Spring

Spring has to be a wonderful season.

See all those beautiful blossom flowers…

Watch a thousand butterflies with their young wings…

Listen to the song of cicada

Start a new beginning…

By ending an old love story…

 

Seharusnya musim semi menjadi nafas baru bagi kisah cinta Cherry dan Siwon setelah apa yang mereka lewati pada ketiga musim sebelumnya.

 

Kesalahpahaman yang disebabkan oleh ego Siwon yang selalu menganggap Kyuhyun sebagai jarak pemisah antara dirinya dengan Cherry,

 

Juga kenaifan Cherry yang selalu percaya pada filosofi air mengalir— membiarkan masalah berakhir seiring dengan berjalannya waktu.

 

Sayangnya masalah bukanlah air yang bisa mengikis batu karang atau memecahkan batu penghalang. Masalah adalah bom waktu yang suatu hari nanti akan meledak dan menghancurkan segalanya…

 

Siwon tau Cherry sudah bersama Kyuhyun jauh sebelum bersama dengan dirinya. Secara ilmiah, mereka bagaikan ikan paus dan ikan nemora, yang saling membutuhkan satu sama lain. Cherry tentu sangat butuh Kyuhyun, butuh sosok kakak pembimbing yang bisa menjadi patokan jalan hidupnya. Kyuhyun, yang sudah lebih dulu merasakan asam garam kehidupan, meskipun seumuran dengannya, ibarat kitab mantra yang jauh lebih ampuh dari segala mantra sihir di muka bumi ini.

 

Carilah Kyuhyun, maka kau akan mendapat jawaban dari segala pertanyaan yang memenuhi kepalamu!

 

Juga Cho Kyuhyun, yang meskipun sudah terlihat begitu kuat, ibarat pohon bakau di tepi pantai, yang tak akan tumbang meski dihantam tsunami, masih tetaplah manusia biasa yang terkadang butuh sosok untuk bertahan di saat tak ada lagi manusia yang peduli padanya. Seseorang ia sebut sahabat sejati, Cherry.

 

Namun Siwon selalu menutup mata untuk semua itu. Yang ia mau, seluruh waktu Cherry hanya khusus diberikan untuknya karena Siwon adalah oksigen bagi Cherry. Dan Cherry mengakui itu.

 

“Enough, Cherry… ENOUGH! Kesabaranku sudah benar-benar habis! BERHENTILAH MENYAKITIKU!!!!” Siwon serta merta membentak Cherry setelah ia menyeret Cherry ke tempat yang lebih sepi di salah satu sudut kampus In-Ha.

 

Cherry serasa ingin mengumpat seperti apa yang biasa ia lakukan saat Devil Jin nya sudah babak belur dibantai oleh James milik Cho Kyuhyun ketika bertanding Tekken. Cherry ingin berteriak, ingin mengatakan pada Siwon bahwa kesabarannya bahkan sudah lama habis dengan sikap cemburu keterlaluan yang dimiliki Siwon.

 

“Kyuhyun Kyuhyun dan Kyuhyun. Kau selalu punya waktu untuknya, tapi kau tidak pernah punya waktu untukku! KAU ANGGAP AKU INI APA HAH?!

 

Kuanggap kau adalah namja yang tidak mengerti kekasihnya. Begitu yang hampir dilontarkan Cherry pada Siwon. Namun ia tidak sampai hati mengatakannya. Dan juga, ia sudah terlalu lelah dengan semua pertengkaran ini. Seharusnya Cherry mengatakan pada Siwon: “Kau bahkan tidak peduli kalau pacarmu nyaris dihukum para senior andai Kyuhyun tidak rela terlambat menghadiri wisudanya sendiri hanya untuk membelikan syarat OSPEK yang sampai pagi tadi tidak berhasil aku dapatkan.”

 

Handphone Siwon tidak aktif. Email pending. BBM hanya di-read, pada siapakah Cherry harus meminta tolong lagi selain pada sahabatnya? Toh Kyuhyun yang saat itu sudah nyaris tepar setelah acara gladi resik, langsung beranjak pergi mencari kodok di rawa dekat sungai Han. Hanya demi little girlnya, Cherry.

 

Sahabat memang selalu bisa diandalkan, setidaknya Kyuhyun tetap menjadi pemegang jawara satu untuk itu, terlepas dari Siwon a.k.a pacar slash nafas hidup Cherry yang seharusnya ada di saat Cherry sedang kesusahan.

 

“Jawab aku, Cherry!” Siwon menarik dagu Cherry sedikit kasar. “JAWAB!”

 

Tak kalah kasarnya Cherry menampik tangan Siwon. “Benar. Aku memang selalu tidak punya waktu untukmu. Aku bahkan tidak pernah memperhatikanmu. Aku salah. Ya. Kau benar. Aku yang salah… Mianhamnida…”

 

“Mian selama ini sudah banyak menghabiskan waktu-waktu berhargamu. Mian tidak pernah meluangkan waktu untukmu. Kau bisa mencari orang yang mau meluangkan segala waktunya untukmu, Siwon. You can have it now…”

 

Seketika itu Cherry beranjak meninggalkan Siwon. Sambil mengginggit bibir, sambil menahan tangis. Tapi ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Untuk apa? Toh Siwon juga tidak berusaha mencegahnya pergi. Itu artinya, Siwon memang ingin mengakhiri semua ini kan?

