[All The Way North] Siwon’s Side


Monday is always a boring day. I swear! Sampai kapan pun, kita tidak akan bisa bangun siang di hari Senin kan? Hell, bangun pagi, jalanan macet, 10 minutes—much longer—morning assembly, semua agenda menyebalkan itu selalu terjadi di hari Senin. Urgh!

Belum lagi tempat parkir yang tiap tahun makin sesak. Serius deh! Audi putihku yang makin hari makin seksi, mau tidak mau harus merelakan singgasana kehormatannya, dari yang tadinya strategis sekali—dekat pintu masuk yang dari basement—menjadi di depan sekolah—lebih tepatnya, di SEBERANG KAMPUS! Damn! Kan akses masuk ke kampusnya jadi jauhhh… L

Well, setidaknya ‘rumah baru’ Audi TT Coupe tercintaku itu tidak panas. Sumpah ya, aku sangat benci panas! Memangnya, kau pikir summer di Seoul sama menyenangkannya dengan summer di Nashville? Bermimpilah jika bermimpi itu masih gratis. Mayday, Seoul ibarat top chart mesin pemanggang keluaran terbaru. Serius deh!

Tak butuh seribu tahun untuk mencapai lapangan utama In-Ha yang sudah mulai terlihat brownish dengan seragam resmi para mahasiswanya. Tak terkecuali aku yang saat ini bisa dibilang mirip dengan kakek-kakek yang ada di film Up. Lol.

“Cek… Cek… Colleges…”

Kalian dengar? Sajangnim sudah mulai melakukan checksound di atas stage. Dan itu artinya, assembly akan segera dimulai. Cepat-cepat kupakai dasiku lalu segera bergabung dengan teman-teman seangkatanku yang sudah terlebih dahulu membentuk barisan.

Meski aku tinggi, aku tidak bisa serta merta dapat barisan paling belakang. Padahal, barisan paling belakang itu paling enak lho. Kalau cabut tidak akan terlihat. Xixixi… Tapi yah aku bisa apa. Kurasa hari ini akan ada pengumuman penting dan berada di barisan tengah tidak ada salahnya.

Selalu dan selalu, sebelum memberikan wejangan mingguannya, Sajangnim beserta 596.354 mahasiswa Inha dari semua jurusan akan menyanyikan lagu kebangsaan Korea dan mengucap sumpah.

It’s kinda boring.

Untungnya aku melihat pemandangan yang sangat tidak membosankan. Bahkan aku berani bersumpah di atas bible, objek pemandangan itu tak akan mampu membuatku bosan memandanginya sampai dunia berhenti berputar.

Namanya Elena. Elena Han. Aku tidak pernah benar-benar tau apa nama Korea yang ia miliki. Bahkan aku juga tidak benar-benar peduli, apakah ia punya nama Korea atau tidak.

Seperti kata Shakespeare, What’s in a name?

Dalam bahasa Yunani, Elena berarti cahaya. Ya. Dialah cahaya—sumber kekuatan hidupku.

Sebelumnya, aku tidak pernah benar-benar tau, apa itu cinta. Dalam kamus lamaku, cinta adalah suatu perasaan yang harus dimiliki dari dua insan yang terhubung dalam suatu hubungan.

Namun sejak mengenal Elena, bagiku cinta tak berarti lagi dalam suatu hubungan. Yang dibutuhkan dalam suatu hubungan adalah pengertian, kedewasaan, dan penghargaan. Serta ketulusan dan kasih sayang. Memang banyak hal yang dibutuhkan untuk menjalani suatu hubungan. Makanya, aku bukanlah namja yang mengatasnamakan cinta di atas segalanya.

Love is unidentified. That’s it.

Don’t talk it too much, but bring it much to your lover… Yah, setidaknya, begitulah interpretasiku pada cinta saat ini.

Kembali pada Elena, ia selalu terlihat stand-out diantara lautan mahasiswa Enterpreneur yang ikut ambil bagian dalam pemenuhan lapangan pagi ini. Entah itu auranya atau memang pada dasarnya ia memiliki kecantikan yang setara dengan Aphrodite. Kecantikan abadi yang begitu mendamaikan hati. Kecantikan yang mendekati sempurna.

