Someday~

Jangan tanya kenapa judulnya ‘Someday’ karena aku sendiri juga nggak ngerti kenapa aku ngasih judul itu. Masa iya aku nge-post nggak ada judulnya? hahaha.

Now let you guess who was that man…

Enjoy~

Kona Beans, 3:15 PM

One not—really—fine spring day…

Seperti suatu keajaiban, hari ini pengunjung tidak sampai membludak, seperti saat aku melakukan shift-ku untuk bekerja part time di sini. Padahal ini hampir weekend, tapi sepertinya banyak orang yang masih terjebak dalam kubangan-kubangan proyek kantornya atau apalah itu, mengingat hari ini juga tanggal tua.

Mengerti maksudku, bukan?

Kebiasaan di Korea, atau mungkin hampir di seluruh negera metropolis, enterpreneurship dalam lingkup formal—such as pekerja kantoran yang mengejar target, harus bekerja jauh lebih ekstra di akhir bulan.

Kecuali dia bosnya, yang bisa ongkang-ongkang kaki di tengah kegetiran para pekerjanya yang sudah hampir sinting dengan target yang ia berikan atau kau dipecat!

Atau dia adalah pekerja seni seperti aku, Siwon, dan Kyuhyun.

Sebenarnya hari ini adalah shift Kyuhyun. Tapi berhubung kami-kami ini sedang tidak ada kerjaan—break setelah SS4 Osaka, jadinya kami ikut saja.

Sekalian memanfaatkan ‘mumpung gratis’ atau jika boleh kuperhalus, ‘pasti dapat diskon’ karena Kona Beans adalah milik pribadi. Hahaha…

ab

Kalau aku dan Kyuhyun yang single-player ini luntang-luntung tidak jelas dengan kedok pekerja part time Kona Beans, bagaimana alibi seorang Choi Siwon?

Di hari yang secerah ini, meski sisa-sisa hawa dingin winter masih tertinggal, yang ia sambangi justru Espresso pahit yang tidak terlalu populer di Kona Beans, bukan Huang Sae Ra, kekasihnya yang mungkin sudah ada dua bulan tidak ia temui.

Aku yakin tebakanku 75% benar jika Siwon dan kekasihnya yang fenomenal itu sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kuurungkan niatku untuk memastikan tebakanku dengan menyapa Siwon.

Mengingat aku tidak terlalu dekat dengan Siwon. Nothing serious, tapi memang sejak dulu relasi pertemanan kami hanya sebatas begini-begini saja.

Tapi yang namanya Cho Kyuhyun adalah anak laki-laki dengan segala rasa keingintahuan yang begitu besar. Ia tinggalkan mesin kasir yang masih lengang sejak pengunjung ‘barat’ kami yang terakhir membayar Hazzelnut Coffeenya itu, lalu menghampiri Siwon yang sedang duduk melamun di salah satu sudut dekat jendela.

Kupingnya tersumpal sempurna dengan earphone Doctor Dre hingga Kyuhyun yang sudah memanggilnya berkali-kali sampai harus duduk di hadapannya dulu sambil melambai-lambaikan tangan.

(for your information: earphone Doctor Dre itu earphone yang dikasih ke LMFAO di intro pembukaan MV Party Rock Anthem. Kalo pake earphone itu, udah sampe bener-bener nggak kedengeran apa-apa)

Seolah kehadiran Kyuhyun tidak begitu penting baginya (memang tidak penting,sih) dan keadaannya yang seperti itu memungkinkan seorang Choi Siwon yang terkenal ramah serta friendly untuk mengabaikan maknaenya. Siwon hanya membuang pandangannya ke jendela sambil sedikit mengutak-atik iPhone di tangannya. Mungkin agar sedikit terlihat sibuk, entahlah.

“Tumben tidak menemui Noona, Hyung?”

