[Chapter Cry] Now You’re Calling

Sae Ra menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur kingsize-nya setelah selesai menata ulang baju-bajunya yang berserakan. Seminggu ia meninggalkan mansionnya itu untuk urusan bisnisnya di Barcelona, semuanya jadi berantakkan. Hae Rin, asistennya yang sangat patuh itu, tentu tidak punya nyali untuk memasukki princess—private roomnya yang ia sebut sebagai walking closet. Jadi, baju-baju Sae Ra yang masih pending di laundry, hanya ia geletakkan begitu saja di atas ranjang.

Dan baju-baju itu kemudian menjadi tanggung jawab Sae Ra pasca pulang dari Barcelona. Dan jangan lupakan juga, rumah, lantai, jendela, meja, serta seabrek furniture mahal yang berjejer apik dan mulai berdebu itu juga termasuk paket PR Sae Ra juga.

Badannya terasa remuk. Bahu kencang, punggung kaku, dan matanya berat. Ingin rasanya segera melaksanakan ritual hibernasinya, namun insomnia ditambah pekerjaan menuntutnya untuk menunda dulu heavenly time-nya itu.

Sae Ra mengedarkan pandangan ke kamar yang sudah ia tinggalkan selama seminggu itu.

Sepi.

Juga sunyi.

Atmosfir di kamarnya ini terasa sangat kontras dengan kamar di apartemen lamanya sebelum pindah. Mungkin, sekarang kamarnya jauh lebih luas dan elegan, persis seperti yang ia cita-citakan saat sebelum mampu membeli satu mansion mewah di Ipark, namun kamar ini tak jauh lebih buruk dengan sebuah ruang hampa di salah satu sudut hatinya.

Dulu Siwon sering berkunjung ke apartemennya. Menginap di sana. Menghabiskan malam dengan memeluknya, dan meninggalkan semua kenangan-kenangan indah dalam memori Sae Ra di kamar lamanya.

Namun kini tidak lagi.

Semua kebahagiaan dalam waktu kebersamaan mereka itu tertinggal begitu saja di apartemen Sae Ra yang lama. Semuanya.

Sae Ra memejamkan matanya, namun tidak berniat tidur. Mencoba menenggelamkan diri dengan kenangan-kenangan yang manis itu di kepalanya, mengimajinasikan Siwon kini tengah mengkhotbahinya dengan topik ‘pentingnya menjaga kesehatan dan istirahat cukupu’ seperti dulu.

“Aniyo!”

Sae Ra tersentak. Cepat-cepat ia menghentikan imajinasi semunya itu sebelum menggila lebih jauh dan hasil akhirnya ia menangis.

Dan Sae Ra sangat membenci air mata.

Tanpa sengaja pandangannya terhenti pada Nokia Lumia merahnya yang tergeletak tak tersentuh di atas meja. Haruskah? Haruskah ia menelpon pria itu dan mengungkapkan betapa ia merindukan pria itu malam ini?

…bukankah cinta itu tindakan?

Sae Ra teringat kata-kata sendiri.

Dengan segenap keberanian, akhirnya Sae Ra mengambil telepon selular itu, menekan nomor-nomor yang ia hafal di luar kepala, dan menunggu seseorang di sana mengangkatnya.

“…maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan coba beberapa saat lagi—“

Tentu Sae Ra kecewa, namun bukan Sae Ra namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia tekan nomor itu lagi dan menunggu…

“Yeoboseo?”

Seseorang mengangkat teleponnya di seberang sana. Siwon menjawab teleponnya.

“Hey…” ucap Sae Ra kecil, bingung, ingin memulai pembicaraan dari mana.

Tanpa menganalisis nomor asing itu pun Siwon tentu tau bahwa Sae Ra lah yang menelponnya. Suara wanita itu terlalu susah untuk dilupakan begitu saja. “Kau menelponku?”

“Ne,” jawab Sae Ra dingin. Di wajahnya, tersungging sebuah seyum simpul tanda kebahagiaan yang tak terbatas. “Kau sedang apa?”

“Aku baru saja pulang dari acara off air. Baru sampai rumah…” Siwon memaparkannya dengan sangat gembira. Wanitanya itu menanyakan apa yang ia lakukan, merupakan suatu peristiwa langka yang tak boleh disia-siakan. “…so how’s life going?”

“It’s great, thank you. Kau sendiri?”

Worse since you leave me alone…

“It’s fine! Thank you…” ucap Siwon dan tentu saja ia berbohong.

“That’s great…” seru Sae Ra dengan suara nyaris berbisik. “…Ku dengar tanganmu terluka?”

Dalam hati Siwon sungguh ingin melonjak kegirangan saat ini. Sae Ra menanyakan kabarnya, tanda bahwa wanita itu masih peduli padanya. “Ya, begitulah. Tapi untungnya sudah agak membaik…” ia mencoba mengontrol emosinya dan bersikap tenang.

“Kau seharusnya lebih berhati-hati…”

“Ne,” ucap Siwon. “Gamshahamnida…” Cukup bahagia dengan hanya mendengar suara wanita itu, meski lewat telepon, membuat Siwon kehabisan pertanyaan untuk menahannya berbicara lebih lama lagi. “Kau sedang apa?” Tanya Siwon pada akhirnya.