Mendekati. Ya. There’s nothing perfect in this world—even it’s beauty, trust me!

Meski semua yeoja tengah berlomba-lomba untuk menghilangkan keloid atau sekedar mem-face off wajah mereka agar semakin terlihat cantik, Elena tetap mempertahankan kecantikan alami yang ia miliki—bahkan ia tidak membela-belain menutupi dark circlesnya dengan concelear saat berangkat kuliah. I know that, karena aku sering menjulukinya mata panda, atau parahnya, nenek Elly. Lol.

Kalau kau perhatikan dengan saksama, kau akan menemukan bekas jahitan yang sudah mulai memudar di dekat rahangnya. Katanya, itu disebabkan kecelakaan mobil yang ia alami saat masih SMA.

Well, kuakui masa lalu Elena cukup kelam. Menurut ceritanya, dulu ia adalah Party Princess yang memiliki catatan absen terbaik—tidak pernah absen. Ia juga suka ikut balapan mobil di Seoraksan dengan rekor pernah menyerempet mobil patroli polisi gunung tanpa kena tilang.

“Apalah arti sebuah Porsche bagiku. Dengan kekayaan yang tidak akan habis sampai tujuh turunan, aku pun bisa membeli harga dirimu jika Appaku adalah sumber mata uang”

Begitu setidaknya cara pikir seorang Elena Han di masa lalu. Sangat bangga dengan kekayaan Appanya yang katanya adalah seorang pemilik label antivirus terkemuka se-Asia.

Personally, aku juga tidak begitu familiar dengan nama Han Jong Ji—nama Appa Elena. Saat kutanyakan pada Appa, Appa pun juga tidak pernah mendengar nama Han Jong Ji. Yang Appa tau, Nacon Corp adalah kesatuan bisnis antivirus serta firewall yang paling dipercaya perusahaan-perusahaan raksasa di Asia. Bahkan kabarnya Nacon mulai menembus pasar Amerika baru-baru ini.

Kupikir, memang sebaiknya Appa Elena tidak terkenal. Bisa bahaya jika dedengkot label antivirus sebesar itu terdeteksi oleh hacker-hacker dari label antivirus lainnya.

Itulah sepenggal deskripsi Elena Han di masa lampau dan untungnya aku tidak bertemu dengannya di masa itu. Melainkan masa sekarang.

Pertama kali aku bertemu yeojachinguku ini adalah ketika aku dengan sok rajinnya datang ke gereja pukul enam pagi. Saat itu aku bertemu Elena yang tengah berdoa, memohon pencerahan pada Tuhan, sambil berlinang air mata. Ia bahkan tidak berdoa dari kursi jemaat, seperti apa yang umumnya para umat Kristiani lakukan, melainkan langsung bersujud di hadapan altar.

Dulu, Elena sangatlah kurus, hampir sekurus para model yang biasanya nampang di fashion TV. Tubuh jangkung, rambut panjang acak-acakan, serta tubuh sekurus itu… Rasanya aku baru saja melihat penampakan langsung Lucifer versi wanita.

Singkat kata, sangat mengerikan.

Elena sangat lusuh saat itu. Ia bahkan nyaris ambruk setelah pengakuan dosa andai aku tidak memapahnya saat itu. Elena pingsan dan butuh 5 orang suster untuk menyadarkannya.

Setelah hari itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Elena. Baru saat aku masuk kuliah, kami dipertemukan kembali. Keadaannya sudah jauh lebih baik daripada saat aku bertemu dengannya di gereja saat SMU dulu. Badannya sudah mulai berisi dan tanda-tanda kecantikannya sudah mulai mencuri perhatianku. Lambat laun aku mulai percaya bahwa Elena bukanlah Lucifer versi perempuan, melainkan reinkarnasi dewi Aphrodite!

Tak perlu kujelaskan bagaimana aku bisa jadian dengan Elena, ya?! Bukankah, cinta itu tumbuh karena terbiasa?

To Be Continued…

Advertisements

2 thoughts on “[All The Way North] Siwon’s Side

  1. Lanjutt…
    Siwon kalo jatuh cinta sama elena sampe tergila-gila bgt. Lumayanlah ff ini cukup menghiburku dari kekecewaanku dgn teaser photo siwon yg anehnya minta ampun -__-…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s