Kyuhyun memang sudah menganggap Sae Ra sebagai Noonanya sendiri. Siapa sih yang tidak ingin menjadi adik wanita hebat sepertinya? Hahaha… Dan memang pada kenyataannya, jika ‘setan-setan’ imut ini sudah berkumpul, visualisasi hubungan kakak—adik—yang—tidak—pernah—akur—tapi—saling—merindu tidak terelakkan lagi.

Kuakui, mengambil hati orang adalah speciality yang hanya dimiliki kekasih Choi Siwon.  Everbody loves her just the way she acts as her own self, and yes I do love her just the way she stole something in my life.

Sesuatu yang tidak pernah berani kuakui. Sesuatu yang sebenarnya tidak rumit, tapi sangat-sangat salah jika melihat pada kenyataan status hubungan Sae Ra dan Siwon adalah sepasang kekasih.

Yes, you should know what this ‘something’ exactly…

Kembali pada Kyuhyun yang semakin penasaran sekaligus semakin jengkel karena Hyungya itu mengacanginya, ia masih tidak menyerah untuk mengorek lebih dalam.

“Hyung aku sedang berbicara denganmu!”

“Ya, aku tau,” jawab Siwon santai sekali dan sepertinya itu sukses membangunkan aura-aura jahat dari diri sang evilmaknae.

Setelah menjawab seperti itu, Siwon kembali berkutat pada acara mendengarkan musiknya dan aku yang duduk tidak jauh dari mereka ini (sejak tadi kami memang ‘sendiri-sendiri’), mendengar Siwon menekankan suatu kalimat dalam bahasa Inggris.

“You’ve been good, busier than ever… We small talk, and work on the weather…”

Ya. Aku mendengar penggalan lagu miris milik Taylor Swift itu mengalun dari bibir Siwon.

Dan aku yakin, hubungan Siwon dan Sae Ra sedang tidak baik. Well, aku memang tidak pernah peduli dengan hubungan cinta orang lain, tapi jika sudah menyangkut tentang wanita bernama Huang Sae Ra, aku tidak bisa.

Aku tidak bisa untuk tidak peduli.

Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri tidak tau. Semakin aku ingin mengabaikan perasaan sinting yang tidak benar dalam diriku ini, semakin besar badainya.

Dan jangan tanya sejak kapan aku seperti ini, yang jelas, aku menyukai Sae Ra sejak Siwon pertama kali membawa ia ke tempat latihan sebagai kekasih barunya.

ab

Semakin membuat hari di musim semi yang akward ini menjadi semakin tidak nyaman, Sae Ra tiba-tiba datang ke Kona Beans dan membeli minuman favoritnya: Caramel Cappuccino tidak dengan gula bubuk tapi pure caramel.

Bertemu dengan kekasih, tentu secercah kebahagiaan terlukis jelas di wajah masing-masing. Namun pelukan mesra serta ‘small talk’ yang mereka lakukan terasa dingin. Aku saja yang tidak ada dalam inner circle hubungan mereka saja bisa merasakan, apalagi mereka yang menjalaninya.

Aku mengakui Siwon adalah calon aktor besar dengan bakat akting yang luar biasa, tapi tidak dengan Sae Ra. Tak kusangka wanita itu bisa bersikap baik-baik saja padahal kenyataannya hubungan cintanya tidak sedang baik-baik saja.

Tak sampai lima belas menit setelah basa-basi yang didominasi topik SS4, Sae Ra pun meninggalkan Kona Beans. Tidak diantar Siwon, karena Sae Ra bilang ia bawa mobil sendiri.

Terang saja ia berbohong.

Pertama, untuk apa ia membawa mobil jika kantornya hanya berjarak 3 gedung dari Kona Beans.

Kedua, ini bukan jam pulang kantor.

Seharusnya, jika aku adalah manusia laknat, atmosfir hubungan mereka saat ini sudah kupandang sebagai sebuah peluang untuk sepenuhnya memiliki wanita lebih dari cantik itu.

Tapi sekali lagi, aku bercermin pada kaca kehidupanku serta lebih dalam menanamkan sugesti. Bahwa aku adalah Kim Jong Woon, bukan Choi Siwon yang sampai mati akan diperjuangkan Huang Sae Ra.

