着 You write it down onto a card

有些爱只给到这 For some love when you give to this point

真的痛了 It really hurts

Hidupku sudah mulai sempurna ketika Appa akhirnya mengijinkanku untuk bergabung dengan SM sebagai trainee. Aku bahagia, bisa bertemu hingga berkenalan dengan orang-orang baru, membentuk sebuah keluarga baru, dimana kebersamaan dan solidaritas selalu ada di dalamnya. Terus terang aku bahagia dengan keluarga baruku ini, meski ujung-ujungnya, mereka menyita habis seluruh waktuku.

Seperti yang kubilang tadi, hidupku muali sempurna. Belum total sempurna. Yahh.. kuakui aku masih menunggu kepulangan Min Gi. Aku ingin membuatnya bangga bahwa akhirnya aku mulai bisa mengejar impianku, seperti dirinya.

Hingga suatu hari, Min Gi pulang ke Korea…

“Senang rasanya kau kembali lagi, jagiya…” seruku bersemangat. Min Gi hanya tersenyum kecil, lalu kembali menghangatkan telapak tangannya pada cangkir caramel cappuccino di hadapannya.

“Bagaimana sekolahmu?”

“Berjalan dengan baik,” jawabnya datar. Jujur saja, aku merasa ada yang banyak berubah dari Min Gi. Pendiam, itu salah satu perubahan drastis dalam dirinya. Min Gi yang dulu adalah seseorang yang sangat cerewet, yang sangat benci dengan keadaan sunyi, dan bukan orang yang canggung terhadap kekasihnya.

“Min Gi, gwanchaena?”

Setelah meneguk caramel cappuccinonya, ia baru bersuara. “Apanya yang kenapa?”

“Kau…”

“Aku kenapa?”

“Aniyoo.. Lupakan saja.”

Dan keheningan menyeruak di antara kami lagi. Aneh memang. Kedai ini cukup ramai, namun aku merasa seperti tengah berada di kuburan.

Mungkinkah perasaan Min Gi mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu? Mungkinkah jarak di antara kami selama ini adalah penyebabnya?

怎么了? 你累了 What’s going on? You’re tired

说好的 幸福呢  Where’s the promised happiness?

我懂了, 不说了, 爱淡了, 夢遠了 I understand, Let’s not talk about  it, Love has faded, The dream has become distant

開心與不開心一一細數著/ 你再不捨, The difference between being happy and unhappy is becoming a thinner line.

你再不舍 Once more you’re reluctant to let go

那些爱过的感觉都太深刻 Those feelings of having loved are too deep

我都还记得 I still remember them

Superjunior adalah kunci keajaiban demi keajaiban yang datang pada hidupku. Tanpa keluarga ini, aku bukanlah Choi Siwon, yang terkenal, yang dicintai oleh hampir seluruh umat manusia di dunia. Tanpa Superjunior, cinta para ELF tak akan mengalir hanya untukku.

Cinta cinta dan cinta. Aku hampir lupa bahwa aku dulu pernah memiliki cinta yang begitu besar kepada seorang yeoja bernama Jang Min Gi. Pudarkah rasa cintaku kepadanya? TIDAK. Tidak dan tidak akan pernah, meski gosip yang dulu sempat membuat SM mengancamku habis-habisan, membuatku harus berpura-pura bahwa aku tidak memiliki seroang kekasih.

Min Gi tidak pernah tau jika aku sangat menderita di sini. Berhubungan ala backstreet, mengatakan pada publik bahwa aku danseluruh tubuhku, termasuk hidupku adalah miliki mereka, semua itu menyiksaku, dan secara langsung telah menyakiti hati Min Gi andai ia tau.

Tak butuh waktu seribu tahun, Min Gi akhirnya mengetahui itu. Dan yang paling kutakutkan, adalah saat dimana Min Gi lelah dan akhirnya mengakhiri hubungan kami. Tidak. Aku tidak mau semuanya berakhir. Dia bilang, semuanya tidak akan berkahir jika aku menunggunya. Aku menunggunya, tidakkah kalian melihat itu?

你不等了, 说好的 幸福呢? You don’t wait anymore, Where’s the promised happiness?

我错了, 泪干了, 放手了, 后悔了 I was wrong, The tears have dried, I’ve let go, I’ve regretted

只是回忆那音乐盒还旋转着, But the music box in my memories is still spinning

要怎么停呢, How can I stop it?

Lima tahun berkarir dengan Superjunior, membuatku menjadi sosok yang lebih dewasa, lebih tabah dan lebih sabar dalam menghadapi segala masalah. Mebuatku menjadi seorang struggle yang pantang menyerah.

Contohnya ketika aku beserta member yang lain harus merelakan kepergian Han Geng dari boyband yang sudah ‘melahirkannya’ ini. Aku adalah satu-satunya member yang tidak meneteskan air mata di hari terakhir Han Geng tidur di dorm, meski ia adalah member yang paling dekat denganku. Han adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah kumiliki, bahkan Han adalah satu-satunya orang yang mengetahui kisahku dengan Min Gi, cintaku.

