Change

TING… TONG…

Bel berbunyi pada pukul setengah dua belas malam tepat di hari Rabu. Sudah bukan hal aneh lagi jika Siwon pasti tengah menunggu di depan pintu apartemen kekasihnya yang mungkin baru saja sampai di rumah setelah menyelesaikan meeting mingguan dengan karyawan Sveltonya.

Hari Rabu ibarat weekend bagi seorang Choi Siwon, namun bagi kekasihnya, Sae Ra, hari Rabu adalah puncak kesibukan dalam grafik kehidupannya sebagai seorang direktur.

Kontras?

Namun justru di hari inilah wanita itu bisa dengan bebas bergelung dalam dekapan kekasihnya yang sudah pasti akan menginap setiap bertamu itu.

“Baru pulang?” tanya Siwon ketika kekasihnya itu membukakan pintu baginya alih-alih menyapa. “Sudah sejak satu jam lalu,” jawab sang kekasih singkat dan apa adanya.

Jangan kaget jika wanita itu terkesan dingin. Bukan berarti marah, ada satu sifat tersendiri yang membuat wanita itu justru berubah menjadi gunung es ketika berhadapan dengan kekasihnya.

“Bogoshipo,” bisik Siwon, ketika pria itu sudah masuk dan menarik Sae Ra ke dalam pelukannya, seperti apa yang biasa ia lakukan. Somehow, Sae Ra bergidik. Itu hal biasa, pikirnya. Namun ketika Siwon berbisik di telinganya dengan hembusan nafas yang sengaja,

Itu bukan hal biasa.

Sae Ra mengerjap, menarik tubuhnya sedikit agar ia dapat memastikan apakah kekasihnya ini terlalu lelah hingga bisikannya terdengar begitu lirih. Sedikit pucat, batin Sae Ra ketika ia menatap wajah kekasihnya dengan jarak yang begitu dekat.

Darahnya berdesir saat pandangan mereka bertemu. Tidak biasa-biasanya Sae Ra menjadi seperti ini. Yang ia rasakan ketika matanya bertemu dengan sepasang mata coklat nan teduh itu adalah kenyamanan, bukan rasa dag dig dug seperti remaja picisan.

Pria itu menatapnya dengan tatapan ambigu. Antara membaca seperti seorang mind reader atau tengah mengagumi garis wajah sang kekasih yang semakin hari terlihat semakin mempesona… Siwon menelusuri apa yang ada di wajah Sae Ra satu per satu hingga tatapannya kini berhenti di kissable lips-nya yang merah seperti buah berry yang ranum.

Lalu pria itu menciumnya. Dalam. Dan penuh hasrat, hingga membuat Sae Ra seakan tak bisa merasakan kakinya menapak lantai. Ada yang berbeda dengan ciuman pria ini. Manis, tentu saja. Namun caranya menuju ciuman ini yang dirasa berbeda oleh Sae Ra.

Passionate?

Mungkin bisa dibilang begitu.

Bukan Sae Ra namanya jika tidak dapat mengimbangi seorang Choi Siwon. Wanita itu kemudian membelai wajah Siwon dengan telapak tangannya yang lembut dan dengan begitu manis mengakhiri ciuman mereka terlebih dahulu. “Kau pasti lelah, mau kubuatkan minum?”

“my pleasure,” jawab Siwon kemudian mengirimkan kecupannya lagi pada bibir Sae Ra secara singkat. “Thank you,”

“No worries,”

Kemudian wanita itu melepaskan dirinya dari rengkuhan pria yang begitu dicintainya itu.

“So how’s life going?” tanya Sae Ra saat ia datang dengan segelas susu cokelat hangat yang sebenarnya Siwon tak terlalu suka mengingat pria itu adalah seorang coffee addict dan harapannya besar sekali jika Sae Ra berkenan membuatkannya kopi Irlandia tanpa ceramah tentang bahaya mengkonsumsi kopi sebelum tidur setelahnya.