 

 

 

 

Kyuhyun seperti tengah melihat hantu ketika melihat cara makan Cherry yang sangat mengerikan. Comot sana, comot sini. Bahkan Ah Ra, kakak perempuan Kyuhyun yang sampai bela-belain datang jauh-jauh dari New York hanya demi makan jjajangmyeon di restauran tempat perayaan kelulusan Kyu saat ini, hanya bisa mengelus dada pasrah, mengikhlaskan jjajangmyeon-jjajangmyeon itu di-delivery express ke perut Cherry.

 

“Ce… Cherry sekarang makannya banyak, ya…” Celetuk Ah Ra yang sepaket dengan menyindir.

 

“Makann banyak itu bagus untuk pertumbuhan, Onn… Ayo, makan yang banyak. Hari ini, kan, hari kelulusan Kyhyun…”

 

Makan yang banyak dari Hongkong! Semua makanan yang tersaji saja sudah ludes dilahap Cherry. Hanya tersisa beberapa ptong ikan tm dan salad udang yang hanya cukup untuk dimakan the olders.

Selesai acara makan siang dengan hasil akhir Cherry yang nyaris hangover gara-gara baru pertama kali minum bir, Kyuhyun langsung mengantar Cherry ke kampus In-Ha yang ada di Busan untuk mengurus surat-surat transfernya Cherry.

 

“Kau yakin mau registrasi hari ini?” tanya Kyuhyun meremehkan sambil masih tetap mengemudikan Chevy Corvettenya dengan elegan. Melihat kondisi Cherry dengan muka mirip kepiting rebus itu, dan dengan bau alkhohol yang diproduksi dari mulutnya, Kyuhyun tidak yakin kalau TU In-Ha caban Busan bersedia melayani registrasi kepindahan Cherry siang ini. Ia bahkan tidak yakin kalu mereka sudi mengakui Cherry sebagai mahasiswa mereka.

 

“Lagipula, untuk apa pindah segala? Bukankah Siwon juga di Incheon? Rumahmu juga jauh dari Busan, kan?”

 

Sepertinya, mengajak berbicara orang mabuk adalah hal paling tolol yang pernah dilakukan Kyuhyun sepanjang eksistensinya sebagai manusia ber-IQ 180.

 

Begitu Chevy Corvette super sexy itu terparkir dengan sempurna, Cherry segera keluar dari mobil dan mendahului si empu masuk ke dalam lobby In-Ha terlebih dahulu.

 

“Kau tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama,” perintah Cherry pada Kyuhyun yang baru saja sukses membuat beberapa pasang mata yang kebetulan lewat, mencuro pandang ke arahnya. NY changes him a lot, from geek to chic!

 

Katanya lima belas menit, tapi ini sudah lewat satu jam! Kyuhyun bahkan sudah 20 kali mondar-mandir di sekitar lobby, dan karena itu, ia sampai mendapat kenalan mahasiswa In-Ha. Seorang yeoja!

 

“Kau ini dari mana saja?! Katanya lima belas menit, tapi…. OMONAAA!!!!” seketika itu juga Kyuhyun menutup mulutnya tak percaya. Wajah Cherry sangat pucat. Bibirnya memutih. Rambutnya acak-acakan dan parahnya, sweater Doraemon kesayangan Cherry tidak mampu menutupi tubuhnya yang sudah basah kuyup. “Andwae, Cherry~a??? Ada apa denganmu????”

 

“Aniyoo… Tadi aku muntah di toilet,” jawabnya sambil terhuyung-huyung berjalan ke arah Kyuhyun dan nyaris ambruk andai Kyuhyun tak menadahinya. Segera Kyuhyun menyeret Cherry keluar dari lobby sebelum pasaran damn—good—looking—new—guy nya jatuh tak terselamatkan oleh tatapan-tatapan aneh beberapa organisme dari komunitas In-Ha yang ada di sana.

 

“Kuantar kau pulang,” kata Kyuhyun setelah menjalankan mobil mahalnya itu keluar dari lapangan parkir In-Ha University. Ia paling panik kalau sudah melihat orang sekarat seperti Cherry ini. Dan mengembalikan Cherry ke habitat asalnya adalah solusi paling bijaksana.

“Tidak usah,” tolak Cherry yang setengah teler di samping Kyuhyun. “Antarkan aku ke Cinnamon’s Kitchen saja.”

 

“Kau gila, Cherry! Kau itu sedang sekaraat saat ini…”

 

“Cih, kau ini over-acting, deh…” seloroh Cherry sambil membuang pandangan ke sisi sebelahnya, menyaksikan gedung-gedung pencakar langit dengan hampir satu juta pedestrian yang berlalu-lalang di bawahnya. “Aku ini tidak sekarat, Kyu. I’m okay. I just need more nutrition after vomitted. It’s normal for newbie junkies like me…”

 

“So sorry, Kyu, tapi santapan makan siang darimu sudah pergi semua dari perutku. I’m diely starving…”

 

Kyuhyun yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa membanting stirnya, memutar balik Chevy kesayangannya itu ke jalan menuju restauran atau… well, bistro yang tadi disebutkan Cherry.

