Tonight [PG-15? Maybe?]

Haaiiiii… It’s me, TWD, dengan tiba-tiba punya ide bikin cerita PG, which is sedikit ‘nyrempet-nyrempet’. Hehehe :P. Entahlah, sepertinya saya harus segera ke tempat servis otak untuk pembersihan setelah bikin cerita ini.

So, karena ini cerita agak sedikit (atau cenderung, ya?) nyerempet-nyerempet, buat adek-adek yang kebetulan nemu link di google atau dimana aja, kakak minta dengan sangat, STOP BACA! ATAU SESUAI DENGAN KEPANJANGAN PG, PARENT’S GUIDE, MINTA MAMI KALIAN MENDAMPINGI KALIAN WAKTU BACA CERITA INI, OR ELSE, SURUH MAMI BELIIN TIKET KE TRANS STUDIO BANDUNG KARENA TEMPAT ITU JAUH LEBIH MENYENANGKAN DARIPADA BACA CERITA INI! SERIUS, DEH!!!

DAN JANGAN MINTA MAMI KALIAN MELACAK KEBERADAAN KAKAK PEMILIK BLOG INI DAN MENUNTUT KAKAK KE PENGADILAN SETEMPAT DENGAN TUDUHAN PENCEMARAN OTAK.

WAKAKAKAKA

_______________________________________________________________________

Yang umurnya sudah mencukupi, enjoy it! 🙂

Ps: Anggep aja kalian itu tokoh ceweknya.

Aku baru sampai di rumah saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suamiku, Andrew, sudah memasuki rumah ini 5 menit yang lalu. Well, tidak heran sih. Terlepas dari cita-cita semasa mudanya yang ingin menjadi seorang pembalab F1 namun tak kesampaian, dia bisa saja tuh, ngebut sambil salip kanan salip kiri di jalanan yang padat tanpa takut terserempet kendaraan lain. Malahan, yang ada kendaraan-kendaraan itulah yang langsung minggir saat ia membunyikan klakson seperti sopir ambulan yang tengah mengangkut pasien sekarat.

Anyway, ini memang aneh. Kami suami istri, tinggal serumah, dinner bersama di sebuah restauran, tapi pulang terpisah. Yahh… Aku tak bisa memungkiri hal ini, mengingat kesibukan kami yang sama-sama “overdosis”.

Andrew, atau yang kalian kenal sebagai Superjunior Choi Siwon slash pria setengah dewa yang dua tahun belakangan ini resmi menjadi suamiku, tidak pernah benar-benar memiliki waktu luang untuk sekedar menonton CNN di rumah. Jadwal kerjanya yang dua kali lipat bertambah padat selepas menikah, membuatnya bahkan bisa sampai seminggu tidak pulang. Padahal, sekarang ia adalah pria beristri. Oh, okay. Aku tidak merajuk, kok. Aku bahkan sangat mendukung profesionalitasnya dalam berkarir, meski… Ya itu tadi, ia jarang pulang ke rumah. Sibuk bolak-balik ke luar negeri bersama boybandnya itu untuk mencari nafkah. Hahahaha…

Mengenai aku yang katanya sudah tidak ada prospek untuk comeback ke dunia entertainment, aku sekarang malah mendapat dukungan penuh dari Andrew untuk berkecimpung di dunia bisnis. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk mempersiapkan grand-launching restauran cabangku di Busan. Dan kegiatan itu sama-sama menyita waktu, meski, setidaknya aku tidak sampai pulang subuh seperti Andrew saat ‘bisa’ pulang ke rumah.

“Pooh, kau tidak mandi?” tanyaku pada Andrew yang langsung mencari saluran CNN begitu kami masuk kamar. Uh, well. Pooh adalah nickname yang kuberikan padanya, walaupun ia sama sekali tidak mempunyai wajah beruang. Pooh, diambil dari tokoh kartun kesayanganku SiWonnie The Pooh. Hehehe 😛

“Kau saja dulu,” jawabnya sambil kipas-kipas karena Aircon di kamar baru saja dinyalakan. Ah, suamiku itu memang sok bule. Dia paling tidak tahan panas. Lol.

