HER SENSATIONS -The Past-

Bertahun-tahun kau mendiamkanku. Kubawakan seikat bunga kesukaanmu pun kau tak menggubrisku. Kau pergi tanpa penjelasan.

Mengapa kau lakukan itu, Sayang?

Apakah ini balasan atas semua kesalahanku?

Mengapa kau tak memberiku sedikit waktu untuk memperbaiki semuanya, Sayang?

-The Past is The Past-

-Choi Siwon-

Aku sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri pada keheningan ini. Menangisi kepergiannya dalam tangis tanpa air mata, memeluk pusaranya karena hanya itulah bagian dari dirinya yang bisa kukenang sampai waktuku tiba nanti.

Suatu saat aku akan menyusulnya, itu pasti.

Dua tahun yang lalu, karena keegoisanku aku meninggalkannya, memutuskannya, dan menyalahkannya, seolah perpisahan ini terjadi karena dirinya. Padahal kami sama-sama baru memulai tahun pertama kami sebagai mahasiswa baru dan itu artinya, tahun-tahun tersibuk yang menyita seluruh waktu yang kami miliki.

Dan aku menutup mata untuk semua itu.

Keegoisanku memintanya untuk selalu bisa menelponku, untuk selalu bisa menghabiskan akhir pekan bersamaku, dan untuk selalu bisa berkencan dengan intensitas seperti saat SMA.

Saat itu aku tidak tau bahwa aku telah bertindak begitu possessive, dan sikapku itu membuatnya lelah hingga pada akhirnya aku sendiri yang memutuskan hubungan cinta dengannya ini berakhir.

Aku memulai hidupku yang baru dan ia pun begitu. Aku mulai merintis karirku sebagai seorang entertainer jebolan sebuah agensi ternama SM, hingga pada akhirnya aku memulai debutku bersama Superjunior dan menjadi seperti sekarang ini.

Namun pada saat aku menandatangani kontrak rekaman pertamaku, aku mendapat berita bahwa mantan kekasihku itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat kanker yang dideritanya.

Aku tidak tau jika Cherry telah mengidap kanker sejak lama, bahkan jauh sebelum bersamaku. Mungkin karena keceriaannya lah yang membuatnya terlihat begitu sehat, bahkan ia tak pernah mengeluh apapun padaku tentang penyakitnya itu.

Kudengar, ia sendiri bahkan tidak tau bahwa ia sudah lama mengidap kanker. Baru beberapa bulan menjelang kematiannya lah, ia merasakan kesakitan yang luar biasa di dalam kepalanya.

Aku datang di pemakamannya. Aku menyaksikan sendiri peti berisikan tubuh yang terbujur kaku itu dikebumikan ke dalam tanah. Semua yang hadir menangis. Kedua orang tuanya menangis histeris, teman-temannya sewaktu SMA yang berarti juga teman-temanku juga, menangis tak ikhlas. Dan beberapa orang yang tidak kukenal juga turut menitikan air mata.

Tidak ada seorang pun yang mengingankan gadis ceria itu pergi di usia semuda ini. Kecuali aku, yang memang menginginkannya pergi dari hidupku saat kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya waktu itu. Tapi itu tidak berarti aku ingin Cherry mati.

Dan aku merasa akulah orang yang paling berdosa padanya karena saat aku melihat perlahan-lahan peti matinya ditutupi tanah, aku sedang menjalin hubungan dengan gadis lain yang bahkan tidak kucintai sepenuh hati.

Bagaimanapun, Cherry adalah cinta pertamaku. Dan ketika aku jatuh cinta, aku tidak akan mudah melupakannya. Maka, kehadiran Stella—gadis lain itu—memang telah memberikan nafas baru dalam kehidupanku, namun ia tak akan pernah bisa menyingkirkan kedudukan Cherry di dalam hatiku.

Hari ini, tanggal 17 Januari, tepat dua tahun sejak Cherry beristirahat dengan tenang di alamnya yang lain, aku tetap mencintainya. Kubawakan seikat bunga kesukaannya, dan kuletakkan di atas pusaranya, berharap ia mungkin saja dapat menghirup wangi bunga-bunga ini dari dunianya yang jauh di sana.

Lalu aku merogoh saku coat musim dinginku, kuraih telepon selularku, dan menekan digit-digit nomor yang kuhafal selama beberapa bulan ini. Kutunggu beberapa lama, hingga akhirnya suara Stella terdengar dari seberang sana.

“Stella, kurasa kita tidak bisa bersama lagi…”

“…………………………..”

“Aku tidak mau kau tersakiti nantinya, maka dari itu lebih baik kita akhiri semua ini”

“…………………………..”

“Ne. Ada wanita lain yang kucintai,” dan tak akan pernah bisa kulupakan begitu saja

“……………………………”

“Mian, Stella. Semoga kau menemukan pria yang mencintaimu sepenuh hati…”

Dan kuijinkan Stella membenciku mulai detik ini. Lebih baik ia membenciku daripada ia yang tersakiti jika ia tau bahwa aku mencintainya hanya setengah hati.

Benar aku masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu, namun aku bahagia hidup di dalamnya. Aku bahagia mengenang setiap senyuman yang Cherry berikan, setiap kata yang Cherry sampaikan.

Dan sampai kapan aku akan terus seperti ini?

Entahlah

To Be Continued…

Advertisements

9 thoughts on “HER SENSATIONS -The Past-

  1. Ihhh siwon nyebelin ah. Labil. Dulunya dia yang mutusin siwon eh tiba cherry tiada, baru deh nyesel.
    Memang, kita akan menyadari seseorang itu penting jika kita kehilangan orang itu.
    Stella udah bubar….selanjutnya pasti ada dong? Aku harap siwon bisa move on. Jgn terlalu larut sama kesedihan. Kasihan sama kaum hawa bang, tu muka ganteng tapi gak sampe ke pelaminan juga hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s