[Siwon’s Girl Version]First Day at School

Aku langsung menarik nafas saaaangaaaat panjang begitu boots Whyred superblack-glossyku mendarat di kelas JC-T 1 dengan sempurna. Phew! Lega rasanya setelah melewati seribu satu tantangan di hutan rimba yang kusebut koridor sekolah.

Menjadi pusat perhatian, mengalami amateur quick-scan dari ratusan pasang mata senior dan junior Mademoiselle Art JC Academy, dan mendengar bisik-bisik tentangku yang bisa kudengar SANGAT JELAS, sudah bukan suatu hal yang aneh bagiku. Toh aku memang terlahir sebagai pusat perhatian.

Terlepas dari siapa ayahku itu (bosen ngebahas pria tampan ganteng maut–menurut ibu-ibu ex ELF), apapun yang menempel di tubuhku selalu terkesan sensasional. Uh, well, glam mungkin lebih tepat. Padahal jelas-jelas aku sudah berusaha berbusana se-sederahana mungkin pagi ini. Apa sih yang salah? Aku toh hanya memakai tank top murah dari Twenty8Tweleve covered by Tomy Hilfiger cardigan dengan aksen garis-garis yang sangat simpel. Demi SNSD (lho?!), tidak ada satu pun blink-blink di tubuhku pagi ini. Sumpah!

Geez! Bahkan di kelas pun, mereka memperlakukanku seperti alien yang baru saja keluar dari UFO yang siap menerkam mereka saat itu juga. Menatapku tajam sampai lupa bekedip dan (lagi-lagi) meng-quick-scan penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Oh mayday!!!! Bisakah mereka bersikap normal? Mereka toh jauh lebih ‘heboh’ dalam urusan penampilan. Look! Tak ada satupun dari mereka yang membiarkan rambutnya tetap hitam. Only me! Aku bahkan tak sempat mem-blow dry rambut hitam setengah abu-abuku pagi ini. Mereka dengan rambut ala Kpop bisa tega-teganya memperlakukan aku seperti itu.

Dunia memang tidak adil!

“BRUKKKKK!!!!”

Seorang yang menurut otak intelektualku yang tidak begitu cerdas adalah laki-laki, nyaris membuatku jatuh tersungkur karena tabrakannya.

Aku yang 2 menit terakhir ini berdiri di pintu dengan tampang cengo layaknya idiot paling hina di muka bumi, nyaris saja keceplosan mengumpat andai tampang cowok ini tidak membuatku speechless.

He’s cool. He’s charismatic. I think, he’s looks alike…

“Uncle Cho?!” aku mengerjap tak percaya. Sekali lagi aku menyadarkan diriku tentang sosok berponi yang cukup (ehm) cute ini.

“Sejak kapan aku menikah dengan bibimu?” ia hanya berjalan melewatiku tanpa melupakan tatapan super mengejek kepadaku.

Aku langsung mencegatnya. “Jangan bilang kau sedang ada syuting di sini, ya…”

Cowok yang masih kupercayai sebagai Uncle Cho-ku itu langsung mengibaskan tangannya, melepas tanganku yang masih mencengkram lengannya. Ups, mianhae! 🙂

“You are sick, girl!”

Mwo?! Apa yang baru saja paman tua jelek itu katakan?! Sejahat-jahatnya si Evil Maganae itu, ia tidak pernah sekalipun berkata kasar padaku. Lah ini???

“Hihihihi….” aku mendengar suara cekakak-cekikik ala nenek sihir dari arah belakangku setelah itu. Dan benar saja, saat aku berbalik, aku menemukan tiga ekor, eh, tiga orang yeoja dengan rambut senada. Lol. Seperti aku tengah melihat boneka Barbie KW buatan China yang hendak melakukan photoshoot Barbie I Can Be.

Blinkies everywhere. Yakz!

Trio glossy bertas Channel Ungu-Pink-Ungu itu berjalan SANGAT ANGKUH melewatiku dan segera mencari bangku paling strategis yang masih kosong.

Aku jelas tak memedulikan tiga yeoja yang kukategorikan dalam beauty of plastic doll itu. Yang menjadi issue penting di dalam otakku saat ini adalah namja yang kutau adalah Uncle Cho tentangga sebelah rumahku itu.

“Kau tidak sedang bercanda, kan, Uncle? Ini hari pertama sekolahku dan aku sedang tidak mood untuk mengacaukannya bersamamu…” cercaku begitu aku duduk di kursi yang ada di depannya. Sedikit lagi aku bertingkah, maka punggungku akan berbentuk spiral.

Uncle Cho yang rambutnya sekarang hitam dan berponi yang sedang mendengar lagu melalui Ipod touchnya itu langsung serta merta melepas headset dari telinganya sambil menyentuh icon pause pada layar Ipod (which is, I can see what song is on his playlist, TITANIC by CELINE DION. Lol. Aku bakal mati ketawa setelah ini. Gila! Ganteng-ganteng seleranya jadul!)