“Baru saja selesai mebersihkan rumah. Lalu mempersiapkan materi untuk rapat besok,” paparnya sesuai apa yang diharapkan Siwon. “Jangan memaksakan diri!” potong Siwon langsung.

Sae Ra terdiam.

Seperti dulu, saat Siwon masih sering memergokinya lembur, berkutat dengan macbook-air sampai subuh, kemudian pergi beristirahat hanya bebera jam… Pria itu sudah siap dengan segudang khotbahnya mengenai pentingnya menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup.

Hal yang Sae Ra benci sekaligus ia rindukan.

“Jika kau lelah, beristirahatlah… Nanti jika kau sakit lalu pingsan, siapa yang akan membantumu?” entah benar atau tidak, suara Siwon terdengar sedikit bergetar di seberang sana. Lirih. “…tak akan ada yang merawatmu seperti dulu…”

Sae Ra teringat kembali, ketika dulu ia sempat pingsan dan untungnya Siwon ada di situ. Pria itu mendapatinya demam, dan dengan segala cintanya, pria itu merawat Sae Ra seperti sebagian dari hidupnya. Mengompres. Membuatkan makan. Memanggilkan dokter. Hingga berjaga semalamam, kalau-kalau Sae Ra membutuhkan sesuatu.

Pria itu menyayanginya lebih dari apapun. Takut kehilangan dirinya.

Dan disana pria itu justru perlahan mulai hancur karena keegoisannya. Karena ketidakpeduliannya.

“Kau menangis?” Tanya Sae Ra pada akhirnya. Tentu itu sama sekali bukan reaksi yang diharapkan Siwon.

“Aku merindukanmu,” jawab Siwon pasrah. Ia menyerah. Nyatanya dirinya tak sedingin wanita di seberang sana yang masih gemar membekukan perasaannya meski hatinya telah meronta-ronta akan kerinduan yang sama.

“…….”

“Aku membayangkan, saat ini kau benar-benar ada di hadapanku, berbicara denganku, lalu memelukku seperti dulu…”

“……”

“Apa kita tidak bisa kembali bersama, Sae Ra-ya?”

Wanita itu tetap diam.

“Apakah sebegitu inginnya kau meninggalkanku?”

Dan pada akhirnya wanita itu berketa, mengelak lebih tepatnya. “Hanya wanita bodoh yang tidak ingin hidup bersamamu, Choi Siwon…”

“Lalu apakah kau akan tetap meninggalkanku?”

Sae Ra terdiam. Ia mengakui dirinya telah bertindak sangat-sangat bodoh selama ini. Meninggalkan pria itu. Menggantungkan bahkan cenderung mempermainkan perasaan serta cinta pria yang masih tetap setia mengharapkan dirinya itu.

Lalu sekarang siapa yang bodoh dalam permasalahan ini?

“Aku tidak tau…” jawab Sae Ra, lagi-lagi mengecewakan seorang Choi Siwon. Tiap kali Sae Ra mengatakan tidak tau, maka itu artinya pria itu harus kembali menunggu. Menunggu wanita itu membuka hatinya kembali.

“Fine, Huang Sae Ra. Aku minta maaf. Maaf karena selama ini—“

“Jangan meminta maaf!”

Dan tiap kali Choi Siwon meminta maaf, maka itu artinya wanita itu harus kembali menyudutkan dirinya, seolah-olah memang dia lah yang paling bersalah dengan semua tindakannya.

“…Aku hanya belum bisa memberimu yang lebih baik, Choi Siwon. Aku…” kata-katanya terhenti. Tanpa Siwon sadari, wanita itu ternyata juga tengah menahan tangisnya di seberang sana. “…aku takut mengecewakanmu lagi dan lagi.”

Air mata keduanya menetes, tanpa sepengetahuan masing-masing. “Tak perlu menjadi lebih baik, kau di sisiku saja, itu sudah cukup…” ucap Siwon lirih.

“aku benar-benar tidak tau, Choi Siwon…” Sae Ra menyeka air mata. Dengan satu tarikan nafas, ia memutuskan untuk mengakhiri semua ini. “Mian, kurasa ini sudah terlalu malam. Aku harus beristirahat. Kau tidak mau aku sakit, bukan? Jadi…” nafas wanita itu hampir tersengal. “Jadi… terima kasih sudah menerima teleponku… Gamshahamnida…”

“Cheonmaneyo,” ucap Siwon dingin.

“Selamat malam…”

Dan sambungan telepon pun terputus.

Sae Ra mulai memejamkan matanya, meski air matanya belum berhenti mengalir. Begitu juga dengan Siwon di seberang sana. Mencoba mengakhiri hari ini dengan renungan di alam mimpi, semoga esok ada secercah harapan untuk membuat hubungan ini menjadi lebih baik.

“Goodnight, Sae Ra-ya… Have a nice dream…” bisik Choi Siwon,

seperti dulu ketika masih mendekap wanita itu dalam pelukannya yang hangat.

Yang sangat dirindukan Sae Ra…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s