In The Name of Mary Jane [Pt.7]

“Have a nice birthday, little angel…”

“Thank’s oppa. Saranghae…”

“Na ddo, Saranghae…” ucap Siwon begitu manisnya hingga membuat Ae Ra yang berada di belahan bumi bermil-mil jauhnya dari Seoul itu nyaris mencium layar MacBooknya sendiri.

Dan wanita yang kini tengah berada di start-line “go international”nya itu sangat-sangat yakin, jutaan fangirls Siwon di luar sana tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang ia dapatkan dari Siwon—mereka.

Melihat anak buah berambut pirang Michael Kors sudah melambai-lambai ke arahnya dengan muka galak, Kim Ae Ra segera berbicara lagi pada “oppa”nya itu.

“Gotta go now, Oppa. Take care ya~ Kisseu…”

Sementara itu di belahan bumi lainnya dimana matahari sudah semakin meninggi…

Seoul, Skyline Room 9750

-Siwon’s Side-

 “Gotta go now, Oppa. Take care ya~ Kisseu…”

“You too…”

Dan setelah itu aku juga mematikan MacBookku.

Ahh… Andai Ae Ra sedang berada di Seoul pun, aku juga tidak akan bisa memberinya surprise di hari ulang tahunnya. Who’s the catwalker, Who’s the concert-walker?

Kami sama-sama sibuk. Kecuali aku ataupun Ae Ra mau meluangkan beberapa jam—penuh—resiko untuk mempersiapkan kejutan manis itu seperti apa yang dilakukan Seon Hee padaku dulu.

<Flashback>

“…Masyarakat Libya semakin gencar melakukan aksi demo untuk penurunan Gadhaffi bla bla bla…”

Aku tengah menonton siaran CNN namun tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap. Sejak kapan Seoul mengalami krisis listrik?

Sejak sebuah telapak tangan yang lembut menutup mataku dari belakang.

“Happy Birthday!”

Dan benar kan, mati lampu itu hanyalah sebuah tipuan.

Jemari lentik yang mengalihkan sejenak fokusku pada siaran CNN adalah jemari Seon Hee. Dengan tangannya yang kini terkalung di leherku, aku sedikit membalikkan badan dan mendengar ucapannya sekali lagi. “Happy Birthday!”

“It’s not my Birthday,” sanggahku.

“I know,” ia tersenyum lalu sejurus kemudian menyapukan kecupan kilat di bibirku. “Sengaja kusampaikan terlebih dahulu karena aku ingin menjadi orang pertama yang memberimu hadiah…”

“Tapi itu terlalu cepat, Seon Hee… Ulang tahunku masih minggu depan…”

“Justru karena masih minggu depan, makanya aku menyelamatimu sekarang. Aku yakin di hari ulang tahunmu, akan ada banyak orang yang memberimu hadiah…”

Seon Hee kemudian berjalan mengitari sofa, lalu menarikku dan sedikit memkasaku untuk mengikutinya. “Ikut aku. Aku punya banyak hadiah untukmu.”

Dengan masih menyimpan seribu satu pertanyaan di otakku, akhirnya aku hanya mengikutinya berjalan menuju kamar kami.

Saat ia membuka pintu kamar kami, yang pertama kali menyita perhatianku adalah tumpukan-tumpukan hadiah dengan berbagai bentuk yang menggunung di tempat tidur king size kami.

Aku blank sambil menatapnya, namun ia malah tersenyum penuh kemenangan, seolah membuatku terkejut adalah goal dalam planning kejutannya.

“Ini semua untukku?” tanyaku ketika sudah berada di dekat hadiah-hadiah itu. Semua hadiah dibungkus dengan sangat cantik dengan box-box yang diikat pita-pita berbagai warna.

“Aku ingin kau memulainya dengan membuka yang ini,” Seon Hee mengambil sebuah kotak paling kecil diantara kado-kado pemberiannya itu.

