The Last Time

11:30 pm

Sae Ra sedang memijit-mijit ringan pelipisnya ketika bel apartemennya berbunyi. Itu pasti Siwon, pikirnya. Dan memang benar, pria itu kini tengah menunggu dirinya membukakan pintu di luar sana.

Tadi siang, Siwon berjanji akan mengunjunginya malam ini sekaligus membawakan makanan favorit kekasihnya itu—ayam cepat saji dengan wajah member Shinee pada kemasannya.

“Yaayy.. Finally!” seru Sae Ra sambil menghambur ke pelukan Siwon begitu ia membuka pintu rumahnya layaknya anak kecil yang merindukan ayahnya. Sejak tadi, Sae Ra memang tengah menunggu dua hal yang selalu menjadi percikan kesegaran ketika harinya tengah diliputi kabut hitam yang ia sebut pekerjaan; Siwon dan ayam.

Ketika Siwon duduk bersamanya di meja makan dan menikmati ayam cepat saji yang berkalori tinggi itu dengan seteko orange juice buatannya lalu mereka saling menceritakan kegiatan mereka akhir-akhir ini—that’s all she want in this kind of relationship, mengingat kesibukan masing-masing membuat intensitas pertemuan mereka menjadi sangat jarang.

Kembali pada Sae Ra yang kini dapat tersenyum bahagia karena tengah dikunjungi kekasihnya itu…

Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Sae Ra rupanya berbanding terbalik dengan apa yang nampak dari raut wajah Siwon. Pria itu memang tersenyum, namun senyumnya seolah sangat dipaksakan. Seolah pria itu tersenyum hanya untuk menutupi rasa sakit—entah apa itu—yang tengah ia rasakan.

Dan Sae Ra menyadarinya.

“Ada apa?”

Tanya wanita itu namun pria itu hanya membalasnya dengan senyuman lirih itu lagi. “Tidak apa-apa,” elak pria itu menutupi. “Ayo kita makan ayamnya, mumpung masih panas,” tambah pria itu sambil mengusap puncak kepala Sae Ra lalu sejurus kemudian memberikan seplastik ayam cepat saji yang dibelinya itu pada Sae Ra.

“Orange juice-nya ada di dalam kulkas. Ambil lah,” kata Sae Ra pada Siwon sambil berlalu menuju dapur. Seharusnya tanpa wanita itu suruh, Siwon pasti sudah otomatis akan menuju kulkas tempat wanita itu menyimpan orange juice buatannya, karena Siwon sudah terbiasa.

Ya. Siwon memang sudah terbiasa, bahkan bisa dibilang sering, riwa-riwi di apartemen kekasihnya itu tanpa rasa canggung. This is his second home; this apartment and its owner. Apartemen ini dan Sae Ra, adalah rumah kedua baginya.

Singkat cerita mereka kini sudah duduk di ruang makan dalam diam.

It’s totally breaks her mood.

Sae Ra sudah begitu bahagia dengan rencana kunjungan Siwon setelah hampir setengah tahun pria itu tidak bertatap muka dengannya, dan malam ini, ketika moment itu tiba, pria itu hanya diam, bahkan tidak menanyai kabarnya.

“Is there something wrong, Choi Siwon?”

Pria itu mengangguk. “Ya.”

Dan Sae Ra pun mulai khawatir dengan kemungkinan terburuk yang tidak ingin ia bayangkan. “What’s that?”

“Kita makan dulu, baru nanti kuberitau.”

“Aku tidak mau makan sampai kau memberitauku.”

“Terserah.” Siwon mengambil sepotong ayam cepat saji yang ada di hadapannya itu santai lalu melahapnya tanpa menatap Sae Ra.

“CHOI SIWON!”

“Bisakah kau sekali saja melakukan apa yang kuminta, Huang Sae Ra?!”

Memang. Selama ini Sae Ra selalu membantah segala sesuatu yang Siwon katakan, meski itu terkadang Siwon katakan hanya semata-mata untuk kebaikan dirinya. Bahkan Sae Ra masih melakukan ritual ‘kerja rodi’nya yaitu bergadang semalam suntuk untuk menuntaskan pekerjaan selama seminggu kedepan hingga berulang kali Sae Ra ambruk dan mendapat suntikan dopping dari dokter pribadinya, which is, Siwon sangat khawatir jika lama kelamaan Sae Ra mungkin akan mengalami ketergantungan pada dopping vitamin dari dokter. Dan itu sangat tidak sehat.

Namun Sae Ra tidak pernah jera dan selalu mengabaikan nasihat Siwon. Baginya, ketika Siwon mengatakan itu semua, Siwon tidak beda jauh dengan mendiang neneknya yang super cerewet. Selama ini, Sae Ra selalu menjadi kekasih Siwon yang pembangkang dan anehnya Siwon tidak pernah lelah dengan sifatnya itu.

But today, he probably gets tired.

Mungkin Siwon sudah diambang batas kesabarannya menghadapi kekasihnya yang tidak pernah peduli pada kesehatannya sendiri, sampai-sampai pria itu melontarkan kalimat yang cukup menampar Sae Ra, mengingat selama ini ia tidak pernah berkata setegas itu pada kekasihnya.

Now eat your meal and we’re gonna talk it later,” tambah Siwon lagi dan Sae Ra hanya bisa terdiam.

Jiwa pemberontaknya sudah ingin membantah Siwon sejak tadi, namun entah kenapa, malam ini Sae Ra bisa mengendalikannya. Yang wanita itu hindari hanya satu: ia tidak mau bertengkar dengan Siwon lagi. Terakhir mereka bertengkar mengakibatkan putusnya hubungan asmara mereka setahun lalu. Dan ia sangat tidak mau masa kelam itu terjadi kembali.

 

 

“We better off this way,”

Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Siwon itu sontak membuat Sae Ra terkejut dan tidak percaya. “Mwo?!”