 

Mereka sampai di Cinnamon’s Kitchen. Kyuhyun kembali dibuat surprise dengan tingkah Cherry yang memesan begitu banyak menu, seperti orang yang tidak makan selama setahun. Dan begitu pesanannya datang, lagi-lagi Cherry melahap waffle, banana split, caramel pancake, serta crepes rasa cokelat itu seperti zombie kelaparan.

 

Kyuhyun yakin ada sesuatu yang tidak beres pada sahabatnya ini. Sesuatu yang sangat-sangat buruk, atau lebih mengerikan lagi, sesuatu yang fatal yang telah terjadi pada Cherry.

 

Cherry bukanlah tipikal omnivora kejam seperti apa yang tengah ia saksikan saat ini. Bukan juga seorang coffee addict.

 

“Orang mabuk seharusnya minum air putih atau teh setelah ia sadar,” kata Kyuhyun sangat tegas setelah merebut cangkir berisi espresso hitam pekat yang baru saja hendak diteguk Cherry. “Kau juga tidak suka kopi, kan?”

 

“Ya, memang bukan,” sahut Cherry sambil merebut lagi cangkir espressonya dari tangan Kyuhyun. Detik itu juga Cherry segera menelan habis minuman super pahit itu dengan sekali teguk.

“What’s happen, Cherry?” todong Kyuhyun yang sudah sangat yakin bahwa ever-lasting friendnya ini sedang tidak baik-baik saja. “Katakan padaku, ada apa denganmu, Cherry! Katakan! Katakan apa yang sudah terjadi?!!!!”

 

Seperti ia teringat akan siapa orang yang pernah dijuluki ‘coffee freak’ Kyuhyun hanya bisa memandang Cherry dengan wajah sangat prihatin…

 

“Apa yang terjadi antara kau dan Siwon?”

 

Cherry hanya diam sambil mengacak-acak banana split yang sudah terlihat seperti onggokan di hadapannya. Seperti orang yang sudah tak memiliki harapan hidup, Cherry menatap kosong pesanan-pesanan yang sebagian tidak berhasil ia habiskan.

 

Kembali Kyuhyun menginterogasi Cherry dengan sangat frustasi. “Kalian putus?! Ottokhae… Apa yang ada di otak kalian hah?!!!!”

 

Mendengar cercaan Kyuhyun yang terasa menyayat hati, Cherry makin gila mengaduk-aduk banana split yang kini es nya sudah tidak bisa dibedakan, mana yang rasa strawberry, vanilla, maupuk chocolate.

 

Kyuhyun lagi-lagi merebut ‘mainan’ Cherry. “Apa ini gara-gara aku lagi?! Oh, mayday… mengapa Wonnie the poohmu itu bisa begitu kekanak-kanakkan??? Damn! I think he need to see me face to face…” Segera Kyuhyun beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Cherry.

 

“Sudahlah, Kyu. Aku yang menginkan ini. Aku yang memutuskannya dan meskipun aku tidak siap, inilah resiko yang harus kuhadapi. Kumohon Kyu, jangan ungkit masalah Siwon lagi. Semua sudah berakhir. Please, biarkan aku seperti ini dulu untuk sementara waktu…”

 

Kyuhyun tidak sampai hati mendengar omongan Cherry yang tengah menahan tangis hingga suaranya sampai bergetar seperti itu. Secepat kilat ia menyambar tangan Cherry dan lagi-lagi menyeret yeoja yang akhirnya bertambah tinggi beberapa inch dalam satu musim yang lalu itu keluar dari Cinnamon’s Kitchen.

 

“Maaf ahjusssi…”

“Uangnya sudah kutaruh di meja. Ambil saja kembaliannya,” kata Kyuhyun pada pelayan yang mencegatnya di pintu keluar.

 

Dan seharusnya pemilik bistro itu berterima kasih pada Kyuhyun karena sudah mendapatkan beberapa lembar won dengan pecahan tertinggi.

 

Cherry tidak tau Kyuhyun akan membawanya kemana. Ekspresi Kyuhyun yang tengah mengemudikan mobil itu terlalu menyeramkan bagi Cherry untuk menanyakan tujuan perjalanan selanjutnya karena ia tidak berhasil mendeskripsikan raut wajah namja yang kini berambut mahogani itu.

 

Mereka sampai di taman kota yang tidak terlalu ramai karena sekarang bukanlah jam istirahat maupun jam pulang kantor.

 

“Turunlah,” ucap Kyuhyun sebelum ia sendiri yang turun dari Chevy hitam yang jarum speedometernya sudah menunjuk angka nol.

 

Tak perlu menyeret-nyeretnya lagi, Cherry mengikuti arah langkah Kyuhyun, menuju sebuah kursi panjang di bawah pohon sakura yang sudah mulai berbunga. Ya. Hanya taman kota Busan yang memiliki kontur tanah yang paling cocok untuk bunga sakura.

 

Mereka sama-sama menduduki kursi itu. Cherry pikir Kyuhyun akan berbiacara apa, tapi ternyata tidak. Ia menatap kanopi-kanopi bunga sakura yang memayungi taman itu. Sambil terus ingin menangis, tapi nyatanya air matanya enggan keluar. Dan itu sangat menyiksa dirinya.