“as busy as you,” jawabnya yang kini tengah duduk di loveseat empuk milik Sae Ra seperti seorang bos. Setelah memberikan minuman hangat buatannya, Sae Ra pun turut duduk di sampingnya dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda karena kedatangan Siwon,

Menjahit saku celana pria itu.

“Lain kali jika berkunjung ke sini tidak usah bawa uang banyak-banyak, ya. Sepertinya, semakin hari dompetmu semakin tebal saja hingga saku celanamu saja bahkan tidak sanggup menampungnya,” celetuk Sae Ra menyindir diikuti dengan senyum kecil dari pria yang tengah menyeruput susu cokelat hangatnya itu.

“Itu bukti bahwa aku sudah cukup mampu untuk melamarmu,” jawab pria itu seenaknya. Setelah meletakkan minumannya di meja, pria itu lalu mendekati Sae Ra hingga Sae Ra dapat merasakah hidung pria itu menyentuh daun telinganya. “Mau menikah?”

Mata Sae Ra hampir saja meloncar keluar jika ia tidak dapat mengendalikan diri. Sejujurnya ia selalu senang dan berdebar-debar setiap pria itu membicarakan pernikahan dengannya, namun ia tidak mau terlalu muluk-muluk. Ia cukup nyaman dengan keseriusan hubungan mereka selama ini dan memang belum ada planning untuk menuju ke jenjang pernikahan.

“Tentu saja,” jawabnya. Ketika wanita itu kembali menghentikan aktivitas menjahitnya dan berpaling menatap wajah Siwon yang berjarak tidak lebih dari satu centi darinya itu, Sae Ra mendapati Siwon begitu sumringah dengan tanggapannya. Pria itu tersenyum gembira karena pada akhirnya Sae Ra bereaksi mengenai pembicaraan ini, mengingat Sae Ra selalu mengalihkan pada topik lain jika ia sudah  mulai memancing ke percakapan seperti pernikahan.

“Tapi tidak sekarang,”

Somehow, Siwon yang tadi sudah mulai melayang ke awang-awang setelah mendengar lampu hijau dari Sae Ra itu, seakan jatuh ke dasar bumi saat Sae Ra mengatakan demikian. Menurutnya, ia sudah cukup siap lahir batin untuk menikah saat ini, namun ternyata pemikirannya tidak sejalan dengan kekasihnya itu.

Siwon bukanlah pria yang mau menerima apa adanya untuk urusan seperti ini. Maka, kepada Sae Ra ia bertanya lagi “Apa aku harus menunggu lebih lama lagi, Huang Sae Ra?”

Raut wajah Sae Ra berubah seketika hingga membuat Siwon menyadari bahwa ia tidak seharusnya mempertanyakan kesungguhan wanita itu secara tidak langsung dengan bertanya seperti itu.

Sae Ra pernah menjajikan timing untuk membicarakan pernikahan kepadanya jika dirasa sudah siap. Dan Siwon juga cukup paham bahwa wanita itu tidak suka diremehkan mengingat wanita itu selalu menepati janjinya.

Namun apa daya, Siwon terpeleset begitu saja ketika ia terlampau bahagia saat mengetahui inilah timing yang dijanjikan Sae Ra mengenai pernikahan.

Dan Siwon menghancurkannya seketika.

“m-mianhae,” bisik Siwon pelan, nyaris tak terdengar.

“No worries,”

Siwon pikir wanita itu akan marah, namun kenyataan bahwa wanita itu kini kembali membelai pipinya disertai dengan senyumnya yang indah seolah tidak terjadi apa-apa, itu membuat Siwon tenang.

Siwon meraih tangan Sae Ra di pipinya itu. Merasakan kelembutannya, kemudian mencium telapak tangannya. “gomawo,” ucapnya dengan dibalas seulas senyum penuh pengertian dari Sae Ra.

Kembali Sae Ra melanjutkan aktivitas menjahitnya yang tak kunjung selesai.