Siwon menarik nafasnya. “Ada baiknya kita akhiri semua ini.”

Sae Ra shock. Badannya terasa kaku dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Apa yang baru saja ia dengar dari Siwon itu membuatnya mati rasa seketika.

Ia harap, perkataan Siwon ini adalah bagian dari mimpi buruknya di malam hari. Namun sayangnya, ini semua nyata dan terasa sakit untuknya.

“Kau ingin aku mengatakan apa, Choi Siwon?”

Bodoh. Itu respon terbodoh dan teridiot yang pernah Sae Ra lontarkan jika wanita itu sempat mengingat bahwa ia merupakan seorang cumlaude semasa kuliah dulu.

Siwon-nya tidak menjawab. Pria itu juga sedang merasakan penderitaan shocktherapy sesaat setelah melakukan hal yang masih tidak bisa ia nalar itu.

Mengapa dirinya tega mengambil keputusan senekad ini, padahal jelas-jelas ia begitu mencintai wanita yang sudah menjadi hidup dan matinya itu?

Sampai detik ini pun, pertanyaan itu masih terbesit di kepalanya.

“Aku tidak bisa lagi menjalani hubungan yang seperti ini, Sae Ra. Aku menderita saat tidak bisa berada di sampingmu saat kau membutuhkan diriku…”

“It doesn’t matter for me—“

“Stop it!” potong Siwon. “Kau tidak apa, tapi aku yang menderita, Sae Ra. Tidak bisakah kau merasakan bagaimana menjadi aku?”

Wanita bernama Huang Sae Ra itu hanya terdiam. Menunduk. Tak berani menatap sang kekasih yang kini seperti orang lain baginya. Pria itu… Tak pernah mengatakan kata-kata semenyakitkan ini.

“So..” suara wanita itu bergetar. “You’re gonna leave me?”

Pria itu mengangguk. Lalu detik itu juga, air mata itu meluncur deras menghancurkan sumpah yang telah ia buat untuk tidak menangis setelah mengakhiri hubungan ini,

Namun ia gagal.

Ini sangat menyakitkan baginya. Dan tentu saja bagi Sae Ra. Keputusan semacam ini, sudah pasti akan menyakitkan semua pihak.

“Mianhae…” hanya sebuah kata itu yang bisa Siwon ucapkan dan Sae Ra hanya bisa tersenyum lirih, tak habis pikir apa yang baru saja terjadi.

Wanita itu beranjak dari duduknya kemudian segera membereskan meja makan itu dan berlalu ke dapur dalam diam.

Tangisnya pecah. Air matanya jatuh lalu mengalir deras membanjiri pipinya. Ia tak berniat menghentikan reaksi alami dari kesakitan hatinya itu.

Biar. Biar semuanya tau bahwa keputusan Siwon itu sangat menyakitkan. Dan dalam kesakitannya itu, ia tak dapat berbuat apa-apa lagi. Badannya mati rasa. Ia seolah telah kehilangan seluruh jiwanya.

 

 

“Kau mengingkari janjimu, Siwon…” wanita itu terisak dalam dekapan pria yang kini sudah bukan kekasihnya lagi itu. “Waktu itu, kau bilang akan selalu bersamaku dan tak akan pernah meninggalkanku, then what about now?”

“I’m sorry,” hanya itu yang bisa ia ucapkan, lalu mengecup puncak kepala Sae Ra yang ada dalam dekapannya kini. Jangan tanya sudah berapa liter air mata yang terjun tanpa permisi dari kedua mata indahnya itu. Ya, pria itu ikut menangis bersama wanitanya—yang mungkin sebentar lagi bukan lagi.

Beberapa saat yang lalu, Sae Ra muncul dari dapur dengan air mata yang mengalir deras, membanjiri pipinya. Dan ia mengutarakan permintaan terakhirnya kepada Siwon, sebelum pria itu benar-benar pergi dari kehidupannya…

It’s gonna be the last night for them. Ini akan menjadi malam terakhir bagi Sae Ra untuk merasakan lengan kekar itu memeluknya. Dan ini akan menjadi malam terakhir bagi Siwon untuk memeluk tubuh wanita yang telah bersamanya selama dua tahun terakhir ini.

Mereka pun tertidur dengan sisa-sisa air mata yang entah sampai kapan akan berhenti.

 

 

06:30 am

Sae Ra terjaga dari tidurnya yang sangat-sangat buruk. Matanya sembab, dadanya sesak… Sakit yang ia rasakan dalam tubuhnya ini terasa begitu nyata, meski faktanya tubuhnya tak kenapa-napa.

Pria itu masih terbaring di sebelahnya, namun sudah tak memeluknya lagi.

Mata itu..

Bibir itu…

Wajah itu…

Dalam beberapa saat lagi akan menghilang dari kehidupannya. Ya, pria itu akan meninggalkannya. Namun sebelum pria itu benar-benar pergi, Sae Ra beranjak lebih dahulu dari tempat tidurnya untuk membasuh diri dan menyiapkan sarapan terakhir yang bisa ia buat.

Di kamar mandi, wanita itu menangis lagi. Seiring dengan aliran air yang mengucur dari showernya, Sae Ra menumpahkan rasa sakit yang dideritanya saat ini.

Ritual membasuh dirinya selesai. Maka, wanita itu segera berpakaian dan merias sedikit wajahnya, terutama bagian matanya yang sudah sangat mirip dengan panda kurang gizi—sangat menjijikan baginya.

Namun rupanya, keahlian merias yang ia miliki tak mampu menutupi tanda-tanda kesedihan di raut wajahnya. Ia gagal.

Sae Ra memutuskan keluar dari dalam kamar mandi.

Toh, untuk apa berdandan cantik lagi. Toh, pria itu akan segera pergi dari kehidupannya, begitu pikirnya.

