Jeprat-Jepret Projects

Since you know I’m a FAILED photographer, I just wanna share my pics that I’ve taken recently.

Sori klo editan, atau foto2nya masih BUSUK PARAH, soalnya aku ini amatiran. And it’s taken without SLR, so… I really sorry for its quality.

Taken by my reddish iCella. hohohohh…

 

Where’s Tarzan????

 

Silent Lotus Night

Ok, Ini narsis. So, you can skip this hehehehe

My Grava… hohoho

Summer’s Beverages

 

Ok, Sebenernya gw masih envy sama hasil jepretannya temen gw yg pake Iphone 4s barunya dan ITU TANPA EDITAN. *sigh* *lirik si merah* wkwkwk

Bandingkan dgn hasil editan gw…

Damn! Gw bener-bener pengen ngerampok temen gw. woakakaka *evilaugh*

Ps: Anak baek, it isn’t a good example. So, skip this.

XOXO

 

In The Name of Mary Jane [Pt.8]

“One… Two… Three… Four… Five… Six… Turn!”

BRUKKKKK!!!

“Arrgghhh….”

Detik itu juga, aku terjatuh sambil memegangi perutku yang rasanya seperti diremas-remas. Kudengar Leetuk Hyung sempat menanyaiku “Gwanchaenna” dengan panik namun aku tak menggubrisnya karena duniaku serasa berputar-putar.

Sekelilingku kabur, dan aku tak sadarkan diri.

______________________In The Name of Mary Jane___________

 

Gwang-Nam International Hospital, VIP Room 5017

Hening. Lembab. Dan dingin.

Bangun-bangun aku sudah berada di ruangan serba putih dengan tempat tidur yang terasa bagaikan papan di punggungku. Sedikit saja aku bergerak, mungkin tempat tidur sekeras batu ini akan runtuh.

Kucoba untuk bangkit dan duduk bersandar, namun kepalaku terasa berat sekali. Seperti ada sesuatu yang mengikatnya dengan kencang, menahannya untuk tidak bergerak barang seperseribu detik pun.

Betapa sepinya tempat ini hingga aku dapat mendengarkan tetes demi tetes cairan infus yang jatuh lalu mengalir ke pembuluh darahku melalui selang yang ditusukkan seenaknya saja ke kulitku, oleh—entah—siapa itu.

Semenjak tersadar, proses adaptasi yang ada pada diriku berjalan sangat lambat, bahkan kau boleh menyebutnya jauh lebih lambat dari siput ambien yang berusaha menantang maut. Beberapa detik setelah kurasakan lekukan sikuku yang dialiri selang infus itu linu, hidungku dikejutkan oleh aroma obat yang menyengat dan aku baru menyadari ada alat bantu pernafasan di sana.

Demi Tuhan aroma obat jauh lebih buruk dari bangkai kalkun yang mengambang di parit.

Dulu, ketika aku masuk rumah sakit sebelumnya, aku pernah nekad melepas selang pernafasan menjijikan itu. And I did it again.

Tak lama aku mendengar bunyi tap-tap dari ujung sepatu wanita yang runcing. Kuharap itu bukan Seon Hee yang datang dan memaksaku untuk menunggu facial anti-aging emas jutaan dollarnya seperti waktu itu.

_______________________In The Name of Mary Jane__________

 <Past Time’s Flash>

“Aku ada pemotretan satu jam lagi…”

“Masih satu jam. Facial ini hanya empat puluh menit, kok.”

“I… Itu sama sa—“

“Just wait and enjoy those ancient magazine, arasseo? Gotta back soon…” katanya sambil mengedikkan sok aegyo—ieww lalu menghentakkan Steve Madden—mungkin—lima belas centinya itu dan menghilang di balik ruang facial bersama suster-suster berseragam nan mengerikan itu.

__________________In The Name of Mary Jane______________

Kuharap itu bukan Seon Hee. Tuhan, kuharap suara tap-tap itu bukan suara heels killer-shoes Seon Hee atau aku akan mati. Tuhan, aku berjanji akan melakukan bibble study sepanjang malam, menghadiri misa pagi siang sore malam, dan melakukan pengakuan dosa selepas keluar dari ‘penjara berbau obat’ ini.

Asalkan yang datang itu bukan Seon Hee…

Begitu pintu kamar inapku terbuka, aku langsung memejamkan mata erat-erat. Meski tidak siap, aku berani bertaruh nyawaku tinggal dicabut detik ini juga.

“Sudah sadar, Choi Siwon ahjussi?”

Bukannya suara lembut bagaikan lonceng gereja Angelus di Italy ala Seon Hee, yang terdengar oleh telingaku justru suara berat yang bersahaja.

Atau jangan-jangan Seon Hee adalah seorang… eummm… sassy—manusia transgender?

Aku memberanikan diri untuk membuka mataku. Sayup-sayup kulihat siluet seorang lelaki berbadan besar dengan pakaian putih-putih yang berdiri dengan stetoskop kehormatannya. Di sebelahnya, seorang suster yang tidak lebih tinggi dari bahu dokter berperut tambun itu berdiri sambil membawa nampan berisikan makanan.

“Merasa lebih baik, Choi Siwon-ssi?” tanya dokter itu lagi.