Ia pikir kekasihnya yang terdiam itu kini sedang mencuri-curi untuk tidur namun ternyata salah. Sejak ia kembali menyulam lubang di saku celana panjang Siwon, pria itu tak henti-henti menatapnya dalam jarak yang begitu dekat.

Sedikit risih, tentu saja.

Tidak biasa-biasanya Siwon seperti itu. Sempat terlintas satu kesimpulan pada otak Sae Ra bahwa hari ini Siwon lebih mirip dengan seorang pervert ketimbang seorang pria yang merindukan kekasihnya.

“Siwon,” panggil Sae Ra tanpa berani melihat ke arahnya. Ia terus berusaha untuk berkonsentrasi menjahit.

“Ya?”

“Berhentilah menatapku seperti itu. Kau…” Sae Ra merasakan jantungnya berdetak dengan tidak normal. Ia terlalu gugup. “Kau seperti seorang…Pervert

Bukannya terkejut atau merasa tersindir, Siwon justru mendorong tubuhnya agar menjadi lebih dekat pada Sae Ra. Dan kini, hidung bangir pria itu kembali menyentuh daun telinga Sae Ra. Ditambah lagi, pria itu kini juga menyibakkan rambut panjang Sae Ra yang terurai hingga Sae Ra dapat merasakan dengan jelas deru nafas pria itu di telinganya. “Benarkah?”

Sae Ra tercekat. Pria ini benar-benar sedang kerasukan setan mesum sekelas Lee Hyukjae atau sebagai seorang pria dewasa, Siwon sedang merasakan gejolak libido yang tak terkontrol?

“Jangan coba-coba menggodaku, Si—auw!”  Jemari Sae Ra sukses tertusuk jarum. “See?! Kau membuatku terluka!”

Baru saja Sae Ra hendak berdiri dan mengambil obat merah di kotak P3K-nya, Siwon mencegahnya hingga ia tidak jadi berdiri. “Biar aku yang mengobati.”

Awalnya, pria itu memeriksan jari telunjuk Sae Ra yang berdarah. Tidak terlalu parah, hanya luka kecil. Dan entah bagaimana perlahan-lahan pria itu justru mengarahkan jari Sae Ra menuju mulutnya, kemudian berniat menghisap darah yang mengalir sebelum pada akhirnya Sae Ra menarik tangannya terlebih dahulu. “Aku masih mampu untuk mengobati jariku sendiri”

Secepat mungkin Sae Ra beranjak dari situ menuju ke tempat penyimpanan kotak P3Knya. Bisa gila dia jika terus belama-lama dengan Siwon yang sedang dalam keadaan ‘berbahaya’ seperti ini. Bisa-bisa jantungnya benar-benar mencuat keluar atau dia sendiri yang akan membuat Siwon berbuat ‘lebih’ kepadanya.

Untuk beberapa saat Sae Ra mencoba menenangkan diri sembari menempelkan plester antiseptik pada jari tangannya yang terluka. Ia mencoba mengatur jantungnya untuk berdetak lebih normal, juga mengatur emosinya yang tidak karuan. Oh, ayolah, wanita mana yang tidak terpancing jika dirayu dengan cara seperti tadi, apalagi yang merayumu itu adalah seorang Choi Siwon. Sedingin-dinginnya Sae Ra, ia tetap wanita biasa yang kadang juga tergoda untuk berimajinasi dengan liar mengenai kekasihnya itu.

Calm down…

Relax…

Everything will be okay…

Berulang kali Sae Ra menanamkan sugesti pada dirinya itu. Setelah ia merasa cukup tenang dan cukup siap untuk segala kemungkinan terburuk, Sae Ra kembali menghampiri Siwon yang masih duduk di sofa loveseat miliknya dengan gaya like-a-bos.

Sae Ra datang tanpa berkata apa-apa pada Siwon lalu segera membereskan celana panjang milik Siwon yang sakunya tak kunjung dibenahi itu.