Aku speechless saat membuka kotak berwarna maroon yang elegan tanpa pita itu. Sebuah eau de parfum limited edition Armani yang minggu lalu kulihat di etalase Armani sewaktu menyelenggarakan konser SM Town di Italy.

“Donghae bilang matamu berbinar-binar saat melihat parfum itu show off di etalase Armani ketika kalian berjalan-jalan di Via Condotti…”

“Sejak kapan kau mengenal Donghae?”tanyaku heran mengingat tak ada satu pun member Superjunior yang mengenal Seon Hee karena Seon Hee berasal dari dunia modelling. Terlebih ia terlalu sering berjalan di atas runway luar negeri ketimbang di negaranya sendiri.

“Sejak Yuri bercerita bahwa rombonganmu sempat nyasar di Via Condotti sampai baru kembali setelah hari sudah gelap,” papar Seon Hee.

Oh, kalau itu sih aku tidak heran. Seon Hee kan best friendnya Kwon Yuri sejak SMU.

Setelah sempat sedikit honoured dengan hadiah pertama dari Seon Hee, aku kembali membuka hadiah-hadiah yang lain. Seon Hee benar-benar memberiku hadiah high-end label, mulai dari pantofel, sepatu kets yang katanya hanya ada satu di dunia karena ia sendiri yang merequest desainnya pada Adidas, pena berlapis emas yang mungkin lebih cocok ia berikan pada Appaku untuk keperluan tanda-tangan cek-cek triliyun wonnya di kantor, android Motorolla yang baru rilis kemarin hingga yang menurutku paling konyol dan “not Seon Hee’s style” adalah sebuah sikat gigi.

“Aku tidak mau mendengar berita gusimu berdarah lagi atau infeksi kelenjar ludahmu kambuh lagi. Jadi, bersikat gigilah dengan lembut…” ucap Seon Hee berwejangan.

Aku menahan tawa. Sejenak aku teringat dengan cara Eomma yang sedang menasihatiku saat aku masih SD.

Bukan karena cara khotbahnya yang too—old—lady’s, tapi lebih kepada, apa hubungan infeksi kelenjar ludah dengan cara menyikat gigi. Seingatku, Dokter Jung bilang aku hanya tidak boleh terlalu lelah jika tidak mau infeksi kelenjar ludahku kambuh.

Terserah deh. At least, Seon Hee did something apricited to me.

Setelah kuhitung-hitung, ternyata hadiahnya berjumlah dua puluh tiga. Padahal, minggu depan usiaku adalah dua puluh empat.

“Only 23?”tanyaku.

“The 24th,” Seon Hee menatapku seduktif. “Kau boleh meminta apapun dariku.”

Whoaaa… Apakah ini sebuah penawaran yang menguntungkan???? Hmm… Rupanya ia tengah menggodaku

“Baiklah…” ucapku setelah yakin dengan permintaan yang telah kupikirkan matang-matang di otakku. “Kalau begitu, cium aku sebanyak kau mencintaiku…”

“that’s it?” tanyanya sambil tersenyum menantang. Aku mengagguk. We’ll see, seberapa sanggupkah ia bertahan hanya dengan menciumku…

Dan Seon Hee benar-benar menyapukan kecupannya yang lembut itu di bibirku. Ketika ia hendak menjauhkan dirinya, aku menahannya dan memaksanya untuk menciumku lebih lama lagi.

Untuk beberapa saat kami berciuman sangat dalam hingga tanpa jeda. Bersamaan dengan itu, udara di sekelilingku terasa panas, hingga ketika kami sudah mulai lupa untuk melepaskan diri satu sama lain, Seon Hee mendorong tubuhku dan ia lepas dari pelukanku.

“Kenapa hanya sekali?”

Seon Hee terkekeh sembari menghapus efek glossy setelah ciuman kami tadi. Apanya yang lucu coba?

“Karena aku tidak tau seberapa banyak aku mencintaimu. Yang kutau hanyalah kenyataan bahwa aku hanya dapat mencintaimu sekali saja seumur hidupku…”

“Mwo?”

