Your Calling

Sekali lagi aku menatap horor layar Macbook-ku…

Gowd, sudah hampir satu jam aku memandangi lembar kerja PSD ini dan tak ada kemajuan sedikitpun. Duniaku terasa gelap dan aku membeku. Ya, tubuhku, jiwaku, terutama otakku membeku.

Tak ada satu inspirasipun yang mampir di kepalaku agar aku dapat menyelesaikan tahap coloring sketch desain terbaru Svelto ini.

“Umaaaaaaaaaa….” Erangku sambil menghempaskan tubuh ke sofa dan berharap Umma yang di surga mendengar keluh kesah putrimu yang tengah tersesat di labirin inspirasi ini.

Omona… Apakah ini akhir dari karirku? Dalam pikiranku, bahkan tidak terlintas sedikitpun warna yang tepat untuk scan sketsa kasar satu set dinner table ini.

Continue reading

26

23:05

Kuputuskan untuk keluar malam ini. Aku butuh udara segar untuk melepaskan sejenak penat pada tubuh dan juga pikiranku. Kim Jung Hoon selaku manager, Leeteuk-hyung sebagai leader, dan Donghae sebagai room-matesku, semua sudah mendapat pesan singkat akan kepergianku malam ini. Seharusnya mereka tidak perlu mengkhawatirkanku, karena aku—yang tidak pernah main-main dengan ucapanku, akan kembali sebelum matahari terbit.

23:15

Destinasiku malam ini adalah central park. Sengaja, karena aku tak mau menjadi pria menyedihkan yang meratapi kesendirianku di tengah dinginnya udara Paris pada malam hari.

Kini, menara Eiffel yang legendaris itu berdiri menjulang di hadapanku.

Aku, pria penuh kekosongan hati, yang duduk sendiri di bangku taman dengan begitu dramatis.

23:20

Kumainkan pematik apiku. Tidak, aku masih ingat iklan layanan masyarakat tentang bahaya merokok. Sengaja aku mengantungi pematik api di saku celanaku selain iphone yang sengaja aktif dalam mode hening agar malam dramatisku ini bebas dari interupsi apapun dan siapapun.

23:40

Udara kota Paris semakin membekukan tubuhku. Dan pasangan-pasangan bahagia yang sedari tadi berlalulang di hadapanku seolah mengejek keadaanku ini semakin membuatku merasakan linunya kristal es di bagian terdalam ruang hatiku.

Pematik api ini seharusnya akan cukup menyenangkan jika ditemani oleh beberapa lilin dan birthday cake yang manis. Namun itu semua hanya suatu harapan kosongku yang mungkin baru bisa terealisasi besok.

Tidak untuk malam ini.

23:45

Berulang kali kuambil iphone dari saku celana, lalu kumasukkan lagi. Berharap ada satu nama yang tertera di layar, lalu menghaturkan segenap doa dan harapan dengan lullaby voice-nya yang kurindukan.

23:50

Tahun lalu, pada jam menit dan detik yang sama, aku menunggu sepuluh menit yang mendebarkan bersama dirinya, ditemani satu cupcakes kecil tanpa olesan gula sedikit pun. Aku dan Sae Ra sama-sama tidak suka makanan manis. Sama-sama benci temperatur tinggi, tapi selalu uring-uringan jika suhu menurun di musim dingin.

Dan ada banyak kesamaan diantara kami berdua.

23:55

Aku teringat, Sae Ra adalah tipikal orang yang selalu tidak pernah tenang dalam detik-detik terakhir. Berulang kali ia menutupi lilin-lilin yang ditancapkan di atas cupcakes, memastikan agar apinya tidak padam sebelum ditiup.

23:59

Iphoneku mulai bergetar. Dan aku yakin, satu menit lagi twitter akan overloading dan setelah itu #happybirthdaysiwon adalah trending topic sampai dua atau tiga hari ke depan.

Dan nama wanita yang kini entah sedang apa dan dimana itu masih belum muncul di layar iphone-ku.

Kunyalakan pematik api

24:00

“Sangeil Chulkae-hamnida, Choi Siwon,” ucap sebuah suara dari balik tubuhku dan ketika aku berbalik, aku mendapati seorang Huang Sae Ra dengan satu birthdaycake dengan lilin-lilin menyala berdiri menyambutku dengan senyum termanis yang merekah di bibir indahnya.

 

Fatamorgana

 

24:01

Ya. Semua itu hanyalah ilusi belaka. Semua itu hanyalah harapan kosong yang begitu menggebu, yang merusak sistem kerja otakku hingga aku tak dapat berpikir tentang hal lain.

Aku terlalu banyak menaruh harapan akan kehadirannya di sini, hingga begitu naif-nya berimjanisai bahwa dia akan datang dan merayakan ulangtahun bersamaku lalu memberiku kecupan manisnya malam ini.

Tidak, itu tidak akan dan memang tidak terjadi, Choi Siwon…

Tidak sama sekali.

April 7th 2012

Kehidupan baruku dimulai. Dalam tangis dan perih yang kurasakan, dengan ada atau tidaknya Sae Ra di sisiku, semuanya akan berjalan seiring dengan waktu yang bergulir.

“Sangeil Chulkae Hamnida”

Kuucapkan kalimat itu pada diriku yang beranjak dewasa. Seiring dengan air mata yang mengalir dari pelupuk mata dengan tak rela, aku memanjatkan harapan-harapan yang tentu bertujuan agar semua berjalan lebih baik.

Lebih baik, hingga aku dan Sae Ra mendapatkan satu jawaban terbaik.

Kutiup api yang menyala dari pematik itu

Happy Birthday, Choi Siwon…

Happy Birthday

I shouted it to my self

The Candle melted away

Loneliness fiercely spread

Happy Birthday

The tears also melted

Thank you for everything you gave

Wish me a happy birthday—Jay Chou