“Kuharap begitu…” jawabku sejujur mungkin and it’s true, nothing better inside my broken body.  “Perutku serasa mati rasa, Dok…”

“Tak apa,” jawab dokter itu enteng sambil mengecheck cairan infusku. Aku membaca air muka mencari dari wajah dokter itu dan aku yakin dengan apa yang ia cari. “Hidungku gatal, dan selang oksigennya jatuh begitu saja…” elakku.

Dan bodohnya dokter itu percaya-percaya saja.

“Nanti setelah kau dapat merasakan kembali perutmu, itu artinya kau sudah sembuh…” tambah dokter itu lagi. Si suster lalu angkat bicara dengan meletakkan nampan berisi makanan yang ia bawa tadi di meja kecil yang ada di samping tempat tidurku.

“Selamat menikmati snack soremu, Choi Siwon-ssi,” kata suster itu dan aku mengucap terima kasih.

Setelah berbasa-basi dengan melakukan pengecheckan pada tubuhku, mereka akhirnya pergi. Aku tertarik lalu melirik snack sore pemberian suster itu. Aku mengambil pudding cokelat yang ada di nampan itu beserta piringnya. Belum sempat aku membau pudding itu lebih dekat, aku sudah merasa mual dan ingin muntah. Ieww… Ini pudding yang mengandung obat atau inovasi baru obat berbentuk pudding???

_________________In The Name of Mary Jane________________

 <Past Time’s Flash>

“Apa itu?”

“Pizza,” jawab Seon Hee sambil membuka dus yang dibawanya itu lalu mengambil satu slice pizza dengan tissue dari dalamnya dan menyodorkannya padaku.

Aku menolak. “Lunch sudah termasuk fasilitas di rumah sakit ini, sweetySee??” tunjukku pada senampan makan siang yang diletakkan di meja di samping tempat tidurku.

“Itu tidak enak. Kau juga tidak akan suka. Sudah, makan saja pizza ini,” Seon Hee menyodorkan slice pizza itu padaku lagi. “Apa perlu kusuapi?”

_____________________In The Name of Mary Jane____________

 

3 days after being a “sick” prisoner…

 

“Aku pulang…” seruku lirih karena masih merasa lemas selepas menginap di penjara obat-obatan itu. Sebenarnya masa ‘penahanan’ku masih dua hari lagi, namun karena tidak ada yang bisa melawan perkataanku—kecuali ratu iblis itu, dokter akhirnya menyerah dan mengijinkan aku pulang bersyarat.

Oh, betapa dokter di rumah sakit itu sangat baik hati dengan membawaiku bekal permen-permen pahit berdosis tinggi itu.

Thank you, Mr.D, and I will never eat those “sweets”…

Saat aku memasukki ruang tengah, aku sempat berpikir untuk kembali ke rumah sakit dan menjalani perawatan pencernaanku lagi. Geez! Aku lupa kalau aku belum membereskan ruang tamu yang lebih mirip kapal pecah itu setelah acara nonton bareng bersama member superjunior yang lain dua minggu yang lalu.

Pop corn yang sudah membusuk, kaleng-kaleng soju, piring-piring bekas cookies, hingga beberapa DVD yadong punya Eunhyuk (dan aku tidak kebagian nonton waktu itu karena sudah hangover parah), berserakan dimana-mana.

Dan apa itu artinya, aku harus membersihkan ini semua SENDIRIAN?????

“Arrrgghhh!” aku menendang kaki sofa di ruang tengah sangat frustasi.

Seandainya ada Seon Hee di sini…

Aniii… Anii… Apa yang kupikirkan???

Mungkin ia tidak akan membersihkan sampah-sampah itu sendirian—mana mau tangannya kotor?

 

Setidaknya ia tau nomor telepon jasa cleaning service terdekat untuk mengenyahkan sampah-sampah hasil kreativitas anak laki-laki itu.

 

Damn! Apa yang kupikirkan???!!!
TBC

__________________In The Name of Mary Jane______________

Silly-Devil O’

Gw  nggak ngerti apa yang salah dengan otak gw akhir-akhir ini. Mmm…  ralat. Maksud gw, gw nggak ngerti kenapa akhir-akhir ini banyak  banget hal-hal di luar nalar yang terjadi dalam hidupk gw dan sialnya, itu bikin gw semakin terlihat konyol. Well, nggak waras lebih tepatnya.

Oke, soal otak, gw akuin otak gw emang agak–atau biar lebih puas— emang sedikit kejungkal seratus lima puluh derajat. Kenapa seratus lima puluh????? Soalnya, kalo tiga ratus enam puluh itu sama aja balik lagi. *Well, skipthis*

Gila ya, beberapa waktu lalu gw abis makan roti yang sampe detik ini gw masih bingung apa nama roti itu. Bentuknya brownies, tapi waktu dimakan, rasanya wajik. Sintingnya, rotinya beraroma wingko babat (recomendation: google it!)

Dan kemarin, gw abis aja jajan resoles di kantin sekolah gw. Lo tau bagaimana cara gw mendeskripsikan resoles ‘sesuatu’ itu?

Sangat absurd.

Kemarin gw melahap habis resoles rasa tahu, beraroma lumpia, berisi salad.

Satu pertanyaan gw,

Yang nggak waras itu penjualnya, atau memang ada kesalahan lagi dalam organ tubuh gw????

 

Galau,

C-TWD ^^V