Ia menarik nafas sebelum memulai cercaan yang kurasa akan sangat panjang dan menusuk!

“Dengar ya. Aku tidak peduli seberapa banyak kerutan yang terlihat di wajahku saat ini. Kecuali kantung mata, kau tidak berhak memanggilku Uncle Cho, karena AKU TIDAK PERNAH MENIKAH BAHKAN BERPACARAN DENGAN BIBIMU,”

“SO DON’T CALL ME UNCLE CHO ANYMORE!”

Ia lalu memasang headsetnya lagi tanpa menekan icon play pada layar sentuhnya.

Gowd! Cukup satu ekor Cho Kyuhyun di dunia ini. Jangan tambahkan orang ini jika namja di hadapanku ini memang bukan Uncle Cho kesayanganku.

Sekarang, aku hanya bisa membenarkan letak kacamata minus Christian Diorku yang sedikit out of space (baca saja, sedikit melorot karena aku tidak begitu mancung seperti Appa).

Peduli amat dengan bisikan-bisikan classmates lain yang jelas-jelas ditujukan padaku itu. Aku lalu berbalik ke arah depan, sambil meletakkan Bjorn Borg Bag-ku sembarang ke lantai. Aku tak peduli kalau tiba-tiba tas ini pulang dengan bercak noda menjijikan di permukaannya. Toh aku juga bisa beli lagi. Lagipula, nasib tas ini jauh lebih baik daripada mukaku yang sudah tercoreng rasa malu gara-gara kasus Uncle Cho barusan ini.

Damn! Pasaranku jatuh tak terselamatkan di mata cowok keren di belakangku.

Kurasakan teapak tangan yang cukup lebar menempel di pundakku. “Hey!”

Omona! Unidentified Uncle Cho itu lagi!

“Namaku Cho Kyuhyun,” Tuh, kan. Apa kubilang. Dia memang benar-benar Uncle. “Tapi lebih baik kau memanggilku Marcus saja. Got simple pronounce, I think..”

Aku hanya bisa ber “Uh, uh” kemudian. Tak butuh waktu seumur hidup untuk mempraktekkan ajaran Appa agar bersikap ramah kepada siapapun, aku langsung mengulurkan tanganku padanya. “Michelle,” aku berusaha tersenyum semanisssssss mungkin.

Marcus agak sedikit akward dengan namaku. Yah, wajar saja sih.. “You’re Korean, rite?”

“Setahuku sih, iya.” jawabku sejujur mungkin. Memang iya kok. Appaku orang Korea kan?

“So?”

“Well, aku tidak pernah benar-benar tau apa nama Koreaku. Im Yoona mungkin? Ehehe..” mencoba sedikit menjadi jokerman, namun gagal. “Tapi siapa peduli. Toh sejak kecil mereka memanggilku ‘Hey, anaknya Siwon!’ atau ‘Hey, Siwon JR’ atau yang paling kuhargai yha Michi.”

Ia seolah tidak begitu peduli dengan nickname-ku. See? Ia kembali sibuk dengan dunia kecilnya. Dia dan Ipod. Lol

Well, I think it will be a good beginning. By the way, he’s kinda cute. Xixixi.

“Mwo?!” Marcus langsung melotot.

Ups, apa dia mendengar apa yang baru kubilang barusan?

“Kau memanggilku?” tanyanya lagi dan aku menggeleng. Phew, baguslah. Setidaknya ia tidak sadar dan yang kusyukuri, ia bukan seorang mind-reader.

-TBC-

Ni Haoooo!!! SGV balik lagi. Sekarang si Michi udah absen dari liburan. Sekarang dia kudu musti masuk sebagai murid baru sekolah seni paling elit di Korea sana. So, jangan heran kalo anak-anaknya pada berlomba dandan ala Kpop, secara sekolahnya seni gila gitu. woakakaka.

Absurdly,

C 🙂

Advertisements

[Siwon’s Girl Version] Guy Next Door :P

Sampai detik ini, aku masih tidak percaya bahwa hidupku sangatlah spesial seperti apa yang dikatakan orang-orang. Aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa sejak lahir, aku adalah satu diantara separuh juta umat korban Hallyu Wave yang bisa hidup berdampingan dengan idol mereka. Oh well, siapalagi kalau bukan Superjunior…

 

Superjunior… Well, kayaknya Paman-paman sahabat terbaik Appa itu sekarang lebih pantas disebut Supersenior ketimbang Superjunior mengingat usia mereka yang semakin menua.