 

Cherry memang terlihat kuat tanpa mengeluarkan setetes air mata pun dari mata bulatnya yang dulu pernah membuat hati seorang Siwon Choi bergetar dan sangat terobsesi untuk memilikinya. Di saat yeoja-yeoja yang pertama kali merasakan patah hati sepertinya itu menangis histeris bahkan ada yang sampai nekad bunuh diri pasca putusnya hubungan cinta dengan namjachingunya, Cherry justru tidak sampai bahkan tidak akan jadi seperti itu. Namun hatinya mati rasa.

 

Dadanya terasa sakit sekali. Seperti kepingan-kepingan hatinya yang sudah pecah, telah melukai organ-organ dalam tubuhnya yang lain.

 

“Mianhaeyo, Kyu. Seharusnya kau bersenang-senang hari ini. Seharusnya hari ini menjadi hari bahagiamu.Tapi aku malah merusaknya,” ucap Cherry lirih.

 

Kyuhyun serasa ingin menampar Cherry dan menyadarkan sahabatnya bahwa bisa-bisanya Cherry masih memikirkan hal lain setelah hal sefatal itu telah menghancurkan dirinya. “Kau pikir aku akan tetap bahagia merayakan kelulusanku setelah apa yang terjadi dengamu?! Cherry~a, berapa tahun kita bersama?! Aku masih punya hati, catat itu! Mana mungkin aku bersenang-senang di saat temanku sudah nyaris seperti orang gila?! Mana mungkin aku bersenang-senang di atas kesedihan temanku???!!!”

 

Cherry hanya menunduk mendengar omelan Kyuhyun. Begitulah Kyuhyun jika tengah marah.

 

“Dan kau! Seharusnya kau pikir matang-matang apa yang ingin kau putuskan, Cherry~a! Kau tau kau mencintai Siwon, begitu juga dengannya. Kau bahkan rela mengorbankan nyawamu hanya untuk menyelamatkan Siwon dari kecelakaan beberapa tahun lalu. Dan Siwon juga rela babak belur, demi melindungimu dari gangstar di Gangnam waktu itu. Kalian saling mencintai, dan kau tau itu…”

 

“Bukannya aku sok menggurui, tapi pikirkanlah dirimu sendiri! Pikirkan bagaimana dampaknya setelah kau mengakhiri semua ini!”

 

“Aku tau, Kyu!” bentak Cherry. Bom di kepalanya seperti akan meledak dan benar saja, air mata yang tadi dipaksa pun tidak mau keluar, akhirnya mengalir deras, seperti bendungan kota Rottedam yang sudah tidak mampu menahan laut yang mengitari negeri kincir angin itu

 

“AKU TAU AKU MENCINTAINYA, KYUHYUN! AKU TAU AKU SANGAT-SANGAT MENCINTAINYA! Tapi… Tapi aku lelah. Aku lelah dengan sikapnya yang seperti itu!”

 

“Kau tau, dia bahkan tidak mencegahku saat aku memutuskannya tadi. Itu artinya ia memang ingin mengakhiri semua ini, kan?! Lalu untuk apa aku berusaha mempertahankan hubungan kami jika dia juga sudah tidak mau bersama lagi denganku?!”

 

Kyuhyun miris sekali melihat Cherry memaparkan apa yang telah terjadi terhadap dirinya dan Siwon. Ia lalu memeluk Cherry, merengkuh Cherry sangat bersahabat.

 

Dalam dekapan Kyuhyun, Cherry masih terus menangis. “Aku tidak tau kalau akhirnya seperti ini, Kyu… Aku… Aku mencintainya… Tapi kami sudah tidak bisa bersama lagi… It hurts, Kyu… It really hurts…”

 

Setidaknya, inilah yang diinginkan Kyuhyun sejak ia mengetahui kenyataan bahwa Cherry telah putus dengan Siwon. Kyuhyun tau kalau Cherry hanya butuh tempat yang tepat untuk melampiaskan kesedihannya.

 

“Menangislah… Menangislah sepuasmu, Cherry Han…” ucap Kyuhyun sambil menepuk-nepuk kepala Cherry dalam dekapannya dengan lembut. “Tapi setelah ini, berjanjilah untuk move on ya…”

 

Cherry mengangguk meski masih sesenggukkan. “Thank’s,” ia memeluk Kyuhyun lebih erat.

 

Munafik memang, jika seorang namja dan seorang yeoja, dekat dan selalu bersama tanpa tumbuh benih-benih cinta. Ya. Mereka pernah merasakan itu. Kyuhyun pernah jatuh cinta pada Cherry dan begitu pun sebaliknya. Namun itu dulu, saat mereka baru memasuki dunia remaja. Dunia Secondary dimana satu tatapan saja sudah bisa mengubah presepsi A menjadi presepsi B.

 

Seperti apa itu cinta, cinta memiliki banyak arti. Cinta seorang sahabat, mungkin terlihat sangat berlebihan, namun begitulah adanya. Sahabat, selalu ada di kala sedih maupun senang. Sahabat selalu siap menjadi tempat sampah, tempat berkeluh kesah, tempat menangis, tempat tertawa, dan tempat berbahagia. Sahabat lebih dari segalanya. Sahabat adalah kasih sayang dan peduli.