“Geez! Aku memang tidak pandai merayu. Pokoknya… Euhmmm…” kini Seon Hee malah tersipu malu sendiri. “Intinya aku mencintaimu lah…”

Kami berdua tertawa bersama-sama.

Hari itu aku baru tau mengenai sisi lain Seon Hee yang sebenarnya polos dan tidak lebih dari yeoja-yeoja di luar sana yang tidak akan mampu menandingi rayuan maut para namja.

Selamanya kaum wanita memang ditakdirkan untuk menerima romantisme dari kaum pria. Itulah kodratnya.

<Flashback end>

Dan hari ini aku baru tau bahwa hari itu merupakan hari ulang tahun Seon Hee. Setelah melihat reminder, aku baru tau bahwa aku telah melewatkan hari ulang tahun kekasihku sendiri. Uhm, salah. Hari ulang tahun mantan kekasihku sendiri.

I’ve treated her bad. I know.

Apakah aku menyesal? Oh, tentu tidak. Setelah bagaimana kelakuan Seon Hee yang terlalu banyak ikut campur pada urusanku, setelah ia memperlakukanku seolah-olah aku adalah boneka mainannya… Menurutku ‘putus’ adalah keputusan yang brilian.

Terlepas dari kegemarannya membuat masalah denganku setiap hari, seperti dengan tiba-tiba mengganti channel CNN yang sedang kutonton ketika sedang berada di rumah dan bagaimana ia mengakhiri pertikaian kami yang selalu berakhir di ranjang, kurasa aku telah membuat keputusan yang sangat-sangat tepat.

Dan yang perlu kugaris bawahi di sini adalah, aku bukan mainan Seon Hee. Not anymore!

_________________________In The Name of Mary Jane_______________

Advertisements

M.Y.O.B

Iya, iya. Gw tau lo  skrg pinter, bahkan ngelebihin gw. Gw tau lu sekarang jagonya ini itu, but please…. I don’t ask you to solve my problem. I ask another, but you, with your NEW KNOWLEDGE, like a pro–newbie–genius, critic me like YOU ARE THE ONLY ONE WHO CAN.

Gw itu nggak nanya sama elo tapi elo dengan KEMAMPUAN LO MENGUASAI MATERI, nggak usah sok-sok ngejawab dan ngritik kesalah gw dong. Gw nggak nanya lo apalagi minta pendapat lo, kenapa lo koar-koar???

Terkadang gw nanya baek-baek dan gw nggak begitu nangkep omongan lo, lo dengan RASA PALING BENER, ngebentak gw,

Kalo sekarang gw balik, wajar nggak kalo lo marah????

Wajar nggak kalo gw balik NGEBENTAK elo?

Gw udah sabar, dan karena gw nggak mau sahabatan kita berubah jadi musuhan, gw ngeberaniin diri buat minta maaf, meski lo anggep itu munafik, at least GW BERANI MINTA MAAF dan NGGAK NUTUP-NUTUPIN APA YANG ADA DI OTAK GW TENTANG LO.

Gw emang nggak kayak lo, yang lebih baik disimpen sendiri tapi kalo udah MELEDAK, semua orang itu SALAH DI MATA LO.

Gw emang nggak kayak lo, yang mendingan nadahin sendiri dan LET THE TIME SOLVES IT, karena cara pikir gw TIME JUST RUN AND DOESN’T HAVE BRAIN TO SOLVE THE PROBLEM LIKE A HUMAN.

Gw emang nggak secepet lo kalo loading dan nggak bisa mendeklarasikan HASIL PEMECAHAN DENGAN BENAR sambil sok-sok ngebetulin orang-orang yang pada salah meski ITU BUKAN URUSAN LO.