“Ne, baiklah,” dan akhirnya aku membasuh diri lebih dulu. Aisshhh… Segarnya. Aku merasa lusuh sekali karena setelah tadi pagi, aku belum mandi lagi. Iewww~

Tamat, deh. Tamat! Tidak ada satu pun piyama yang tersisa di walking-closetku. Berkali-kali aku mengacak-acak isi lemariku, lalu berlaih ke lemari Siwon (kali-kali ada satu baju yang nyasar), namun hasilnya tetap nihil! PIYAMAKU LENYAP SEMUA!!! Arrggggghhhhhh!!!!

“Jagiii!!! Kau lama sekali, sih?!” Andrew berteriak dari dalam kamar. “Aku tau kau sangat lelah, tapi jangan lantas ketiduran di kamar mandi, dong! Hey! Tempat tidurmu itu di sini, bukan di kamar mandi!!!”

Andrew Choi sialan! “Aniyooo… Bajuku hilang semuaaaa!!!!” seruku frustasi dari dalam walk-in closet, memberi pengertian bahwa AKU TIDAK SEBODOH ITU SAMPAI-SAMPAI KETIDURAN DI KAMAR MANDI.

“Masa iya hilang semua?” muka lusuh tapi tetap tampan Siwon Oppa (hoeks, aku tidak biasa memanggilnya dengan embel2 oppa meski ia 3 tahun lebih tua dariku), menyembul dari balik pintu.

“KYAAAA!!! Sedang apa kau disitu???!!!” bentakku saat ia mendapati tubuhku yang masih terbungkus handuk supermini dan langsung mendapat respon super mesum dari mukanya yang kata yeoja-yeoja itu alim. “Tutup matamu!” aku langsung melempar salah satu bajunya yang tadi memang sedang kupegang. “Keluar sana!”

“Aisshh iya-iya aku keluar,” ia berbalik dan keluar sesuai perintahku sambil menggerutu. “Padahal sudah dua tahun menikah, tapi masih saja malu… Aisssh… KYAAAA!!!!” aku melemparinya satu baju lagi.

Omonaa~!!! Ini sangat-sangat gawat. Benar-benar tidak ada satu piyama pun yang tersisa, meski sudah berulang kali aku memastikannya. T-Shirt pun aku tak punya. Pakai bajunya Andrew? Ah, mana mungkin. Oversise banget! Uh, well, tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, siap tidak siap, mati tidak mati, sepertinya, aku harus memakai pakaian ini….

“WooHoo~!!!!” aku langsung mendapat sambutan ekstra mesum dari Andrew begitu keluar dari walk-in closet. Dia yang tadi sudah hampir merebahkan tubuhnya ke ranjang, langsung bangkit beridiri dan memandangiku seperti om-om cabul di KTV.

“Jangan berpikiran macam-macam, ya!” ancamku. Andrew tidak menggubrisku. Ia malah berjalan menghampiriku tanpa melepas pandangannya pada tubuhku yang kini dibalut lingerie—sialan super tipis ini. “Jangan memandangku seperti itu!”

Andrew mengangkat bahu sambil berpura-pura memasang wajah sok aegyo, lalu mengataiku. “Katanya, tadi bajumu hilang semua. Nah ini masih ada.”

Aku tidak menggubrisnya. “Sudah, sekarang lebih baik kau segera mandi!” perintahku namun aku tidak berani menatapnya. Kalau sudah seperti ini, raut wajah Andrew berubah drastis, dari raut wajah God face ala Choi Siwon, menjadi Nasty Face khas om-om genit bandar cabul.

“Aku tidak mandi ah. Takut rematik,” ucapnya enteng.  Ia memandangiku lagi. Ih, sumpah deh. Aku ekstra jijik. Wajah mesumnya itu, lho… Ya Tuhan, kenapa aku bisa memiliki suami dengan wajah semesum ini, sih?!