 

Kalau kamu punya sahabat, mungkin kamu akan mengerti. No matter sahabatmu itu perempuan ataupun laki-laki. Tumbuh rasa cinta pada sahabat berbeda gender itu memang wajar. Tapi rasa cinta itu—jika kalian sudah lama bersahabat, tidak akan bisa tumbuh selayaknya rasa cinta terhadap pacar. Percaya, deh. Semua itu ada porsinya masing-masing. Sahabat ya sahabat. Pacar ya pacar. Pacar itu penting banget, tapi sahabat, jauh lebih penting.

Advertisements

Silence

Kapan libur?! Kapan libur?! Kapan libur?!

Kurasa, tanpa menjadi seorang mind reader, aku sudah bisa membaca semua homo sapiens di sekolah ini. KAMI MERINDUKAN LIBURAN.

Dan untuk selamanya, sekolah di musim panas itu sangat menjijikan.

Ahh.. Aku jadi iri pada murid-murid di belahan bumi yang lain. Saat summer seperti ini, mereka bisa dengan bahagia pergi ke pantai, sunbathing sampai jadi orang negro ketumpahan tinta hitam, bahkan meminum limun dengan banyak ice cubes tanpa perlu memusingkan PR PR yang menumpuk.

Sebel Sebel Sebel.

Rasanya, dewi fortuna tidak pernah berada di pihakku setiap musim panas tiba. Look! Cherry, romeoku (oke, beginilah kami. Jangan kaget kalau selalu aneh), sejak tadi pagi absen berkicau padaku. Bahkan untuk sekedar bilang “Hi, Siwonnie” pun tidak.

Ia mendiamkanku seharian.

Di kantin pun, saat jam makan siang, saat kutanya beberapa hal ia hanya mengangguk atau menggeleng.

Arrgggghhh… Aku frustasi!!!!

“Cherry! Kalau kau aku punya salah padamu, fine! Jeonmal mianhae!” cegatku sepulang sekolah. “But please, jangan diamkan aku seperti ini..”

Cherry tak memedulikanku. Ia malah melongos pergi, sambil menenteng perangkat melukisnya.

“Cherry!”

Saat kutarik tangannya, ia menghempaskan tanganku dengan ekspresi yang begitu menakutkan. Oh, tidak. Jangan bilang ini akhir dari hubungan kami. Aku tidak ingin berakhir seperti ini.

Seperti yang sudah kubilang tadi, ia tidak peduli padaku yang sudah emosi tingkat akut ini. Cherry tetap berjalan cepat, membuat sepatu kets ungunya yang keren itu mengeluarkan suara angkuh saat dihentakkan ke lantai koridor.

“CHERRY! PLEASE!”

“Mi…annhh.. ehm…”ia terlihat begitu kesusahan berbicara. Seperti ada sesuatu yang mencekik tenggorokannya.

“Apa?!”

Bukannya menjawab, Cherry malah mengambil iphone dari saku kemeja summer editionku lalu mengetikkan sesuatu dengan cepat.

Mianhamnida sudah mendiamkanmu seharian ini. Tenggorokanku sakit sekali.

“Omonaaaa… Jadi kau sedang sakit tenggorkan?” Cherry mengangguk. “Tidak sedang marah padaku, kan?” ia menggeleng. “Otokhae! Kenapa tidak ke dokter??”

Susah payah ia bersuara. “Sakitnya…” Cherry meredam sakit di tenggorokannya dengan memegangi lahirnya. “Baru tadi pagi..”

Demi Neptunus penguasa Bikini Bottom, suara Cherry jauh lebih mengerikan dibanding suara nenek sihir manapun.

“Ya sudah, sekarang kuantar kau ke dokter ya..”

Ia mengetikkan sesuatu pada Iphoneku.

Tidak usah. Paman Kim sudah menungguku. Maaf aku harus cepat-cepat. Sudah janji dengan dokternya.

“Ara ara, Cherry~a! Ya sudah, sekarang pulanglah. Tanyakan kau ini sakit apa, bagaimana bisa suaramu jadi semengerikan ini, minta obat paling mujarab…”

Chu~

Omonaaaa!!!! Badanku beku seketika. Jantungku nyaris copot, saat Cherry mencium pipiku singkat.

Ia meraih iphoneku lagi.

Gotta go, Siwonnie. Bye 🙂 Ps: jangan khawatirkan aku.

Lalu Cherry melongos pergi.

Cherry Cherry Cherry. She’s a surprising girl. She is the most special gift from God.

Always love you, Cherry Han…

 

-end-

Simply [Pt.2]

Sudah kuputuskan, aku akan segera melancarkan serangkaian strategi pdkt andalanku untuk mendekati Cherry. Well, aku tidak ada rencana untuk memacarinya dekat-dekat ini, sih. Tapi… Setidaknya, bisa dekat dengannya pun sudah cukup menyenangkan.

Aku belum bisa berinteraksi dengannya beberapa minggu ini. Cherry sedang sibuk. Waktunya tersita hanya untuk berlatih mengerjakan soal-soal trigometri memuakkan itu dengan partner setianya, Cho Kyuhyun. Yahh… Akhir bulan ini akan ada olimpiade matematika se-Asia. Dan mereka berdualah ujung tombak sekolahku.