“Apa itu sudah selesai?” tanya Siwon yang bingung ketika melihat Sae Ra membereskan peralatan jahitnya serta melipat celana panjang itu. “Besok akan kulanjutkan lagi. Ini sudah malam, dan mataku sudah mulai buram,” jawab Sae Ra senormal mungkin. “Oke, baiklah.”

Sae Ra berjalan menuju kamar. Ia pikir pria itu akan mengikutinya, namun ternyata tidak. Siwon tetap duduk tak bergeming di sofa loveseat yang empuk itu sambil sesekali menyeruput susu coklatnya yang tak kunjung habis. Baguslah, pikir Sae Ra. Ia tidak tau apa yang akan terjadi jika ia mengajak pria itu untuk tidur saat ini.

Tak berapa lama, Sae Ra kembali pada Siwon yang kini setengah memejamkan matanya. Sae Ra tau pria itu lelah, terlepas dari kelakuan anehnya hari ini. Seperti seorang kekasih yang penuh perhatian, Sae Ra duduk di samping Siwon dan menyusup ke pelukan pria itu.

Siwon terjaga.

“Siwonnie…” panggil Sae Ra dengan angelic voice-nya sembari merebahkan kepalanya di pundak Siwon. Tangannya yang lembut membelai dada Siwon dan tanpa Siwon pikir sebelumnya, perlahan Sae Ra membuka satu kancing teratas kemeja yang ia kenakan. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

Bisa dibilang wanita itu menatap Siwon dengan mimik yang seduktif. Tapi entah kenapa, Siwon justru tidak bisa menyimpulkan seperti itu. Baginya, ada tujuan lain dibalik tatapan, senyuman, serta perilaku dari Sae Ra itu dibanding hanya sekedar untuk menggoda.

“Y-ya, tentu saja.”

“Apa Paris benar-benar berpengaruh padamu?”

“Maksudmu?”

“Apa…” entah bagaimana Sae Ra kini beranjak menaiki Siwon dan pada akhirnya duduk di pangkuan pria itu. Wajahnya terlalu dekat hingga kini Siwonlah yang mulai berdebar hingga tak mampu berkata-kata. “Karl Lagerfeld mengajarimu untuk berbuat seperti ini?”

Tatapan mereka bertemu. Menurut Siwon, Sae Ra yang kini berada di atas tubuhnya ini terlalu seksi, namun terlepas dari semua itu, Sae Ra sepertinya sedang menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap perubahan perilakunya.

Sejenak Siwon mencoba menguasai dirinya sebelum ia berbuat lebih gila dari Sae Ra dengan menghemapskan tubuh wanita itu ke samping lalu mengakanginya kemudian berbuat sesuai nalurinya. Namun rasa sayang Siwon yang teramat besar untuk tidak melakukan ‘hubungan itu’ dengan Sae Ra saat ini, mendorongnya untuk lebih memilih melingkarkan tangannya pada pinggang Sae Ra dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang seperti yang biasa ia lakukan. “I’m just too missing you, Darling…”

“really?” Sae Ra masih setengah tidak percaya dengan alasan Siwon yang—katanya—terlalu merindukannya itu.

“How can I proof it that I do really missing you?”

Sae Ra berpikir sejenak. Jujur ia senang dengan Siwon yang bersikap ‘agak dewasa’ seperti ini. Come on, tidak selamanya mereka akan stuck dalam chemistry yang itu-itu saja tanpa adanya perubahan. Faktanya, manusia berubah. Lalu, apa dalam hubungan percintaan juga tidak boleh berubah? Terkadang, dalam suatu jalinan asmara butuh sedikit shocking therapy, bukan, agar terasa lebih dinamis dan tidak membosankan?

“Just… Just keep being like this.”

“Kau merasa nyaman?”

“Yes, sure,” jawab Sae Ra lantang. “Asal kau bisa mengendalikan diri.”

