Your Calling

Sekali lagi aku menatap horor layar Macbook-ku…

Gowd, sudah hampir satu jam aku memandangi lembar kerja PSD ini dan tak ada kemajuan sedikitpun. Duniaku terasa gelap dan aku membeku. Ya, tubuhku, jiwaku, terutama otakku membeku.

Tak ada satu inspirasipun yang mampir di kepalaku agar aku dapat menyelesaikan tahap coloring sketch desain terbaru Svelto ini.

“Umaaaaaaaaaa….” Erangku sambil menghempaskan tubuh ke sofa dan berharap Umma yang di surga mendengar keluh kesah putrimu yang tengah tersesat di labirin inspirasi ini.

Omona… Apakah ini akhir dari karirku? Dalam pikiranku, bahkan tidak terlintas sedikitpun warna yang tepat untuk scan sketsa kasar satu set dinner table ini.

Omona omona… Aku benar-benar takut jika masa pensiunku telah tiba. “Aniyo Aniyo…”

Tidak. Aku masih terlalu muda untuk mengakhiri apa yang telah kubangun selama ini. Mungkin aku hanya butuh istirahat sebentar. Yahh… Aku harus mengistirahatkan diri sebentar dan kembali lagi nanti.

Jadi, pada akhirnya kumatikan layar macbook keramatku itu lalu meninggalkannya sendirian di ruang kerja ini.

Kuputuskan untuk menyegarkan diri dengan meneguk segelas orange juice kotakan yang dingin dan fresh from the refrigerator.

*light bulb!*

Aha! Kupikir menikmati satu bungkus keripik kentang adalah ide yang bagus. Lagipula aku sedang tidak dalam program diet, jadi… memasukkan sedikit kalori ke dalam tubuh boleh juga, kan?

Tapi pada saat perjalananku menuju lemari penyimpanan makanan yang berada di open kitchen-ku, kekasih baruku yang bernama Nokia Lumia itu—I fiercely left my iphone alone on his buzzlightyear because he asked me to do it—he’s getting dumb by erroring day by day, berdering, sedikit mengejutkanku.

Kulihat nama yang tertera di layar smartphone generasi baru nan cerdas dari Nokia tersebut,

Choi Siwon

Suddenly my cell phone’s blowing up

With your ringtone

I hesitated but answer it anyway

You sound so alone

Seperti penggalan lagu Goodbye dari Miley Cyrus, aku berpikir ratusan kali sebelum pada akhirnya mengangkat telepon darinya itu dan mendengar suara baritone-nya di seberang sana.

“Yeoboseo?”

“Sae Ra-ya…” sapanya dengan memanggil namaku. “Kau masih terjaga sampai selarut ini?”

“Ne,” jawabku. “dan kau juga tak jauh berbeda denganku…”

“Aku baru saja selesai dari acara off air. Sedang dalam perjalanan pulang dan…”

Ia tiba-tiba menahan kalimatnya

“Dan…?”

“…dan tiba-tiba teringat padamu,” ucap Siwon menyelesaikan kalimatnya. “Aku merindukanmu, Huang Sae Ra…”

Jika ia mengatakan alasannya ini padaku tiga bulan lalu, mungkin setidaknya aku akan sedikit tersentuh dan menyunggingkan senyum kebahagiaan setelah begitu lama tidak berkomunikasi dengannya.

Namun kini aku tidak bisa melakukannya. Entah hati atau ego atau gengsiku yang menahanku untuk tidak lepas kendali dan membiarkan diriku tenggelam dalam perhatiannya barusan.

Hening.

Sejujurnya ingin kuungkapkan betapa aku merindukannya saat ini. Namun jika melihat kebelakang, rasanya sangatlah tidak etis jika aku melakukan itu.

“Uhm… Choi Siwon-ssi,” panggilku seformal mungkin. “Sangeil Chulkae Hamnida,” ucapku pada akhirnya. “Mian baru mengatakannya padamu saat ini,”

“Tidak apa-apa. At least kau mengucapkannya padaku. Gamshahamnida.”

“Cheonmanneyo,” balasku dan kemudian, hening menyeruak kembali.

Hanya desah nafasnya di seberang sana yang terdengar jelas di telingaku. Desah nafas yang lelah. Ya, tentu ia lelah dengan pekerjaannya yang seolah 24/7. Atau mungkinkah ia juga merasakan kelelahan yang kurasakan?

Lelah dengan pencarian celah pada dinding es yang membentang di antara kami selama tiga bulan ini?

“Apa kabarmu, Huang Sae Ra?”

Pada akhirnya, Siwonlah yang menyerah dengan keheningan ini.

“Baik,” jawabku. “Kuharap kau juga begitu.”

“Ne,” balasnya dingin. “Kudengar kau baru saja pindah. Benarkah itu?”

“Ne.”

“Dimana?”

“Samseong-dong.”

“I-park?”

“Ne,”

“That’s great,” ucapnya. Kupikir ia akan bereaksi seperti Yesung Oppa, Donghae, Eunhyuk, atau yang lainnya ketika mereka mengetahui aku pindah ke apartemen yang lebih senang mereka sebut sebagai ‘Mansion Termahal’ itu. Padahal aku hanya baru pindah ke I-Park, bukan Traum Haus 5, tempa dimana bos Samsung dan LG bertempatinggal. “Kapan-kapan aku ingin berkunjung, bolehkah?”

“Ne. Tentu saja,” jawabku.

“Gamshahamnida,” ucapnya. “Well, Sae Ra-ya… Kupikir sudah terlalu lama aku mengganggumu malam ini. Istirahatlah…”

“Ne. Gamshahamnida telah menghubungiku,”

“Cheonmanneyo,”

“Goodnight, then. Take care…”

“You too…”

Dan telepon pun terputus. Aku, lebih tepatnya yang memutuskan telepon terlebih dahulu karena tak ingin berlama-lama berenang dalam kebahagiaan semu yang tak terealisasikan.

Dan menjadi tugasku untuk segera merealisasikan secercah kebahgiaan yang mulai menerangi kisah cinta kami yang sedang dinaungi kegelapan.

Segera

Meski aku tidak tau itu kapan.

@svelto_HSR thank’s for calling me tonight. I’m alright. Hope you do the same J

Terima kasih sudah menanyakan kabarku, Choi Siwon. Kutau aku berlebihan dalam menanggapi perhatianmu namun ini semua jujur dari dalam hatiku.

Advertisements

6 thoughts on “Your Calling

  1. annyeooongg~ ^^ choi kuda *eh* siwon bias? muahahaha senangnya ketemu sodara (?)
    ehm, tami imnida, 17 years old. bangapseumnidaa *bow*
    ah, ini ffnya galau T.T
    tapi aku suka, muahaha. bahasanya ngalir, enak dibaca. dan ada ‘senjata’ di beberapa kalimat yang bikin terasa miris sekali ;___;
    btw aku kira ini songficnya secondhand serenade lols.
    good job anyway 😀
    berkelana lagi dah~ annyeong ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s