[Siwon’s Girl Version]First Day at School

Aku langsung menarik nafas saaaangaaaat panjang begitu boots Whyred superblack-glossyku mendarat di kelas JC-T 1 dengan sempurna. Phew! Lega rasanya setelah melewati seribu satu tantangan di hutan rimba yang kusebut koridor sekolah.

Menjadi pusat perhatian, mengalami amateur quick-scan dari ratusan pasang mata senior dan junior Mademoiselle Art JC Academy, dan mendengar bisik-bisik tentangku yang bisa kudengar SANGAT JELAS, sudah bukan suatu hal yang aneh bagiku. Toh aku memang terlahir sebagai pusat perhatian.

Terlepas dari siapa ayahku itu (bosen ngebahas pria tampan ganteng maut–menurut ibu-ibu ex ELF), apapun yang menempel di tubuhku selalu terkesan sensasional. Uh, well, glam mungkin lebih tepat. Padahal jelas-jelas aku sudah berusaha berbusana se-sederahana mungkin pagi ini. Apa sih yang salah? Aku toh hanya memakai tank top murah dari Twenty8Tweleve covered by Tomy Hilfiger cardigan dengan aksen garis-garis yang sangat simpel. Demi SNSD (lho?!), tidak ada satu pun blink-blink di tubuhku pagi ini. Sumpah!

Geez! Bahkan di kelas pun, mereka memperlakukanku seperti alien yang baru saja keluar dari UFO yang siap menerkam mereka saat itu juga. Menatapku tajam sampai lupa bekedip dan (lagi-lagi) meng-quick-scan penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Oh mayday!!!! Bisakah mereka bersikap normal? Mereka toh jauh lebih ‘heboh’ dalam urusan penampilan. Look! Tak ada satupun dari mereka yang membiarkan rambutnya tetap hitam. Only me! Aku bahkan tak sempat mem-blow dry rambut hitam setengah abu-abuku pagi ini. Mereka dengan rambut ala Kpop bisa tega-teganya memperlakukan aku seperti itu.

Dunia memang tidak adil!

“BRUKKKKK!!!!”

Seorang yang menurut otak intelektualku yang tidak begitu cerdas adalah laki-laki, nyaris membuatku jatuh tersungkur karena tabrakannya.

Aku yang 2 menit terakhir ini berdiri di pintu dengan tampang cengo layaknya idiot paling hina di muka bumi, nyaris saja keceplosan mengumpat andai tampang cowok ini tidak membuatku speechless.

He’s cool. He’s charismatic. I think, he’s looks alike…

“Uncle Cho?!” aku mengerjap tak percaya. Sekali lagi aku menyadarkan diriku tentang sosok berponi yang cukup (ehm) cute ini.

“Sejak kapan aku menikah dengan bibimu?” ia hanya berjalan melewatiku tanpa melupakan tatapan super mengejek kepadaku.

Aku langsung mencegatnya. “Jangan bilang kau sedang ada syuting di sini, ya…”

Cowok yang masih kupercayai sebagai Uncle Cho-ku itu langsung mengibaskan tangannya, melepas tanganku yang masih mencengkram lengannya. Ups, mianhae! 🙂

“You are sick, girl!”

Mwo?! Apa yang baru saja paman tua jelek itu katakan?! Sejahat-jahatnya si Evil Maganae itu, ia tidak pernah sekalipun berkata kasar padaku. Lah ini???

“Hihihihi….” aku mendengar suara cekakak-cekikik ala nenek sihir dari arah belakangku setelah itu. Dan benar saja, saat aku berbalik, aku menemukan tiga ekor, eh, tiga orang yeoja dengan rambut senada. Lol. Seperti aku tengah melihat boneka Barbie KW buatan China yang hendak melakukan photoshoot Barbie I Can Be.

Blinkies everywhere. Yakz!

Trio glossy bertas Channel Ungu-Pink-Ungu itu berjalan SANGAT ANGKUH melewatiku dan segera mencari bangku paling strategis yang masih kosong.

Aku jelas tak memedulikan tiga yeoja yang kukategorikan dalam beauty of plastic doll itu. Yang menjadi issue penting di dalam otakku saat ini adalah namja yang kutau adalah Uncle Cho tentangga sebelah rumahku itu.

“Kau tidak sedang bercanda, kan, Uncle? Ini hari pertama sekolahku dan aku sedang tidak mood untuk mengacaukannya bersamamu…” cercaku begitu aku duduk di kursi yang ada di depannya. Sedikit lagi aku bertingkah, maka punggungku akan berbentuk spiral.

Uncle Cho yang rambutnya sekarang hitam dan berponi yang sedang mendengar lagu melalui Ipod touchnya itu langsung serta merta melepas headset dari telinganya sambil menyentuh icon pause pada layar Ipod (which is, I can see what song is on his playlist, TITANIC by CELINE DION. Lol. Aku bakal mati ketawa setelah ini. Gila! Ganteng-ganteng seleranya jadul!)