Intinya,

GW ITU BUKAN LO DAN MASALAH GW ITU JUGA BUKAN MASALAH LO. Kalo lo emang mampu, ya udah, urus aja diri lo. Nggak usah urusin diri gw, toh gw juga nggak pernah minta lo buat nyampurin urusan gw dan minta lo buat NUNJUKKIN KALO LO EMANG LEBIH BISA DARI GW.

Who care about being genius?!

THANK’s,

your UN-GENIUS FRIEND!

In The Name of Mary Jane [Pt.6]

Siwon’s Side

 

Sembari merasakan radiasi kalor yang berasal dari cangkir caramel cappuccino di hadapanku ini, aku menunggu kedatangan Seon Hee.

Tadi aku menelponnya, memintanya menemuiku, dan akan kuputuskan tentang hubungan kami hari ini.

 

“What?” nada bossy itu menyapaku. Perempuan berbalut coat Max Mara merah kesayangannya itu lalu segera menarik kursi yang ada di hadapanku, lalu duduk di atasnya.

 

Sejujurnya, aku tidak tau harus mengawali ini dari mana dan aku juga bingung harus memakai kata-kata apa yang sebisa mungkin tidak sampai membangunkan amukan Seon Hee. Oh, persetan jika aku tinggal nama setelah hari ini. Aku tidak peduli.

 

“Well, kurasa dengan perbedaan prinsip di antara kita selama ini…”

 

“You wanna break?” tembaknya langsung dan phew, aku bersyukur ia tau maksudku. Jadi aku tidak perlu pusing-pusing menjabarkan ini itu tentang alasan break up kami ini. “Secara teknis sih, iya.”

 

Ia menggigit bibirnya. Tak kusangka raut wajahnya jadi semenyedihkan itu. Aku tau ia sedang berusaha menyembunyikan tangisnya meskipun ia langsung membuang pandangan ke jendela yang ada di sebelah kami.

 

Aku, Choi Siwon, masih punya hati dan untungnya aku tidak berpikir bahwa akting-menangis-deseperatenya itu adalah akal-akalannya saja. Jadi, kukatakan padanya bahwa semua tidak akan seburuk apa yang ia pikirkan setelah ini. “Kita masih bisa saling berhubungan sebagai teman kan?”

 

Dengan mata yang merah dan air mata yang sepertinya berontak ingin segera keluar dari persembunyiannya, Seon Hee menatapku seolah berkata make a friend? You wish!

“Arasseo,” katanya pada akhirnya. Kemudian ia segera mengampit Chloe nya lalu beranjak pergi dari hadapanku.

 

Yup! I’m a freeman right now!

 __________________In The Name of Mary Jane____________________

-Siwon’s Side-

 

Status freeman yang terasa begitu membanggakan setelah hari pemutusan Seon Hee yang berakhir bersih-bersih rumah itu—which  is Seon Hee memutuskan untuk benar-benar meninggalkanku hari itu juga (in case dia langsung menyewa jasa angkut barang dan memboyong koleksi-koleksi sepatu mahalnya keluar dari apartemenku), ternyata tidak berlangsung lama.

 

Hanya seminggu setelah aku dengan bangga mengatakan bahwa ‘I am single and very happy’ kepada para member suju, aku sudah mendapat pengganti Seon Hee secara cepat.

 

Yup. Kim Ae Ra is mine right now.

 

Dan aku merasa seperti mendapat pencerahan setelah sekian lama tersesat di hutan terlarang bersama para dementor (dan tentu saja itu semua karena  ratunya) selama enam bulan ini.

 

“Oppa aku takut jika fansmu nanti…”

 

“Sssttt…” aku menghentikan celotehan tidak pentingnya itu dengan ujung telunjukku di bibirnya. “Ini hidupku dan mereka tidak berhak mengganggu hak asasiku. Kau tidak usah khawatir, oke?”

 

Aku mengedikkan mata kepadanya dan spontan itu membuatnya semakin lemas tak berdaya.

 

_______________________In The Name of Mary Jane_________________

 

Mengapa aku selalu terbangun dengan cara yang konyol.