Andai aku namjachingunya, aku pasti akan sangat bangga ketika melihat yeojachinguku maju ke depan stage, berfoto bersama Cho Kyuhyun, dan dinobatkan sebagai ‘Pahlawan Einstein International Junior College’ oleh Sajangnim.

Halah! Aku ini mikir apaan, sih?! Hahaha…

Sabtu ini, aku sukses membuat semua besties-ku nyaris gantung diri. Bagaimana tidak, seorang Choi Siwon, absen clubbing, dan memilih menghadiri gathering party untuk para anggota asosiasi wiraswastawan terbesar di Korea bersama orang tuanya, which it’s gonna be terribly boring -.-

Ya ya ya. Terserah kalian mau menganggap dunia sudah tidak berotasi sesuai porosnya atau aku yang sudah gila. I don’t care!!! Aku hanya bosan dengan schedule mingguan-ku itu. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, apa itu salah? Lagipula, sepuluh tahun yang akan datang, aku juga akan menghadiri pesta-pesta seperti ini dengan menyandang predikat Choi Hyundae JR. Lol 🙂

Ngomong-ngomong… Lama-lama di sini bosan juga. Tidak ada musik DJ, tidak ada yeoja-yeoja seksi yang sampai bersedia striptis di depan mejaku, tidak ada dance battle… Sebagai gantinya, di sini, di Convention Hall Bvlgari, hanya ada ratusan pasangan Om-Om dan Tante-tante, yang berlomba menarikan Venice Waltz di lantai dansa, diiringi musik-musik tua aliran Mozart.

Damn boring -.-

Dan sepertinya aku telah salah memilih. Lol

Ehhh… Tapi aku percaya, Tuhan itu adil. Tidak selamanya manusia dilanda kesedihan, kan? Xixixi.

Yup! I see Cherry Han. Entah bagaimana ia bisa ada di acara semacam ini, tapi… demi apapun juga, SHE’S DAMN GOOD LOOKING!!!

Kulihat Cherry, Appa Cherry lebih tepatnya, sedang bercakap-cakap dengan Appaku dengan Cherry yang tidak pernah bosan menyungginkan seulas senyum manis–formalnya pada Appa.

Appa, andai kau sedang membicarakan perjodohan, aku akan dengan senang hati dijodohkan dengan cara apapun, asal calonku adalah Cherry.

Hahahaha.

Saking cengonya, aku sampai tidak sadar kalau sedari tadi Appa sudah melambai-lambai ke arahku, meminta aku yang sedang melakukan inspeksi pada jajaran cookies-cookies yang tersedia di atas meja ini untuk segera menghampirinya.

“Lho, Siwon-ssi?!” Cherry terlihat sedikit terkejut karena aku–si raja dugem–mungkin ia berpikir begitu, muncul di pesta semacam ini.

“Anneyong, Cherry Han…” sapaku mencoba seramah mungkin.

Seperti sudah tau percakapan ini akan mengarah kemana, Appaku dan Appanya Cherry kompakan pergi, meninggalkan kami berdua yang saling balas-membalas senyum ini.

Cherry memutuskan untuk mengikutiku. Aku mengajaknya ke meja tempat dimana ‘oksigen’ Jokerman Shindong, tersedia cuma-cuma untuk kami habiskan.

Seperti yang sudah pernah kukatakan, Cherry adalah tipikal yeoja yang tidak banyak bicara. Aku sampai bingung sendiri, mau mengangkat topik apa untuk dibicarakan padanya. Tapi… Bukan Choi Siwon namanya jika tidak bisa membuat yeoja-yeoja pay attention, atau paling tidak, melirikkan pandangan sebentar kepadaku.

“Kuambilkan minum ya,” kataku.

Baru saja aku hendak melangkah, Cherry sudah menarikku. “Gomawo, Siwon-ssi. Tapi aku tidak mengkonsumsi alkhohol,” cegahnya, seperti ia tau bahwa aku tadi hendak mengambilkan wine-wine yang berbaris rapi di meja yang ada di dekat jendela.

Aissshh… Aku lupa kalau yeoja ini Cherry Han. Bukan Trio Glossy pecinta wine, bahkan vodka itu… Jeongmal Babbolya, Siwon~a!

Kembali cengo untuk sementara, Cherry sudah menghilang dari hadapanku. Tak berapa lama, ia kembali lagi dengan membawa 2 cangkir teh hangat, yang memang cocok sebagai beverage untuk cookies-cookies yang baru saja kami makan. Semacam teh untuk teatime gitu deh. Teh wangi yang tidak terlalu pahit.

“Kita masih muda. Sayang kan kalau liver kita terkontaminasi alkhol???” ia, sekali lagi memamerkan senyumnya, yang membuatku kembali menahan diri untuk tidak meleleh (?!)

“Nyindir nih?” aku menyunggingkan evilsmirk yang tak kalah dari evilsmirknya Cho Kyuhyun. Sadar, aku sadar kok kalau aku memang sudah terlalu banyak mengkonsumsi alkhohol. Yeaahhh… Mengingat kebiasaan clubbing-ku itu…

“Merasa tersindir, ya?”