Aku memutuskan untuk bertingkah menyebalkan seperti Kyuhyun di depan Siwon hari ini, menjadi teman yang ingin tau. Aku menghampirinya. “Kalian bertengkar?” tanyaku straightforward.

Mood Siwon yang sudah semakin jelek sejak pertemuannya dengan Sae Ra tadi semakin bertambah jelek, aku sadar akan hal itu. Sambil membuang pandangan matanya,

“Maaf, Hyung. Tapi ini bukan urusanmu,”

Dan pada akhirnya Siwon angkat kaki dari Kona Beans sesaat setelah itu.

ab

Malamnya aku bertukar shift dengan Kyuhyun karena ternyata ia ada acara off air di suatu perhelatan. Tidak di siang hari, tapi Kona Beans justru sangat ramai malam ini. Ditambah ada sajian live music dari band Lee Sungjin, adiknya Sungmin yang sepertinya akan mengikuti jejak sang kakak untuk terjun ke dunia entertainment, sebagai hiburan tambahan, Kona Beans semakin menjadi destinasi pengunjung yang selesai mengantor.

Kira-kira, pukul sebelas malam, aku dan waiter—waitress disini beres-beres untuk tutup. Dan sekitar dua puluh menit kemudian, Kona Beans sudah gelap dan siap untuk ditinggalkan hari ini.

Namun ketika aku hendak mengunci pintu utamanya, seseorang berjaket capphuchon putih membuatku untuk membatalkannya. Dari siluetnya pun aku tau bahwa orang itu adalah Sae Ra.

“Oppa apa kau bisa menyisihkan waktu sebentar untukku?”

Selalu. Lama pun aku bisa.

“tentu saja. Kajja!” dan aku mengajaknya masuk kembali ke Kona Beans.

Ia menolak untuk kubuatkan Caramel Cappuccino kesukaannya dan pada akhirnya kusodori ia segelas air putih.

Diantara kursi-kursi yang telah dibalik di atas meja, kami duduk berhadapan di tengah pencahayaan yang temaram.

“Atmosfir hubungan kami sedang tidak baik,” celetuknya tanpa kutanya sedikitpun sembari mengetuk-ngetukkan jari di meja. Ia tidak menatapku, tidak menatap apapun. Matanya kosong dan wajahnya sendu.

Jangan heran dengan kedekatan kami yang seperti ini. Dunia tau kami adalah kembaran beda genetik bahkan Siwon sendiri mengakui itu. Ketika kami bersama, kami seperti tengah melihat pantulan diri kami di cermin. Hanya jika ingin membuktikan teori ‘manusia di dunia ini tidak ada yang sama’ gender kamilah yang membedakannya.

“Kalian bertengkar?”

Wanita yang menurutku jauh lebih cantik dari malaikat itu hanya menggeleng lemah. Matanya yang cemerlang terlihat lirih. “Komunikasi kami yang buruk.”

Dan tanpa kupinta, ia mulai bercerita,

“Aku senang Siwon yang sama sibuknya sepertiku bisa memiliki waktunya sendiri untuk ke London. Demi Tuhan, tidak ada rasa iri sedikitpun dariku ketika mengetahu ia sedang berlibur di sana, Oppa. Tapi ini semua diluar kendaliku. Kebetulan saja ketika ia pulang aku harus mengurus Svelto di Dubai. Itupun aku hanya dua hari di sana karena Matilda sakit jadi aku dan Giorgio harus segera pulang ke Italia…”

“…dan apa ia pikir aku di Italia lalu pergi ke Hong Kong adalah untuk berlibur? I wish I could, Oppa. I was wishfuly wish it! Bukannya aku tidak mau menghubunginya, tapi waktu untuk diriku sendiri pun aku harus berpikir keras untuk menyisakannya…”

“Waktu di Hong Kong aku juga sempat menghubunginya, tapi masuk ke mailbox. Waktu itu kau bilang kalian sedang persiapan untuk SS4 Osaka, bukan?”