 

“Sadarlah, kau sudah tua, Uncle…” kata-kata itu selalu kuucapkan tiap kali Uncle Cho, tetangga sebelah rumah, slash magnae Suju, slash tukang ngerecokin, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cho Kyuhyun, magnae Superjunior dengan suara emas yang begitu menghanyutkan datang ke rumah dan merebut Nitendo Wii yang tengah kumainkan.

 

Uncle Cho yang sampai detik ini belum menikah juga, selalu datang untuk adu mulut denganku. Entah itu masalah Wii lah, masalah makanan lah, masalah teknik vokal lah, pokoknya jika kami sudah bertatap muka, perang pun dimulai. Seperti kata Appa, kami ibarat minyak goreng dan air ledeng. Atau lebih kerennya, air dan api. Hehehe…

 

Tapi.. Biarpun begitu, Uncle Cho itu baik lho. Ia selalu membelaku tiap Appa memarahiku. Ia pasti akan mencari sisi kebenaran dari semua kesalahanku, meski kesalahanku sudah sampai tingkat akut. Contohnya minggu lalu. Appa marah besar bahkan sampai berniat memulangkanku ke China lagi gara-gara aku menghabiskan limit platinum card yang Appa buatkan untukku hanya dalam waktu seminggu. Padahal, aku kan hanya ingin sedikit bersenang-senang. Entahlah, mungkin aku ketularan virus shoppaholicnya Auntie Jiwon yang bisa ‘sakau’ jika tidak berbelanja.

 

Appa yang hendak menamparku saat itu langsung dicegat Uncle Cho dan aku hanya bisa menangis.

 

“Sudahlah Hyung. Ini tidak serta merta kesalah Michi. Ini juga salahmu! Kau yang tidak pernah punya waktu untuknya! Kau tidak pernah punya waktu untuk mendidiknya, memberi tau mana yang salah dan mana yang benar! Sekarang kalau Michi seperi ini, seharusnya kau yang marah pada dirimu sendiri, bukan pada Michi!”

 

Entah kata-kata Uncle Cho yang seperti sedang menguliti Appa atau Appa yang saat itu moodnya memang sedang tidak bagus, Appa hampir saja berkelahi dengan Uncle yang membelaku. Untungnya mereka sudah sama-sama dewasa, jadinya bisa mengendalikan emosi. Toh nggak lucu kan kalau ada pemberitaan “Superjunior Siwon dan Kyuhyun berkelahi karena masalah kartu kredit Michi yang membengkak”. Cih, yang ada fans fanatik Suju makin tidak suka denganku.

 

Kalau boleh jujur, kurasa Uncle Cho adalah sahabat terbaikku setelah Auntie. Ia selalu mengajariku bagaimana bersikap tetap rendah hati meski hehe, aku tau, itu akan sangat sulit. Entahlah. Aku lebih senang menjadi diriku apa adanya, yang suka berbelanja ini, yang suka ngomong seenaknya ini, dan yang bermulut tajam ini daripada pura-pura menjadi seorang plain girl padahal kenyataannya, aku tidak seperti itu.

 

Sepanjang kelakuanku tidak mencelakai bahkan merenggut nyawa seseorang, kurasa itu sah-sah saja. Toh ini aku. Toh yang imejnya yang jadi buruk kan aku, bukan mereka. Dan kalau semua kelakuanku disangkut pautkan dengan Appa, yaahhh… namanya resiko. Lagipula aku sudah membuktikan bahwa aku adalah Shoppaholic yang genius. Maksudku, terakhir kali aku berbelanja dengan uang Appa adalah setahun yang lalu. Sekarang, lewat business shopping-line kukerjakan bersama Auntie, aku toh bisa membeli apa yang aku inginkan dengan uangku sendiri.

 

Well, lain kali aku akan menceritakan lebih lanjut tentang bisnis baru yang mengantarkanku menjadi satu-satunya murid SMU yang nampang di majalah bisnis itu. Now, let’s talk about my enviroment.

 

Back to Uncle Cho, one of my ever-lasting besties, banyak yang bilang kalau kami ini seperti jiwa yang sama, hanya berbeda generasi dan jenis kelamin. Appa dan beberapa paman bilang, kami sama-sama keras kepala, sama-sama sulit dibantah, dan sama-sama suka menjahili orang. Bahkan aku menerima gelar EvilKyu Jr dari Uncle Daddangkoma secara cuma-cuma.

 

Oh iya, Uncle Cho adalah satu-satunya member suju yang berani ‘melamarku’ secara terang-terangan di depan Appa.

 

Jadi ceritanya, waktu itu Appa, Uncle Cho, dan aku sedang makan malam bersama (Uncle Cho emang sering datang ke rumah untuk dinner. Mungkin Appa kasian dengan cara makan Uncle Cho yang hanya bisa memasak ramyeon. Nggak sehat, begitu kata Appa). Nah, tiba-tiba, Uncle Cho nyeplos seenak jidat di hadapan kami semua.