Ketika Sae Ra keluar dari kamar mandi, pria itu sudah terjaga dari tidurnya. Ia sedang duduk bersandar di atas ranjang kingsizenya dengan mata setengah terpejam. Mungkin pria itu sedang mengumpulkan nyawanya.

Sae Ra melewati pria itu dan berjalan keluar dari kamarnya. Sempat ia berharap pria itu mengucapkan “Morning, Sunshine!” seperti yang biasa pria itu ucapkan ketika ia terjaga di sampingnya. Namun kenyatannya, pria itu bahkan tak menyapanya.

 

 

The Last breakfast…

Mereka makan dalam diam. Siwon menghabiskan scramble egg dan sosis buatan Sae Ra dengan cepat tanpa menatap Sae Ra sedikitpun. Pria itu… Sepertinya memang ingin segera pergi dari kehidupan Sae Ra dan melupakannya.

“Thank’s for this meal,” ucap Siwon begitu ia menegak minumannya. “I have to go now.” Pria itu berdiri dan beranjak meninggalkan tempat makan itu.

Sae Ra tak bergeming. Ia terlalu shock untuk mengucapkan sepatah kata bagi pria yang ingin segera meninggalkannya itu.

“Take care, Sae Ra-ya,” ucap Siwon setelah mengenakan mantelnya yang tergantung di dekat pintu keluar rumah wanita itu.

 Baru saja Siwon hendak memutar kenop pintu, ada sebuah tangan yang menarik lengannya dan dengan cepat, sebuah ciuman mendarat di bibirnya.

It’s Sae Ra and her wet lips. She’s crying so hard, like a waterfall.

Siwon membeku di tempat. Ia tak membalas ciuman wanita itu. Keputusannya sudah bulat, ini semua harus berakhir. Dan wanita itu harus melupakannya, agar ia bisa memulai kehidupannya yang baru tanpa rasa bersalah, tanpa perlu mengingat dirinya, dan ciumannya.

“Stay healthy, Huang Sae Ra,” ucapnya begitu Sae Ra mengakhiri ciumannya. Pria itu tak berusaha menghapus air mata yang masih mengalir deras membanjiri pipi wanita itu. Ia lebih memilih memeluk tubuh yang pernah ia cintai itu sesaat, lalu pergi.

 

Sae Ra melihat dengan jelas bagaimana sosok pria itu perlahan-lahan menghilang dari koridor apartemennya. Pria tak berbalik. Sama sekali. Pria itu memang benar-benar ingin semua ini berakhir.

BLAAAMM

Sae Ra membanting pintu apartemennya.

Ia berjalan, dengan air mata yang masih terus mengalir. Pikirannya kalap. Ia membanting sisa gelas dan piring yang ada di meja makan. Menendang kursi makan itu, mengobrak-abrik apa yang ia lihat.

Kegiatan membabi butanya itu masih terus berlanjut sampai ia berlari ke dalam kamarnya dan membanting semua furnitur mahal yang ada di sana, terutama foto-foto dirinya bersama Siwon yang berjajar rapi di salah satu sudut kamarnya, ia ingin menghancurkan itu semua.

“You’re so dumb, Choi Siwon. You’re so dumb…”

 

The End.

 

 

Hello, people!

It’s me, Cella TWD. Aku akhirnya muncul lagi setelah sekian lama bertapa mencari inspirasi dan chemistry untuk blog ini. Dan, pada akhirnya aku memutuskan untuk menulis fanfic ini. Yes, this is the end of their relationship. Siwon and Sae Ra are totally over!

Dan dengan dipostingnya fanfic ini, aku sekalian mau pamit hiatus untuk selama-lamanya. Aku udah nggak bakalan nulis fanfic lagi. Jadi pembaca sih, mungkin masih ya, tapi kalo nulis fanfic, aku bener-bener udah berhenti.

Thank you banget buat pembaca-pembaca, visitor, atau siapapun (yang mungkin cuma sekedar lewat), karena kalian udah nyempetin waktu buat mampir sebentar di blog aku. Thank you banget udah jadi penyemangat aku buat tetep nulis sampe fanfic terakhir ini.

Aku berhenti di dunia fanfiction bukan berarti aku berhenti nulis. I’m still writing, Pals, but not here anymore. Aku masih bakalan nulis di blog aku yg baru, yaitu di chocovanilla-cream.blogspot.com

I hope I can see you there J

Last but not least, di moment lebaran ini aku juga mau minta maaf atas segala konsistensiku yang buruk sebagai seorang author yang nggak pernah nuntasin ff continued yang aku punya. Aku minta maaf ya, teman-teman pembaca. Sorry for all my faults and my weakness.

Siwon itu MaSi, Sekali lagi, mohon maaf dan terima kasih.

Wasalam.

Cella-TWD ^^V

We Back Together

TING TONG……

TING TONG…….

Bel yang berbunyi seperti sirine kebakaran itu pun pada akhirnya berhasil membangunkan Sae Ra dari tidurnya.

TING TONG…..

Bel itu berbunyi lagi. Dan Sae Ra pun beranjak dari tempat tidurnya—meski malas—dengan nyawa-nyawa yang belum terkumpul semua. Ia berjalan keluar kamar sambil mengumpat habis-habisan tamu tidak tau diri yang ada di luar sana itu. Terang saja tidak tau diri, ini jam empat pagi dan matahari pun bahkan belum muncul!

TING TONG….

Continue reading

Someday~

Jangan tanya kenapa judulnya ‘Someday’ karena aku sendiri juga nggak ngerti kenapa aku ngasih judul itu. Masa iya aku nge-post nggak ada judulnya? hahaha.

Now let you guess who was that man…

Enjoy~

Kona Beans, 3:15 PM

One not—really—fine spring day…

Seperti suatu keajaiban, hari ini pengunjung tidak sampai membludak, seperti saat aku melakukan shift-ku untuk bekerja part time di sini. Padahal ini hampir weekend, tapi sepertinya banyak orang yang masih terjebak dalam kubangan-kubangan proyek kantornya atau apalah itu, mengingat hari ini juga tanggal tua.