Ada sedikit rasa lega dari ekspresi wajahnya yang menujukkan muka kesal itu. Seandainya Siwon tau bahwa yang Sae Ra butuhkan hanyalah teman yang mau menyimak dengan baik keluh kesalnya, Sae Ra tentu tidak perlu membuat pertemuan denganku tiap kali ia ingin curhat.

That’s why, mengapa terkadang aku dapat sedikit menyombongkan diri dengan mengetahui Sae Ra jauh lebih dalam daripada kekasihnya sendiri.

Terkadang kita boleh bersikap egois, bukan?

Demi meredam segala kekesalannya, Sae Ra meneguk habis air pemberianku hingga tak tersisa. Mungkin jika ia Kyuhyun yang sedang frustasi, ia akan meminta chettau 1890 sebagai pengganti air yang diminumnya.

Sayangnya kesehatan lambung di perutnya itu tidak mengijinkan Sae Ra untuk menegak minuman beralkhohol—Sae Ra’s another little fact.

“Apa yang harus kukatakan pada Siwon?”

Itu yang semakin membuat Sae Ra lebih memilih ‘menguliti’ dirinya sendiri di hadapanku daripada di depan kekasihnya. Aku menawarkan bantuan, berbeda dengan Siwon yang selalu datang dengan rasa simpatiknya yang tiada batas hingga membuat wanita ini begitu memujanya.

Sae Ra kembali menggeleng lemah.

“Apa aku harus mengatakan bahwa kau tidak bermaksud begitu?”

Ia menggeleng lagi. “Dia semestinya sudah tau. Aku yakin itu.”

“Lalu?”

Sae Ra pun hanya mengangkat bahu. Ia menarik nafasnya panjang, sembari sedikit memijit pelipisnya, sangat mirip dengan Siwon ketika tengah memikirkan sesuatu yang rumit.

“I’m gonna face him soon so we could fix it…”

“Great!” Seruku antusias. Tidak terlalu senang dengan hubungan mereka yang tidak penting bagiku, tapi aku cukup senang dengan Sae Ra yang senyumnya cerah kembali.

It’s kinda cheesy, but I like the way she winks her bright smiles. Senyumnya sangat innocent dan percayalah, ketika kau melihatnya tersenyum hingga tertawa, kau seakan bisa ikut merasakan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.

ab

Another day, during a vocal class…

Iphone Siwon berbunyi. Aku yakin itu dari Sae Ra karena pria yang hanya pantas disandingkan dengan Sae Ra itu langsung tersenyum kecil begitu melihat nama yang tertera di layar sentuhnya. Senyum yang belakangan ini mendung, semendung senyum di wajah kekasihnya.

Siwon ijin keluar pada Seongsanim untuk menerima telepon dan beberapa saat kemudian ia kembali lagi. Selepas latihan, mengingat hari sudah malam juga, kami berencana untuk makan malam di salah satu kedai jajjangmyeon. Kyuhyun yang mentraktir, entah ketempelan roh dermawan mana hingga ia tiba-tiba ingin mentraktir hyung-hyungnya padahal jelas-jelas tidak ada sesuatu yang baru saja ia capai.

Namun ketika kami baru saja keluar dari tempat latihan, Siwon mengatakan bahwa ia harus menemui Sae Ra sekarang. So today they gonna fix it? Great!

Baru kira-kira pukul setengah sembilan malam di kedai jajjangmyeon langganan Kyuhyun, ketika kami sedang di asik berebut crabstick di mangkok steam boat—crabstick di kedai ini enak sekali, Siwon kembali bergabung dengan kami.

Dan aku yakin seribu satu persen hubungan mereka sudah membaik. Lihatlah mendung di senyum Siwon yang kini sudah benar-benar hilang, digantikan dengan tawa bahagia yang begitu lepas.

Once they were a destiny, they never be separated. I have to admit that.