 

“Hyung, andai Michi 5 tahun lebih tua, atau aku yang 5 tahun lebih muda, aku pasti akan menikahinya…” celetuk Uncle. Aku dan Appa langsung kompakan tersedak begitu mendengarnya. Baru Appa hendak mengomelinya…

 

“Tapi pikir-pikir dulu deh, Hyung. Kalau aku menikah dengan anakmu, bisa-bisa perutku semakin tak terurus. Michi kan, cantik-cantik makannya sadis…”

 

Reflek aku langsung melempar celemek makanku kepadanya. Ohh… Ceritanya mau nyindir, nih???

 

Appa hanya bisa tertawa saat itu.

 

Selain Uncle Cho yang menyatakan dirinya sebagai Soulmateku, member Suju yang paling dekat, serta kusayangi adalah Uncle Wookie. Uncle suka sekali memasakkanku makanan yang enak-enak tiap kali menginap di rumah Appa atau di rumah Uncle Cho. Tahun lalu, saat aku kembali ke Korea setelah 15 tahun menetap di China, Uncle Wookie bela-belain belajar masak brownies untuk menyambut kepulanganku. Padahal, dia kan bisanya cuma masak lauk pauk, bukan roti. Tapi browniesnya enak kok. Cuma kurang banyak aja *halah!*

 

Basically, semua member Superjunior adalah role modelku. Aku banyak belajar dari mereka. Uncle Teukie yang selalu menjadi panutan, Uncle Daddangkoma yang mau mengajariku bernyanyi sampai dipuji banyak pakar musik, meski.. hehe… aku sendiri belum punya lagu. Aku hanya pernah bernyanyi selama semenit, itupun duet dengan Appa di sebuah acara talk show. Hahaha.

 

Lalu ada Uncle Donghae dan Uncle Monkey yang menginspirasiku untuk menjadi seorag rapper, juga ada Uncle Heechul yang membuatku belajar bagaimana menumbuhkan rasa bangga menjadi diri sendiri dan tidak perlu banyak mengurusi hal-hala yang tidak penting dalam beberapa hal. Dan beberapa member Suju lainnya yang SELALU memberiku banyak hadiah tiap kali bertatap muka.

 

Dan meskipun PuoPuo (sebutanku untuk Uncle Han Geng) sudah bukan merupakan anggota Superjunior lagi, PuoPuo ibarat pengganti Appa selama aku menetap di China. Well, Appa memang setengahnya menitipkanku pada PuoPuo saat di China. Bahkan PuoPuo lah yang paling khawatir, paling ribet, paling ketar-ketir setelah nenek saat aku terkena cacar air. Yeah you know, kesibukan Appa juga waktu yang tidak memungkinkan saat itu yang membuat Appa hanya bisa menjengukku lewat video call.

 

Overall, kalian bisa menyebutku kalau aku ini bukan hanya anak Appa, melainkan anak bersama. Ya anaknya nenek, ya anaknya Superjunior, ya anaknya PuoPuo, tiap kali ditanya bagaimana pendapat mereka tentangku, mereka selalu menjawab “Michi sudah kami anggap anak sendiri”

 

Ouh, aku jadi teharu *sigh*. Kupikir tidak ada satu orang pun yang akan menerimaku bahkan menyukaiku, tapi ternyata, seiring dengan berjalannya waktu, aku baru menyadari bahwa masih ada yang menyayangiku dengan tulus meski jumlahnya 1:1000 pembenciku.

 

Apalah arti angka. Aku jadi teringat sebuah quote dari film The Clique.

 

“It’s better to be a loser without friends than having a lot of friend but actually they don’t like you…”

 

Tapi bagiku, aku bukanlah seorang pecundang. Aku Michi Choi, si genius nomor satu, yang bangga dengan dirinya sendiri, dan KONSISTEN.

[Siwon’s Girl Version] What’s Michi????

Daebak! Marvelous! Superb!

Why? Because today is MY BIRTHDAY!!!! Yayyyyyy ^^

Tadi pagi, aku langsung terjaga begitu mencium aroma bunga Tulip yang mengusik indera penciumanku. Wanginya sih nggak menusuk, menyegarkan malah. Hanya saja, aku merasa sedikit aneh, bagaimana bisa bunga Tulip nyasar ke kamarku. Saat aku membuka mata, rupanya bunganya tidak hanya ada setangkai, melainkan sebuket. Oh, rupanya buket bunga itu dari Appa. Di sampingnya, terdapat sebuah kartu ucapan

Bonjour, Mademoiselle!!!

Happy Birthday!!! God is gonna be with you, always.