“Apa lihat-lihat?!” bentakku lagi dan kini aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aku tidak peduli. Sekalipun ia sudah menjadi suamiku, tapi ia tetap tidak bisa melihat tubuh shirtlessku secara cuma-cuma. Enak saja, memangnya aku ini barang pameran apa….

“Aniyooo… Aku hanya mau mematikan lampu,” jawabnya, tapi aku tidak yakin kalau itu menjadi alasannya mendekatiku. Aissh, dasar licik! Mau membohongiku, ya? Ohohoho… Tidak bisa! Aku bukanlah orang yang mudah dibohongi.

Aku langsung menghindar dari Andrew begitu perhatiannya sudah berlaih pada stekker lampu yang memang berada di belakangku. Masih sambil berusaha menutupi bagian privatku, aku berjalan menuju tempat tidur. Tapi, belum sampai di tempat tidur, Andrew sudah keburu memelukku dari belakang.

“Aku yakin, ini bukan waktu yang tepat untuk tidur,” katanya penuh percaya diri begitu mendapatkanku. Aku meronta, berusaha melepaskan rengkuhannya, namun Andrew semakin erat memelukku. “Dan kau tidak terbiasa tidur sebelum tengah malam,” tambahnya.

“Oh, ya?” godaku. “Tapi, anggaplah hari ini aku terbiasa tidur sebelum tengah malam.” Gotcha! Aku berhasil lolos! “Sudahlah, ayo kita tidur. Besok kau ada syuting kan? Aku juga harus mempersiapkan grand launching Gui Lin di Busan, suamiku…”

“Setidaknya, beri aku waktu sebentaaaarrrr saja untuk memelukmu…” Andrew berkata masih berada di belakangku. Dan kini ia memelukku kembali. “Aku rindu mendekapmu seperti ini.”

Uh, well. Jujur saja aku memang sama rindunya dipeluk seperti ini. Hangat dan nyaman. Setidaknya begitulah rasa saat berada dalam dekapan seorang Andrew Choi, eh salah, Choi Siwon. Semua akan terasa nyaman saat kau sudah menyandarkan kepalamu pada dada bidangnya. “Sebenarnya, kau juga ingin dipeluk seperti ini, kan?”

“Cih, siapa bilang?”

“Aku,” jawab Andrew seenaknya. “Jarang-jarang kan, kita punya waktu beruda seperti ini?”

Tak perlu kujawab pun sepertinya Andrew sudah bisa tau. Pemandangan kota Seoul di balik jendela yang menjadi objek pandang kami saat ini terlihat jauh lebih indah dari biasanya. Entahlah, mungkin efek kebersamaan kami ini penyebanya.

Perlahan aku mulai melepaskan silangan tangan—konyol di depan dadaku tadi. Sebagai gantinya, sekarang kedua tangan kokoh Andrew lah yang melingkar di sekitar tubuh bagian atasku. Sambil meletakkan dagunya di atas kepalaku, kami terdiam sejenak, berusaha menikmati detik-detik berharga yang sangaaaat langka seperti saat ini.

Tunggu-tunggu! Tangan Andrew mulai bergerak, dari lengan menuju perutku. Lalu ia lingkarkan lagi tangannya di bagian perutku. Dan entah bagaimana caranya, ia mulai menghembuskan nafas menggeletiknya di telingaku.

“Andrew!” seruanku mengagetkannya tiba-tiba. Karena berhasil, aku langsung cepat-cepat melepas lingkaran tangannya. Uh, well, aku tau semua ini akan mengarah kemana. “Jam berapa sekarang?”

“Entahlah,” ia mengangkat bahu seolah tak peduli dengan waktu. “Waeyo?”

“Don’t you know, it’s quality time to having a longer sleep??”

“Don’t you know,” ia membalikkan badanku dengan cepat. “It’s a quality time,” entah bagaimana caranya ia bisa memelukku lagi dengan cepat. Kali ini Andrew memelukku dari depan. “…to having a longer time for spending the night, together?”

“Err… We can spending the night by sleep, I assume?”

