In The Name of Mary Jane [pt.4]

It’s okay if sometimes you bought her a box of Swedish gold than let her shopping by herself.

 

“Oppa!!!” dengan tergopoh-gopoh, gadis itu menghampiri Siwon yang tengah membersihkan wajahnya dari bahan kimia penumbuh jerawat terkemuka yang ia sebut make-up. “Siwon Oppa!”

 

“Uh, hi, Ae Ra-ssi,” Siwon menyapa balik gadis bertubuh mungil itu seramah mungkin dengan masih mengusap-usapkan kapas ber-cleanser ke wajahnya. “Whoa, ternyata kau jauh lebih cantik daripada menggunakan make-up.”

 

Just like what’s females being, they love to be flirted. “Ahaha… Oppa berlebihan,” kata Ae Ra yang tidak menyadari ada penampakan blush di kedua pipinya.

 

“Ngomong-ngomong, ada apa terburu-buru menemuiku?” tanya Siwon yang kini wajahnya sudah fresh, seperti bintang iklan pembersih muka. “Aniyoo… Hanya ingin mengajak Oppa makan siang. Itupun kalau Oppa mau…”

 

Just give me some minutes, then I’ll take you into my lunchie,” ucap Siwon sambil mengedikkan sebelah mata pada lawan mainnya itu. “Aku harus menemui studara sebentar…”

 

“Okay,” perempuan bernama Kim Ae Ra itu mengangguk. Baginya, lima jam pun tak jadi masalah asal yang ia tunggu adalah Choi Siwon.

 

________________________In The Name of Mary Jane________________

 

“Setelah ini, kita sudah tidak ada take lagi, kan?” tanya Siwon di tengah makan siangnya bersama Ae Ra di sebuah restauran dekat lokasi syuting. Tentu saja dengan penyamaran pro ala selebritis, sehingga tak ada satupun paparazzi yang mengikuti mereka sejauh ini.

 

“Tidak ada,” jawab Ae Ra. Lucu sekali jika melihat mukanya yang polos dengan pipi menggembung seperti xiao-long-bao—salah satu makanan dim sum yang bentuknya bulat, karena mulutnya penuh dengan bulgogi. “Aisshh… makanmu pelan-pelan saja.”

 

Siwon benar-benar tidak tahan dengan cara makan perempuan early-twenty itu yang masih seperti anak kecil. Bahkan saking bersemangatnya makan, Kim Ae Ra tidak sadar kalau mulutnya sampai belepotan. “Eh? Oppa…?”

 

Ae Ra kaget setengah mati saat Siwon dengan telaten membersihkan noda-noda di mulutnya dengan jemari tangannya sendiri. Kemudian, lelaki yang sering disebut-sebut sebagai Robbert Pattinson versi Korea itu, mengelap ujung bibir Ae Ra dengan tissue. Sangat lembut dan sangat perhatian.

 

“Eh.. Oppa… Gomawo….”

 

Siwon hanya tersenyum. Sangat manis. Sangat tampan. Sangat mempesona. Damn marvelous!

 

“Lain kali, kau harus melihat mukamu sendiri saat kau makan seperti tadi. Serius. Mukamu konyol sekali. Hihihi…” ledek Siwon.

 

“Iihh… Oppa! Menyebalkan sekali!!!!!”

 

Dan mereka pun kembali melanjutkan luchie mereka diiringi tawa dan canda yang semakin hangat.

 

_____________________In The Name of Mary Jane__________________

 

 

-Siwon’s Side-

Setelah makan siang, aku sengaja mengajak Ae Ra berjalan-jalan di kawasan Gangnam. Terserah ia mau memilih satu di antara shopping center yang berjajar rapi di sepanjang jalan yang seperti Orchad Road ini. Yang jelas, aku hanya ingin menikmati quality—rare—time yang kami punya hari ini.

 

Jarang-jarang kan seorang selebritis menganggur di hari Kamis?