Mengerti maksudku, bukan?

Kebiasaan di Korea, atau mungkin hampir di seluruh negera metropolis, enterpreneurship dalam lingkup formal—such as pekerja kantoran yang mengejar target, harus bekerja jauh lebih ekstra di akhir bulan.

Kecuali dia bosnya, yang bisa ongkang-ongkang kaki di tengah kegetiran para pekerjanya yang sudah hampir sinting dengan target yang ia berikan atau kau dipecat!

Atau dia adalah pekerja seni seperti aku, Siwon, dan Kyuhyun.

Sebenarnya hari ini adalah shift Kyuhyun. Tapi berhubung kami-kami ini sedang tidak ada kerjaan—break setelah SS4 Osaka, jadinya kami ikut saja.

Sekalian memanfaatkan ‘mumpung gratis’ atau jika boleh kuperhalus, ‘pasti dapat diskon’ karena Kona Beans adalah milik pribadi. Hahaha…

ab

Kalau aku dan Kyuhyun yang single-player ini luntang-luntung tidak jelas dengan kedok pekerja part time Kona Beans, bagaimana alibi seorang Choi Siwon?

Di hari yang secerah ini, meski sisa-sisa hawa dingin winter masih tertinggal, yang ia sambangi justru Espresso pahit yang tidak terlalu populer di Kona Beans, bukan Huang Sae Ra, kekasihnya yang mungkin sudah ada dua bulan tidak ia temui.

Aku yakin tebakanku 75% benar jika Siwon dan kekasihnya yang fenomenal itu sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kuurungkan niatku untuk memastikan tebakanku dengan menyapa Siwon.

Mengingat aku tidak terlalu dekat dengan Siwon. Nothing serious, tapi memang sejak dulu relasi pertemanan kami hanya sebatas begini-begini saja.

Tapi yang namanya Cho Kyuhyun adalah anak laki-laki dengan segala rasa keingintahuan yang begitu besar. Ia tinggalkan mesin kasir yang masih lengang sejak pengunjung ‘barat’ kami yang terakhir membayar Hazzelnut Coffeenya itu, lalu menghampiri Siwon yang sedang duduk melamun di salah satu sudut dekat jendela.

Kupingnya tersumpal sempurna dengan earphone Doctor Dre hingga Kyuhyun yang sudah memanggilnya berkali-kali sampai harus duduk di hadapannya dulu sambil melambai-lambaikan tangan.

(for your information: earphone Doctor Dre itu earphone yang dikasih ke LMFAO di intro pembukaan MV Party Rock Anthem. Kalo pake earphone itu, udah sampe bener-bener nggak kedengeran apa-apa)

Seolah kehadiran Kyuhyun tidak begitu penting baginya (memang tidak penting,sih) dan keadaannya yang seperti itu memungkinkan seorang Choi Siwon yang terkenal ramah serta friendly untuk mengabaikan maknaenya. Siwon hanya membuang pandangannya ke jendela sambil sedikit mengutak-atik iPhone di tangannya. Mungkin agar sedikit terlihat sibuk, entahlah.

“Tumben tidak menemui Noona, Hyung?”

Kyuhyun memang sudah menganggap Sae Ra sebagai Noonanya sendiri. Siapa sih yang tidak ingin menjadi adik wanita hebat sepertinya? Hahaha… Dan memang pada kenyataannya, jika ‘setan-setan’ imut ini sudah berkumpul, visualisasi hubungan kakak—adik—yang—tidak—pernah—akur—tapi—saling—merindu tidak terelakkan lagi.

Kuakui, mengambil hati orang adalah speciality yang hanya dimiliki kekasih Choi Siwon.  Everbody loves her just the way she acts as her own self, and yes I do love her just the way she stole something in my life.

Sesuatu yang tidak pernah berani kuakui. Sesuatu yang sebenarnya tidak rumit, tapi sangat-sangat salah jika melihat pada kenyataan status hubungan Sae Ra dan Siwon adalah sepasang kekasih.

Yes, you should know what this ‘something’ exactly…

Kembali pada Kyuhyun yang semakin penasaran sekaligus semakin jengkel karena Hyungya itu mengacanginya, ia masih tidak menyerah untuk mengorek lebih dalam.

“Hyung aku sedang berbicara denganmu!”

“Ya, aku tau,” jawab Siwon santai sekali dan sepertinya itu sukses membangunkan aura-aura jahat dari diri sang evilmaknae.

Setelah menjawab seperti itu, Siwon kembali berkutat pada acara mendengarkan musiknya dan aku yang duduk tidak jauh dari mereka ini (sejak tadi kami memang ‘sendiri-sendiri’), mendengar Siwon menekankan suatu kalimat dalam bahasa Inggris.

“You’ve been good, busier than ever… We small talk, and work on the weather…”

Ya. Aku mendengar penggalan lagu miris milik Taylor Swift itu mengalun dari bibir Siwon.

Dan aku yakin, hubungan Siwon dan Sae Ra sedang tidak baik. Well, aku memang tidak pernah peduli dengan hubungan cinta orang lain, tapi jika sudah menyangkut tentang wanita bernama Huang Sae Ra, aku tidak bisa.

Aku tidak bisa untuk tidak peduli.

Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri tidak tau. Semakin aku ingin mengabaikan perasaan sinting yang tidak benar dalam diriku ini, semakin besar badainya.

Dan jangan tanya sejak kapan aku seperti ini, yang jelas, aku menyukai Sae Ra sejak Siwon pertama kali membawa ia ke tempat latihan sebagai kekasih barunya.

ab

Semakin membuat hari di musim semi yang akward ini menjadi semakin tidak nyaman, Sae Ra tiba-tiba datang ke Kona Beans dan membeli minuman favoritnya: Caramel Cappuccino tidak dengan gula bubuk tapi pure caramel.