“Aku tidak mau.”

Saat itu juga aku terbelalak kaget. Kaget, bukan karena bisa melihat sorot mata menghanyutkan yang bisa membuat para yeoja langsung meleleh itu, namun lebih karena rasa ngeri dari balik kata-kata ‘aku—tidak—mau’ itu.

“Andrew, mianhamnida. Bukannya aku tidak mau, tapi…”

Ia memotong permintaan maafku seenaknya dengan mengecup singkat bibirku. “Kau beli ini saat di Paris kan?”

Aku mengangguk, lalu cepat-cepat berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Sialnya, Andrew malah lebih memperat rengkuhannya sampai-sampai aku kesulitan bernafas.

“Aku suka pilihanmu. Simple but successfully attraced me,” bisiknya nakal dan aku langsung bergidik ngeri. Uhm, memang sih, alasanku memilih gaun tidur, slash lingerie ini karena bentuknya yang simple dan warnanya yang tidak cheap. TAPI, DIMANA-MANA, YANG NAMANYA LINGERIE ITU MENGGODA IMAN! Ah, dasar Siwonnie tukang gombal!

Dan karena alasan lingerie ini lah aku tidak mau melakukan ‘itu’ padanya malam ini.

“Euhm, Siwonnie…”

“Uwaa… Akhirnya kau memanggilku Siwonnie!!!” ia pura-pura antusias, lalu mulai mempekerjakan kedua tangannya untuk menelusuri punggungku. “Jagi, aku tidak tau alasanmu untuk memakai underwear di bawah gaun tidur,”

“Ngg… Eh… Itu… Anu… Umm… Aku…” Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Tolol, memang. Tapi begitulah adanya. Aku merasa risih jika tidak ‘melapisi’ tubuhku dulu sebelum memakai pakaian luar. Tapi, menjelaskan alasan itu secara gamblang, gengsi ah. “Aku terkadang merasa dingin jika tidur tanpa mengenakan underwear. Ehhh…!!! Bukan! Bukan! Maksudku…”

Ottokhae aku keceplosan!

“Uh, well…” Andrew semakin merasa menang dengan semua ini. “Kalau begitu, biar aku yang menghagatkanmu.”

Seketika itu juga aku merasa tubuhku terangkat dari lantai. Dan benar saja, Andrew sudah menggendongku ala bride, lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang.

“Siwon, hari ini bukan ‘jadwal’ kita!”

“Telat.” Ia langsung menyerangku dengan ciumannya. Awalnya lembut—which is membuatku melambung seketika. Mengingatkanku pada ciuman pertama kami saat pacaran dulu. Tapi lama kelamaan berubah menjadi sangat ganas. Ia berusaha menjebol bibirku dengan terus memainkan lidahnya. Merasa belum mendapatkan apa yang ia mau, ia menggigit bagian bawah bibirku. “ahhh…” aku mendesah, merasakan sedikit perih di bibirku, namun jujur saja, ini nikmat.

Kupikir, ia akan segera ‘bermain’ dengan lidahku setelah aku membuka sedikit bibirku untuknya. Namun ia malah berhenti, dan sedikit menjauhkan kepalanya dari wajahku. “Jangan ketakutan seperti itu, dong. Aku kan bukan macan dan kau bukan onggokkan daging yang siap kuterkam…”

“Tapi kau seperti frankenstein, Andrew-ssi,” balasku sambil membuka mata penuh kehati-hatian. Aku bisa sedikit bernafas lega saat sunggingan senyum menyejukkannya tertangkap fokus mataku. Ya. Senyum menyejukkan, bukan seringai cabul yang ia pamerkan tadi.

“Well, kalau aku frankenstein, berarti kau zombie… Ehehehe.”

“Tidak bisa!” protesku. “Aku tetap malaikat, dong…”

“Masa?” remehnya. “Ah, iya. Malaikat pencabut nyawa. Gyahahaha…”

“Kau, ini!!” aku pura-pura sebal dengan muka aegyoku. Hehe, memang aku tidak pantas ber-aegyo-aegyo sih. Tapi setidaknya itu lucu—bagiku. Hehehe 😛

Untuk sejenak, aku cukup menikmati waktu kebersamaan penuh canda ini. Aisshh.. Entah sudah berapa lama kami tidak saling ‘ejek’ seperti ini.