Hey! Appa tau ini sangat romantis. Makanya, jangan melongo saja! Cepat mandi dan berangkat ke sekolah! Appa tidak akan sudi diceramahi Sajangnimmu jika kau telat lagi! 😛

Your very handsome Daddy,

CH_SW

Hahaha… Appaku itu ada-ada saja. Mentang-mentang dia sedang tidak punya target untuk diberi hal-hal romantis, Appa malah memberiku bunga. See? Now you know ther reason why all those girls scream loud when they hear about a guy named Choi Siwon. Lol.

Tapi… Pagi hari di ulang tahunku ini agak sedikit kurang, karena Appa mengucapkannya secara tidak langsung. Yeahh.. Si Ahjussi super sibuk itu–dengan label ke-artisannya, harus memenuhi pekerjaannya untuk siaran radio pagi. Ahh.. Menyebalkan 😦

Sebalnya lagi, waktu pulang sekolah, Appa juga masih belum ada di rumah. Well, terlalu kekanak-kanakkan sih. Toh biasanya Appa tidak pulang pun tidak jadi masalah bagiku. Tapi mbok yha di hari ulang tahun anaknya ini, ia bersedia sedikit meluangkan waktu untukku. Seharian stay bersamaku, misalnya.

Ahh.. Tapi aku bisa apa? “Profesionalisme,” begitu kata Appa tiap kali aku merajuk, memohon kepadanya untuk sehari saja menghabiskan waktu denganku.

But… Bersedih-sedih, gonduk, atau apalah itu, bukan aku banget. It’s my birthday! Seharusnya aku bisa menikmati hari ulang tahunku ini dengan CARAKU SENDIRI. And what’s that?! Of course, SHOPPING! Yup. Setelah aku mandi nanti, aku akan pergi berbelanja. Masa bodoh jika Appa nanti mengomeliku lagi soal tagihan kartu kredit. Toh saat ini aku bisa membayar semua tagihan itu dengan uangku sendiri. Hehehe..

Saat aku sudah berada di dalam kamarku, aku langsung dibuat kaget dengan semua bingkisan, gitar, serta apalah itu yang menumpuk di atas tempat tidurku.

Dengan rasa penuh penasaran, aku membuka semua bingkisan itu satu-satu. Yang pertama kubuka adalah bingkisan di dalam shopping bag berwarna pink yang aku yakin sekali, itu dari Appa.

dan saat kubuka, ternyata isinya adalah…

Tadaaaa!!!! Sepasang high heels Miu Miu yang sangat-sangat cute. ^^

Bingkisan yang kedua, adalah sebuah 80’s diary, yang lagi-lagi dari Appa.

Kupikir tadinya buku itu adalah Book of Magic Spells-nya Harry Potter. Taunya Diary. Hahaha. Lucu lho. Gambar pada tiap lembar di buku itu berbeda-beda.

Setelah cukup dibuat terpukau oleh hadiah pemberian Appa, sekarang aku dibuat terpukau oleh hadiah dari Ahjussi tetangga sebelah, slash one of my bff yg terkadang jadi musuh bebuyutanku. Yahh.. Siapa lagi kalau bukan Uncle Cho alias Superjunior Cho Kyuhyun. Tau kan???

Uncle Cho memberiku sebuah gitar. Yayyy!! Akhirnya aku punya gitar sendiri ^^ Mana gitarnya unik pula. Hahaha. Kerennya, ia memberiku sebuah notasi lagu berjudul Michelle. How sooooo sweet ^^ Aissshhh…

Tak kusangka, masih ada hadiah tambahan dari Ahjussi super jahil itu. Ia memberiku sebuah parfum. Fuwaaa… Aku semakin sayang pada pamanku itu. Hehehe

Di tengah ke-cengoanku akan hadiah-hadiah itu, tiba-tiba Iphoneku berdering.

“Yeoboseo?”

“Yeoboseo, Michi~a! Sudah menerima hadiahku? Senang?”

“Senang sekali, Uncle Cho. Thank you sooooo much. Aiisssh.. Aku makin mencintaimu,” candaku dan kudengar Uncle Cho berdesis di seberang sana.

“Hei, kau tau tidak?! Aku tidak bilang pada Appamu kalau aku juga memberimu parfum. Jadi, jangan ceritakan tentang parfum pemberianku itu pada Appamu ya. Bilang saja aku hanya memberimu gitar, oke?”

Aku mengernyitkan dahi.”Memangnya kenapa kalau kau memberiku parfum?”

“Nanti Appamu tidak akan berhenti mengkhotbahiku ini-itu soal ia yang mual seketika saat lewat di depan kamarmu karena semua bau parfum yang bercampur menjadi satu…”

“Oh, itu. Hahaha… Iya, iya. Nanti aku tidak akan cerita. Gomawo ya hadiahnya…”

Setelah itu, telepon pun tersambung. Aissshh… Uncle Cho adalah paman terbaiiiikkk se-dunia.