Bertemu dengan kekasih, tentu secercah kebahagiaan terlukis jelas di wajah masing-masing. Namun pelukan mesra serta ‘small talk’ yang mereka lakukan terasa dingin. Aku saja yang tidak ada dalam inner circle hubungan mereka saja bisa merasakan, apalagi mereka yang menjalaninya.

Aku mengakui Siwon adalah calon aktor besar dengan bakat akting yang luar biasa, tapi tidak dengan Sae Ra. Tak kusangka wanita itu bisa bersikap baik-baik saja padahal kenyataannya hubungan cintanya tidak sedang baik-baik saja.

Tak sampai lima belas menit setelah basa-basi yang didominasi topik SS4, Sae Ra pun meninggalkan Kona Beans. Tidak diantar Siwon, karena Sae Ra bilang ia bawa mobil sendiri.

Terang saja ia berbohong.

Pertama, untuk apa ia membawa mobil jika kantornya hanya berjarak 3 gedung dari Kona Beans.

Kedua, ini bukan jam pulang kantor.

Seharusnya, jika aku adalah manusia laknat, atmosfir hubungan mereka saat ini sudah kupandang sebagai sebuah peluang untuk sepenuhnya memiliki wanita lebih dari cantik itu.

Tapi sekali lagi, aku bercermin pada kaca kehidupanku serta lebih dalam menanamkan sugesti. Bahwa aku adalah Kim Jong Woon, bukan Choi Siwon yang sampai mati akan diperjuangkan Huang Sae Ra.

Aku memutuskan untuk bertingkah menyebalkan seperti Kyuhyun di depan Siwon hari ini, menjadi teman yang ingin tau. Aku menghampirinya. “Kalian bertengkar?” tanyaku straightforward.

Mood Siwon yang sudah semakin jelek sejak pertemuannya dengan Sae Ra tadi semakin bertambah jelek, aku sadar akan hal itu. Sambil membuang pandangan matanya,

“Maaf, Hyung. Tapi ini bukan urusanmu,”

Dan pada akhirnya Siwon angkat kaki dari Kona Beans sesaat setelah itu.

ab

Malamnya aku bertukar shift dengan Kyuhyun karena ternyata ia ada acara off air di suatu perhelatan. Tidak di siang hari, tapi Kona Beans justru sangat ramai malam ini. Ditambah ada sajian live music dari band Lee Sungjin, adiknya Sungmin yang sepertinya akan mengikuti jejak sang kakak untuk terjun ke dunia entertainment, sebagai hiburan tambahan, Kona Beans semakin menjadi destinasi pengunjung yang selesai mengantor.

Kira-kira, pukul sebelas malam, aku dan waiter—waitress disini beres-beres untuk tutup. Dan sekitar dua puluh menit kemudian, Kona Beans sudah gelap dan siap untuk ditinggalkan hari ini.

Namun ketika aku hendak mengunci pintu utamanya, seseorang berjaket capphuchon putih membuatku untuk membatalkannya. Dari siluetnya pun aku tau bahwa orang itu adalah Sae Ra.

“Oppa apa kau bisa menyisihkan waktu sebentar untukku?”

Selalu. Lama pun aku bisa.

“tentu saja. Kajja!” dan aku mengajaknya masuk kembali ke Kona Beans.

Ia menolak untuk kubuatkan Caramel Cappuccino kesukaannya dan pada akhirnya kusodori ia segelas air putih.

Diantara kursi-kursi yang telah dibalik di atas meja, kami duduk berhadapan di tengah pencahayaan yang temaram.

“Atmosfir hubungan kami sedang tidak baik,” celetuknya tanpa kutanya sedikitpun sembari mengetuk-ngetukkan jari di meja. Ia tidak menatapku, tidak menatap apapun. Matanya kosong dan wajahnya sendu.

Jangan heran dengan kedekatan kami yang seperti ini. Dunia tau kami adalah kembaran beda genetik bahkan Siwon sendiri mengakui itu. Ketika kami bersama, kami seperti tengah melihat pantulan diri kami di cermin. Hanya jika ingin membuktikan teori ‘manusia di dunia ini tidak ada yang sama’ gender kamilah yang membedakannya.

“Kalian bertengkar?”

Wanita yang menurutku jauh lebih cantik dari malaikat itu hanya menggeleng lemah. Matanya yang cemerlang terlihat lirih. “Komunikasi kami yang buruk.”

Dan tanpa kupinta, ia mulai bercerita,

“Aku senang Siwon yang sama sibuknya sepertiku bisa memiliki waktunya sendiri untuk ke London. Demi Tuhan, tidak ada rasa iri sedikitpun dariku ketika mengetahu ia sedang berlibur di sana, Oppa. Tapi ini semua diluar kendaliku. Kebetulan saja ketika ia pulang aku harus mengurus Svelto di Dubai. Itupun aku hanya dua hari di sana karena Matilda sakit jadi aku dan Giorgio harus segera pulang ke Italia…”

“…dan apa ia pikir aku di Italia lalu pergi ke Hong Kong adalah untuk berlibur? I wish I could, Oppa. I was wishfuly wish it! Bukannya aku tidak mau menghubunginya, tapi waktu untuk diriku sendiri pun aku harus berpikir keras untuk menyisakannya…”

“Waktu di Hong Kong aku juga sempat menghubunginya, tapi masuk ke mailbox. Waktu itu kau bilang kalian sedang persiapan untuk SS4 Osaka, bukan?”

Ada sedikit rasa lega dari ekspresi wajahnya yang menujukkan muka kesal itu. Seandainya Siwon tau bahwa yang Sae Ra butuhkan hanyalah teman yang mau menyimak dengan baik keluh kesalnya, Sae Ra tentu tidak perlu membuat pertemuan denganku tiap kali ia ingin curhat.

