In The Name of Mary Jane [Pt.6]

Siwon’s Side

 

Sembari merasakan radiasi kalor yang berasal dari cangkir caramel cappuccino di hadapanku ini, aku menunggu kedatangan Seon Hee.

Tadi aku menelponnya, memintanya menemuiku, dan akan kuputuskan tentang hubungan kami hari ini.

 

“What?” nada bossy itu menyapaku. Perempuan berbalut coat Max Mara merah kesayangannya itu lalu segera menarik kursi yang ada di hadapanku, lalu duduk di atasnya.

 

Sejujurnya, aku tidak tau harus mengawali ini dari mana dan aku juga bingung harus memakai kata-kata apa yang sebisa mungkin tidak sampai membangunkan amukan Seon Hee. Oh, persetan jika aku tinggal nama setelah hari ini. Aku tidak peduli.

 

“Well, kurasa dengan perbedaan prinsip di antara kita selama ini…”

 

“You wanna break?” tembaknya langsung dan phew, aku bersyukur ia tau maksudku. Jadi aku tidak perlu pusing-pusing menjabarkan ini itu tentang alasan break up kami ini. “Secara teknis sih, iya.”

 

Ia menggigit bibirnya. Tak kusangka raut wajahnya jadi semenyedihkan itu. Aku tau ia sedang berusaha menyembunyikan tangisnya meskipun ia langsung membuang pandangan ke jendela yang ada di sebelah kami.

 

Aku, Choi Siwon, masih punya hati dan untungnya aku tidak berpikir bahwa akting-menangis-deseperatenya itu adalah akal-akalannya saja. Jadi, kukatakan padanya bahwa semua tidak akan seburuk apa yang ia pikirkan setelah ini. “Kita masih bisa saling berhubungan sebagai teman kan?”

 

Dengan mata yang merah dan air mata yang sepertinya berontak ingin segera keluar dari persembunyiannya, Seon Hee menatapku seolah berkata make a friend? You wish!

“Arasseo,” katanya pada akhirnya. Kemudian ia segera mengampit Chloe nya lalu beranjak pergi dari hadapanku.

 

Yup! I’m a freeman right now!

 __________________In The Name of Mary Jane____________________

-Siwon’s Side-

 

Status freeman yang terasa begitu membanggakan setelah hari pemutusan Seon Hee yang berakhir bersih-bersih rumah itu—which  is Seon Hee memutuskan untuk benar-benar meninggalkanku hari itu juga (in case dia langsung menyewa jasa angkut barang dan memboyong koleksi-koleksi sepatu mahalnya keluar dari apartemenku), ternyata tidak berlangsung lama.

 

Hanya seminggu setelah aku dengan bangga mengatakan bahwa ‘I am single and very happy’ kepada para member suju, aku sudah mendapat pengganti Seon Hee secara cepat.

 

Yup. Kim Ae Ra is mine right now.

 

Dan aku merasa seperti mendapat pencerahan setelah sekian lama tersesat di hutan terlarang bersama para dementor (dan tentu saja itu semua karena  ratunya) selama enam bulan ini.

 

“Oppa aku takut jika fansmu nanti…”

 

“Sssttt…” aku menghentikan celotehan tidak pentingnya itu dengan ujung telunjukku di bibirnya. “Ini hidupku dan mereka tidak berhak mengganggu hak asasiku. Kau tidak usah khawatir, oke?”

 

Aku mengedikkan mata kepadanya dan spontan itu membuatnya semakin lemas tak berdaya.

 

_______________________In The Name of Mary Jane_________________

 

Mengapa aku selalu terbangun dengan cara yang konyol.

 

Dulu bel pintu, sekarang konser cacing-cacing tak berperasaan di perutku. Mereka dengan seenaknya menggelar konser di pagi-pagi buta begini.

 

Jam digital di mejaku masih menunjukkan pukul 08.00 am. Ae Ra juga masih tertidur sambil memeluk guling dengan tubuh mungilnya yang hanya terbalut selimut private islandku. Tidurnya lelap sekali. Apa aku sebegitu mengerikannya semalam?

 

KRUYYUUUUKKKK

 

Ya ampun. Cacing-cacing itu makin gencar sekali melantunkan lagu heavy metal di perutku. Iya, iya. Sabar. Aku akan segera memberi kalian makan…

 

Aku memutuskan untuk meninggalkan kamar tanpa membangunkan Ae Ra dan pergi ke dapur. Sambil berdoa dan berharap ada makanan—apalah itu—yang bisa dimakan, aku membuka kulkas.

 

Ew! Hanya ada spaghetti dan beberapa sachet saus bolognaise instant di dalam. Sisanya, hanya youghurt dan diet foodku yang semuanya terlihat bagaikan onggokan.

 

Oh, tamatlah aku!

 

“Oppa…” suara yang manja namun terdengar seksi itu menyambutku dari belakang. “Kenapa kau bangun?” tanyaku dan ia memeluk punggungku so tightly .

“Habis Oppa juga bangun sih, jadi malas untuk tidur lagi. Hehehe…”

 

Untuk beberapa saat, aku sangat menikmati moment ini, melupakan sejenak lagu keroncong yang terus mengalun di perutku ini.

 

KRUYUUKKKK…

 

Aku dan Ae Ra tertawa bersama-sama. “Oppa lapar ya?”

 

“Iya. Tapi tidak ada yang bisa dimakan di sini,” jawabku sangat-sangat jujur, malah terdengar miris sepertinya. Hahaha.

 

Ia lalu menawariku sebuah solusi, “Kenapa tidak delivery saja, Oppa? Lagipula ini sudah jam delapan, aku yakin kedai-kedai pasti sudah buka…”

 

Oh, well. Kenapa kau tidak menawari untuk memasak sarapan pagi untukku saja?


 

Advertisements

8 thoughts on “In The Name of Mary Jane [Pt.6]

  1. BUSET SIWON kaco lo cassanova parah lo won
    gila siwon religius gitu ga kebal cewe sekseh juga ya DX
    ketar ketir gue bacanya IIIIIH KESEL HAHAHAHA
    daebak cell ^^
    hwaiting next partnyaa~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s