Hari sudah mulai sore. Sebelum berangkat shopping, aku mampir dulu ke ruang makan. Laper banget. Dari tadi siang aku belum makan. Lupa. hehehe.

Waktu mau ke dining room, aku kan lewat ruang tengah, eh, tiba-tiba menemukan ini di atas piano.

Another surprise from daddy’o… hahahaha.

Kagetnya, waktu aku buka buku-buku itu, aku menemukan selembar kertas yg membuatku seperti tersambar petir di sore hari.

A TICKET TO PARIS.

How so amazing!!!! Cepat-cepat aku menelpon Appa, memastikan Appa tidak sedang mengusiliku. Tapi rupanya, itu benar. Maksudnya, tiket itu benar-benar tiket pesawat tujuan Paris.

Intinya, minggu depan aku dan Appa akan Paris. HOREEEEEEE!!!!! ^^

Finally, Dreams come true,

Michi 🙂

[Siwon’s Girl Version] Surprise or Present?

Michelle Elena Choi…

Tak terasa ia sudah beranjak dewasa. Minggu depan ia berusia 16 tahun. Padahal, rasanya baru kemarin aku melihatnya bisa berlari kepadaku dan memanggilku “Appa” dengan lidah cedalnya. Rasanya baru kemarin, aku membalut luka di lutunya saat mengajarinya mengendarai sepeda roda empatnya.

Haha, anak-anak jaman sekarang bertumbuh dengan cepat. Termasuk putri semata wayangku ini.

Melihatnya tumbuh sebagai putri yang di-elu-elukan banyak orang, membuatku bangga padanya. Meskipun terkadang, tak sedikit juga yang mencemooh tentang masa lalunya.

Dan sebagai seorang ayah, aku tau bagaimana perasaannya ketika kedua hal itu menerpanya dalam waktu bersamaan. Tak gampang baginya, menerima kenyataan bahwa ia adalah putriku, putri seorang superstar, Choi Siwon. Untuk itu, aku selalu berusaha menguatkannya ketika ia mulai ‘jenuh’ dan ‘benci’ akan eksistensinya.

Oke, oke. Tak perlu kujelaskan bagaimana susahnya aku membesarkan remaja putri seorang diri. Aku sudah berusaha sekuat tenaga dengan dibantu orang-orang ‘hebat’ dalam hidupku. Aku tau, aku telah banyak melakukan kesalahan saat memerankan peran ‘single parent‘ di depan Michi. Tapi… Bukankah karena ‘salah’, kita baru bisa mengerti apa itu ‘benar’?

By the way, jadwalku memang tidak terlalu padat hari ini. Makanya, aku sudah ada di rumah sejak sore tadi.

Aku sendirian, soalnya Michi memang sedang menginap di rumah Eomma. Tadi, sebelum berangkat ke sekolah, ia meminta ijin padaku kalau hari ini ia mau melakukan pajamas party dengan bff-nya yang baru pulang dari Jerman itu. Yah, siapa lagi kalau bukan Jiwon, dongsaeku. Sejak kecil, Jiwon memang sudah menjadi teman mainnya. Entah bagaimana caranya, meskipun terpaut usia yang sangat jauh, mereka bisa klop satu sama lain.

Kalu sudah sendirian seperti ini, aku paling suka bersih-bersih. Entahlah, sejak menyadari bahwa diriku ini bukanlah seorang pria lajang lagi–melainkan seorang Ayah, aku jadi ketularan Ryeowook yang suka sekali bersih-bersih itu. Bagiku, melihat banyak sidik jari yang nempel di sana-sini itu sangatlah menyebalkan. Apalagi melihat barang-barang yang berada di tempat yang tidak semestinya. Errr… Aku jadi geregetan ingin menata ulang.

Kegiatan bersih-bersihku yang sudah memakan waktu satu jam ini masih belum selesai. Sampai akhirnya aku ‘terdampar’ di kamar serba pink-nya Michi.

Aku sedikit beruntung karena ia mewarisi sifat anti-berantakan dariku. Paling hanya novel-novel yang tergeletak di meja yang lupa ia kembalikan ke rak yang membuat kerapihan kamar ini kurang sempurna.

Saat melihat suasana kamarnya yang sangat girly, aku semakin percaya bahwa darah yang mengalir di tubuhnya 80% adalah darah seni. Buktinya, interior kamar ini. Percaya atau tidak, Michi yang mendesain kamarnya sendiri sampai seperti ini. Waktu aku membuatkan kamar untuknya, ia yang banyak berdebat dengan si interior designer.

Aku tau bahwa Michi sangat terobsesi pada kota Paris. Yahh.. Yeoja mana yang tidak jatuh cinta pada kota penuh cinta, yang kata mereka, kota romansa itu. Putriku adalah satu di antara yeoja-yeoja yang memiliki impian besar menginjakkan kaki di Paris. Look! Michi sampai menempelkan hasil karya lukisnya sebesar poster di depan mejanya belajarnya!