Dan akhir dari kisah cintaku dengan Min Gi adalah hari ini. Baru saja aku membuka surat undangan yang dikirimkan langsung ke rumahku oleh kurir. Kau tau, rasanya seperti tersambar petir 2000 volt di siang hari. Rasanya seperti ada luka di dadaku, yang serta merta disiram air cuka. Rasanya seperti Min Gi baru saja menghujamkan pedang Samurai X yang sudah berkarat tepat di jantungku.

Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan membaca surat undangan itu. 3 hari lagi. 3 hari lagi Min Gi akan melangsungkan pernikahannya. Haruskah aku menutup mata, dan menghancurkan hari bahagia itu secara terang-terangan???

Oke, akal sehatku telah mati. Aku minggat dari jadwal konserku bersama Superjunior malam ini. Tak peduli apakah Leetuk akan memarahiku habis-habisan, atau parahnya lagi, SM menuntutku di pengadilan, sungguh aku tidak peduli.

Pikirku, aku sudah terlalu lama berjalan sesuai sekenario SM. Jadi, boleh kan sekali-kali aku berbuat di luar kendali mereka?

Diam-diam aku telah menunggu Min Gi di ujung blok. Aku menyamar seperti seorang detektif yang tengah mengincar buronan kelas kakap. Lalu, saat Min Gi sudah sendirian dalam perjalanan pulangnya, aku muncul di hadapannya.

“Kenapa kau lakukan ini?!” tanyaku berusaha sesabar mungkin meski sedari tadi tanganku sudah terkepal erat-erat.

“Salahkah?”

“YA KARENA KAU ADALAH MILIKKU!”

“Oh, kalau begitu sekarang sudah tidak lagi,” jawab Min Gi enteng.

BRUKKK!!! Aku menghempaskan tubuh Min Gi ke tembok tinggi yang ada di sampingku hingga membuatnya meringis kesakitan, merasakan punggungnya menghantam tembok dengan keras. Mianhamnida, Min Gi. Tapi rasa sakitmu tak sebanding dengan rasa sakit yang sudah kau torehkan pada hatiku saat ini.

“Andwae, Min Gi~a?! ANDWAE!” aku membentakknya yang masih tak bergeming dalam cengkramanku. “Aku sudah menunggumu, TAPI KENAPA KAU AKHIRI INI HAH?!”

“KAU YANG MEMINTAKU UNTUK MENGAKHIRI INI, CHOI SIWON! Min Gi bukan siapa-siapaku, Min Gi adalah kisah lama, hatiku hanya untuk kalian, APA KAU PIKIR ITU TIDAK MENYAKITKAN, CHOI SIWON?!”

Aku terdiam.

“Mereka menghujamku, membuatku tiba-tiba menjadi orang yang paling dicari di dunia maya, meng-hack semua akun networkingku, lalu mengancamku, HARUSKAH AKU BERTAHAN DENGAN SEMUA ITU, HAH?!”

“LALU KENAPA KAU TIDAK BERCERITA PADAKU?!” kini aku balas membentakknya.

“Apa itu bisa merubah keadaan?”

“….”

“Apa itu bisa merubah keadaan? Apa itu bisa membuatmu merelakan popularitas yang susah payah kau raih, APAKAH KAU MAU MERELAKAN SEMUA ITU HANYA KARENA AKU?!”

Aku kembali terdiam. Kata-kata Min Gi adalah tamparan keras pada pipiku.

Min Gi meraih wajahku yang tertunduk. Aku tidak lagi mencengkramnya dengan penuh emosi seperti tadi. Kulihat matanya berkaca-kaca, jauh lebih baik dibanding aku yang kini tengah menangis.”Life is all about choice, Choi Siwon. Kau harus tau itu,”

Min Gi lalu berlari ke dalam apartemennya, meninggalkan aku di jalan yang sepi dan gelap ini dengan kepastian bahwa Min Gi sudah tidak mencintaiku lagi.

Inikah yang terbaik bagi Choi Siwon, Jang Min Gi, dan mereka?

Untuk mereka, 2 rasa cinta harus dikorbankan. 2 rasa cinta yang begitu dalam, yang tanpa batas…

Untuk Jang Min Gi, maukah Choi Siwon melepas sinar bintang yang telah susah payah ia raih selama ini? Maukah Choi Siwon meninggalkan ‘dunia’ dimana ia seharusnya berada?

Untuk Choi Siwon, ikhlaskah Min Gi menyakiti, mengingkari janjinya sendiri pada Choi Siwon?

Inikah takdir?

Apakah takdir memang sepahit ini?

Ataukah ego masing-masing yang jika dipaksakan, hanya bisa membawa luka???

Tak butuh jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaan itu. Hidup memang terkadang menyakitkan, tapi seringnya membahagiakan. Membahagiakan jika kita sudah siap menerima segala resiko atas pilihan yang telah kita pilih.

Toh, semua hal akan indah pada waktunya kan?

-FIN-

Oke, oke. Saya memang tidak berbakat bikin cerita yang berat-berat, yang mellow-mellow seperti ini. Makanya, soriiiiiiiiii banget kalo nih cerita sama sekali nggak seru. Nggak ada feelnya. Nggak bikin geregetan. Hahaha. I just want to share what’s inside my mind after watched Siwon’s perfomance by singing Jay’s song. Lol

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s