That’s why, mengapa terkadang aku dapat sedikit menyombongkan diri dengan mengetahui Sae Ra jauh lebih dalam daripada kekasihnya sendiri.

Terkadang kita boleh bersikap egois, bukan?

Demi meredam segala kekesalannya, Sae Ra meneguk habis air pemberianku hingga tak tersisa. Mungkin jika ia Kyuhyun yang sedang frustasi, ia akan meminta chettau 1890 sebagai pengganti air yang diminumnya.

Sayangnya kesehatan lambung di perutnya itu tidak mengijinkan Sae Ra untuk menegak minuman beralkhohol—Sae Ra’s another little fact.

“Apa yang harus kukatakan pada Siwon?”

Itu yang semakin membuat Sae Ra lebih memilih ‘menguliti’ dirinya sendiri di hadapanku daripada di depan kekasihnya. Aku menawarkan bantuan, berbeda dengan Siwon yang selalu datang dengan rasa simpatiknya yang tiada batas hingga membuat wanita ini begitu memujanya.

Sae Ra kembali menggeleng lemah.

“Apa aku harus mengatakan bahwa kau tidak bermaksud begitu?”

Ia menggeleng lagi. “Dia semestinya sudah tau. Aku yakin itu.”

“Lalu?”

Sae Ra pun hanya mengangkat bahu. Ia menarik nafasnya panjang, sembari sedikit memijit pelipisnya, sangat mirip dengan Siwon ketika tengah memikirkan sesuatu yang rumit.

“I’m gonna face him soon so we could fix it…”

“Great!” Seruku antusias. Tidak terlalu senang dengan hubungan mereka yang tidak penting bagiku, tapi aku cukup senang dengan Sae Ra yang senyumnya cerah kembali.

It’s kinda cheesy, but I like the way she winks her bright smiles. Senyumnya sangat innocent dan percayalah, ketika kau melihatnya tersenyum hingga tertawa, kau seakan bisa ikut merasakan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.

ab

Another day, during a vocal class…

Iphone Siwon berbunyi. Aku yakin itu dari Sae Ra karena pria yang hanya pantas disandingkan dengan Sae Ra itu langsung tersenyum kecil begitu melihat nama yang tertera di layar sentuhnya. Senyum yang belakangan ini mendung, semendung senyum di wajah kekasihnya.

Siwon ijin keluar pada Seongsanim untuk menerima telepon dan beberapa saat kemudian ia kembali lagi. Selepas latihan, mengingat hari sudah malam juga, kami berencana untuk makan malam di salah satu kedai jajjangmyeon. Kyuhyun yang mentraktir, entah ketempelan roh dermawan mana hingga ia tiba-tiba ingin mentraktir hyung-hyungnya padahal jelas-jelas tidak ada sesuatu yang baru saja ia capai.

Namun ketika kami baru saja keluar dari tempat latihan, Siwon mengatakan bahwa ia harus menemui Sae Ra sekarang. So today they gonna fix it? Great!

Baru kira-kira pukul setengah sembilan malam di kedai jajjangmyeon langganan Kyuhyun, ketika kami sedang di asik berebut crabstick di mangkok steam boat—crabstick di kedai ini enak sekali, Siwon kembali bergabung dengan kami.

Dan aku yakin seribu satu persen hubungan mereka sudah membaik. Lihatlah mendung di senyum Siwon yang kini sudah benar-benar hilang, digantikan dengan tawa bahagia yang begitu lepas.

Once they were a destiny, they never be separated. I have to admit that.

Indigo

“Hehehe… Ne…”

 

Aneh. Tidak seperti biasa yang dirasakan Siwon ketika ia melihat senyum tulus nan ceria yang terlukis di wajah kekasihnya. Ia tau Sae Ra sedang tersenyum—bahkan cenderug tertawa bahagia, tapi bukan dengan dirinya.

 

Ia celingukan. Rasanya di belakang tubuh besarnya hanya ada tembok beton yang menjadi penopang utama coffeeshop ini. Lalu Sae Ra tertawa pada siapa?

 

Siwon bergidik ngeri.

 

“Sae Ra-ya…”

 

“Ya?”

 

“Kau tertawa dengan siapa sih?”

 

“Dengan temanmu.”

 

“Temanku?!” seru Siwon tak percaya. Nafasnya tercekat, tengkuknya merinding seketika. Oh, jangan bilang Sae Ra sedang bercanda seperti biasanya, karena ini sungguh tidak lucu! “Te, temanku? Siapa?”

 

“Teman wanitamu,”

 

Siwon semakin tidak mengerti. Ia tak berani memikirkan jutaan hipotesa radikal yang langsung membeludak di dalam kepalanya. Mencoba berpikir logis, mungkin kekasihnya ini sudah terlalu lelah dengan proyek-proyek 3D interior design nya sehingga membuatnya ngelantur. “Teman wanitaku?!” kaji Siwon lebih dalam.

 

“Iya, teman wanitamu. Maksudnya, diriku sendiri,” jawab wanita bermata abu-abu itu santai dan tanpa beban. “Aku tadi baru saja berpikir, bagaimana jika suatu hari kita bertukar profesi. Wah, pasti akan seru, ya kan?”

 

Siwon speechless. Selain karena Sae Ra yang ternyata tidak sedang—juga tidak bisa berinteraksi dengan ‘teman wanitanya yang abstrak’ itu, juga karena imajinasi Sae Ra yang terlalu konyol.

 

“Kita coba yuk sekali-kali,” ajak wanita itu bersemangat, lalu menyesap caramel cappuccino di hadapannya.