Bahkan bookmark pada novel yang tadi kukembalikan ke rak ada gantungan menara Eiffelnya. Itu oleh-oleh dari Jiwon sewaktu melakukan “Trip To Europe”nya.

Demi meraih obsesinya, Michi sampai bela-belain ikut kursus bahasa Perancis 3 kali seminggu. Aku masih ingat, satu kalimat dalam bahasa Perancis yang pernah Michi ajarkan padaku. “Tu Es Belle” yang artinya kau cantik. Hmm… maunya -.-”

Suatu saat, aku tidak sengaja melihat buku di atas meja belajarnya. Kupikir itu semacam notebook berisi coretan-coretannya. Dan sekali lagi, isinya tentang Paris.

ada bagian dari buku itu yang membuatku berkaca-kaca begitu membukanya

and so do I, dear…

Oke, ini bukan saatnya bersedih. Oh! Aku melihat tumpukan yang tertata rapi di sudut meja. Michi bilang, itu isinya postcard dari temannya sewaktu di China yang sekarang sekolah di Paris.

Dan yang semakin membuatku percaya bahwa putriku benar-benar “die in love” pada kota Paris adalah souvenir kecil yang entah dari siapa berada di antara koleksi parfumnya.

Well, inilah bukti nyata dari kata pepatah “buah tidak jauh dari pohonnya”. Michi sama seperti aku yang tidak bisa jika tidak wangi. Hahaha.

Omona! Sudah jam tuju rupanya. Aisshh… Pantas saja perutku keroncongan. Harus cepat-cepat kubersihkan kamar anak kesayanganku ini dan segera memberi makan pada cacing yang kini konser lagu rock di dalam perutku ini.

Selesai dari kamar Michi, aku langsung ke dapur untuk memasak makanan. Yeah, beginilah nasib pria single, masak sendiri. Cuci piring sendiri. Untungnya aku tidak separah tetangga sebelah rumahku, Kyuhyun yang setiap hari selalu makan ramyeon karena tidak bisa masak itu.

Dan karena nasibnya sama sepertiku, pria single, tinggal sendiri (khusus aku, hanya untuk hari-hari tertentu saja saat ditinggal Michi), Kyuhyun tiap hari datang ke rumah untuk makan malam jika tidak ada schedule malam. Demi apapun juga, aku tidak tega magnae di Sujuku itu semakin cungkring gara-gara kekurangan asupan gizi dari makanan yang sehat.

Malam ini ia sedikit lebih banyak diam. Iya, soalnya partner adu mulutnya, yang tidak lain adalah putriku, Michi, sedang tidak ada di rumah. Yahh… Bisa dibilang, Kyu merupakan salah satu nama yang masuk list bff-nya Michi. Orang pertama yang antusias menggendong Michi saat pertama kali kubawa ke tempat latihan dance, adalah Kyuhyun. Ya. Cho Kyuhyun yang katanya tidak suka anak kecil itu malah senang sekali bermain dengan baby Michi. Entah apa yang bisa kujelaskan, Michi memang pembawa keajaiban, tidak hanya dalam hidupku, tapi dalam hidup orang lain. Michi seolah mempunyai sihir yang bisa langsung membuat orang mencintai dan mengasihinya begitu bertatap muka dengannya.

“Minggu depan Michi ulang tahun lho, Hyung! Sudah menyiapkan hadiah untuknya?” celetuk Kyuhyun tiba-tiba saat kami tengah menikmati ayam saos lemon buatanku.

“Entahlah. Aku masih bingung. Aku ingin memberi surprise atau hadiah saja padanya. Aku takut kalau schedule-ku minggu depan tiba-tiba berubah padat. You know our beloved manager-hyung, rite?” cercaku panjang lebar. “Kau? Mau memberi apa pada putriku?”

“Parfum mungkin. Michi suka dengan parfum, kan?”

“Oh, please, don’t do that, GameGyu! Kamarnya sudah cukup memabukkaan dengan koleksi parfumnya yang sekarang. Aku sebagai Appanya, tidak akan ‘merestui’ hadiah yang akan kau berikan pada anakku…”

“Hahaha, kau lucu, Hyung. Kubilang tadi ‘mungkin’, jadi masih ada alternatif lain, kan???’

Aku hanya manggut-manggut sambil melanjutkan makan malamku.

“Jadi kau mau memberi apa? Surprise, atau hadiah?”

Aku mengangkat bahu. Sekali lagi, aku mengakui kalau aku bukanlah Ayah yang baik 😦

“Hyung, bukankah Michi suka sekali pada kota Paris?”

*TING!* Aha! Paris! Why not?! Aku akan mencoba bernegosiasi pada manager hyung. “Kyu! You are my smart magnae!”