“Rasanya, seperti sudah seabad tidak tertawa bersamamu seperti ini,” celetuknya dengan tetap masih berada di atasku. Andrew lalu membelai pipiku lembut dengan telapak tangannya yang lebar itu. “Mian sudah melewatkan banyak waktu tanpamu…”

Oh, aku cukup tersentuh. “Aniyoo… Seharusnya aku yang minta maaf. Aku istrimu, tapi malah jarang memasakkan makanan untukmu. Ahh… Aku bukan contoh ibu rumah tangga yang baik…”

“Sudahlah…” Andrew lagi-lagi membelai pipiku. Ditambah, kali ini ia juga mengacak rambutku. “Kita memang sudah banyak melewatkan waktu-waktu berharga…”

Entah kenapa terbesit ide gila di kepalaku. Dan entah ada setan mana yang merasukiku, aku malah menarik wajah Siwon, membuatnya semakin dekat dengan wajahku, lalu sedikit mempermainkan perasaannya dengan tanpa mencium bibir tipis namun lentiknya itu. “So…” aku meliriknya dengan lirikan yang katanya dulu menjadi alasan Siwon berani mendekatiku saat tengah menghadiri fashion show Korean Fashion Week. “…let’s make it worth!”

“Mwo?!” ia setengah terkejut, namun sejurus kemudian, ia menyunggingkan senyum sumringah.

Karena sibuk mengendalikan perasaan bahagianya itu, aku mendapat kesempatan untuk mendorong tubuh kekarnya. Dan sekarang, aku yang berada di atasnya. “Tadi kau berusaha meminta padaku, kan? Well, karena sekarang aku sedang baik, jadi aku akan mengabulkan permintaanmu…”

“Wowwww!!! Jagi.. Kau…”

“You know I always do better even become the best!” bisikku meyakinkan di telinganya.

Andrew lagi-lagi tersenyum dengan sorot mata seribu arti padaku. Aku tak peduli.

“That’s the way…” perlahan-lahan ia mulai menarikku. “I love you…” dan BUGH! Aku dihempaskan ke tempat tidur untuk kedua kalinya malam ini.

____________________SKIP SKIP SKIP SKIP SKIP______________________

What’s going on during SKIP SKIP SKIP??? Imagine!

XOXOXO,

Cella ^^

Advertisements

6 thoughts on “Tonight [PG-15? Maybe?]

  1. Senyam senyum sendiri bacanya. Itu utk umur 15thn keatas kn? Berarti aku bisa dong bacanya? Kekeke~
    cella, habis makan apa sampe bwt ff beginian? Hahah. Siapa sih yg gk nahan pesonanya siwon? Author aja gk nahan *kebukti di akhir cerita diatas*
    btw, bagus kok. Ff yg lain ditunggu ^^Senyam senyum sendiri bacanya. Itu utk umur 15thn keatas kn? Berarti aku bisa dong bacanya? Kekeke~
    cella, habis makan apa sampe bwt ff beginian? Hahah. Siapa sih yg gk nahan pesonanya siwon? Author aja gk nahan *kebukti di akhir cerita diatas*
    btw, bagus kok. Ff yg lain ditunggu ^^

    • Ciee… Senyam senyum boleh, tapi jangan kebablasan ya. Xixixixi.
      Nggak tau tuh, tiba-tiba kecetus ide-agak-sedikit-yadong buat bikin ff kayak gituan. *evilsmirk*lol.
      Iya, nih ff khusus buat 15thn ke-atas. Itu artinya, kalo chingu udah 15 thn lebih sehari, udah boleh baca. hahahaha
      Thank you banget ya udah baca (plus merelakan pemikiran sedikit yadong pas baca ff ini) hehehe 😛

      Kindly, C ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s