Tanpa Sae Ra sadari kini Siwon meraih salah satu tangan Sae Ra dan mengecup punggung tangan itu layaknya seorang pangeran yang menyambut Cinderella. “You may trust me, Princess. Do me whatever you want when I’m fail”

Sae Ra mengangguk. Kemudian menyunggingkan senyumnya yang selalu terlihat menawan di mata Siwon. Juga tatapan mata dengan penuh kepercayaan itu, Siwon bersumpah untuk menjaganya agar kepercayaan itu tidak akan pernah hilang.

“wanna sleep?” tanya Sae Ra menawarkan.

“Kajja,”

Itu tanda bahwa Siwon menyetujui.

Sae Ra segera turun dari tubuh Siwon dan segala berjalan menuju kamarnya diikuti Siwon di belakangnya.

Tapi, sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam kamar Sae Ra…

“ngg… Siwon,” panggil Sae Ra hingga membuat Siwon berhenti. “Bersumpalah kau tidak akan mencoba untuk menghamiliku malam ini.”

Siwon yang sebelumnya cengo dengan pernyataan Sae Ra itu akhirnya hanya bisa tersenyum lalu menggoda Sae Ra. “Aku tidak mau,”

“Mwo?”

“Kau harus mengandung putraku,” ucap Siwon dan Sae Ra pun segera menghindar dari kekasihnya itu namun telat.

Siwon terlanjur menghimpitnya ke tembok di sebelah pintu kamar tidurnya hingga Sae Ra tak bisa bergerak. “Aku akan menghamilimu”

Sae Ra berteriak sejadi-jadinya, berharap ada tetangga yang mendengar dan menyelamatkannya dari pria yang sedang berusaha menidurinya ini, namun ia lupa bahwa apartemennya ini dilengkapi peredam suara.

“KYAAAA… SIAPAPUN TOLOOOONGGGG AKUUUUUUU!!!”

“Bwahahaha…”

Entah bagaimana, Siwon justru tertawa sejadi-jadinya setelah melepaskan himpitannya pada Sae Ra. “Mukamu yang ketakutan itu lucu sekali… Gyahahaha….”

Sae Ra geram.

“Auw!”

Sae Ra memukul lalu mencubit lengan Siwon keras sampai-sampai pria itu mengaduh kesakitan. Piece of secret, meski tidak sampai memegang sabuk hitam, tapi Sae Ra pernah belajar beberapa kelas bela diri seperti Tae Kwon Do dan sewaktu masih di China dulu, ia pernah masuk kelas Wu Shu. Jadi jangan pernah meragukan kekuatannya.

“Astaga… Aku kan hanya bercanda…”

“Bercandamu sama sekali tidak lucu, Choi Siwon”

Dan dengan secepat kilat Sae Ra masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, sementara Siwon ditinggalkan begitu saja di luar.

“Aigoo Sae Ra-ya… Aku pasti akan menghamilimu… Tapi itu nanti, setelah kau menjadi istriku…”

Tidak ada jawaban.

“Huang Sae Ra… maafkan aku….”

Masih tidak ada jawaban.

Siwon masih tetap berdiri di depan pintu kamar kekasihnya itu sampai pada akhirnya pintu kamar itu terbuka kembali.

“Sae Ra, ma—“

“Kumaafkan. Dan jangan tanya lagi, aku percaya padamu. Tapi maaf, aku ingin tidur sendiri malam ini,” tanpa memberi Siwon kesempatan untuk berbicara lagi, Sae Ra melemparkan beberapa bantal pada Siwon. “Selamat malam. Love you, Darling!”

Dan pintu kamar itu terkunci lagi.

Siwon ternganga dan pada akhirnya ia hanya bisa pasrah. Bantal-bantal pemberian Sae Ra itu ia tata sedemikian rupa hingga dirasa pas, lalu ia segera merebahkan tubuhnya di sofa yang lumayan besar itu.

Jangan mencoba bermain-main dengan seorang Huang Sae Ra. Sekali kau mencoba mempermainkannya, maka kaulah yang akan dipermainkan

-Choi Siwon-

Advertisements

6 thoughts on “Change

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s