-TBC-

Author Says: Sebenernya, nih, yang terobsesi pada Paris itu aku… Hahaha

[Siwon’s Girl Version]My-Chili-City: ORIBS

Pagi ini aku gugup sekali. Perasaanku resah, jantungku berdebar-debar. Sedari tadi, aku hanya mondar-mandir tidak jelas di depan TV. Bukan karena frustasi dengan berat badanku yang naik setengah kilo gara-gara ritual hibernasiku sepanjang liburan kemarin, apalagi kalau kau sampai berpikir, ini gara-gara PMS. BUKAN. SAMA SEKALI BUKAN.

Yang ku-khawatirkan, adalah acara TV yang sedari tadi kutunggu-tunggu tidak tayang juga. Bukan apa-apa sih, tapi yang jadi bintang di acara itu adalah AKU. Nggg… Nggak juga sih. Sebenarnya tentu saja bintang tamunya Appa. Tapi karena kebetulan kemarin aku sedang ada di rumah, aku diajak shooting sekalian.

Jadi ceritanya, acara ini adalah program TV semacam MTV ORIBS. Tau kan? Itu lho, acaranya MTV yang membahas tentang rumah artis-artis. Bedanya, ini versi Korea.

Dan kemarin, giliran apartemen Appa slash apartemenku yang dijadikan destinasi tour gratis bagi para pecinta Appa itu.

Nah nah…. Acaranya mulai!

“Anneyong Haseo, Choi Siwon imnida… and welcome to my house…” setelah Appa berbicara begitu, keluarlah profil lengkap apartemen ini. Mulai dari jumlah kamarnya, jumlah kamar mandi, jumlah ruang makan, ruang tamu… Geez! Kenapa tidak dihitung jumlah ubin sampai jendelanya sekalian?! Lol.

Dan tour pun dimulai.

Yang pertama muncul, adalah living room kami. Hehe, kami tinggal di apartemen, jadi, ruang keluarga sekalian jadi ruang tamu ^^V

Hehe… Aku hanya bisa tersenyum getir melihat living room rumah ini yang…. dari jaman kuda gigit besi sambil lari-lari begituuuuuu aja. Huft, kalian seperti tidak tau Appa saja yang sibuknya amit-amit itu, bahkan mendekor ulang rumah saja ia tidak sempat -.-”

Selanjutnya, dining room, tempat favoritku. Hehehe 😀

well, terkadang aku juga sering bermusuhan dengan tempat ini sih, soalnya, di tempat inilah, malapetaka sering terjadi. Baru satu jam aku di tempat ini, berat badanku sudah sampai naik 0.19 pound. Serem nggak tuh??? Bagaimana jika badanku gendut lagi? ??? Bisa-bisa Appaku mati ketawa saat kuberitahu -.-”

Lajut lagi, bagian yang paling ditunggu-tunggu para yeoja di luar sana. Apalagi kalau bukan kamarnya Appa.

Sebut saja kamar Appaku yang katanya manusia tampan itu “Kamar Hotel Bvlgari yg nyasar ke Skyline.” Jealousnya, kamar Appa ada balconynya. Sedang kamarku????


Lihatlah, betapa kontras perbedaan kamarku dengan kamar Appa. Kamarku itu kamar tipe 3S–Selonjor Saja Susah. Mayday,kamarku sempiiiiiiiitttt sekali. Mana tempat tidurnya single bed, warna pink pula T.T. Aku ingin Appa cepat-cepat membeli RUMAH baru. Iya, rumah, bukan FLAT –”

Tapi, setidaknya Appa sedikit berbaik hati padaku. Ia membuatkanku walk in-closet pribadi untukku.

“Wah, kamar putri anda benar-benar girl’s room ya, Siwon Ahjussi…” kata si host pada Appa saat meliput kamarku. Aku yang saat itu juga ikut di-shoot, hanya bisa tersenyum miris dan berharap segera pindah pindah dan pindah. Nggak sanggup deh lama-lama tinggal di apartemen ini. Sempiiiiitttt sekaliiii >.<

Dan entah mereka yang terlalu lebay atau akunya yang kelewat biasa-biasa saja, mereka bahkan sampai gembar-gembor mengenai balcony rumah ini.

kalo dipikir-pikir lagi, aku sendiri juga nggak yakin ini balcony atau teras. Yahh.. Pokoknya aku dan Appa sering pesta BBQ di sini. Kadang juga bareng Paman-Paman Superjunior sih. Hehehe…

Dan akhirnya tayangan itu selesai. Wah, ternyata mereka nggak jadi menampilkan part dimana aku sedang main Wii bareng Uncle Cho. Kan nggak asik kalo citraku makin buruk gara-gara aku sering adu misuh dengan tetangga sebelah rumah yang seminggu ini selalu main ke rumah ini. Hehehe…

Kindly, Michi ^.^V