Aku langsung bergidik ngeri saat Cherry merubah senyum manisnya ke senyum iblis, yang–entah bagaimana caranya, sangat-sangat mirip dengan senyum setan ala Cho Kyuhyun @@

Both of them are just like copy paste, aku percaya itu. Bedanya, Kyuhyun laki-laki, Cherry perempuan.

Seraaaammmm….

“Eommamu tidak ikut ya?”

Cherry menghela nafasnya panjang. Owh, okay. Ini akan menjadi buruk. “She’s already gone. Saat aku kecil…”

“I’m sorry for that…” sesalku.

“No worries…” pandangannya kini menerawang. Aisssh… Jeongmal mianhae, Cherry~a.. Aku benar-benar tidak tau kalau jadinya seperti ini. “Ups, sepertinya aku sudah harus pulang,” Cherry melirik LV mahal yg melingkar di pergelangan tangannya. “Glad to see you, Siwon-ssi… See ya on Monday”

Sebenarnya, aku masih ingin menahan Cherry. Tapi… Apa daya. Appanya sudah melambaikan tangan, mengisyaratkan agar putri cantiknya itu untuk segera pulang bersamanya.

“Okay. Glad to see you too. Hati-hati ya,”

TBC

Simply [Part.1]

Another Cherry-Wonnie’s story…

Anggap saja daily lifeku ini sebagai beauty competition, dimana aku adalah jurinya. Oh, come on. My name is Choi Siwon, dan hidupku selalu dikelilingi wanita. Surga dunia kan?

Bagiku, tidak juga. Kuakui, mereka cantik, mereka seksi, dan hanya butuh satu kali kedipan mata, mereka akan bertekuk lutut padaku. Tapi… Untuk apa aku repot-repot melakukan itu semua. Toh mereka sudah otomatis takluk padaku.

Oh, well, sekarang, tinggalkan cerita kehidupan yang sudah digariskan Tuhan untukku itu. Terserah, kau–para adik kelas, teman-teman, atau Hyung-Hyung alumni yang merasa iri dengan popularitasku. Aku mau berbagi kok. Aku bahkan akan dengan senang hati membantu kalian untuk mendapatkan trio glossy idaman 99,99% namja di sekolahku ini (kecuali aku, tentunya). Selebihnya, hasil akhir di tangan kalian ya. Jangan salahkan aku jika mereka malah berpaling darimu dan lebih memilih untuk mengejarku lagi. hahaha.

Diantar seribu satu gadis di sekolah (lebay deh bahasanya), hanya ada satu gadis yang cukup stand out di mataku. Dia teman sekelasku, Cherry Han namanya. Oke, tampar aku sekarang! Atau kau juga boleh anggap aku gila. Tapi, aku bukanlah orang yang pandai membohongi kata hati. Jadi aku jujur saja pada kalian, I’m interested on her.

Dia tidak cantik, tidak tinggi, tidak berkaki indah, apalagi seksi. Dia sama sekali jauh dari kriteria hot babes yang cocok disandingkan denganku. Dia bahkan tidak punya tas-tas mahal yang bisa dipamerkan tiap minggu–seperti kebanyakan yeoja yang ada.

Tapi Cherry punya apa yang tidak dimiliki yeoja-yeoja itu, otak. Ya. Otak yang cemerlang, yang membuatnya menjadi partner Cho Kyuhyun di setiap kompetisi matematika.

Okay, pals. Aku tidak bilang kalau aku menyukainya, apalagi jatuh cinta padanya lho. Aku hanya kagum dengan sosok serta attitude berkelasnya itu. Cherry itu ibarat air, yang bisa ditempatkan dimana saja. Saat situasi menuntut totalitasnya, ia akan berusaha mati-matian memperoleh nilai terbaik. Tapi, di saat seisi kelas sudah gone crazy dengan ulah si jokerman Shindong, Cherry bahkan bisa gone wild saat menimpali celotehan Shindong hanya dengan sekali ucap. Maksudku, Cherry sering mengatakan hal yang tak terduga-duga. Dan semua itu sukses mengocok perutku.

Jujur saja, aku belum pernah berbicara secara langsung dengannya. Yahh.. Sejauh ini hanya sebatas say hi saat bertemu atau bertatap muka. Sedikit basa-basi lebih tepatnya. Aku belum pernah tau ceritanya secara mendalam karena aku terlalu sibuk dengan duniku sendiri. Dunia dimana tidak ada satupun yang tidak bisa kudapatkan.

Aku menyesal? Ya tentu saja. Aku sudah menyia-nyiakan waktu 6 bulan hanya dengan memandanganya sebelah mata. Maksudku, tidak mencoba untuk lebih pay attention kepadanya selama ini.

To be continued…

What Happen With You????

Cherry’s POV

Siwonnie nyebelin!!!! Sumpah ya, sikapnya seharian ini  TERAMAT menyebalkan. Bayangin, aku dicuekin! Kalau aku tanya ada apa, dia pasti hanya akan menjawab, “Hmmm… Pikirkan lah sendiri.”

Ieuuuhhh… Lebih baik ia mengatakan kesalahanku secara terang-terangan daripada mendiamkanku seperti ini. Sebenarnya, salahku itu apa?! Apa yang membuatnya sampai sebegitunya???