 

Masih belum mengerti visi dan misiku yang ingin melakukan pendekatan dengan mengajaknya ke sini, Ae Ra bertanya padaku “Memangnya Oppa mau beli apa?”

“Polo Shirt. Tapi aku bosan dengan model Larph Lauren yang begitu-begitu saja. Well… Kenapa tidak kau saja yang membeli ini?” aku mengambilkan sebuah polo shirt warna pink pastel yang ada capucchonnya ketika kami masuk di gerai Polo. What kind of a new breaktrough! “Kurasa baju ini bagus untukmu.”

“Eh? Untukku? Annii… Tapi aku sedang tidak ingin beli baju, Oppa,” katanya sambil meletakkan kembali polo shirt yang kuambilkan tadi.

“Aku akan sangat suka jika kau memakai baju ini,” ucapku sambil menatap matanya, memastikan bahwa aku benar-benar ingin memberinya sesuatu hari ini. Memang bukan hari ulang tahunnya sih, tapi aku suka memberikan hadiah pada orang lain karena itulah caraku menghargai orang-orang di sekitarku. “Kau tidak akan menolaknya, kan?”

‘Ehh… Ne. Gamshahamnida, Oppa.”

 

Tidak perlu khawatir Visamu tertinggal di rumah jika ada Master Card. Uh, well, kau mungkin akan menganggapku silly, tapi aku memang tidak suka memasukkan banyak benda di dompetku. Makanya, jangan heran jika dompetku super duper tipis, meskipun tidak setipis dompet Eunhyuk sih… Hehehe. Dia kan, memang dasarnya tidak berniat mengisi dompetnya.

____________________In The Name of Mary Jane____________________

Still walking arround in Seoul’s Via Condotti

 

“How so cute…” Ae Ra berdesis pelan saat kami melewati gerai Jimmy Choo di sebuah shopping center elite di Seou.

 

“Gwancahenna, Ae Ra-ya?” tanyaku sambil masih menggenggam tangannya. Sekarang kami sudah tidak peduli dengan paparazzi yang diam-diam mengambil foto kebersamaan kami, dan nyatanya toh mereka tau kalau Ae Ra dan aku memang ada hubungan. Tidak seperti dulu, mau keluar saja harus menyamar seperti Sherlock Holmes yang tengah menguntit teroris.

 

“Itu…” Ae Ra menunjukkan sebuah sepatu mary jane—mungkin yang terpampang di etalase. Uh, well, satu pertanyaan yang selalu memenuhi kepalaku, mengapa wanita gila sekali dengan sepatu?

 

Sebenarnya, aku buta sekali soal sepatu wanita. Tapi demi Ae Ra, tak apalah. Toh harga sepatu dengan hak mengerikan itu tidak sampai menghabiskan tabungan di salah satu rekening bankku.

 

“Oppa gomawo. Oppa seharusnya tidak perlu melakukan ini…” ucap Ae Ra begitu kami keluar dari gerai itu dengan satu dus sepatu di tangan Ae Ra. “Tak apa. Aku akan melakukan apapun, asal kau senang…”

 

“Aku selalu senang asalkan bersama Oppa,”

 

Baru saja aku tertawa mendengar gombal-gombalan di antara Ae Ra dan aku, aku langsung beku seketika ketika melihat Seon Hee berjalan ke arah kami. Petir, sambarlah aku sekarang!

 

“Seon Hee onnie!” Ae Ra yang tidak tau tentang hubungan di antara kami, langsung melambai so friendly ke arah Seon Hee dengan antusias. Yeah, hubunganku dengan Seon Hee selama enam bulan ini memang belum tercium media. Berkebalikan dengan hubunganku dengan Ae Ra yang mungkin sudah terdengar sampai telingan Queen Elizabeth di Inggris sana.