Ia menarik nafas sebelum memulai cercaan yang kurasa akan sangat panjang dan menusuk!

“Dengar ya. Aku tidak peduli seberapa banyak kerutan yang terlihat di wajahku saat ini. Kecuali kantung mata, kau tidak berhak memanggilku Uncle Cho, karena AKU TIDAK PERNAH MENIKAH BAHKAN BERPACARAN DENGAN BIBIMU,”

“SO DON’T CALL ME UNCLE CHO ANYMORE!”

Ia lalu memasang headsetnya lagi tanpa menekan icon play pada layar sentuhnya.

Gowd! Cukup satu ekor Cho Kyuhyun di dunia ini. Jangan tambahkan orang ini jika namja di hadapanku ini memang bukan Uncle Cho kesayanganku.

Sekarang, aku hanya bisa membenarkan letak kacamata minus Christian Diorku yang sedikit out of space (baca saja, sedikit melorot karena aku tidak begitu mancung seperti Appa).

Peduli amat dengan bisikan-bisikan classmates lain yang jelas-jelas ditujukan padaku itu. Aku lalu berbalik ke arah depan, sambil meletakkan Bjorn Borg Bag-ku sembarang ke lantai. Aku tak peduli kalau tiba-tiba tas ini pulang dengan bercak noda menjijikan di permukaannya. Toh aku juga bisa beli lagi. Lagipula, nasib tas ini jauh lebih baik daripada mukaku yang sudah tercoreng rasa malu gara-gara kasus Uncle Cho barusan ini.

Damn! Pasaranku jatuh tak terselamatkan di mata cowok keren di belakangku.

Kurasakan teapak tangan yang cukup lebar menempel di pundakku. “Hey!”

Omona! Unidentified Uncle Cho itu lagi!

“Namaku Cho Kyuhyun,” Tuh, kan. Apa kubilang. Dia memang benar-benar Uncle. “Tapi lebih baik kau memanggilku Marcus saja. Got simple pronounce, I think..”

Aku hanya bisa ber “Uh, uh” kemudian. Tak butuh waktu seumur hidup untuk mempraktekkan ajaran Appa agar bersikap ramah kepada siapapun, aku langsung mengulurkan tanganku padanya. “Michelle,” aku berusaha tersenyum semanisssssss mungkin.

Marcus agak sedikit akward dengan namaku. Yah, wajar saja sih.. “You’re Korean, rite?”

“Setahuku sih, iya.” jawabku sejujur mungkin. Memang iya kok. Appaku orang Korea kan?

“So?”

“Well, aku tidak pernah benar-benar tau apa nama Koreaku. Im Yoona mungkin? Ehehe..” mencoba sedikit menjadi jokerman, namun gagal. “Tapi siapa peduli. Toh sejak kecil mereka memanggilku ‘Hey, anaknya Siwon!’ atau ‘Hey, Siwon JR’ atau yang paling kuhargai yha Michi.”

Ia seolah tidak begitu peduli dengan nickname-ku. See? Ia kembali sibuk dengan dunia kecilnya. Dia dan Ipod. Lol

Well, I think it will be a good beginning. By the way, he’s kinda cute. Xixixi.

“Mwo?!” Marcus langsung melotot.

Ups, apa dia mendengar apa yang baru kubilang barusan?

“Kau memanggilku?” tanyanya lagi dan aku menggeleng. Phew, baguslah. Setidaknya ia tidak sadar dan yang kusyukuri, ia bukan seorang mind-reader.

-TBC-

Ni Haoooo!!! SGV balik lagi. Sekarang si Michi udah absen dari liburan. Sekarang dia kudu musti masuk sebagai murid baru sekolah seni paling elit di Korea sana. So, jangan heran kalo anak-anaknya pada berlomba dandan ala Kpop, secara sekolahnya seni gila gitu. woakakaka.

Absurdly,

C 🙂

Advertisements

4 thoughts on “[Siwon’s Girl Version]First Day at School

  1. Waaahhh uncle cho punya imitasi (?)

    waaa cella… ini masih tekateki (?) lanjut sayang~ masih penasaran ih itu cho kyuhyun yg mna -,- fighting!! aku nungguin ff kmu trus lohh say~ apalagi bagian anaknya siwon, berasa ikutan makmur gitu bacanya (?)

    • Iya, uncle cho ada yg ngembarin 😀
      Ih waaaww… serius nih?! Oke, deh, secepatnya aku bakal ngelanjutin. Sebisa mungkin nyari inspirasi di tengah padang assignments. Sumpah, sekolah lagi seneng2nya ngasi Pe-Er yg ajubile buaaanyaaaakkkkk…
      Tenkyu ya udah sering mampir n baca.

      Hug,
      Michi and Cella ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s