Hell! Aku benci dicuekkin!!!

“Fine, Siwonnie! Maaf kalau aku punya salah kepadamu! Tapii… Bisakah kau beritau aku, apa kesalahanku sampai kau mendiamkan aku seperti ini??!!!!” tanyaku pada Siwon sepulang sekolah.

Siwon tak menggubrisku. Ia malah melenggang pergi, tanpa peduli aku yang susah payah mengejar sembari menahannya, layaknya orang bodoh

“SIWONNIE!”

Mungkin, karena melihat kesabaranku yang sudah mulai menipis, Siwon agak sedikit luluh (similiar with: ngeri) dan ia pun menghentikan langkahnya. Tepat di tengah-tengah koridor lantai 2 yang sudah mulai sepi, Siwon mengeluarkan Iphone dari saku celananya.

Sumpah aku nggak ngerti –”

“Lihat ini!”

Ottokhae! Itu kan foto yang diambil Ahra Onnie (Onnienya Kyu)untuk shoppinglinenya tahun lalu. Sekedar iseng-iseng sih…

Dan… Apa gara-gara foto ini Siwonnieku jadi semarah itu? What’s wrong?!

“KAU PIKIR KAU SEKSI HAH?! Bisa-bisanya kau memamerkan tubuhmu sampai sevulgar itu?!”

Aku nyaris tersedak air liurku sendiri. “VULGAR?! Kau bilang foto ini vulgar?! Come on Choi Siwon! Aku kan tidak sampai telanjang bulat…”

“Tapi pose-mu itu, cara berpaikanmu! Sama sekali tidak berkelas!”

“It’s fashion, Siwon Choi! Fashion itu tak peduli apakah berkelas atau tidak. It’s artistic, It’s fashion!” sanggahku pada statement Siwon.

“Ya tapi kau tidak perlu sevulgar itu lah! Pose-mu, ieeeww~”

Uuuhhh… Aku sudah mengepalkan tanganku bulat-bulat, berusaha meredam amarahku untuk tidak melayangkan tinjua andalanku ke muka tampannya. Vulgar… Pose… Cih, tau apa dia tentang fashion?!

“Lalu kalau kau tidak suka, kenapa tidak kau hapus hah?” Aku langsung merebut Iphone dari tangannya. “Sini, kuhapus saja foto yang VULGAR ini!” kataku dengan penuh penekanan. “Supaya kau tidak marah-marah gaje seperti ini…”

Saat hendak meng-tap icon tong sampah di layar Iphone-nya, Siwon buru-buru merebut Smartphone kesayangannya itu dari tanganku. “Eh! Waeyo?!”

Bukannya menjawab pertanyaanku, Siwon segera me-lock Iphonenya dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya.

“Cih, begitu-begitu kau juga suka kan? Haaahhh… Memang semua namja itu sama. Kau pun tidak bisa memungkiri kalau kau juga suka aku berfoto seperti itu kan???’

PLETAK!

Ia menjitak kepalaku seenaknya. Uuhh… Sakit tau!

“Yang boleh melihatmu seperti itu hanya aku karena kau hanya milikku seorang! Camkan itu!”

PLETAK!

Sekarang, gantian aku yang menjitak kepalanya.

“Seenaknya saja. Memang kau siapa, melarang-larang aku untuk melakukan ini itu???”

“Well… Bukannya aku melarangmu melakukan apa yang kau suka…” Siwon kini meraih wajahku, menempelkan kedua telapak tangannya, membuatku bisa lebih dekat menatap mata coklat nan teduhnya itu. “Aku hanya tidak ingin, mata-mata nakal itu memiliki interpretasi yang aneh-aneh terhadap dirimu. Err… kau tau maksudku, kan???”

“Ya. Dan mata-mata nakal itu termasuk kau!” aku langsung melepas telapak tangannya yang sukses membuatku stuck hanya pada mata indahnya.

“Tapi, kan.. Setidaknya, aku ini kekasihmu. Masa iya aku berpikir aneh-aneh tentang yeojachingku sendiri?” elaknya.

“Justru karena kau namjachingku, kau pasti akan berpikir yang aneh-aneh…”

Tiba-tiba, Siwon mengacak rambutku seenaknya. “Apaan sih?!”

“Aku ga nyangka, kau bisa mirip ulzzang di foto itu. Xixixixi…”

“Memang aku ini ulzzang face, kan?” kataku percaya diri. Siwon langsung memasang muka neg.

“Terserah kau saja deh. Pulang yuk!” ajaknya, sembari menarik tanganku, berjalan bersama menyusuri koridor, keluar dari sekolah menuju stasiun MRT.

Sumpah… Siwon aneh hari ini. Tadi marah-marah, sekarang jadi baik banget. Hiii… Aku jadi ngeri @@

Siwon’s POV

Bukannya aku tak suka Cherry foto seperti itu. Bukannya aku tak suka, Sweety Cherryku bertransformasi sejenak, memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang plain. Aku hanya takut jika orang-orang memintanya untuk melakukan lebih dari itu dan pada akhirnya, mereka melukai Cherryku. She’s too nice to be hurted.

-END-

Makin gaje, makin gaje, makin gaje….. >.<