 

“Aku tidak menyangka bisa bertemu Onnie di sini,” ucap Ae Ra sangat gembira dan aku bisa melihat gambaran kekaguman di mata Ae Ra pada Seon Hee. Yea, who’s the tip-top supermodel?

 

“Me too,” balas Seon Hee dengan mengumbar seulas senyum pada Ae Ra. Ia kemudian beralih kepadaku, masih dengan senyum khasnya yang menawan, namun dengan tatapan matilah—kau—choi siwon. “Anneyong, Siwon-ssi…”

 

“A…Anneyong,” jawabku senormal mungkin. Demi Prada atau apapun itu yang menempel di telapak kaki Seon Hee, kumohon, jangan sampai Ae Ra ikut-ikutan berada di suasana akward yang sedang aku rasakan.

“Wow! Miu Miu?!” tanya Seon Hee pada tas belanjaan berwarna pink yang berada di tangan Ae Ra. “Nope, it’s Jimmy Choo. Siwon oppa yang membelikan,” Ae Ra mengumumkan itu pada Seon Hee dengan bangga.

 

“Whooaaa… Baik sekali…” Seon Hee pura-pura bersimpati dengan apa yang baru saja kulakukan pada Ae Ra dengan Jimmy Choo berkardus pink itu. Aku tidak pernah melihat Seon Hee membintangi drama serial manapun, tapi aku tidak tau kalau ia punya bakat akting yang mungkin bisa masuk nominasi Piala Oscar.

 

“Hahaha… iya. Siwon Oppa memang baik. Onnie baru atau sudah dari tadi?” tanya Ae Ra yang masih belum merasakan suasan akward di antara Seon Hee dan aku.

 

“Sudah dari tadi. Tapi aku belum menemukan sesuatu yang bisa dibeli. Uhm, mungkin aku harus ke Paris atau Milan beberapa minggu ini. Yea, you know, it’s always lame here…”

 

Kata-katanya terasa seperti metafora pada high heels yang baru saja kubelikan untuk Ae Ra itu.

 

“Uhm, Ae Ra-ssi, Siwon-ssi, aku ada janji dengan seseorang,” ucap Seon Hee tiba-tiba sambil melirik jam tangan supershinny di lengan kurusnya itu. “Gotta go now. Nice to see you!”

 

“Nice to see you too, Onnie,” balas Ae Ra lalu Seon Hee segera berjalan meninggalkan kami. Tapi, baru beberapa langkah kami saling memunggungi, “Nice pick, by the way…”

 

Kata-kata itu seolah ditujukan padaku.

 

 

-Seon Hee’s Side-

 

“…nice granny’s style pick,” desisku yang tidak akan mungkin sampai di telinga tuan—muda—tampan—buaya—darat dan kekasih barunya itu.

 

Dan aku pun melenggang pergi dari old center ini.

 

_______________________In The Name of Mary Jane______________

 

 

Advertisements

8 thoughts on “In The Name of Mary Jane [pt.4]

  1. GUE PENGEN NAMPOL SIWON PENGEN BANGET FUFUFUFUFUFUFU
    gile ini orang pake makan bedua ngikik ngikik segala woh
    *emoseh xDD DIBELIIN SEPATU SEGALA
    byused eh lu munculin aja sungjin deh biar ciwon jeles xDD

    • nyante cui… nyante…
      sungjin jadi preman tiba2 ngadang siwon ama selingkuhannya gitu, boleh kali ya. hahahahah
      btw, thnk’s udh mau RC. hehehe.
      eh, eh, gw lg nyoba” mau bikin ff ttg Sungmin dan pairingnya itu elu, boleh nggak nih?
      gw minta ijin dulu yeee… wkwkwkwk

  2. buset lu ngebut ya cell. sabar sabar selo belum aye liat juga yang 4 yang 5 udah di post aja. ntar ya gue baca belajar kimia dulu jam setengah 8 gue dateng lagi
    *lah malah bikin janji xDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s