 

Sementara Siwon semakin merasa ‘gubrak’ dengan akwardness ini. “ha-ha, iya…”

 

___________________________________________________________________

Siwon yakin, yang tadi itu bukan lelucon garing yang biasa dibuat Sae Ra ketika sedang berkencan dengan dirinya. Kalau toh kekasihnya itu memiliki sixth sense dan dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh dirinya, Sae Ra tentu sudah lebih ‘aneh’ dari yang biasanya. Sepanjang enam bulan ini, Sae Ra memang terkadang sering bertingkah aneh, cenderung jatuhnya ke konyol, tapi tidak sampai semengerikan ini.

 

Demi mendapatkan jawaban-jawaban mengenai sisi lain dari kekasihnya itu—atau setidaknya dia tidak sendirian dengan misteri tentang Sae Ra, Siwon pun menceritakannya pada yang lain ketika berkunjung di dorm suatu siang.

 

“mungkin dia anak indigo, Hyung,” celetuk Kyuhyun yang ternyata menyimak pembicaraan Siwon dkk, padahal sedari tadi ia hanya berkutat dengan soulmate—PSP nya sambil tiduran di sofa.

 

Sontak hyung-hyungnya yang lain, termasuk Siwon sendiri, terkejut oleh statement spontanitasnya. “Indigo?!”

 

“Iya,” cowok yang sekarang berambut pirang itu lalu bangkit sambil melepas earphone yang menyumbat kedua telinganya. Itu tandanya, secara non verbal, evil maknae itu sudah mulai ikut serius dengan topik pembicaraan para hyungnya. “Bukannya anak indigo itu suka bertingkah aneh ya, Hyung?” Kyuhyun kemudian malah melirik Yesung yang sering dipanggil ‘Kembaran Beda Genetik”nya Huang Sae Ra (karena sama-sama aneh) dan langsung mendapat sambutan death glare dari papa daddangkoma tersebut.

 

“Iya, sih. Tapi kan tidak semuanya seperti itu,” ucap Leetuk mulai beropini. “Setauku, anak indigo mayoritas memang sering bertingkah aneh, tapi orang yang bertingkah aneh tidak semuanya indigo,” Leetuk kemudian ikut-ikutan menyudutkan Yesung secara tidak langsung melalui tatapan matanya. “Tapi apa kau yakin Huang Sae Ra-mu tidak sedang bercanda, Siwonnie?”

 

“Ya nggak lah, Hyung. Sae Ra bercandanya nggak mungkin semengerikan itu…” ucapnya lalu memijit pelipis kanannya, pusing sekaligus galau jika harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya itu memiliki kemampuan yang tidak biasa. Bukannya apa-apa, tapi baru kali ini Siwon menghadapi wanita yang se-extraordinary itu. Sejauh ini Siwon juga tidak begitu memperdulikan soal eksistensi ‘dunia lain’ selain dunia kita sendiri. Jika boleh diindikasikan, kepercayaan Siwon akan hal-hal tersebut terkoordinat di titik ‘antara percaya dan tidak percaya’.

 

“Sudahlah, Hyung. Kau sebaiknya lebih mensyukuri karena telah memiliki kekasih seajaib Sae Ra-noona. Kalau dia benar-benar indigo, dia kan bisa melihat masa depan. Nah, dengan begitu kan kita bisa tanya-tanya,” kata Kyuhyun. “Kalau ramalannya baik, aku akan percaya. Tapi kalau tidak, ya anggap saja salah. Hehehe…”

 

“Kau pikir yeojachinguku itu peramal hah?!” serta merta Siwon hendak menjitak Kyuhyun namun maknae itu sudah terlalu pro dalam hal menghindar.

 

“Yah, kau syukuri sajalah kekasihmu yang ‘lebih’ itu,” Leetuk menimpali.

 

Hampir tengah malam sehabis menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir, Siwon menemui kekasihnya itu lagi di apartemennya. Biasanya kalau sudah larut begini, Siwon pasti akan menginap lalu kelaparan di rumah kekasihnya. Sambil menikmati ramyun panas buatan Sae Ra, Siwon mulai mengungkit kejadian tadi siang dengan hati-hati.

 

“Soal teman wanitaku yang tadi siang… Sebenarnya itu bukan dirimu, kan?” tanya Siwon sehalus mungkin.

 

“Mwo?! Teman wanita yang mana?” respons Sae Ra bingung kemudian menyeruput ramyunnya lagi. “Memangnya kita bicara apa tadi siang?”

 

“Teman wanita yang membuatmu tersenyum tadi… Yang kamu berpikir bahwa suatu hari kita akan bertukar profesi dan sebagiannya…”

 

“Mwo?! Apaan sih? Memangnya aku bilang seperti itu? Rasanya tadi siang kita tidak bicara apa-apa, kok…”

 

Sekarang justru Siwon yang kembali bingung. “Kau tidak ingat apa yang kau bicarakan tadi siang?”

 

“Bicara apa sih, Siwonnie??? Kita hanya makan siang biasa, kan? Tidak ada hal serius yang kita bicarakan, kan? Jangan ngelantur, deh…”

 

Siwon kembali memijit pelipisnya. Wanita ini… Sepertinya bukan anak indigo tapi anak aneh yang memang benar-benar aneh.

 

“Hmmm, oke baiklah. Lupakan saja,” Siwon lalu kembali berfokus pada ramyunnya. “Kau aneh, Siwnonnie,”. Justru kau yang aneh!

 

Siwon kemudian terpikir sesuatu untuk lebih memastikan bahwa kekasihnya ini benar-benar anak indigo atau benar-benar aneh. “Apa yang kau lihat setelah ini, Sae Ra ya?”

 

Sae Ra nyaris tersedak dengan pertanyaan ‘ajaib’ dari namjanya yang tampan itu. “maksudmu?”

 

“Maksudku, apa yang kau lihat di masa depan?”

 

Wanita itu nyaris tersedak lagi. “Masa depan?! Memagnya aku peramal hah?! Kau ini aneh-aneh saja…”

Namun Siwon tetap memaksa. “Masa kau tidak melihat sesuatu?”