 

Dulu bel pintu, sekarang konser cacing-cacing tak berperasaan di perutku. Mereka dengan seenaknya menggelar konser di pagi-pagi buta begini.

 

Jam digital di mejaku masih menunjukkan pukul 08.00 am. Ae Ra juga masih tertidur sambil memeluk guling dengan tubuh mungilnya yang hanya terbalut selimut private islandku. Tidurnya lelap sekali. Apa aku sebegitu mengerikannya semalam?

 

KRUYYUUUUKKKK

 

Ya ampun. Cacing-cacing itu makin gencar sekali melantunkan lagu heavy metal di perutku. Iya, iya. Sabar. Aku akan segera memberi kalian makan…

 

Aku memutuskan untuk meninggalkan kamar tanpa membangunkan Ae Ra dan pergi ke dapur. Sambil berdoa dan berharap ada makanan—apalah itu—yang bisa dimakan, aku membuka kulkas.

 

Ew! Hanya ada spaghetti dan beberapa sachet saus bolognaise instant di dalam. Sisanya, hanya youghurt dan diet foodku yang semuanya terlihat bagaikan onggokan.

 

Oh, tamatlah aku!

 

“Oppa…” suara yang manja namun terdengar seksi itu menyambutku dari belakang. “Kenapa kau bangun?” tanyaku dan ia memeluk punggungku so tightly .

“Habis Oppa juga bangun sih, jadi malas untuk tidur lagi. Hehehe…”

 

Untuk beberapa saat, aku sangat menikmati moment ini, melupakan sejenak lagu keroncong yang terus mengalun di perutku ini.

 

KRUYUUKKKK…

 

Aku dan Ae Ra tertawa bersama-sama. “Oppa lapar ya?”

 

“Iya. Tapi tidak ada yang bisa dimakan di sini,” jawabku sangat-sangat jujur, malah terdengar miris sepertinya. Hahaha.

 

Ia lalu menawariku sebuah solusi, “Kenapa tidak delivery saja, Oppa? Lagipula ini sudah jam delapan, aku yakin kedai-kedai pasti sudah buka…”

 

Oh, well. Kenapa kau tidak menawari untuk memasak sarapan pagi untukku saja?


 

End of The World

The sky is so dark. It’s raining outside. Siwon is sitting behind the window, seems like counting every single raindrops. He just like on his twitter picture before, feels like a De Javu.

Outside wasn’t Brooklyn anymore, it’s in Seoul. Too many cars, too many business downstairs. He just like an empty–feeling heavenly Goddes in the crowded city.

Dark, rain, and careless people. Is the end of the world will be like this?

He put his notebook and start to write down his issues…

Want to smile
To disguise the tears that are falling
Nod head
Admit to myself that I will be scared of the dark
I only seek
That you can lend some time to be with me
But you don’t even give sympathy
Want to cry
To find out whether I am numb yet
The whole world
Seems like I am the only one who is tired
Doesn’t matter
Anyway I’m feeling sad so I’ll muddle through and go for a time
If only despair and feeling useless would go far away
The sky is very grey
Will it
Let me forget who you are?
The darker the night
Dream disobeys
It is hard to chase and hard to enjoy in retrospect
My world is going to be destroyed
Maybe things do not happen as I wish
Tired or not?
Sleep or not?
A single shadow with no one to snuggle with
The darker the night
Dream disobeys
Who is willing to comfort? (It is hard to chase and hard to enjoy in retrospect)
My world is going to be destroyed
Maybe being dispirited is another kind of beauty

“I just hope you’re thinking about me too…” his whispering to the rainfall then leave.

Ini Siwon lagi galau? Entahlah. Maaf ya bang, minjem dirimu sebentar… Anyway, since I was Jay Chou addict, those quote are taken from his own song, Shi Jie Mo Ri–The End of The World. Jadi… ya gitu deh.. *what the hell I’m talking about?!* hahahaha