 

“Uhm, oke baiklah. Aku melihat…” Siwon sudah mulai memperhatikan dengan saksama. “Aku melihat kau dan aku akan menikah dan memiliki anak yang lucu-lucu, kau semakin kaya dan terkenal dan Sveltoku semakin banyak cabang…”

 

“Geez! Bukan itu, maksudku…”

 

“Lalu apalagi? Kau tidak mau menikah denganku?!” ucap Sae Ra blak-blakan. Tak usah heran, wanita itu memang tidak suka menutup-nutupi sesuatu dan cenderung terlihat agresif. Di awal saja, Sae Ra yang menyatakan persaannya duluan dan meminta Siwon menjadi kekasihnya. Tapi memang begitulah sifatnya.

 

“Aniii… Bukannya begitu…” Siwon kini frustasi sendiri. “Uuhh… Ya sudah lah. Lupakan saja!” dan ia melanjutkan kembali menghabiskan ramyunnya.

 

Huang Sae Ra memang benar-benar kembaran beda genetiknya Yesung! Siwon harus mengingat paradigma itu rekat-rekat dalam memori otaknya.

 

HSR’s untold—secret note: I’d be Siwon’s present guardian angel so I have to always stay on his side because she couldn’t do that anymore.

SLAVA MAGAZINE-Cover Story: HUANG SAERA

WARNING!!!

IT JUST A FICTION POST. A FICTION INTERVIEW. A FICTION CHARACTER. AND EVERYTHING ABOUT THIS GIRL WAS FROM IMAGINATION.

SHE DOESN’T RELATED TO CHOI SIWON IN THE REAL LIFE. AT ALL!!!

SO, PLEASE, ENJOY THIS POST BY YOUR BEST IMAGINATION ONLY. DON’T THINK IT DE-FACTOLY.

THANK’S

C-TWD

______________________________________________________________

Berangkat dari Jeju, bertahan dari kerasnya Seoul, kini gadis kecil itu menjelma menjadi wanita paling dicari di seluruh Korea.

Setelah foto Siwon dan dirinya yang terungkap ke media beberapa bulan yang lalu, Huang Sae Ra ibarat serangkaian misteri yang terpecahkan. Wanita yang pada awalnya disebut-sebut sebagai Park Han Byul (Hong Yoon Ra–drama Oh My Lady, red) dalam foto kontroversialnya bersama Siwon dan Im Yoona (SNSD, red) pada snapshoot mereka saat tertangkap tengah melakukan pertemuan di kawasan Gangnam ini akan mengungkap tuntas tentang jati dirinya.

The Real Queen

Berbekal tekad bulat untuk mewujudkan cita-citanya semasa kecil, Huang Sae Ra muda nekad hijrah dari Jeju menuju Seoul dan menghadapi kejamnya kehidupan seorang diri. Ketika semua gadis seusianya bermimpi untuk masuk TV sambil menari dan menyanyi, Huang Sae Ra justru tetap konsisten menjadi pro-interior designer. Lulus sebagai Cumlaude Architectural Engineering of Inha University di usia 23 tahun, masuk dalam jajaran 10 besar Under 25 Most Influential People versi salah satu majalah bisnis kenamaan Seoul, dan angka saham Svelto Corp yang mulai melambung tinggi, Huang Sae Ra dinobatkan sebagai wanita yang kekayaannya melampaui nyonya perdana menteri Korea Selatan.

Tentang Svelto

Bahkan sebelum dirinya populer setelah hubungan cintanya dengan Superjunior Choi Siwon menyeruak ke media, nama Svelto Corporation sudah lebih dulu dikenal masyarakat luas sebagai satu-satunya cyber interior design corporation yang sukses di pasaran.

“Awalnya, Svelto hanya memproduksi handmade furniture via internet. Ide pemasaran lewat dunia maya sebenarnya berasal dari salah satu temanku, dan ternyata sukses berat. Lalu setelah mundur dari keanggotaan SIIDA (Seoul International Interior Design Association), kami memutuskan untuk me’rumahkan’ Svelto dan melayani proyek  full-interior design

Sosok Ibu

“Wah, kalau aku bercerita mengenai keluargaku, mungkin akan menghabiskan seluruh halaman di majalah ini. Hahaha…”

“Yang jelas aku sangat menyayangi keluargaku. Terutama mendiang Ibu, beliau adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Beliau yang menempa mentalku  hingga dapat bertahan sampai detik ini.”

Foto Virus dan Siwon

“Kalau aku harus bersumpah, aku sendiri tidak tau bagaimana foto-foto itu menyebar sekaligus merusak sistem komputer para netizen ketika di-download,” ujarnya ketika tim Slava Magazine baru menyebut tentang foto.

Mengenai Choi Siwon… “Semua orang juga tau bahwa ia adalah jawaban dari Nothing’s Impossible. Tapi terlepas dari semua itu, yang membuatku menyukai dirinya adalah cara Siwon berusaha membuat orang-orang di dekatnya merasa nyaman saat bersama dirinya. Oh, dan satu lagi, dia juga yang membuatku untuk lebih sering menghadiri misa di hari Minggu. Hahaha…”

Menghilang bagai ditelan bumi, lalu kembali dari Italia setelah kontroversi mengenai kedekatannya dengan Siwon mereda, Huang Sae Ra dituding melarikan diri.

“Percaya atau tidak, aku ke Italy karena ada yang harus kubicarakan dengan Paolo (CEO Svelto Corp, red).”

SLAVA MAGAZINE, Springlava.com

_____________________________________________________________

Still Continued…

Mannn… Semua ini cuma hasil imajinasi aku aja ya. Design logo or-whatev-you-call-this-label itu juga hasil coretan instan aku lewat Ipad. So… Please, once again, It just a fiction and No Bash.

Have a nice day #ganyambung 🙂